Gadis Cupu Milik CEO

Gadis Cupu Milik CEO
Bujang Tua


__ADS_3

"Tunggu sebentar ya Dara. Aku mau pesan makan dulu," ucap Ranti.


Ranti kemudian berjalan pergi untuk memesan makanan di ibu kantin. Sementara sejak tadi Dara masih menikmati makanannya.


Beberapa saat kemudian, Ranti datang sembari membawa semangkuk bakso dan es teh manis. Dia kemudian duduk di dekat Dara dan meletakan bakso dan es teh manis di atas meja.


Ranti kemudian menatap Dara.


"Dara, kamu udah dari tadi di sini?" tanya Ranti.


"Udah lumayan lama Mbak," jawab Dara.


"Oh iya. Aku jadi kepo deh sama kamu," ucap Ranti sembari menyuap makanannya.


Dara mengernyitkan alisnya.


"Kepo gimana?" tanya Dara.


"Kamu itu seperti dekat banget dengan Pak Rajasa. Kamu kenal di mana dengan Pak Rajasa? atau kamu memang sudah kenal lama dengan dia?" tanya Ranti.


Dara tersenyum.


"Oh itu. Sebenarnya aku baru kenal dengan Pak Rajasa Mbak."


"Kenal dimana?"


"Pak Rajasa itu pernah nyerempet adik aku di jalan, terus dia yang nolongin adik aku dan membawa adik aku pulang," jelas Ranti.


"Oh gitu? terus kenapa kamu bisa kerja di sini? padahal di sini itu kantor yang paling susah lho, menerima karyawan. Apalagi karyawan yang baru latihan. Biasanya, semua yang keterima di sini itu karyawan yang sudah punya pengalaman, walaupun itu seorang office girl."


"Iya kah?"


"Iya. Yang aku lihat, kamu ini seperti baru lulus sekolah? soalnya wajah kamu masih muda banget."


"Iya Mbak. Aku memang masih 19 tahun."


"Oh. Pantas aja. Kamu itu masih imut-imut banget."


"Awalnya Pak Rajasa main lagi ke rumahku untuk melihat kondisi adik aku. Dan dia menawarkan pekerjaan ini untuk aku. Terus aku datang deh ke sini. Dan nggak nyangka, kalau Pak Rajasa mau menerima aku kerja di sini."


"Pak Rajasa itu memang baik. Beda dari anaknya yang sombong," ucap Ranti.


Dara menghentikan kunyahannya dan langsung menatap Ranti.


"Pak Rajasa punya anak?" tanya Dara penasaran.


"Iya. Dia punya anak. Tapi dia udah nggak kerja di sini lagi. Karena dia sudah punya cabang kantor sendiri. Tapi dia sering sekali bolak-balik ke sini, kalau ada meeting."


"Oh. Dia lelaki atau perempuan?"


"Lelaki. Dia bujang tua."


"Apa! bujang tua?" Dara terkejut saat mendengar ucapan Ranti.


"Iya bujang tua. Usia tiga puluh lima, tapi dia belum nikah. Dan kehidupannya juga royal. Dia suka banget gonta-ganti cewek."


"Dia play boy Mbak?"


"Yah, begitulah Dara. Dia tidak bisa melihat cewek cantik. Kalau ada cewek cantik juga langsung diembat. Tidak memandang cewek itu siapa. Dan dia juga pilih kasih," ucap Ranti.


"Pilih kasih gimana?" tanya Dara.


"Ya kalau karyawannya cantik dan masih muda, dia akan deketin terus dan akan di kasih banyak bonus. Tapi modus karena ada maunya. Giliran karyawan laki-laki atau yang udah emak-emak seperti aku, dia kesampingkan."

__ADS_1


"Emang dia cakep?"


Ranti tersenyum.


"Kalau menurut aku sih, dia sangat tampan Dara. Tapi kalau lihat kelakuannya, ih muak banget aku. Jangan sampai deh, kamu tergoda Dara. Untungnya dia udah jarang datang ke sini."


"Mbak kerja di sini sudah lama ya?"


"Ya, sudah sepuluh tahunan lah." Dari anak saya masih kecil, sampai anak saya sudah remaja."


"Oh, cukup lama ya. Makanya Mbak tahu banyak tentang bos dan anaknya itu," ucap Dara.


Setelah menghabiskan makanannya, Dara kemudian bangkit berdiri.


"Lho, mau ke mana Dara? waktu istirahat kan masih setengah jam lagi. Kita ngobrol-ngobrol dulu aja di sini," ucap Ranti.


