
"Kenapa Lex?" tanya Viko saat melihat Alex diam.
Alex menatap Viko.
"Aku harus bawa mama pulang besok. Rita pasti sekarang sudah tahu keberadaan Mama. Aku nggak mau sampai mama kenapa-kenapa," ucap Alex.
"Rita ibu tiri kamu? apa kamu yakin, kalau Rita pelakunya. Tapi kan tadi bukan Rita yang datang ke sini. Tapi seorang lelaki dan dia memakai topeng."
"Bisa saja kan kalau Rita lagi ngatur rencana untuk melenyapkan mama aku. Karena dia benci sama mama aku. Bisa saja dia menyewa orang untuk mencelakai mama. Bisa saja lelaki yang dilihat suster adalah orang suruhannya Rita. Siapa lagi musuhnya mama kalau bukan si Rita licik itu!"
Viko hanya manggut-manggut mendengar ucapan Alex.
"Ya, kita harus selidiki Lex. Benar Rita atau bukan yang ingin mencelakai mama kamu. Siapa tahu ada orang lain yang membenci kamu. Lalu dia ingin juga mencelakai mama kamu."
"Tapi firasat aku mengatakan, kalau memang Rita orangnya."
*****
Pagi-pagi sekali, Pak Rajasa sudah sampai di dalam ruangannya. Pak Rajasa meletakan tasnya di atas meja kerjanya. Setelah itu dia duduk di kursi kebesarannya.
Sudah beberapa hari ini, dia tidak masuk ke kantor karena dia harus melihat perkembangan perusahaannya yang ada di Bali.
Seharusnya Pak Rajasa di sana paling cepat satu minggu. Namun karena dia sakit dan ada kejadian yang menimpa Bu Vivi, sehingga Pak Rajasa memutuskan untuk langsung pulang ke Jakarta.
Pak Rajasa membuka layar monitornya. Setelah itu dia pun membuka semua berkas-berkasnya.
Tiba-tiba Pak Rajasa teringat dengan barang-barang yang ada di dalam brangkas. Brangkas yang banyak barang-barang berharga di dalamnya. Dia kemudian melangkah untuk melihat isi brankasnya.
"Aman nggak ya barang-barang ku setelah aku tinggal beberapa hari ke Bali," ucap Pak Rajasa.
Pak Rajasa kemudian membuka brankasnya. Dia terkejut saat melihat ke dalam brankas. Segepok uangnya hilang tak ada di dalam brankas itu. Namun barang-barang yang lain seperti surat-surat berharga masih utuh.
"Uangku... ke mana semua uangku. Kenapa uang ku bisa hilang di dalam brangkas," ucap Pak Rajasa panik. Dia tidak menyangka kalau semua uang yang ada di dalam brankas hilang
"Siapa yang sudah berani mengambil semua uangku yang ada di dalam brankas. Cuma Alex yang tahu kunci brankas ku. Apa jangan-jangan Alex yang sudah mengambil semua uangku, lalu untuk apa dia melakukannya."
"Aku harus telpon Alex sekarang."
Tanpa menunggu waktu lama, Pak Rajasa kemudian menelpon Alex.
"Halo..." suara Alex sudah terdengar dari balik telpon.
"Halo Alex, uang yang ada di dalam brankas papa hilang Alex. Apa kamu ambil uang Papa?"
"Apa! papa nuduh aku ngambil uang Papa? aku sama sekali nggak pernah buka-buka brankas Papa. Lagian, dari kemarin juga aku ada di rumah sakit nungguin mama."
"Tapi uang yang Papa simpan di brankas hilang semua Alex."
__ADS_1
"Ya terus, siapa yang sudah mencurinya Pa. Aku juga dari kemarin nggak ke kantor Papa."
"Makanya uang itu tidak sedikit Alex."
"Berapa emang uang itu Pa?"
"Satu milyar."
"Apa! Papa nyimpan uang satu milyar di dalam brankas di kantor. Itu sih salah Papa sendiri. Kenapa Papa nyimpan uang di dalam brankas sebanyak itu. Kenapa nggak masukan ke bank saja supaya lebih aman."
"Biasanya juga aman Alex. Papa juga nggak tahu, siapa orang yang sudah berani membuka brankas papa."
