Gadis Cupu Milik CEO

Gadis Cupu Milik CEO
Kabar mengejutkan untuk Viko


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, seorang wanita menghampiri Dara.


"Dara, kamu baru pulang?" tanya Bu Ratna yang tak lain adalah tetangga samping rumah Dara.


Dara menoleh ke arah Bu Ratna. Dia tersenyum saat melihat Bu Ranta yang sudah berdiri dibelakangnya.


"Eh Bu Ratna," ucap Dara.


"Kamu mau masuk ke dalam? kuncinya ada sama saya Dara," ucap Bu Ratna.


"Oh. Iya Bu."


"Ini Dara kuncinya. Tadi pagi, adik-adik kamu menitipkan kunci ini pada saya." Bu Ratna menyodorkan kunci itu pada Dara.


Dara mengambil kunci itu dari tangan Bu Ratna.


"Makasih ya Bu. Oh iya. Ngomong-ngomong, adik-adik saya hari ini berangkat sekolah ya?" tanya Dara.


"Iya Dara. Saya suruh mereka masuk sekolah. Dan tadi pagi, saya juga bawain mereka makanan untuk sarapan. Tenang saja Dara, Ica dan Oca sudah sarapan semua kok," ucap Bu Ratna.


"Makasih banyak ya Bu Ratna sudah mau membantu ke dua adik saja."


"Iya Dara. Sama-sama."


"Sebenarnya kamu itu dari mana aja Dara? Kenapa semalaman kamu nggak pulang ke rumah?" tanya Bu Ratna.


"Aku lagi ada di rumah sakit semalam Bu," jawab Dara.


"Siapa yang sakit?" tanya Bu Ratna lagi.


"Istri bos saya yang sakit Bu Ratna," jawab Dara.


"Sakit apa?"


"Tadi malam dia terjatuh dari tangga. Dan saat ini kondisinya masih kritis."


"Apa! kritis? separah itu kah Dara?


"Iya Bu. Dari semalam dia juga belum siuman."


"Ya ampun, kasihan sekali ya."


"Ya udah Bu. Dari kemarin saya kan belum mandi, badan saya juga udah lengket banget. Saya masuk ke dalam dulu ya Bu."


"Oh iya Dara."


Dara kemudian masuk ke dalam rumahnya. Saat ini dia memang sangat lelah. Semalam dia juga kurang tidur karena harus berjaga dengan Alex di rumah sakit.


***


Siang ini, Ratih masih beres-beres rumah Alex. Saat ini dia sedang berada di dalam kamar Alex. Dia tampak masih mengelap-elap barang-barang yang ada di dalam kamar itu.

__ADS_1


"Gimana ya kondisi Nyonya besar. Apa dia baik-baik saja. Aku sangat mengkhawatirkan keadaan Nyonya Vivi. Tapi semalam aku telpon Tuan Alex juga nggak di angkat. Apa aku telpon lagi aja ya Tuan Alex."


Ratih yang penasaran dengan kondisi majikannya, mengambil ponselnya yang ada di dalam saku bajunya. Dia kemudian menekan nomer Alex.


Beberapa saat kemudian, suara Alex terdengar dari balik telpon.


"Halo. Ada apa Ratih?"


"Halo Tuan Alex. Bagaimana kondisi Nyonya Tuan?"


"Kondisi mama kritis Ratih. Dia belum siuman dari semalam. Luka di kepalanya sangat parah. Sehingga mama mengalami pendarahan."


"Ya ampun, kasihan sekali Nyonya Vivi. Apakah Tuan sudah mengabari Tuan Rajasa?"


"Untuk apa aku mengabari Papa. Dia saja tidak pernah peduli dengan keadaan mama."


"Tapi walau bagaimanapun, Tuan Rajasa harus tahu masalah ini Tuan. Kata Tuan Alex, mereka itu kan belum bercerai. Jadi Nyonya Vivi itu masih sah istrinya Tuan Rajasa. Tuan Rajasa juga harus tahu soal ini. Kalau ada apa-apa, pasti Tuan Alex yang akan disalahkan oleh Tuan besar."


"Jangan sok tahu kamu Ratih. Kamu itu cuma pembantu. Nggak usah bicara macam-macam dan nggak usah sok menasihati. Aku tahu apa yang harus aku lakukan. Aku nggak mau, menceritakan hal ini sama siapapun termasuk Papa. Aku akan rawat mama aku sendiri dan obati dia."


