
Pagi ini, Alex sudah tampak rapi dengan baju kantornya. Alex masih duduk di sisi ranjangnya sembari menatap layar ponselnya.
"Duh, kenapa sih Dara. Kenapa sampai sekarang hapenya nggak aktif-aktif. Apa dia sudah nggak mau bicara lagi sama aku," gumam Alex.
Beberapa saat kemudian, suara ketukan dari pintu kamar Alex terdengar.
"Tuan... Tuan Alex..." suara Ratih sudah terdengar dari luar kamar Alex.
Alex berjalan untuk membuka pintu.
"Ada apa Ratih?"
"Tuan Alex, Nyonya sudah nungguin Tuan di bawah."
"Iya. Sebentar lagi aku turun."
"Iya Tuan."
Ratih akan melangkah pergi meninggalkan Alex, namun buru-buru Alex mencegatnya.
"Ratih tunggu."
Ratih menghadapkan tubuhnya ke arah Alex.
"Ada apa Tuan?" tanya Ratih
"Ratih, Dara kenapa telponnya nggak aktif ya."
"Mana aku tahu Tuan. Harusnya Tuan yang lebih tahu tentang Dara. Kan sekarang Tuan yang lagi dekat dengan Dara."
"Ratih. Dara kalau marah lama ya? Kemarin, Dara ke kantor aku. Terus dia marah sama aku."
"Marah kenapa?"
"Dia lihat aku lagi berduaan di ruangan sama wanita. Menurut kamu aku harus gimana Ratih agar Dara mau maafin aku. Aku benar-benar bingung. Dia udah salah paham sama aku. Semalam dia nggak mau bicara sama aku. Dan telponnya sampai sekarang nggak pernah aktif."
Ratih tersenyum. Merasa konyol dengan pertanyaan majikannya.
"Tuan muda mau curhat sama aku, atau gimana ya. Kan Tuan muda itu paling pengalaman dan jago merayu cewek. Masa merayu Dara aja nggak bisa."
"Tapi Dara itu kan beda Ratih sama cewek-cewek lainnya."
"Ya terus, kenapa Tuan nanya ke saya. Ya mana saya tahu."
"Ratih, saya nanya sama kamu, karena kamu kan sudah lumayan dekat sama Dara, dan sudah mengenal Dara lama. Jadi wajar dong, kalau aku nanya sama kamu."
"Kalau menurut aku sih, kalau Tuan muda suka sama Dara, Tuan muda itu berhentilah untuk jadi playboy. Kasihan Dara, kalau Tuan permainkan. Dia itu sudah yatim piatu lho. Jangan main-main sama gadis yatim piatu. Nanti Tuan bisa dapat karma kalau sering mainin hatinya cewek-cewek."
"Hah, kamu kenapa malah bicara begitu. Aku itu lagi nanya gimana caranya bujuk Dara agar dia mau maafin aku. Kamu malah ceramahin aku dan nakut-nakutin aku."
"Menurut aku, Tuan Alex yang lebih tahu caranya membujuk Dara dan merayu Dara deh ketimbang aku. Ya udah Tuan. Kerjaan aku masih banyak. Aku turun ke bawah dulu."
__ADS_1
"Iya."
Ratih kemudian menuruni anak tangga untuk kembali ke dapur. Setelah Ratih turun, Alex pun kemudian mengikuti Ratih turun. Alex kemudian berjalan untuk ke ruang makan.
"Pagi Ma..." ucap Alex.
"Pagi Alex. Ayo sini Alex temani mama makan."
"Duh, kayaknya aku nggak bisa deh. Aku udah telat nih Ma. Aku mau buru-buru ke kantor."
"Kamu nggak mau sarapan dulu? apa perlu, mama siapkan kamu makanan untuk bekal kamu nanti siang."
"Nggak usah Ma. Aku bisa makan di luar kok."
"Ya udah. Terserah kamu."
"Oh iya Ma. Kalau Dara nanti datang ke sini, Tolong jangan biarkan Dara pergi lagi ya. Suruh dia nunggu aku sampai aku pulang kerja."
"Kamu sama Dara sebenarnya ada masalah apa sih Alex? kalian berdua lagi marahan?"
"Ceritanya panjang Ma. Aku nggak bisa cerita sekarang."
Alex mengambil susu hangat yang ada di atas meja. Setelah itu dia menenggaknya sampai habis.
