
Dara naik ke atas ranjangnya. Dia kemudian berbaring dan menatap langit-langit kamarnya.
Dia masih tampak mengingat-ingat kejadian tadi.
"Duh, kenapa aku harus peluk Tuan Alex. Malu banget aku..." ucap Dara sembari menutup wajahnya.
"Mudah-mudahan saja aku nggak akan ketemu dia lagi. Dia pasti bisa berfikiran macam-macam tentang aku. Tapi aku juga nggak sengaja peluk dia. Dan kejadian tadi juga nggak aku sengaja."
Dara memejamkan matanya mencoba untuk tidur. Dia tidak mau kefikiran terus tentang kejadian tadi yang menimpanya. Mulai sekarang Dara akan lebih berhati-hati lagi saat berada di jalan.
***
Jam lima pagi, Dara terbangun. Dia turun dari ranjangnya dan berjalan ke luar dari kamarnya. Dia menatap Oca yang saat ini sudah duduk di ruang makan.
"Kamu sudah bangun Ca. Bagaimana perut kamu? apa udah mendingan? apa mau kakak antar ke dokter?" tanya Dara pada adiknya.
Oca menatap Dara.
"Aku udah minum obatnya semalam Kak. Dan aku udah mendingan kok."
"Kalau kamu masih sakit, nanti kakak antar kamu ke dokter ya. Mumpung kakak masih punya uang."
Dara kemudian duduk di dekat Oca.
"Nggak usah Kak. Katanya hari ini kakak mau ke kantornya Pak Rajasa."
"Sebenarnya kakak pengin ke sana sih. Tapi Kakak lagi bingung sama kamu. Kamu kan lagi sakit."
Oca tersenyum.
"Kakak pergi aja. Aku udah nggak apa-apa kok. Kakak harus cari kerjaan lagi. Biar Kakak bisa dapat gaji. Kalau kakak nggak kerja, kita mau makan apa?"
"Iya Ca. Emang kamu nggak apa-apa kalau kakak tinggal? atau kamu mau ke sekolah bareng Ica."
"Aku mau libur dulu Kak."
"Ya udah. Kalau masih sakit libur dulu nggak apa-apa. Kakak mau siap-siap masak dulu ya Ca, untuk sarapan kamu dan Ica."
"Iya Kak."
Dara kemudian bangkit dari duduknya. Dia berjalan ke dapur untuk bersiap-siap memasak.
Setelah semua masakan siap, Dara memanggil ke dua adiknya yang ada di kamar.
"Oca, Ica, makanannya sudah siap."
"Iya Kak. Sebentar lagi kita ke sana," ucap Ica.
__ADS_1
"Ya udah. Kakak mau siap-siap ya. Kalau mau makan, makanannya udah Kakak siap kan di atas meja."
"Iya Kak." ucap Oca dan Ica kompakan.
Setelah Ica berangkat ke sekolah, Dara kemudian masuk ke kamar Oca. Dia tampak sudah rapi. Pagi ini dia akan ke kantor Pak Rajasa untuk menanyakan tentang pekerjaan di sana.
Dara sama sekali tidak tahu kalau Pak Rajasa adalah ayahnya Alex. Dan Dara juga tidak tahu, kalau kantor Pak Rajasa adalah kantor di mana Alex sering bolak-balik ke kantor itu.
"Oca. Kamu nggak apa-apa kalau kakak tinggal sendiri di sini?" tanya Ica.
"Nggak apa-apa Kak, Kakak pergi aja."
"Ya udah. Kamu nanti minum obatnya lagi ya."
"Iya Kak."
Dara kemudian pergi meninggalkan Oca di rumah sendiri. Seperti biasa dia berjalan ke arah pangkalan ojek. Saat ini Dara tidak punya motor sendiri. Sepeda juga lebih sering di pakai Oca dan Ica ke sekolah. Makanya dia ke mana-mana harus naik ojek.
****
"Bang, kita berhenti di depan ya."
"Iya Neng"
Setelah sampai di depan sebuah bangunan besar, yang tak lain adalah kantor besar Pak Rajasa, Dara turun dari ojeknya. Dia kemudian membayar ongkos ojek itu.
"Iya Neng."
Setelah Abang ojek pergi dari tempat itu, Dara kemudian masuk ke dalam halaman kantor besar itu.
