Gadis Cupu Milik CEO

Gadis Cupu Milik CEO
Cek 20 juta


__ADS_3

Setelah kepergian Alex, Dara menatap sekeliling ruangan Alex. Ruangan Alex yang tampak luas berkali-kali lipat luasnya dari luas rumah Dara.


"Oh, jadi ini ruangannya Tuan Alex. Gede banget ya ruangannya. Lebih gede dari rumah aku," gumam Dara sembari menatap sekeliling ruangan itu.


Pandangan Dara terfokus pada meja kerja Alex. Dara yang merasa penasaran, bangkit dari duduknya. Dia kemudian mendekat ke meja kerja Alex.


Iseng Dara membuka laci meja kerja Alex. Dara menemukan sebuah album foto di sana. Sepertinya itu adalah album foto milik Alex.


Dara yang penasaran, kemudian mengambil album foto yang ada di dalam laci. Dia kemudian perlahan membuka album foto itu. Di dalam album itu ternyata banyak foto-foto Alex waktu dia masih kecil.


"Apa ini, Tuan Alex waktu dia masih kecil. Tuan Alex cakep banget ya, waktu masih kecil. Sekarang dia juga masih cakep. Tapi sayang, katanya dia itu playboy. Dia suka sekali gonta-ganti wanita," ucap Dara sembari mengusap-usap foto Alex.


Dara menatap satu album lagi yang ada di laci itu. Karena penasaran, Dara mengambil album foto satunya lagi.


"Ini album foto siapa," ucap Dara.


Dara membuka album satunya lagi. Dara terkejut saat melihat foto-foto gadis cantik dan seksi yang ada di album foto itu.


"Jadi ternyata Tuan Alex itu hobi mengoleksi foto. Dan ini foto-foto siapa. Cantik-cantik banget," ucap Dara yang masih terkagum-kagum dengan foto-foto gadis cantik yang ada di album itu.


"Apa ini semua foto-foto pacarnya Tuan Alex? Cantik-cantik semua ya, ternyata pacarnya Tuan Alex. Tubuhnya langsing, kulitnya mulus. Pasti cewek-cewek ini, orang kaya semua."


Dara tampak berfikir.


Tapi, kenapa Tuan Alex bisa tertarik padaku. Dia maksa banget memberikan syarat itu padaku. Padahal, apa susahnya sih, dia meminjami aku uang. Pasti aku akan kembalikan kok. Kenapa dia harus mengajukan syarat yang sangat berat untuk aku. Tapi, aku nggak ada pilihan lain. Aku nggak mau ibu meninggal. Kalau ibu meninggal, siapa nanti yang akan ikut merawat Ica dan Oca. Mereka kan masih kecil-kecil. Batin Dara.


Sejak tadi Dara masih berfikir, keputusan apa yang akan dia ambil sekarang. Menerima syarat dari Alex atau membatalkannya saja.


Aku tolak apa aku terima ya. Kalau aku tolak, dia nggak akan mungkin meminjami aku uang sebanyak itu. Kalau aku terima, aku bingung, bagaimana hidup aku, setelah aku menuruti keinginan Tuan Alex. Batin Dara.


Saat ini, Dara masih dalam dilema. Di antara ingin menerima syarat dari Alex atau menolaknya.


Beberapa saat Dara melamun di depan meja kerja Alex. Dia masih tampak berfikir.


"Yah, demi ibu. Aku akan melakukan apapun untuk kesembuhannya," ucap Dara penuh keyakinan.


Dara mengembalikan dua album itu kembali ke dalam laci. Setelah itu dia duduk kembali ke sofa tempatnya tadi duduk.


Beberapa saat kemudian, Alex masuk ke dalam ruangannya. Dia kemudian duduk di kursi kebesarannya dan menatap lekat ke arah Dara.


"Bagaimana Dara? apa kamu sudah mengambil keputusan?" tanya Alex.

__ADS_1


Dara mengangguk.


"Iya. Aku mau," jawab Dara.


Dengan terpaksa, akhirnya Dara mau juga menerima syarat dari Alex. Karena baginya, tidak ada pilihan lain, kecuali menerima syarat dari Alex itu.


"Baiklah. Tunggu dulu," ucap Alex.


Alex kemudian mengambil cek kosong dan menuliskan nominal uang dua puluh juta ke dalam cek itu.