"Aku tadi dipanggil Pak Rajasa."


"Mau ngapain?"


"Nggak tahu. Mungkin dia mau nyuruh aku atau apa nggak tahu."


"Ya udah sana, temui dia. Barang kali ada yang penting."


"Ya udah Mbak. Aku pergi dulu ya."


"Iya Dara."


Dara kemudian pergi meninggalkan kantin. Setelah itu dia berjalan untuk ke ruangan Pak Rajasa.


Tok tok tok...


Dara mengetuk pintu setelah dia sampai di depan ruangan Pak Rajasa.


Dara kemudian masuk ke dalam ruangan Pak Rajasa.


"Permisi. Apa bapak memanggil saya?" tanya Dara.


Pak Rajasa menatap Dara dan tersenyum.


"Dara, masuklah!" pinta Pak Rajasa


Dara kemudian masuk ke dalam ruangan Pak Rajasa.


"Duduk Dara! "


"Iya Pak."


Dara kemudian duduk setelah Pak Rajasa menyuruhnya duduk.


"Ada apa Pak Rajasa memanggil saya kemari?"


"Ada sesuatu yang mau saya bicarakan Dara."


"Apa Pak?"


"Begini Dara, mungkin satu minggu lagi, saya akan ke luar kota untuk mengurus bisnis saya yang ada di sana. Mungkin anak saya yang akan menggantikan posisi saya di sini untuk sementara."


Dara terkejut saat mendengar ucapan Pak Rajasa. Baru saja Ranti menceritakan tentang anaknya Pak Rajasa, sekarang Pak Rajasa bilang kalau anaknya akan menggantikan dia di kantor untuk sementara.


Dara bingung dan dia mulai berfikir.


Anak Pak Rajasa sebenarnya siapa sih dan seperti apa? katanya dia sombong dan playboy. Mudah-mudahan saja, dia nggak mesum seperti Tuan Alex. Aku paling malas, berhubungan dengan lelaki seperti Tuan Alex. Cukup Tuan Alex saja , yang jadi kenangan buruk untuk aku. Jangan ada lelaki seperti dia lagi.

__ADS_1


Pak Rajasa menatap Dara lekat.


"Kenapa Dara? ada apa denganmu?" tanya Pak Rajasa.


Dara yang ditanya hanya diam. Dia tidak menjawab pertanyaan Pak Rajasa.


"Dara...!" ucap Pak Rajasa lagi yang membuat Dara tersentak.


"Eh, iya Pak. Ada apa?"


"Kamu kenapa ngelamun? apa yang sedang kamu fikirkan?"


"Eh, nggak ada apa-apa kok Pak. Emang mau berapa lama bapak di luar kota?" tanya Dara


"Paling sebentar satu minggu Dara. Dan lama nggaknya saya belum tahu."


"Bapak punya anak lelaki?" tanya Dara.


"Iya Dara. Kenapa? kamu pengin kenalan sama dia?"


Dara tersenyum.


"Oh. Nggak kok Pak. Saya cuma mau tanya aja."


"Sayang kamu masih kecil Dara. Coba kalau kamu sudah usia 25 tahun ke atas. Saya pasti akan menjodohkan kamu dengan anak saya. Soalnya anak saya masih lajang."


"Emang berapa usia anak bapak?"


"Tiga puluh lima tahun Dara. Beda jauh dari kamu."


"Seusia kakak aku dong ya."


"Kamu punya kakak?"


"Iya. Aku punya Kakak laki-laki. Tapi beda ibu. Dan sekarang kakak aku itu sudah berkeluarga punya istri dan anak."


"Oh. Dia sering ke rumah kamu?"


Dara menggeleng.


"Nggak. Setelah ayah meninggal, kakak nggak pernah main lagi ke rumah aku Pak."


"Oh, kenapa begitu?"


"Nggak tahu. Mungkin dia lagi repot dengan pekerjaannya. Dia kan jarang di rumah."


"Kerja apa kakak kamu?"


"Kerja di luar negeri. Jadi TKI Pak."


"Oh."


Dara dan Pak Rajasa saling diam sejenak. Pak Rajasa kemudian menatap Dara.


"Dara, bisa kamu buatkan kopi untuk saya?" tanya Pak Rajasa.


"Oh, bisa Pak."


"Buatkan ya. Saya mau lekas bekerja. Tapi saya merasa ngantuk sekali. Saya ingin minum kopi."


"Iya Pak. Saya buatkan sekarang ya Pak."


"Iya Dara."

__ADS_1


__ADS_2