Gadis Cupu Milik CEO

Gadis Cupu Milik CEO
Kegeraman Pak Rajasa


__ADS_3

Pak Rajasa sejak tadi masih menikmati makannya. Dia masih membayangkan bagaimana kondisi istrinya. Sepulang dari rumah sakit, Pak Rajasa masih saja terbayang wajah Vivi yang tadi masih terbaring lemah di rumah sakit.


"Kasihan Vivi. Ya Tuhan, selamatkan lah nyawa istriku. Aku tidak mau sampai dia meninggal dan meninggalkan aku dan Alex. Alex belum menikah dan punya anak. Berikan umur panjang pada Vivi agar dia bisa melihat anaknya menikah. Sembuhkan Vivi ya Allah... Amin..."


Setetes air mata Pak Rajasa mengalir begitu saja dari pelupuk matanya. Dia masih ingat bagaimana perjuangannya dengan Bu Vivi sampai dia bisa sesukses sekarang.


Ya, Pak Rajasa memulai semuanya dari nol sebelum Pak Rajasa menjadi pengusaha yang sukses seperti sekarang. Dan Bu Vivi wanita yang selalu setia menemani perjuangan Pak Rajasa dalam membangun sebuah perusahaan. Pak Rajasa benar-benar sedih saat ini. Jika Vivi meninggal, belum tentu Pak Rajasa kuat hidup tanpa Vivi.


Pak Rajasa mengambil tisu yang ada di depannya. Setelah itu dia mengusap air matanya dengan tisu.


Setelah menghabiskan satu piring penuh nasi dan lauk pauknya, Pak Rajasa kemudian bangkit berdiri. selesai makan, Pak Rajasa kemudian melangkah pergi ke dapur untuk memanggil pembantunya.


"Ella...! Ella...!" seru Pak Rajasa memanggil Ella.


Ella yang dipanggil buru-buru melangkah dan mendekat ke arah Pak Rajasa.


"Iya Tuan. Ada apa?" tanya Ella.


"Tolong bereskan meja makan ya. Kamu bawa semua sisa makanan itu ke dapur ya," ucap Pak Rajasa.


"Baik Tuan."


Pak Rajasa kemudian melangkah untuk ke kamarnya. Sementara Ella membereskan meja makan dan membawa semua makanan itu ke dapur.


Sesampainya di dalam kamar, Pak Rajasa kemudian duduk di sisi tempat tidurnya. Dia menatap sekeliling.


"Kemana sebenarnya si Rita. Suami pulang, bukannya di sambut, malah pergi keluyuran. Aku harus telpon dia sekarang. Dan suruh dia pulang."


Pak Rajasa kemudian mengambil ponselnya. Setelah itu dia menekan nomer Rita.


"Halo...." suara Rita sudah terdengar dari balik telpon.


"Halo Rita. Di mana kamu sekarang?"


"Eh, Mas Rajasa. Sudah sampai mana Mas?"


"Aku sudah ada di rumah. Tapi aku cariin kamu malah nggak ada. Ke mana kamu heh...!"


"Maaf Mas. Aku fikir, kamu akan datangnya malam. Jadi aku main dulu ke rumah teman."


"Rita. Kapan sih, kamu itu berhenti main dengan teman-teman kamu. Coba kamu di rumah saja nggak usah keluyuran. Kamu itu lebih-lebih dari Alex."

__ADS_1


"Kenapa aku dibandingkan sama Alex Mas."


"Iya. Karena orang yang hobi jalan-jalan itu memang hobinya menghambur-hamburkan uang."


"Hah Mas, untuk apa Mas mikirin masalah uang. Uang kamu itu kan banyak Mas. Sayang kalau nggak dipakai. Kamu saja cuma punya anak Alex dan kamu nggak punya cucu. Lalu, kamu mau wariskan harta kamu itu ke siapa?"


"Kamu ini bicara apa sih Rita? yang jelas saja kalau bicara!"


"Kamu pasti akan wariskan harta kamu ke aku. Jadi wajar lah kalau aku pakai uang kamu untuk kebutuhan pribadi aku. Kan aku istri kamu. Kalau aku cantik, kamu juga kan yang seneng. Dan aku pakai uang kamu, untuk ke salon dan beli skincare yang paling mahal. Nggak usah bandingkan aku dengan anakmu itulah Mas."


