Gadis Cupu Milik CEO

Gadis Cupu Milik CEO
Perubahan sikap Pak Rajasa


__ADS_3

Malam ini, Rita sudah sampai di depan rumahnya. Dia turun dari mobilnya dan melangkah masuk ke dalam rumahnya.


Rita terkejut saat melihat di ruang tamu, Alex, Doni, dan Pak Rajasa masih tampak duduk bersama.


Rita tersenyum saat melihat mereka.


"Eh, tumben banget kalian pada kumpul di sini? ada acara apa nih?" basa basi Rita pada mereka bertiga.


"Kamu dari mana aja Rita? kenapa jam segini baru pulang?" tanya Pak Rajasa menatap nanar ke arah Rita.


Rita melebarkan senyumnya. Dia tampak biasa saja menanggapi kemarahan Pak Rajasa.


"Biasa Mas. Aku baru shoping-shoping sama teman-teman aku," ucap Rita santai yang membuat Doni, Alex dan Pak Rajasa muak saat melihatnya.


Pak Rajasa bangkit dari duduknya. Setelah itu dia mendekat ke arah Rita.


"Kamu pergi sama siapa?" tanya Pak Rajasa.


"Kamu kenapa sih Mas? kok pertanyaan kamu gitu banget? kamu curiga ya sama aku. Aku tadi pergi sama teman-teman aku kok."


"Siapa yang curiga sama kamu? kamu merasa dicurigai?"


Rita bingung dengan sikap Pak Rajasa. Pak Rajasa tidak biasanya bersikap dingin seperti itu. Tapi malam ini, Rita merasa ada yang berbeda dengan sikap suaminya.


"Sebenarnya kamu kenapa sih Mas? kenapa kamu jadi dingin banget gini sama aku?" tanya Rita.


Pak Rajasa diam. Sebenarnya dalam hatinya itu dia sudah menahan geram sejak tadi. Tapi Pak Rajasa tahan karena dia ingin berpura-pura tidak tahu apa-apa soal CCTV itu.

__ADS_1


"Mau sampai kapan Rita, kamu menghambur-hamburkan uang papa. Kamu sudah nuduh aku suka berfoya-foya dan menghabiskan uang papa. Tapi lihat sekarang, siapa yang suka berfoya-foya dan suka menghabiskan uang papa. Kamu kan? aku dengar dari papa kamu sudah beli mobil baru. Enak banget ya hidup kamu..." ucap Alex.


"Kamu bicara apa sih Alex. Nggak usah ikut campur dengan urusan orang deh," geram Rita.


Alex bangkit dari duduknya. Setelah itu dia menghampiri Rita.


"Rita, jawab aku dengan jujur, kenapa kamu mau celakai calon istri aku. Kamu kan yang udah dorong Dara sampai dia masuk ke dalam kolam renang," ucap Alex tanpa banyak basa-basi lagi. Alex saat ini sudah mencengkeram ke dua bahu Rita.


Rita terkejut saat mendengar ucapan Alex. Dia memang yang sengaja mendorong Dara, waktu dia cekcok dengan Dara di malam pertunangan itu. Namun Rita tetap masih mau berkelit.


"Kamu udah salah paham sama aku Lex. Aku nggak pernah dorong Dara kok. Dara tersandung kakinya waktu itu. Dan dia terpeleset dan jatuh deh ke kolam renang," ucap Rita mencari alasan. Dia juga nggak mau disalahkan oleh Alex jika sampai dia jujur.


"Halah bohong kamu Rita. Saya lihat sendiri kamu ada di samping kolang renang waktu Dara tenggelam. Dan kamu sama sekali nggak menolong Dara Kamu cuma lihatin Dara aja. Kamu memang sengaja kan membiarkan Dara tenggelam. Kamu kan yang udah dorong Dara sampai dia jatuh di kolam renang." Alex semakin kuat saja mencengkram bahu Dara.


Dara menghempaskan tangan Alex dan menatap Alex tajam.