"Ya sudahlah Tuan. Nanti saya ke sana ya kalau saya sudah tidak repot."


"Iya."


Setelah menelpon Tuan Alex, Ratih kemudian kembali dengan pekerjaannya.


Ting Tong...


Ratih terkejut saat melihat dokter Viko sudah ada di depan.


"Eh, ada Pak Dokter," ucap Ratih.


"Saya mau memeriksa keadaan Bu Vivi," ucap Viko.


Ratih diam. Dia menampakkan wajah sedih dihadapan Viko.


"Kenapa Mbak?" tanya Viko.


"Sebenarnya Tuan Alex dan Nyonya Vivi nggak ada di rumah sekarang Tuan Viko," jelas Ratih.


Viko mengernyitkan alisnya.


"Kemana emang mereka?" tanya Viko.


"Semalam itu, Nyonya Vivi di bawa ke rumah sakit oleh Tuan Alex."


Viko terkejut saat mendengar ucapan Ratih.


"Apa! di bawa ke rumah sakit? emang Bu Vivi sakit apa?"


"Nyonya Vivi jatuh dari tangga semalam."

__ADS_1


"Apa! kok bisa sih Bu Vivi jatuh dari tangga?"


"Nyonya Vivi kambuh lagi Tuan Viko sakitnya. Dia histeris lagi. Dan saya nggak tahu kenapa Bu Vivi tiba-tiba saja naik ke lantai atas. Dan dia terpeleset dari tangga waktu mau lari ke lantai atas."


"Terus bagaimana kondisinya sekarang?" tahta Viko.


"Tadi aku udah telpon Tuan Alex dan menanyakan kondisi Nyonya Vivi. Tapi kata Tuan Alex, Nyonya Vivi itu belum sadarkan diri. Dia masih pingsan. Kalau Tuan Viko mau lebih jelasnya, lebih baik Tuan Viko ke rumah sakit saja susulin Tuan Alex."


Viko mengangguk.


"Baiklah Mbak. Terimakasih untuk informasinya. Kalau begitu saya permisi dulu."


Ratih mengangguk.


Viko kemudian pergi meninggalkan rumah Alex. Sementara Ratih menutup pintunya kembali.


****


Viko berjalan ke arah mobilnya. Dia kemudian naik ke dalam mobilnya dan meluncur pergi untuk ke rumah sakit.


Sebelum sampai rumah sakit, Viko mengambil ponselnya. Dia kemudian menekan nomer Alex.


"Halo Lex, kamu ada di mana sekarang?"


"Halo Vik. Aku lagi di rumah sakit."


"Aku tadi dari rumah kamu. Tapi kata pembantu kamu, kamu ada di rumah sakit. Benar nggak sih, kalau Tante Vivi itu jatuh dari tangga?"


"Iya benar. Mama aku semalam jatuh dari tangga."


"Terus, bagaimana kondisinya sekarang?"


"Mama aku masih kritis. Dan tadi kata dokter, dia harus dipindahkan di ruang ICU. Karena katanya mama sudah koma."


"Apa! koma?"


"Iya. Padahal kalau kondisi mama membaik, dokter akan melakukan operasi."


"Apa separah itu?"


"Iya Vik. Kepala mama aku bocor. Tadi malam dia pendarahan dan kehilangan banyak darah. Dan kata dokter, syaraf-syaraf yang ada di kepala mama rusak dan dia harus melakukan operasi. Tapi, sampai sekarang saja kondisi mama masih sama seperti semalaman. Bahkan kata dokter, mama sekarang sudah dinyatakan koma."


"Ya ampun. Kasihan sekali Mama kamu. Sekarang aku lagi ada di dalam perjalanan ke rumah sakit. Aku mau lihat kondisi mama kamu."


"Iya Vik."


" Kamu harus kuat ya Lex."


"Iya."


Setelah menelpon Alex, Viko mempercepat laju kendaraannya. Dia ingin cepat-cepat sampai ke rumah sakit untuk menemui sahabatnya.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, mobil Viko sudah berada di depan rumah sakit. Viko buru-buru turun dari mobilnya dan berjalan masuk ke dalam rumah sakit.


__ADS_2