
Malam ini Alex masih berada di sisi kolam renang. Alex masih belum bisa tidur. Mungkin karena saat ini dia masih punya banyak fikiran.
Ting.
Suara notifikasi sudah terdengar dari ponsel Alex. Alex mengambil ponselnya dan membuka chat yang ada di whatsappnya.
(Mas, kamu udah tidur?)
Alex tersenyum saat melihat chat dari Dara.
(Aku belum tidur sayang)
(Sekarang kamu ada di mana? di kamar tamu, atau di kamar mama?)
(Aku nggak lagi di kamar sayang. Aku lagi di sisi kolam renang. Di teras samping rumah.)
(Oh. Kenapa kamu nggak tidur Mas? kamu mau tidur di kamar kamu? biar aku yang tidur di kamar tamu)
(Nggak usah Dara. Kamu tidur di kamar aku aja. Biar aku yang tidur di kamar tamu. Kecuali, kalau kamu ngizinin aku untuk tidur berdua dengan kamu di kamar atas. Nanti aku ke atas nyamperin kamu)
(Ish, apaan sih Mas. Jangan mulai deh...)
(Hehe... bercanda sayang.)
(Pokoknya aku nggak mau ya, tidur sekamar sama kamu kalau kita belum nikah)
(Dara, aku udah nggak tahan Dara)
(Nggak tahan apa?)
(Nggak tahan, aku pengin tidur bareng kamu. Aku pengin peluk kamu. Kapan sih sayang, pernikahan kita terjadi.)
(Sabarlah Mas. Nanti akan ada waktunya pernikahan itu terjadi. Masa iya kita ujug-ujug nikah. Apa yang akan dikatakan orang-orang. Benar sih apa kata Mama kamu, kalau kita tunangan dulu aja)
(Sayang, kalau kamu belum ngantuk, turun sayang. Temani aku di teras. Aku lagi nggak bisa tidur sayang)
(Iya Mas. Nanti aku turun ya temani kamu)
(Iya Dara. Aku tunggu ya)
Alex meletakan ponselnya di atas meja yang ada di sampingnya duduk.
Beberapa saat kemudian, Dara datang dan duduk di sisi Alex.
"Mas," ucap Alex.
__ADS_1
Alex menoleh ke sampingnya duduk dan tersenyum.
"Sayang. Kamu udah datang. Kenapa kamu belum tidur? kamu kedinginan?"
"Mas Alex sendiri, kenapa masih di sini, dan kenapa belum tidur?"
"Aku memang lagi nggak bisa tidur. Entah kenapa, mata aku susah sekali untuk di pejamkan."
"Sama kalau begitu Mas. Aku juga nggak bisa tidur.
"Dara, mau nggak kamu buatin aku kopi. Sekalian kamu buat kopi juga untuk kamu."
"Iya Mas. Malam ini juga dingin banget cuacanya. Kita duduk di dalam aja yuk Mas. Di ruang tengah, kayaknya lebih enak untuk kita ngobrol. Dari pada di sini, dingin," ajak Dara.
"Iya Dara." Alex hanya mengiyakan saja ajakan Dara.
Alex dan Dara bangkit berdiri. Setelah itu mereka melangkah masuk ke dalam rumah. Sesampainya di ruang tengah, Alex duduk di sofa yang ada di ruang tengah. Sementara Dara melangkah ke dapur untuk membuat kopi.
Beberapa saat kemudian, Dara datang sembari membawa nampan yang berisi dua cangkir kopi panas. Setelah itu, dia meletakan dua cangkir itu di atas meja. Setelah itu Dara pun duduk di dekat Alex.
"Sini lagi sayang. Aku pengin duduk di dekat kamu," ucap Alex sembari menepuk pelan sofa.
"Ini juga udah dekat Mas. Malu kalau ada yang lihat kita."
"Untuk apa malu, ini udah jam dua belas malam. Semua orang sudah pada tidur. Jadi kita bebas sayang, mau pelukan, mau ciuman, nggak akan ada yang lihat."
"Ya udah, makanya sayang, setelah kita tunangan, kita cepat-cepat aja tentuin tanggal pernikahan kita. Biar kita bisa cepat-cepat halal, dan bebas untuk melakukan apapun."
"Ya udah Mas. Di minum kopinya mumpung masih anget-anget."
"Iya Dara. Kamu juga ya."
Dara mengangguk.
Dara dan Alex kemudian mengambil cangkir yang ada di atas meja. Setelah itu mereka menyeruput kopi itu bersamaan.
