Gadis Cupu Milik CEO

Gadis Cupu Milik CEO
Belum berakhir


__ADS_3

Siang ini, Alex masih berada di ruang kerjanya. Dia sejak tadi masih fokus dengan pekerjaannya.


Netra jernih Alex, masih menatap ke layar monitor. Sepertinya sejak tadi Alex masih sibuk dengan pekerjaannya. Sampai-sampai dia tidak menyadari kalau sekarang sudah waktunya istirahat.


Ring ring ring...


Tiba-tiba ponsel Alex berdering. Alex mengambil ponselnya dan mengangkat panggilan dari seseorang.


"Halo..."


"Halo Pak Alex. Ini dari kantor polisi."


"Oh iya. Ada apa? ada kabar tentang Martin?"


"Tadi pagi kami ke rumah Martin. Tapi Martin kabur dan dia lolos dari kejaran polisi."


"Apa! kabur? jadi Martin kabur? kenapa dia bisa kabur!"


"Kami sudah ke rumah Martin dan membawa surat penangkapan. Tapi ternyata Martin sudah kabur duluan lewat pintu belakang."


"Ya ampun, kenapa bisa seperti itu. Sekarang Martin buron?"


"Iya Pak Alex."


"Pokoknya saya nggak mau tahu. Martin itu orang yang sangat berbahaya. Polisi harus bisa menangkapnya dan memasukkan dia ke penjara."


"Kami akan mengerahkan semua anak buah kami untuk mencari Martin secepatnya."


"Baiklah. Saya akan tunggu kabar selanjutnya."


Setelah memutuskan saluran telponnya. Alex meletakan ponselnya kembali di atas meja. Setelah itu dia menutup layar monitornya dan bangkit berdiri. .


Alex kemudian melangkah pergi meninggalkan ruangannya. Perutnya sudah merasa lapar. Alex melangkah ke kantin kantor untuk makan.


Alex duduk di salah satu kursi yang ada di kantin. Setelah itu dia memesan makan pada ibu kantin.


Alex tampak berfikir.


"Tunggu, kalau Martin buron, itu artinya Rita bisa ikut jadi buronan juga," ucap Alex.


Alex tiba-tiba saja teringat dengan Rita.


"Aku harus telpon ke rumah Papa. Aku harus telpon Bik Lastri. Aku akan pastikan kalau Rita tidak ikut kabur bersama Martin."


Alex kemudian mengambil ponselnya dan menekan nomer Bik Lastri.


"Halo Tuan muda..." Suara Bik Lastri sudah terdengar dari balik telpon.


"Halo Bik Lastri."

__ADS_1


"Ada apa Tuan?"


"Rita ada nggak di rumah?"


"Oh, Nyonya Rita lagi pergi Tuan."


"Bik Lastri tahu nggak Rita pergi ke mana?"


"Saya kurang tahu Nyonya Rita mau pergi ke mana. Tapi tadi pagi saya lihat Nyonya membawa koper pergi. Katanya sih dia mau pergi liburan ke Bali."


"Apa! terus Rita bawa mobil juga?"


"Iya. Non Rita pergi bawa mobil baru."


Nggak salah lagi, pasti Rita ikut kabur kan setelah mendengar Martin kabur.


"Ya udah Bik. Makasih ya Bik Lanjutin lagi kerjanya Bik."


"Iya Tuan Alex."


Setelah menelpon pembantu Pak Rajasa, Alex kemudian menelpon Pak Rajasa.


"Halo Pa, aku ingin ngasih tahu papa sesuatu."


"Ngasih tahu apa?"


"Martin dan Rita sudah kabur dan jadi buronan Pa."


"Iya. Dan Rita juga ikutan pergi dari rumah."


"Rita juga pergi dari rumah?"


"Rita pasti sudah tahu dari Martin kalau kita sudah melaporkan Martin ke polisi. Rita pasti takut masuk penjara juga. Jadi sebelum kita laporkan dia ke polisi, dia sudah kabur duluan."


"Benar apa kata Doni. Rita itu seperti belut. Licin sekali untuk ditangkap."


"Tadi aku telpon Bik Lastri. Dan aku sudah tahu dari Bik Lastri, kalau Rita pergi dari rumah dengan membawa mobil baru dan koper. Katanya dia mau liburan ke Bali."