"Rita. Aku itu belum mau mati. Kenapa harta warisan terus yang kamu bicarakan."


"Maaf Mas..."


"Sekarang kamu di mana? kapan kamu mau pulang?"


"Aku pulangnya malam Mas."


"Malam? emang kamu lagi ada urusan apa di luar. Kamu nggak bisa pulang sekarang?"


"Nggak bisa mas. Aku lagi ada urusan penting"


"Urusan penting apa sih Rita. Lebih penting mana urusan kamu sama menyambut kedatangan suami pulang."


"Ya sudahlah. Kalau kamu mau pulang malam. Jangan malam-malam pulangnya Rita."


"Iya Mas. Aku nggak akan pulang malam. Nanti aku akan makan malam di rumah deh, sama kamu."


"Iya."


"Ya udah ya Mas. Teman-teman aku udah nungguin nih. Bye sayang..."


"Bye..."


Pak Rajasa kemudian memutuskan saluran telponnya. Dia tampak geram pada Rita.


"Kenapa sih Rita. Semakin ke sini, semakin susah saja di atur. Begini nih, punya istri yang usianya jauh lebih muda dari aku. Susah untuk di aturnya. Tapi seharusnya wanita sepantaran Rita itu sudah dewasa. Tapi Rita, aku sama sekali tidak melihat ada kedewasaan dalam dirinya."


****


Sore ini, Dara masih menemani Bu Vivi di ruang rawat. Setelah Bu Vivi dinyatakan sudah membaik oleh dokter, Bu Vivi kemudian dipindahkan ke ruang rawat. Tapi Bu Vivi tetap harus menggunakan alat bantu pernafasannya. Karena dokter takut Bu Vivi akan sesak nafas lagi seperti tadi siang.

__ADS_1


Namun yang Dara lihat, Bu Vivi itu seperti sudah mulai sembuh deri gangguan jiwanya. Mungkin dokter Viko sahabat Alex, yang sudah perlahan-lahan membuat Bu Vivi membaik.


Bu Vivi hanya seperti orang yang amnesia saja saat ini. Dia tidak ingat apapun. Bahkan dia tidak mengingat Alex dan Pak Rajasa. Saat ini, dia hanya mengenal Dara. Sosok yang pertama kali ada saat Bu Vivi siuman.


Bu Vivi mencoba untuk duduk. Namun Dara melarangnya.


"Bu Vivi, jangan duduk dulu. Bu Vivi belum benar-benar pulih Bu. Kata dokter, Bu Vivi nggak boleh banyak gerak dulu."


"Dara, ibu sudah nggak betah lama-lama berbaring."


"Iya Bu. Dara tahu. Ibu kan sudah koma selama lima hari. Jadi wajarlah kalau ibu itu sudah nggak betah berbaring."


"Dara, ibu mau pulang. Di mana rumah ibu Dara?"


"Ibu, ibu jangan mikirin macam-macam dulu ya. Ibu tunggu dulu Mas Alex. Dia pasti akan datang ke sini kok."


Ring ring ring...


Suara ponsel Dara mengejutkan Dara. Dara kemudian mengambil ponselnya yang ada di dalam tasnya. Dia kemudian menatap Bu Vivi.


"Tunggu di sini ya Bu. Dara angkat telpon dulu."


Bu Vivi mengangguk.


Dara kemudian mengangkat telpon dari adiknya.


"Halo Oca. Ada apa?"


"Kak Dara kemana aja sih? kenapa Kak Dara lama sekali pulangnya."


"Duh, maaf ya Oca. Kakak belum bisa pulang. Kakak masih ada di rumah sakit."


"Kakak, emang istrinya Om Rajasa belum sembuh ya. Kenapa Kak Alex nggak suruh orang aja sih untuk nungguin ibunya di rumah sakit?"


"Oca, Oca jangan bilang seperti itu. Kasihan Kak Alex. Dia itu nggak punya siapa-siapa selain ibunya. Dia nggak punya kakak atau pun adik yang untuk gantian jagain ibunya."


"Ya udah deh. Jadi kapan kakak mau pulang?"


"Kakak mau nunggu Kak Alex dulu. Kak Alex nggak ada di sini. Mungkin dia lagi ada di kantornya.


"Ya udah deh. Aku tutup dulu ya Kak telponnya. Assalamualaikum."

__ADS_1


"Wa'alakiumsalam."


****


__ADS_2