
Pagi-pagi, Bu Vivi sudah terbangun dari tidurnya. Dia menatap ke arah sofa. Alex tampak masih terlelap di atas sofa.
Bu Vivi tersenyum.
"Kasihan Alex, dia tidurnya nyenyak banget begitu," ucap Bu Vivi.
Bu Vivi turun dari tempat tidurnya. Dia kemudian keluar dari kamarnya. Bu Vivi melangkah ke dapur untuk mengambil minum.
"Nyonya Vivi," ucap Mirna saat melihat Bu Vivi.
Mirna segera menghampiri majikannya.
"Nyonya Vivi kenapa keluar dari kamar? bukankah Nyonya Vivi masih sakit?" tanya Mirna.
"Saya haus, pengin minum. Saya nggak tega membangunkan Alex. Dan saya juga sudah sehat kok Mirna," ucap Bu Vivi.
Bu Vivi mendekat ke arah kompor.
"Kamu lagi masak apa?" tanya Bu Vivi menatap panci yang ada di atas kompor.
"Oh, itu. Saya lagi rebus ayam. Saya mau goreng ayam dan bikin sop buat sarapan Tuan Alex."
Bu Vivi manggut-manggut.
"Saya bantu ya Mirna. Biar cepat selesai masaknya. Soalnya, saya sudah lapar."
Mirna terkejut saat mendengar ucapan Bu Vivi.
"Duh, Nyonya, mendingan sekarang Nyonya kembali lagi ke kamar. Saya takut dimarahin Tuan Alex kalau Nyonya ikut-ikutan terjun ke dapur. Masak itu kan sudah menjadi tugas saya di sini, biarkan saya dan pembantu yang lain saja yang mengerjakan semua ini. Nyonya jangan ikut-ikutan."
"Iya Nyonya. Benar apa kata Mbak Mirna. Masak itu bukan tugas Nyonya. Nyonya mendingan kembali saja ke kamar dan istirahat. Kalau nggak, Nyonya bisa tunggu di ruang tengah atau ruang makan," ucap Lestari menimpali.
"Iya Nyonya. Kalau Nyonya lapar, Nyonya bisa makan roti dulu," ucap Mbak Mirna.
"Baiklah. Aku tunggu di ruang makan saja ya."
Mbak Mirna mengangguk. "Iya Nyonya."
"Mari saya antar nyonya!" ucap Lestari.
Lestari kemudian mengantar Bu Vivi sampai ke ruang tengah. Dia kemudian menyuruh Bu Vivi untuk duduk.
"Tunggu di sini ya Nya. Saya ambilkan roti untuk Nyonya. Apa Nyonya mau sekalian dibuatin susu?
Bu Vivi mengangguk. "Boleh deh."
"Tunggu sebentar ya Nya. Saya ambilkan dulu."
Di dalam kamar, Alex mengerjapkan matanya. Dia menatap sekeliling saat dia tidak melihat keberadaan mamanya di dalam kamar. Alex beringsut duduk. Tanpa menunggu waktu lama, dia melangkah ke luar dari kamar Bu Vivi untuk mencari Bu Vivi di luar.
__ADS_1
"Ma... mama..." seru Alex.
Setelah sampai di ruang tengah, Alex menghentikan langkahnya saat dia melihat Bu Vivi yang tampak sedang menikmati roti dengan segelas susu.
Alex tersenyum dan mendekat ke arah mamanya.
"Selamat pagi Ma," ucap Alex sembari menghempaskan tubuhnya di atas sofa ruang tengah.
Bu Vivi tersenyum.
"Pagi Alex. Kamu sudah bangun?"
"Iya Ma. Hari ini aku sengaja bangun pagi. Aku mau ngantar Dara ke makam orang tuanya."
"Ke makam orang tua Dara? emang orang tua Dara sudah meninggal?"
"Iya Ma. Dara itu kan yatim piatu. Dia anak orang yang tak punya. Makanya aku ingin selalu membantu dia. Kasihan dia Ma. Rumahnya aja jelek dan sempit. Dan dia punya dua adik yang lagi sekolah."
"Alex, apa mama boleh ikut?" tanya Bu Vivi.
Alex diam. Sebenarnya, Alex ingin pergi hanya berdua saja dengan Dara.