"Aku berangkat dulu ya Ma. Assalamualaikum."
"Wa'alakiumsalam."
"Don, antar aku ke kantor Don. Mobil aku kan kemarin masih ada di kantor."
"Siap bos."
Doni kemudian mengambil mobilnya yang semalam dia parkir kan di garasi. Setelah itu dia meluncur mendekat ke arah Alex.
Alex kemudian masuk ke dalam mobilnya dan meluncur pergi meninggalkan rumahnya.
****
Pagi ini, Dara sudah siap untuk berangkat ke kantor Pak Rajasa. Dara saat ini masih berada di meja makan bersama ke dua adiknya.
"Oca, Ica, kalian berdua gimana sekolahnya setelah kakak tinggal? lancar kan? " tanya Dara menatap ke dua adiknya lekat.
"Iya. Kami sekolah terus kok Kak, jarang bolos," jawab Ica.
"Ya syukurlah."
"Kakak mau pergi ke mana? ke rumah Kak Alex ya?" tanya Oca di sela-sela kunyahannya.
"Nggak. Kakak mau ke kantor Pak Rajasa. Kakak mau kerja seperti biasa."
"Kerja jadi office girl lagi Kak?" tanya Ica.
__ADS_1
"Iya."
"Kenapa kakak nggak ke rumah Kak Alex lagi?" tanya Ica lagi.
"Untuk apa? Bu Vivi juga udah sembuh. Dia udah bisa apa-apa sendiri. Udah nggak butuh kakak lagi."
"Kakak lagi marahan ya sama Kak Alex?'" tanya Oca.
"Kata siapa?"
"Semalam Kak Alex nungguin kakak di depan. Dia rela tidur di depan untuk nungguin Kak Dara pulang. Kayaknya dia cinta banget deh sama Kak Dara, sampai-sampai dia rela di gigit nyamuk tidur di luar," ucap Ica yang membuat adiknya cekikikan.
"Hi...hi...hi..."
"Oca. Kenapa kamu ketawa seperti itu?" Dara menatap adiknya tajam. Nampaknya dia tidak suka jika ke dua adiknya itu membicarakan soal Alex.
"Kak Alex lucu banget Kak ternyata. Dia nggak mau masuk ke dalam karena trauma dengan tikus kemarin."
Dara bangkit dari duduknya.
"Oca, Ica, kakak mau berangkat dulu. Kalau kalian mau berangkat, kunci pintunya ya."
Setelah berpamitan dengan ke dua adiknya, Dara kemudian melangkah keluar dari rumahnya. Dara menghentikan langkahnya setelah dia sampai di pinggir jalan raya.
Dara kemudian menyetop taksi dan meluncur pergi untuk ke kantor Pak Rajasa.
Sesampainya di depan kantor Pak Rajasa, Dara turun dari taksi. Dia kemudian masuk ke dalam kantor besar itu. Dara melangkah masuk ke dalam kantor untuk mencari teman-temannya kemarin.
"Mbak Ranti," ucap Dara saat melihat Ranti.
Ranti tersenyum.
"Eh, Dara. Kamu sudah kembali kerja? dari mana aja kamu Dara?" tanya Ranti pada Dara.
Silvi salah satu teman Dara, menatap sinis Dara.
"Enak banget ya, jadi gadis kesayangannya bos besar. Masuk kerja seenaknya sendiri, lama nggak masuk, eh dia muncul lagi."
Dara hanya diam, saat mendengar sindiran dari temannya.
"Silvi. Lebih baik sekarang kamu kerja deh, dari pada kamu ngatain Dara macam-macam. Ini udah masuk waktu kerja, nggak usah ngurusin urusannya orang." Ranti menatap tajam ke arah Silvi.
Silvi hanya diam. Dia kemudian melangkah pergi meninggalkan Ranti dan Dara.
"Sudah, nggak usah dengerin ucapannya si Silvi. Dia itu iri sama kamu, karena selama ini kamu dekat banget dengan Pak Rajasa."
"Aku dekat dengan Pak Rajasa, karena aku ini anak dari teman dia. Bukan karena ada hal lain kok Mbak."
"Iya. Mbak percaya kok, sama kamu. Kalau kamu mau kerja, ayo kita mulai kerja."
"Iya Mbak."
__ADS_1