
Rita bangkit dari duduknya. Dia langsung merangkul bahu suaminya.
"Mas Rajasa, kamu kok bisa ada di sini? kamu tahu dari mana aku sedang sama Mas Martin kakak sepupu aku di sini?" tanya Rita
"Aku nggak tahu kalau Martin ini sepupu kamu. Maafkan aku Rita, kalau aku sudah salah paham sama kamu," ucap Pak Rajasa yang sudah mulai percaya kalau Martin adalah sepupu Rita.
"Nggak apa-apa Mas, ayo duduk Mas. Kita makan bareng di sini," ucap Rita mempersilahkan Pak Rajasa untuk bergabung berbaur bersama mereka.
"Tidak usah Rita, aku sudah makan sama Dara tadi," ucap Pak Rajasa.
Rita menatap ke arah seorang gadis yang ada di belakangnya duduk.
"Kamu mau ngapain ngajakin dia ke sini?" tanya Rita yang sudah menunjukkan wajah tidak sukanya saat melihat Dara.
"Saya ngajakin Dara makan bareng, sekalian saya mau antar dia pulang," jelas Pak Rajasa.
Ih, kenapa sih semakin hari, Pak Rajasa ini semakin dekat saja dengan Dara. Aku benar-benar tidak suka dengan gadis itu. Gadis itu, caper banget sih sama Alex dan Pak Rajasa. Aku nggak mau sampai gadis itu, nanti nikah sama Alex, batin Rita.
"Ya sudah, lanjutkan saja makan kalian. Saya permisi dulu," ucap Pak Rajasa.
"Kamu nggak mau gabung bareng kita Mas?" tanya Rita.
"Tidak Rita. Kasihan Dara sendirian."
Setelah berkata seperti itu, Pak Rajasa kemudian berjalan untuk kembali ke mejanya.
"Siapa Pak?" tanya Dara.
"Tadi Rita. Istriku. Dia lagi sama sepupunya ternyata," jawab Pak Rajasa.
"Oh... Pak, kita pulang sekarang yuk. Saya takut, adik saya nungguin."
"Baiklah. Ayo Dara."
Pak Rajasa dan Dara bangkit dari duduknya.
"Tunggu sebentar. Saya mau pesan makan dulu untuk ke dua adik mu," ucap Pak Rajasa. Setelah itu dia ke belakang cafe untuk memesan makanan untuk dia bungkus dan bawa pulang.
Setelah memesan makanan untuk Ica dan Oca, Dara dan Pak Rajasa kemudian keluar meninggalkan cafe itu.
Rita sejak tadi masih bersama Martin. Setelah Pak Rajasa pergi meninggalkan cafe, mereka bisa bernafas lega. Karena PaK Rajasa sama sekali tidak menaruh curiga pada mereka berdua. Dia mau saja percaya dengan ucapan Martin dan Rita.
"Hah, untung kita nggak ketahuan ya Mas," ucap Rita.
"Iya. Untung dia percaya dengan ucapan aku kalau aku ini sepupu kamu."
"Kamu memang pintar Mas kalau meyakinkan orang. Pak Rajasa langsung percaya begitu saja kalau kita ini sepupuan. Bagaimana kalau tadi dia nggak percaya ya Mas. Pasti bisa kacau semuanya kalau suami aku itu tahu kita pacaran," ucap Rita.
"Ya udah. Kita lanjut makan ya sayang. Nanti setelah ini aku antar kamu pulang. Suami kamu juga pasti mau pulang. Kamu harus sampai duluan sebelum suami kamu sampai. Biar dia tidak semakin curiga sama kita."
"Iya Mas."
Rita dan Martin kemudian melanjutkan makannya.
__ADS_1
****
Di dalam kamarnya, Ica masih menatap sebuah cincin cantik yang dia temukan di depan rumahnya.
Oca terkejut saat melihat cincin yang ada di tangan Ica.
"Lho, Kak. Itu bukannya cincin yang pernah Kak Dara pakai ya waktu itu?" ucap Oca sembari mendekat ke arah di mana Ica duduk.
"Iya. Ini memang milik Kak Dara. Aku lihat Kak Dara melepaskan cincin ini dan membuangnya," ucap Ica.
"Coba sini lihat Kak."Oca mengambil cincin yang ada di tangan kakaknya. Setelah itu dia menghempaskan tubuhnya di atas ranjang dan duduk di dekat kakaknya.
"Bagus banget ya Kak Ica cincinnya. Kira-kira, Kak Dara beli cincin ini di mana ya? Ini kelihatannya kayak cincin mahal ya Kak. Tapi Kak Dara beli cincin seperti ini uang dari mana?" ucap Oca sembari memperhatikan cincin itu dengan seksama.
"Siapa lagi kalau bukan dari Kak Alex. Aku yakin kalau cincin ini, pasti hadiah dari Kak Alex,," ucap Ica.
