Gadis Cupu Milik CEO

Gadis Cupu Milik CEO
Kabur


__ADS_3

Deg deg deg...


Jantung Dara sejak tadi masih berdegup kencang. Dara benar-benar takut kalau Alex akan benar-benar menyentuhnya malam ini.


'Tuhan, tolong selamatkan aku dari lelaki ini. Aku ingin ketemu ibu dan adik-adik aku. Aku nggak mau terjebak di sini, bersama lelaki ini. Ibu dan ke dua adik ku pasti sedang menungguku. Mereka pasti sangat membutuhkan aku sekarang' batin Dara


Keringat dingin sudah mulai mengucur deras dari kening Dara saat Alex memeluknya. Hembusan nafas Alex juga sudah berhembus menerpa belakang leher Dara. Wangi maskulin juga sudah menyeruak menusuk indra penciuman Dara.


Sejak tadi Dara masih mencoba untuk bisa mengendalikan diri. Dia tidak boleh terpancing oleh nafsunya sendiri. Dara sejak tadi masih tampak berfikir. Memikirkan bagaimana terlepas dari jeratan Alex majikannya itu.


Ring ring ring


Suara deringan ponsel Alex mengejutkan Alex. Alex segera melepas pelukannya. Dia kemudian mengambil ponselnya yang ada di saku celananya.


"Hah, siapa sih yang nelpon. Ganggu orang saja," gerutu Alex. Dia tampak marah, saat ada yang mengganggu waktunya bersama Dara.


Alex kemudian mengangkat panggilan dari ayahnya.


"Halo Alex .." suara Pak Rajasa sudah terdengar dari balik telpon.


"Ada apa Pa? kenapa malam-malam nelpon?"


"Alex. Besok akan ada meeting penting dengan klien. Kamu harus berangkat pagi-pagi Alex."


"Iya."


"Kamu sudah mempersiapkan berkas-berkasnya kan Alex."


"Ya. Sudah Pa."


"Ya udah. Papa cuma mau bilang itu aja. Silahkan lanjutkan istirahatmu Nak."


Alex memutuskan saluran telponnya. Setelah itu, dia membanting ponselnya ke atas ranjangnya.


"Hah, papa benar-benar sudah menggangguku!" geram Alex.

__ADS_1


Alex kembali menatap Dara yang masih berdiri dengan kecemasan. Wajahnya sejak tadi tampak tegang. Mungkin hari ini, dia akan benar-benar melepaskan kesuciannya untuk lelaki yang berstatus sebagai majikannya itu.


Alex mendekatkan dirinya pada Dara. Degup jantung Dara sudah berpacu lebih cepat dari biasanya. Dara memang masih gugup. Tapi, Dara masih bisa mengendalikan diri untuk tidak terpancing oleh lelaki tampan itu.


Alex masih menatap Dara. Dia menyibak rambut Dara dan meletakkan rambut Dara ke belakang telinga. Setelah itu, Alex mengecup kening Dara.


Nggak, aku nggak bisa seperti ini. Tapi, jika aku menolak Tuan Alex, bagaimana nanti dengan ibu. Aku harus menyelamatkan ibu.Pokoknya ibu harus sembuh. Aku masih membutuhkan uang itu.


"Dara, apakah kamu sudah siap?" tanya Alex yang sejak tadi masih menatap Dara lekat.


Dara mengangguk dan mulai memejamkan matanya. Di saat-saat seperti ini, sudah tidak ada pilihan lain, kecuali dia hanya bisa pasrah menyerahkan dirinya untuk Alex.


"Dara, kamu tunggu dulu di sini. Aku mau ke kamar mandi sebentar," ucap Alex.


Alex kemudian berjalan menuju kamar mandi. Dia masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintu kamar mandinya.


Ring ring ring ...


Deringan ponsel Dara membuat Dara tersadar. Sejenak, Dara terbuai oleh Alex. Dara mendekat ke arah tasnya untuk mengambil ponselnya.


"Halo..."


"Halo... benar ini keluarga Bu Dian?"


"Iya benar. Saya anaknya."


"Saya dari pihak rumah sakit, ingin mengabarkan kalau Bu Dian sudah meninggal dunia."


"Apa! ibu aku meninggal?"


"Iya Mbak. Mbak bisa datang ke rumah sakit sekarang."


Dara terkejut bukan main saat mendengar kabar dari rumah sakit kalau ibunya meninggal dunia. Tubuh Dara sudah melemas namun, dia harus kuat. Dara harus pergi ke rumah sakit untuk melihat kondisi ibunya.


Dara melepas high heelsnya. Dia mengambil tasnya dan berlari ke luar dari hotel. Dara sudah tidak perduli lagi dengan urusan yang lainnya. Baginya sekarang adalah ibunya. Orang tua satu-satunya yang dia punya. Untung saja, kuncinya masih tergantung di pintu. Makanya, Dara bisa menerobos keluar dari hotel itu.

__ADS_1


Jam dua belas malam Dara menapaki jalan raya. Dia menatap kesana-kemari untuk mencari tumpangan. Namun, tidak ada satupun mobil yang mau berhenti dan memberikan tumpangan untuk Dara.


"Aku harus kemana sekarang. Apakah aku harus jalan kaki sampai rumah sakit." Ucap Dara.


***


Alex ke luar dari kamar mandi dengan bertelanjang dada. Saat ini dia hanya mengenakan handuk saja yang melilit di pinggangnya. Alex terkejut saat dia tidak melihat Dara ada di kamarnya.


"Dara kemana," ucap Alex sembari menatap ke sana kemari.


Alex menatap pintu hotel yang tampak sedikit terbuka.


"Kurang ajar! beraninya dia kabur. Punya nyali juga wanita cupu itu. Aku nggak akan pernah memaafkannya karena dia sudah berani membohongiku," geram Alex.


Alex ingin mengejar Dara. Namun dia sadar, kalau sekarang dia masih telanjang. Tidak mungkin dia keluar hanya dengan memakai handuk saja.


Tatapan Alex terpaku pada sepatu Dara yang tertinggal di kamar hotel. Alex segera memungutnya dan membuangnya ke sembarang.


"Dara...! aku akan cari kamu sampai dapat...!" suara geraman Alex sudah menggema di seluruh sudut kamar.


Alex kemudian buru-buru ganti baju. Setelah itu, dia pun pergi meninggalkan hotel untuk mencari Dara.


Alex masuk ke dalam mobilnya setelah dia sampai di tempat parkir. Alex kemudian melajukan kendaraannya dengan kecepatan penuh.


"Aku akan cari kamu sampai ketemu Dara. Aku tidak akan pernah membiarkan kamu lolos dari kejaranku."


Alex mengemudikan kendaraannya dengan kecepatan penuh. Dia mencari Dara di setiap sudut jalan.


"ke mana wanita itu. Dasar, wanita licik? Dia belum tahu aja dia sedang berurusan dengan siapa." Gerutu Alex di tengah-tengah menyetirnya.


Alex benar-benar sudah dibuat kesal oleh Dara. Sudah susah payah Alex merayu Dara agar Dara mau tidur dengannya, Dara malah kabur dengan membawa cek dua puluh juta.


"Baru kali ini, ada wanita yang berani mempermainkan ku. Lihat saja, apa yang akan aku lakukan sama kamu Dara...!" geram Alex.


Alex sangat marah pada Dara. Dia mencaci maki Dara di dalam mobil. Baru kali ini ada wanita yang berani mempermainkan dia. Dan baru pernah ada wanita yang berani menolak Alex.

__ADS_1


***


__ADS_2