"Alex, kamu nggak percaya sama aku. Untuk apa aku celakai Dara. Nggak ada untungnya sama sekali untuk aku," ucap Rita.


Rita terkejut saat mendengar ucapan Alex. Setiap dia dengar nama polisi, Rita memang selalu takut. Karena selama ini, Rita sudah banyak bertindak kriminal.


Mulai dari mencuri uang di brankas Pak Rajasa, percobaan pembunuhan pada Bu Vivi di rumah sakit, teror di rumah Bu Vivi, dan dia juga dalang dari kebakaran rumah Dara. Jika di laporkan ke polisi, Rita pasti akan di jerat pasal berlapis.


"Alex, maaf kan aku. Aku menyesal udah mencelakai calon istri kamu. Maafkan aku Alex. Aku menyesal udah mencelakai Dara. Dan aku janji, aku nggak akan mengulanginya lagi. Tolong, jangan laporkan aku ke polisi. Aku mohon"


"Kenapa? kamu takut aku laporin kamu ke polisi,"


Rita mendekat ke arah Pak Rajasa.

__ADS_1


"Mas, bilang sama anak kamu. Aku minta maaf soal kejadian malam itu. Aku khilaf. Aku memang waktu itu emosi karena aku cekcok sama Dara. Tapi aku nggak ada niat kok, untuk mencelakai Dara," ucap Rita.


Pak Rajasa semakin geram saja saat mendengar ucapan Rita. Rita bukannya merasa bersalah, tapi sejak tadi dia masih mencari pembelaan.


Pak Rajasa hanya diam . Dia sejak tadi masih menahan geram. Namun Pak Rajasa tetap diam. Seperti apa yang Alex dan Doni katakan. Mereka semua harus pura-pura tidak tahu apa yang sudah tadi mereka lihat di CCTV Mereka harus bermain cantik untuk memenjarakan Rita dan Martin.


"Mas, kenapa kamu diam aja," tanya Rita sembari memegangi lengan Pak Rajasa.


Rita terkejut saat tiba-tiba saja Pak Rajasa menghempaskan tangannya begitu saja.


"Jangan pegang-pegang tangan saya Rita...!"


"Mas, kamu kenapa Mas?"


"Rita, saya nggak menyangka kalau kamu sudah tega melakukan itu sama Dara. Kamu tahu siapa Dara? Dara itu anak kesayangan ku Rita. Dia anak dari sahabat karibku. Saya sudah menganggap Dara seperti anak kandung saya sendiri. Tega banget kamu melakukan kejahatan seperti itu sama Dara."


"Mas, maafkan aku. Aku nggak sengaja Mas."


"Rita, Dara itu anak angkat ku. Dan sebentar lagi dia akan menjadi menantuku. Sekali lagi kamu jahatin Dara, aku nggak akan pernah memaafkan kamu Rita."


Rita hanya bisa menundukan kepalanya.


Dara, begitu pentingnya kah wanita cupu itu untuk Alex dan Pak Rajasa. Kenapa harus ada Dara di dunia ini. Aku benar-benar benci sama dia.


"Sudahlah Rita, lebih baik sekarang kamu pergi ke kamar kamu saja. Saya sudah muak melihat kamu ada di sini."


Rita sudah merasa terpojok berada di antara ke tiga orang itu. Rita tidak mau berlama-lama lagi berada di ruang tamu. Dia kemudian melangkah pergi meninggalkan ruang tamu untuk menuju ke kamarnya.

__ADS_1


Sesampainya di dalam kamar, Rita menghempaskan tubuhnya dan duduk di sisi ranjang.


"Kenapa sih, kenapa Alex dan Doni bisa ada di sini. Dan kenapa suamiku berubah jadi dingin banget padaku. Apa jangan-jangan ini ada hubungannya dengan kedatangan Doni dan Alex. Nggak biasanya mereka bertamu ke sini malam-malam. Aku harus selidiki semua ini. Aku nggak mau sampai ketahuan semua kejahatan aku. Aku nggak mau sampai masuk penjara," ucap Dara


__ADS_2