"Iya. Tapi kenapa di buang ya Kak?"
"Mana aku tahu. Mungkin, Kak Dara nggak suka sama cincin ini. Atau waktu itu Kak Dara lagi ngambek sama Kak Alex."
"Kak Dara nyariin ini cincin nggak sih Kak Ica?"
"Ya nggak tahu kalau itu. Kayaknya nggak deh. Dari kemarin dia diam aja," jawab Ica.
Ica kemudian mengambil cincin itu kembali dari tangan Oca." Sini, biar Kakak yang simpan cincin ini. Nanti kalau Kak Dara tanya, barulah kita kembalikan cincin ini."
"Iya Kak," ucap Oca.
Ica bangkit dari duduknya. Setelah itu dia menyimpan cincin itu di laci lemarinya. Ica dan Oca tidak pernah tahu, seberapa pentingnya cincin itu untuk Dara.
Jika tidak dibuang, dijual pun cincin itu akan jadi uang yang banyak. Mungkin bisa untuk membeli mobil dan rumah. Dan uang itu juga, bisa untuk membiayainya ke dua adik Dara sampai lulus SMA.
Oca bangkit dari duduknya. Setelah itu dia mendekat ke jendela kamarnya dan menatap ke depan.
"Kak Dara kok, belum pulang-pulang sih. Ke mana ya dia. Tumben pulangnya lama sampai mau isya," ucap Oca.
"Mungkin dia lagi ada di jalan Ca. Biasanya kalau sore kan jalanan macet."
"Tapi pakai ojek biasanya cepat sampai Kak."
"Mungkin saja Kak Dara naik taksi. Atau mungkin Kak Dara, diajak Kak Alex lagi ke rumahnya."
"Coba Kak Ica, telpon Kak Dara. Siapa tahu di angkat," ucap Oca.
"Iya deh."
Ica kemudian mengambil ponselnya. Setelah itu dia menelpon Dara.
Beberapa saat kemudian, suara Dara sudah terdengar dari balik telpon.
"Halo Ica..."
"Halo Kak Dara. Kakak ada di mana sekarang?"
__ADS_1
"Kakak lagi di dalam perjalanan pulang Ca."
"Kak Dara mau pulang ya?"
"Ya iyalah. Masa mau nginap."
"Kok sampai jam segini sih pulangnya Kak. Apa kakak habis lembur ya. Biasanya sore juga udah pulang."
"Nggak kok. Kakak lagi sama Pak Rajasa. Masih di dalam mobil mau meluncur pulang."
"Oh begitu? ya udah deh kalau gitu. Aku khawatir sama kakak."
"Jangan khawatirkan kakak. Kakak sekarang lagi sama Pak Rajasa ada di dalam mobilnya Pak Rajasa. Kamu tunggu aja di rumah."
"Oh begitu ya Kak. Ya udah ya Kak. Aku tutup dulu telponnya. Aku tunggu di rumah deh. Assalamualaikum Kak."
"Wa'alakiumsalam."
Setelah menutup saluran telponnya, Ica menatap Oca.
"Bagaimana Kak Ica? Kak Dara bilang apa tadi?"
"Katanya dia lagi dalam perjalanan pulang. Sama Om Rajasa."
"Oh."
"Kita tunggu di ruang tamu aja yuk. Siapa tahu Kak Dara bawa makanan pulang. Biasanya kan gitu. Kalau dia pulang bareng Om Rajasa dia bawa makanan!" ajak Ica.
"Ayo Kak."
Setelah lama menunggu, akhirnya deru mobil dari luar rumah terdengar.
"Itu pasti Kak Dara," ucap Ica.
Ica dan Oca kemudian keluar untuk menyambut kepulangan Dara. Mereka tersenyum saat melihat Pak Rajasa dan Dara turun dari mobil. Pak Rajasa dan Dara kemudian melangkah mendekat ke arah Ica dan Oca.
"Oca, Ica, kamu sudah nungguin ya?" tanya Pak Rajasa.
"Iya Om," ucap Oca. Dia lantas mencium punggung tangan Pak Rajasa.
Begitu juga dengan Ica yang ikut mencium punggung tangan Pak Rajasa. Setelah itu mereka menatap Pak Rajasa lekat.
"Om mau mampir dulu, masuk ke dalam?" tanya Ica.
"Oh, nggak usah deh. Om mau langsung pulang aja."
"Pak Rajasa mau langsung pulang?" tanya Dara.
"Iya Dara."
"Ya udah. Makasih banyak ya Pak untuk semuanya."
"Iya Dara. Sama-sama."
__ADS_1
Setelah berpamitan dengan Dara dan ke dua adiknya, Pak Rajasa kemudian masuk kembali ke dalam mobilnya. Setelah itu dia meluncur untuk pulang ke rumahnya.