"Ini. Aku sudah menuliskan nominal uangnya. Kamu bisa ambil cek ini," ucap Alex.


Dara bangkit dari duduknya. Dara kemudian mendekat ke arah meja kerja Alex untuk mengambil cek sebesar dua puluh juta itu.


Dengan tangan bergetar, Dara mengambil cek itu.


"Terimakasih banyak Tuan," ucap Dara.


"Ya."


"Kalau begitu, saya permisi dulu Tuan."


Dara kemudian menyimpan cek sebesar dua puluh juta itu ke dalam tasnya. Setelah itu dia pergi meninggalkan Alex. Sebelum sampai pintu, Alex memanggil Dara.


"Tunggu!" ucap Alex.


Dara menoleh ke arah Alex.


"Ada apa Tuan?" tanya Dara.


"Kamu mau ke mana?"


"Aku mau pulang. Aku mau jemput adik aku ke sekolah dan aku akan kembali ke rumah sakit," jawab Dara.


"Dara. Kembalilah duduk. Kamu tidak bisa pergi begitu saja setelah mendapatkan cek itu. Karena aku nggak percaya sama kamu kalau kamu akan kembali lagi ke sini, jika kamu pergi," ucap Alex dengan wajah datar.


"Maksud Tuan apa? tadi kan Tuan sudah mengizinkan aku pergi." Dara menatap Alex kesal.


"Maksud aku, kamu bisa saja kan kabur membawa cek itu." Alex tampak ragu pada Dara. Dia tidak percaya dengan Dara. Makanya dia tidak langsung mengizinkan Dara pergi dari ruangannya.


"Apa? Kabur? siapa yang akan kabur Tuan. Aku nggak akan kabur. Seandainya aku kabur, Tuan pun pasti akan dengan mudah menemukan aku," ucap Dara

__ADS_1


"Tapi aku tetap nggak akan pernah membolehkan kamu pergi dari sini! kamu harus temani aku di sini. Dan kamu tidak boleh membantah. Kalau membantah, kamu akan tahu sendiri akibatnya."


"Baiklah. Aku akan temani Tuan di sini."


Dara tidak bisa menolak permintaan Alex. Dia kemudian duduk kembali di tempat duduknya. Sementara Alex, kembali berkutat dengan pekerjaannya.


****


Sore ini, Alex masih berada di ruangannya bersama Dara. Dara masih berada di sofa ruangan Alex. Rasa jenuh sudah menderanya. Di tambah rasa khawatir dengan kondisi ibu dan ke dua adiknya.


'Aku harus pulang sekarang. Ibu pasti lagi nungguin aku di rumah. Ica dan Oca, dia juga pasti lagi nungguin aku pulang. Aku harus bagaimana ini' batin Dara.


Dara tampak berfikir. Dia sejak tadi masih mencari cara agar dia bisa kabur dari ruangan Alex.


"Tuan, aku mau ke toilet sebentar," ucap Dara.


"Ya."


Dara bangkit dari duduknya. Setelah itu dia melangkah ke pintu utama ruangan Andre.


"Hei. Toilet di dalam kan ada. Untuk apa kamu ke luar?"


Dara menghentikan langkahnya saat mendengar suara Alex. Dia kemudian menoleh dan menghadapkan tubuhnya ke arah Alex.


"Tuan Alex. Sebenarnya, saya nggak mau ke toilet. Izinkan saya untuk keluar. Saya lapar. Saya mau makan," ucap Dara.


"Iya. Tunggu dulu. Saya yang akan antar kamu ke luar."


Alex mematikan layar monitornya. Dia mengambil ponselnya yang ada di atas meja, setelah itu dia keluar dari ruangannya. Dara hanya bisa mengikuti kemana Alex pergi.


Sesampainya di tempat parkir, Alex menghentikan langkahnya. Setelah itu dia menatap Dara.


"Masuk!" ucap Alex.


"Kita mau ke mana?" tanya Dara


"Jangan banyak tanya. Buruan masuk!"


"Baik Tuan."


Sudah tidak ada pilihan lagi untuk Dara, selain masuk ke dalam mobil Alex dan ikut dengan Alex. Setelah Dara masuk, Alex pun ikut masuk ke dalam mobil. Mereka kemudian meluncur pergi meninggalkan kantor.

__ADS_1


__ADS_2