"Tapi kan kita tidak tahu Pa, siapa yang sudah ambil uang Papa. Lagian karyawan di kantor Papa kan banyak banget. Yang keluar masuk ruangan Papa aku yakin juga banyak. Dan kita tidak bisa asal nuduh orang."
"Iya Alex. Dan di dalam ruangan Papa juga nggak ada CCTV."
"Ya udah. Kalau gitu, Papa selidiki lagi dong , siapa orang yang sudah berani mencuri di kantor Papa."
"Iya Alex. Papa akan tanyakan ini sama semua karyawan Papa,"
"Ya udah. Aku lagi sibuk nih Pa. Aku tutup dulu ya telponnya."
"Iya Alex."
***
Tok tok tok...
"Ya ampun, sudah siang ternyata," ucap Dara sembari beringsut duduk.
Dara duduk dan menatap ke arah pintu. Dara kemudian berjalan untuk membuka pintu.
"Ica, kamu udah mau berangkat sekolah?" tanya Dara yang melihat Ica sudah rapi dengan seragam sekolahnya.
"Kak Dara, ini udah jam tujuh. Kenapa Kak Dara masih di kamar? Kak Dara nggak mau kerja?" tanya Ica.
Dara mengucek matanya.
"Maafkan kakak ya Ica. Kakak ngantuk banget. Semalam kakak nggak bisa tidur. Kakak juga lupa mau nyiapin makanan untuk kamu," ucap Dara.
"Nggak apa-apa kok Kak. Kami sudah makan roti tadi."
"Roti dari mana? kalian beli roti?" Dara menahan Ica lekat.
Ica menggeleng.
"Roti yang di kasih Bu Ratna kemarin."
__ADS_1
"Oh..."
Beberapa saat kemudian, Oca mendekat ke arah Ica.
"Kakak, kami berangkat sekolah dulu ya, udah siang nih..." ucap Ica
"Oh iya Ca. Hati-hati ya."
Oca dan Ica mencium punggung tangan Dara. Setelah berpamitan pada kakaknya, ke dua anak itu kemudian pergi meninggalkan rumah mereka untuk ke sekolah.
Dara melangkah ke ruang makan. Dia menghempaskan tubuhnya di atas kursi.
"Kasihan Ica dan Oca. Hari ini aku ngga masak. Kepala aku pusing banget..." Dara memegangi kepalanya.
Tin Tin Tin...
Suara klakson dari luar rumah Dara tiba-tiba saja terdengar. Dara bangkit dari duduknya dan melangkah ke ruang tamu.
Dia mengintip dari balik jendela.
"Tuan Alex, pagi-pagi banget dia sudah datang," gumam Dara.
Alex turun dari mobilnya. Setelah itu dia melangkah ke teras depan rumah Dara dan mengetuk pintu.
Tok tok tok...
Dara langsung membuka pintu depan. Alex tersenyum saat melihat Dara. Dia menatap Dara tanpa berkedip.
'Dara cantik dengan penampilan seperti ini,' Alex membatin. Dia tampak kagum dengan penampilan Dara dengan rambut yang masih acak-acakan dan Dara saat ini, juga hanya mengenakan daster di bawah lutut. Maklumlah baru bangun tidur.
Dara tampak gugup saat dirinya sejak tadi merasa diperhatikan oleh Alex.
"Mas Alex, kenapa ngelihatinnya seperti itu," ucap Dara.
"Kamu cantik Dara."
"Hehe... cantik gimana, orang aku aja masih dekil. Belum mandi dan baru bangun," Dara salah tingkah. Dia sejak tadi masih tampak menyisir-nyisir rambutnya dengan tangannya.
"Mas Alex, tumben banget sih, pagi-pagi udah ke sini," ucap Dara.
"Sebenarnya aku mau jemput kamu. Aku mau ngajak kamu ke rumah sakit lagi. Hari ini mama udah boleh pulang. Tapi dari tadi dia nanyain kamu terus Dara."
"Oh, Bu Vivi masih nyariin aku ya."
Alex meraih tangan Dara.
"Dara, tolong temani mama aku terus ya. Mama cuma nyaman sama kamu."
__ADS_1
'