"Wah, inikah kantornya Pak Rajasa? gede banget ternyata. Beda sama kantornya Tuan Alex yang kemarin," ucap Dara.
Dara menatap sekeliling. Banyak karyawan yang tampak berlalu lalang masuk ke dalam kantor. Mulai dari karyawan yang paling rendah, sampai staf-staf kantor.
Dara menatap kartu nama Pak Rajasa. Dia kemudian menatap tulisan besar yang terpampang di depan kantor Pak Rajasa.
Rajasa Group.
"Benarkah kalau ini kantornya Pak Rajasa. Terus, bagaimana caranya aku ketemu sama dia," ucap Dara.
Dara sebenernya takut dan ragu untuk masuk ke dalam kantor. Karena kantor itu, bukan hanya satu atau dua satpam yang jaga. Tapi banyak satpam penjaga.
"Aku coba tanya satpam deh."
Dara mendekat ke arah seorang satpam yang tampak sedang berjaga di pintu masuk kantor.
"Permisi Pak," ucap Dara.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Satpam itu.
"Ini benarkan kantornya Pak Rajasa?"
"Iya. Benar. Ada apa Mbak?"
"Aku mau ketemu sama Pak Rajasa. Apa Pak Rajasanya ada di dalam?"
Satpam itu menatap lekat Dara. Dia tampak memperhatikan penampilan Dara.
"Mau ngapain ketemu Pak Rajasa?"
"Kemarin Pak Rajasa ke rumahku. Dan aku disuruh ke sini untuk ke kantornya. Karena dia mau memberikan aku pekerjaan."
"Emang udah ada janji sama dia?"
"Ya nggak ada janji sih. Cuma katanya aku disuruh ke sini saja kalau aku lagi butuh kerjaan."
"Maaf Mbak. Pak Rajasa itu bukan orang sembarangan. Dia adalah direktur utama sekaligus pemilik perusahaan ini. Tidak mungkin dia punya kenalan wanita seperti Mbak. Mbak pasti ngaku-ngaku saja ya kenal Pak Rajasa."
Dara tampak kesal dengan ucapan satpam.
"Pak satpam. Kok bicara seperti itu sih. Aku memang kenal sama Pak Rajasa. Buktinya, dia memberikan aku kartu namanya,"
"Tapi Mbak, sesuai peraturan di kantor ini, kalau nggak ada janji sama bos, Mbak nggak bisa seenaknya sendiri. Apalagi untuk ketemu sama Pak Rajasa. Kecuali kalau mbak udah ada janji."
Dara tampak sedih saat mendengar ucapan satpam.
"Lagian, masih pagi begini Pak Rajasa juga belum datang. Dia datangnya siang. Jam delapan atau setengah sembilan."
"Ya udah deh. Makasih Pak untuk informasinya."
Dara kemudian pergi meninggalkan satpam.
'Tadi aku sudah telpon Pak Rajasa. Tapi dia nggak mau angkat telpon aku. Lalu bagaimana caranya aku untuk ketemu dia, batin Dara.
Sebelum sampai di kantor, Dara sudah beberapa kali menghubungi Pak Rajasa. Namun Pak Rajasa belum membalas telpon Dara. Dara tahu, kalau Pak Rajasa adalah orang penting di kantor itu. Jadi pasti akan sulit untuk menghubunginya.
"Sudah jauh-jauh, aku datang ke sini, masa aku nggak bisa ketemu Pak Rajasa. Aku harus ketemu sama dia. Bagaimana pun caranya. Aku lagi butuh banget kerjaan."
"Tuan Alex juga semalam meminta aku untuk kerja lagi di tempatnya. Tapi aku malas, dia itu genit dan mata keranjang. Mendingan aku kerja di kantor Pak Rajasa saja. Nggak apa-apa juga kalau jadi OB. Yang penting halal."
Satu jam Dara menunggu Pak Rajasa di parkiran mobil. Berharap, dia bisa bertemu dengan Pak Rajasa.
Beberapa saat kemudian, Pak Rajasa keluar dari mobilnya.
Dara terkejut saat melihat Pak Rajasa.
__ADS_1
"Itukah Pak Rajasa. Iya. Nggak salah lagi. Lelaki itu yang kemarin ke rumah aku dan memberikan kartu nama ini," ucap Dara.