Gadis Cupu Milik CEO

Gadis Cupu Milik CEO
Sandiwara


__ADS_3

Setelah menempuh beberapa menit perjalanan dari rumah sakit sampai ke rumah Alex, mobil Alex dan ke dua mobil bodyguardnya sudah sampai di halaman depan rumah Alex.


Bu Vivi menatap rumah yang tampak asing itu.


"Alex, ini rumah siapa?" tanya Bu Vivi.


"Ini rumah aku Ma. Dan mama sekarang tinggal di sini bersama aku."


Pak Tino buru-buru menghampiri mobil majikannya untuk menyambut kepulangan Bu Vivi.


Alex turun dari mobilnya. Setelah itu dia membuka pintu belakang mobil di mana Bu Vivi duduk.


"Pak Tino, tolong bantu saya," ucap Alex.


Pak Tino dan Alex kemudian membantu Bu Vivi untuk turun dari mobilnya. Setelah Bu Vivi turun, Dara juga ikutan turun dari mobil itu. Setelah itu mereka masuk ke dalam rumah. Sementara Doni dan dua bodyguard masih menunggu dan mengawasi di depan rumah.


Alex mendorong kursi roda mamanya sampai ke kamar. Dia kemudian membantu mamanya untuk naik ke atas tempat tidur. Walaupun Bu Vivi masih bisa jalan, namun kondisinya masih sangat lemah. Sebenarnya dia masih butuh perawatan dokter.


"Ma, mama sama Dara dulu ya di sini. Alex mau keluar dulu sebentar."


"Iya Alex."


Alex menatap Dara yang saat ini masih berdiri di sisi mamanya.


"Dara, kamu temani mama di sini ya," ucap Alex.


"Iya Mas."


Alex kemudian pergi meninggalkan kamar mamanya. Dia keluar dari rumah untuk menghampiri Doni dan ke dua bodyguardnya.


"Don, saya minta sama kamu dan dua anak buah kamu, untuk mengawasi di sini."


"Iya Pak Alex."


"Pokoknya, saya tidak mau sampai kalian kecolongan. Jika ada seseorang yang mencurigakan datang ke sini, lapor ke saya."


"Baik Bos," ucap kedua bodyguard itu kompak.


"Saya mau ke kantor. Kalau ada apa-apa, segera laporkan ya."


"Siap Bos."


Alex kemudian pergi meninggalkan Doni dan dua bodyguardnya dan masuk ke dalam rumah. Alex naik ke lantai atas untuk ke kamarnya. Dia akan bersiap-siap ke kantor.


****


Sore ini, Rita masih duduk di teras samping rumah. Dia masih tampak santai membaca-baca majalah.


Sesekali Rita menatap air kolam renang yang jernih.


"Kenapa nggak ada kabar lagi ya dari Martin dan ke dua anak buahku," ucap Rita.


Ring ring ring...


Ponsel Rita yang ada di atas meja berdering. Rita mengambil ponsel itu dan mengangkat panggilan dari seseorang.

__ADS_1


"Halo..."


"Halo Bos..."


"Ada apa Ton?"


"Saya mau menginformasikan kalau Bu Vivi sudah pulang ke rumah Alex."


"Apa! pulang ke rumah Alex. Bagaimana bisa. Mbak Vivi itu kan baru kemarin siuman. Masa dia sudah diperbolehkan pulang sih."


"Kalau itu saya nggak tahu bos kenapa. Tapi tadi siang saya melihat kalau Alex membawa Bu Vivi pulang. Bahkan sekarang Alex sudah memperketat penjagaannya."


"Ya ampun, kenapa bisa seperti itu sih. Dari dulu memang susah sekali untuk menyingkirkan wanita itu."


"Bos, kalau di rumah Alex menurutku sangat sulit untuk kita masuk ke sana. Semua sudut ruangan ada CCTV. Jika kita gegabah dalam bertindak, bisa cepat ketahuan Bos."


"Ya sudah. Nanti aku akan pikirkan cara lain untuk menyingkirkan wanita itu."


"Baik Bos."


Tut Tut Tut ..


Rita memutuskan saluran telponnya. Setelah itu dia bangkit berdiri.


"Hah... gagal lagi, gagal lagi, kenapa sih selalu saja seperti ini..."


"Apanya yang gagal Rita?"


Rita menoleh ke belakang. Di belakang Rita, sudah tampak Pak Rajasa berdiri.


"Mas... kamu sudah pulang?" tanya Rita.


Pak Rajasa mengangguk.