"Ah, nggak salah lagi. Mudah-mudahan saja Rita nggak membawa barang-barang berharga apa-apa dari rumah Papa. Mudah-mudahan saja dia cuma bawa mobil baru saja."


"Papa harus cepat pulang dan lihat kondisi rumah. Barang kali Rita bawa uang atau bawa barang-barang berharga dari rumah itu. "


"Kamu tenang aja Alex. Papa tidak akan pernah membiarkan Rita lolos dari kejaran polisi. Karena papa akan langsung menjebloskan Rita ke penjara dan papa akan langsung ceraikan wanita licik itu."


"Iya Pa. Udah dulu ya Pa. Aku mau makan dulu."


"Iya Alex."


****

__ADS_1


Sore ini Alex pulang ke rumahnya dengan wajah ditekuk. Sementara Dara, sudah menyambut kepulangan Alex di depan pintu rumah.


"Mas Alex, kamu kenapa? lagi ada masalah di kantor?" tanya Dara pada Alex.


"Iya. Aku lagi ada sedikit masalah," ucap Alex sembari masuk ke dalam rumah.


Sesampainya di ruang tengah, Alex menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Dia kemudian membuka dasinya dan mengambil remote tivi.


Alex menyalakan tivi. Alex terkejut saat melihat berita tentang Martin.


"Lihat Dara, kamu tahu siapa lelaki itu. "Alex menunjuk wajah Martin yang ada di tivi.


Dara yang tidak tahu masalah apa-apa hanya bisa memperhatikan wajah lelaki itu dengan seksama.


"Siapa dia emang Mas?"


"Dia itu lelaki selingkuhannya Rita. Dia sekarang lagi menjadi buronan polisi. Dia dalang dari pencurian uang papa yang satu milyar dan dia juga dalang dari perampokan di rumah papa."


Dara terkejut saat mendengar ucapan Alex. Begitu juga dengan Bu Vivi yang ada di belakang Alex. Dia juga ikut terkejut saat mendengar ucapan Alex itu.


"Apa!"


Bu Vivi buru-buru mendekat ke arah Alex dan duduk di sisi Dara.


"Sebenarnya ada apa ini Alex?"


"Ma, Papa itu sudah tahu semuanya tentang kejahatan Rita. Rita selama ini bersekongkol dengan lelaki tadi untuk memanfaatkan papa. Mereka mau mengambil semua harta papa."


"Tadi kamu bilang selingkuhannya Rita. Apa benar dia selingkuhannya Rita?"


"Iya Ma. Dia memang selingkuhannya Rita yang bersekongkol, untuk merampok uang papa."


"Jadi selama ini papa kamu sudah di tipu oleh ke dua orang itu Alex."


"Iya Ma. Kemarin Alex sudah melaporkan hal ini ke polisi dengan membawa bukti rekaman CCTV. Tadi pagi polisi mendatangi rumah Martin. Dan Martin kabur lewat pintu belakang. Dan sekarang dia lagi ada dalam kejaran polisi alias buron "


Bu Vivi dan Dara baru mengerti sekarang setelah Alex cerita semuanya. Mereka berdua masih tidak percaya saja kalau ternyata Rita sejahat itu.


"Aku yakin, kalau orang yang neror mama waktu itu orang suruhannya Rita, orang yang mau bunuh mama di rumah sakit juga orang suruhannya Rita. Dan aku yakin, kebakaran di rumah Dara juga mungkin ada hubungannya dengan wanita itu. Dia itu kan wanita iblis. Dia bisa menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Untunglah papa belum memindah nama rumahnya menjadi nama Rita."


"Terus bagaimana hubungan papa kamu dengan Rita?"


"Rita saat ini juga ikut kabur Ma. Dia kabur ke Bali dengan membawa mobil yang baru papa belikan kemarin. Aku yakin, setelah ini Papa pasti akan menjebloskan Rita ke penjara dan akan langsung menceraikannya.


"Huh, mama benar-benar nggak nyangka dengan semua ini Alex."


"Sabar ya Ma. Alex yakin, kalau Martin dan Rita sudah di penjara, hidup kita akan tenang, dan mama bisa bersatu lagi dengan papa."


Dara masih tampak mengingat sesuatu.

__ADS_1


Lelaki itu seperti aku pernah kenal. Dia kan lelaki yang waktu itu berantem dengan istrinya di rumah sakit. Nggak nyangka, kalau dia itu ternyata seorang penjahat. Kasihan istrinya punya suami seperti dia.


__ADS_2