Duh, kenapa mama harus minta ikut sih. Apa mama nggak tahu, kalau aku mau pedekate sama Dara. Sudah lama aku nggak ajak dia jalan.
"Jangan dong Ma. Mama di rumah aja. Alex mau berdua saja sama Dara. Lagian Mama itu kan masih sakit."
"Tapi mama sudah sembuh dan sudah sehat kok Alex,"
Bu Vivi diam. Dia kembali teringat dengan sosok misterius yang semalam hadir di rumahnya.
"Tapi mama takut Alex. Bagaimana kalau lelaki itu datang lagi ke sini."
"Mama tenang aja. Alex nggak akan lama kok perginya. Lagian di sini kan banyak orang. Ada Pak Tino, Doni, Ratih, Mbak Mirna, dan Lestari. Mereka akan jagain mama."
Bu Vivi cemberut.
"Bilang saja kalau kamu mau berduaan sama Dara. Apa belum cukup waktu yang semalam."
Alex mengernyitkan alisnya.
"Maksud mama?"
"Emang mama nggak tahu kalau semalam kamu itu berada di luar rumah sampai larut kan sama Dara."
"Mama kok tahu. Mama semalam nggak tidur?"
"Mama nggak bisa tidur Alex. Kalau semalam mama tidur, mungkin mama nggak akan lihat sosok misterius itu."
"Ya udah. Sosok itu udah nggak ada kok. Dan dia nggak akan datang pagi-pagi gini. Alex ke kamar dulu ya. Alex mau mandi."
__ADS_1
"Iya Alex."
Alex bangkit dari duduknya. Setelah itu dia naik ke lantai atas untuk ke kamarnya.
Alex terkejut saat melihat Dara yang masih tampak terlelap di atas ranjang empuknya.
Alex tersenyum. Dia mendekati Dara dan duduk di sisi ranjang.
"Nyenyak sekali kamu Dara tidurnya," ucap Alex sembari membelai lembut pipi Dara.
Alex tidak tega untuk membangunkan gadis itu. Alex kemudian membuka korden dan jendela agar udara di luar bisa masuk ke dalam kamarnya.
Setelah itu Alex mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi.
Beberapa saat kemudian, Dara terbangun. Dia mengerjapkan matanya dan terkejut saat melihat jendela.
"Lho, kenapa jendelanya sudah kebuka. Siapa yang sudah membuka korden jendelanya," ucap Dara.
Dara beringsut duduk. Samar-samar, dia mendengar gemericik air dari dalam kamar mandi.
"Siapa yang ada di kamar mandi. Apa jangan-jangan Mas Alex."
Dara menatap jam dinding dan terkejut saat melihat jam dinding. Karena saat ini waktu sudah menunjukkan jam setengah tujuh.
"Ya ampun, jadi aku kesiangan. Kenapa bisa sih aku kesiangan," rutuk Dara.
Dara kemudian turun dari tempat tidurnya. Dia melangkah dan mendekat ke arah jendela kamar. Dara menatap ke luar jendela.
Dara melihat ke bawah. Tampak Ratih dan Lestari sudah berada di bawah. Mereka tampak sudah mengerjakan pekerjaan mereka masing-masing.
"Mbak Ratih, dan Mbak Lestari sudah kerja pagi-pagi gini. Kenapa aku seperti majikan jam segini baru bangun."
Beberapa saat kemudian, Alex keluar dari kamar mandi. Tubuhnya masih tampak basah. Dia tersenyum saat melihat Dara. Dia kemudian mendekati Dara dan memegang bahu Dara.
Dingin, Dara merasakan dingin dari tangan Alex. Dara memutar tubuhnya dan terkejut saat melihat Alex.
"Mas Alex, kamu sudah mandi?" tanya Dara.
"Iya. Kamu nggak mau mandi?"
"Iya. Aku juga mau mandi kok."
"Dara, hari ini aku mau antar kamu ke makam ibu kamu, sekalian aku mau antar kamu untuk ketemu adik-adik kamu."
"Benarkah Mas? tapi apa Mas Alex nggak sibuk hari ini?"
"Kamu lupa ya, inikan hari sabtu. Hari sabtu dan minggu kan aku libur."
"Oh iya. Maaf ya Mas. Aku kesiangan."
__ADS_1
"Nggak apa-apa. Santai aja."