Setelah meletakkan cangkirnya di atas meja, Dara menatap Alex lekat. Dara melihat ada yang berubah pada diri Alex. Sejak tadi Alex diam dan masih tampak melamun. Padahal waktu sore tadi, Alex masih terlihat ceria. Dan saat ini, wajah Alex tampak murung. Seperti ada sesuatu yang sudah terjadi pada Alex.
"Mas Alex, kamu kenapa?" tanya Dara.
Alex menatap Dara.
"Aku nggak apa-apa Dara," jawab Alex.
"Bohong. Mas Alex pasti bohong. Mas Alex lagi ada masalah ya? apa Mas Alex bisa cerita masalah Mas Alex itu padaku?" tanya Dara penasaran.
__ADS_1
Alex menatap Dara lekat. Sebenarnya Alex tidak mau melibatkan Dara dalam masalah ini. Alex tidak mau membuat Dara ikut kefikiran dengan masalah yang sedang menimpanya saat ini.
"Mas Alex, ada apa?"
"Kamu ingat kan dengan Desi?"
Dara mengangguk.
"Iya Mas. Aku masih ingat sama dia."
"Waktu terakhir aku berantem sama dia, apa kamu tahu apa yang sudah Desi lakukan?"
Dara menggeleng.
"Apa memang yang sudah dia lakukan. Dia minta balikan sama kamu Mas?"
"Bukan itu. Tapi..." Alex menggantungkan ucapannya.
"Tapi apa Mas?" tanya Dara.
"Setelah aku putuskan Desi, dia jadi depresi Dara. Dia kemarin minum racun. Dan sekarang keluarganya menuntut aku," jelas Alex.
"Menuntut apa Mas?"
"Mereka meminta aku bertanggung jawab untuk semua masalah Desi. Kalau tidak, Pak Dio akan memutuskan semua kerja samanya dengan perusahaan aku. Dan apa kamu tahu, kalau perusahaan aku bisa terancam bangkrut kalau Pak Dio sampai mencabut semua sahamnya dari perusahaan aku."
Dara terkejut saat mendengar ucapan Alex.
"Apa! perusahaan kamu akan mengalami kebangkrutan?"
"Iya Dara. Aku sudah lama menjalin kerja sama dengan Pak Dio ayahnya Desi. Dia orang yang sudah ikut andil membesarkan nama perusahaan aku dan memajukan perusahaan aku. Dan aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, kalau tiba-tiba saja dia memutuskan semua kerja samanya dengan perusahaan aku."
"Terus, apa sebenarnya mau Pak Dio itu. Kenapa dia mau memutuskan semua kerja samanya dengan perusahaan kamu?" tanya Dara.
"Pak Dio dan istrinya meminta aku untuk menikahi Desi. Kata Pak Dio, kalau aku mau menikah dengan Desi, dia akan mempercayakan semua perusahaannya padaku dan akan menjadikan aku pengusaha yang hebat dan tak terkalahkan. Tapi sebaliknya. Kalau aku nggak menikah dengan Desi, dia akan mencabut semua kerja samanya di perusahaan aku. Dan akan menghancurkan perusahaan aku."
"Terus apa yang akan kamu lakukan sekarang Mas? kenapa kamu nggak minta bantuan Pak Rajasa saja. Pak Rajasa pasti mau bantuin kamu."
"Nggak. Aku nggak mau melibatkan Papa aku dalam urusan ini. Karena perusahaan aku itu nggak ada sangkut pautnya dengan perusahaan papa aku Dara."
"Terus, kamu mau nikahin Desi? ya udah, kita batalkan aja pertunangan kita dan kamu nikahi Desi. Biar kamu nggak punya masalah dengan keluarga mereka," ucap Dara yang sudah mulai kesal.
"Dara, kamu nggak usah ikut-ikutan memikirkan hal ini. Aku bisa atasi masalah aku sendiri. Ini masalah perusahaan, Dara. Dan kamu nggak akan tahu menahu masalah seperti ini. Kamu fokus aja dengan kuliah kamu. Jangan ikut mikir masalah-masalah aku. Pertunangan kita, dan pernikahan kita akan tetap dilaksanakan. Kapan pun waktunya. Karena aku sudah memikirkan ini dari jauh-jauh hari,"
"Iya Mas. Aku percaya sama kamu. Kalau kamu itu memang mau seriusan sama aku. Buktinya, kamu sekarang sudah berani putusin Desi dan semua pacar-pacar kamu."
__ADS_1
"Iya Dara. Itu karena aku mau membuktikan kalau aku benar-benar cinta sama kamu, dan aku nggak pernah main-main dengan hubungan kita,"