"Aku baru datang Rita. Kamu kenapa?"


Rita tersenyum menyembunyikan kegugupannya.


"Oh, nggak apa-apa kok. Kamu nyariin aku ya Mas?"


"Aku tahu kalau kamu pasti ada di sini," ucap Pak Rajasa.


"Ya udah yuk mas, kita ke kamar. Kamu kelihatan letih banget."


Rita meraih tangan Pak Rajasa dan menggandengnya sampai ke kamar. Setelah mereka masuk ke dalam kamar, Rita membantu Pak Rajasa melepaskan dasinya.


"Mas, bagaimana kondisi Mbak Vivi sekarang?" tanya Rita.


"Tumben kamu nanyain dia."


"Aku pengin jenguk dia Mas."


"Dia masih koma di rumah sakit. Dan malam ini aku mau jengukin dia lagi," ucap Pak Rajasa


'Oh, jadi Mas Rajasa belum tahu kalau istrinya itu udah siuman dan sudah dibawa pulang Alex.' batin Rita.

__ADS_1


"Mas, aku ikut ya," ucap Rita.


Pak Rajasa melangkah dan duduk di sisi ranjang.


"Ikut ke mana?"


"Ke rumah sakit jengukin Mbak Vivi."


"Kamu yakin? bukannya kamu nggak suka sama Vivi? dan kamu ingin aku menceraikan dia?" tanya Pak Rajasa menatap lekat Rita.


"Yakin Mas." Rita menghempaskan tubuhnya di sisi Pak Rajasa. Dia kemudian menatap Pak Rajasa.


"Aku pengin lihat kondisi Mbak Vivi. Sekalian aku mau minta maaf sama dia. Selama ini, aku sudah membenci dia. Sebenarnya aku itu kasihan saat melihat kondisi Mbak Vivi seperti ini," ucap Rita.


"Aku sebenarnya ingin akur dengan Mbak Vivi dan Alex. Aku tidak mau hidup bermusuhan seperti ini. Tapi kenapa Alex sangat membenciku. Sampai sekarang dia tidak pernah mau menerima kehadiranku. Dan dia juga tidak pernah mau memanggil aku mama. Padahal aku ini kan juga ibunya."


Rita menyenderkan kepalanya di bahu Pak Rajasa.


"Nggak usah sedih begitu, nanti saya akan ajak kamu ke rumah sakit ya sayang," ucap Pak Rajasa. Setelah itu dia mencium kening Rita.


Rita mendongak menatap wajah Pak Rajasa.


"Makasih ya Mas."


Pak Rajasa mengangguk.


Rita memang selalu sukses memerankan sandiwara di depan Pak Rajasa. Dia bisa membuat Pak Rajasa mempercayainya.


"Mas, kamu mau mandi? biar aku siapkan air hangat ya."


"Iya Rita."


Rita berdiri. Dia kemudian melangkah ke kamar mandi untuk menyiapkan air hangat dan perlengkapan mandi suaminya. Setelah itu dia keluar dari kamar mandi dan mendekat ke arah suaminya.


"Ada apa Mas?" tanya Rita yang melihat Pak Rajasa murung.


"Ada kabar buruk Rit," ucap Pak Rajasa.


Rita mengernyitkan alisnya.


"Kabar buruk apa Mas?"


"Aku kehilangan uang satu milyar."


"Apa! kok bisa Mas?"


"Ada seseorang yang masuk ke ruanganku dan membobol brankas ku."


Oh, jadi Mas Rajasa sudah membuka brankasnya. Dan dia sudah tahu kalau uangnya ada yang ngambil. Aku harus pura-pura tidak tahu. Aku tidak mau membuat Mas Rajasa curiga sama aku.


"Kok bisa begitu Mas? lalu siapa yang udah mengambil uang kamu?"


"Saya juga nggak tahu."


"Yang tahu kunci brangkas kamu itu kan cuma Alex anak kamu. Aku yakin, kalau Alex yang sudah mengambil uang kamu. Apa kamu sudah tanya sama Alex soal uang itu?"

__ADS_1


"Ya. Aku sudah tanya sama Alex. Tapi Alex nggak tahu dan Alex tidak mengambil uang itu."


"Hah, aku tahu Alex itu cuma pura-pura saja. Kan dari kamu pergi, Alex yang keluar masuk ke dalam ruangan kamu. Pasti dia lah yang ambil. Dia tidak mau ngaku karena dia tidak mau disalahkan oleh kamu Mas."


__ADS_2