Gadis Cupu Milik CEO

Gadis Cupu Milik CEO
Tamparan untuk Alex


__ADS_3

"Mas, kapan kamu mau kenalin aku dengan ke dua orang tau kamu?" tanya Maria sekali lagi.


Alex menatap Maria dan tersenyum.


"Nanti ya Maria. Kapan-kapan aja aku kenalin kamu ke orang tua aku," jawab Alex.


Maria mengangguk. Setelah itu dia mengambil sirup dingin yang ada di atas meja. Maria kemudian meminumnya.


"Diminum Mas," ucap Maria mempersilahkan Alex untuk minum.


"Iya Maria. Nanti juga aku minum kok."


"Mas, aku mau tanya sama kamu tentang hubungan kita. Apakah kamu mau seriusan sama aku Mas?" tanya Maria.


Alex diam. Dia bingung mau menjawab pertanyaan dari Maria. Sejak tadi Maria masih bicara tentang hubungannya dengan Alex. Maria ingin menjalani hubungan itu untuk seriusan. Sementara Alex sudah ingin memutuskan hubungannya dengan Maria.


"Mas, kok kamu diam aja? kapan kamu mau nikahin aku?" tanya Maria yang membuat Alex semakin bingung saja.


Alex masih diam. Sebenarnya dia mendatangi rumah Maria untuk memutuskan hubungannya dengan Maria. Namun Maria malah mendesaknya untuk segera menikahinya.


"Mas, kamu nggak lupa kan dengan hubungan kita malam itu. Kamu harus tanggung jawab Mas dengan apa yang sudah kamu lakukan sama aku. Aku sudah menyerahkan kesucianku untuk kamu. Dan kamu harus tanggung jawab. Kamu harus nikahin aku," ucap Maria.


Duh, kenapa jadi seperti ini sih. Aku ke sini kan mau putusin wanita ini. Bukan mau membicarakan hubungan serius kita. Kenapa dia malah mendesak aku untuk menikahinya.


"Mas, jangan diam aja dong. Kalau kamu belum siap menikah, setidaknya kita tunangan dululah. Orang tua aku, sudah menginginkan aku menikah Mas. Karena usia aku juga sudah dewasa," ucap Maria.


Tiba-tiba saja Maria meraih tangan Alex dan menggenggamnya erat. Alex terkejut saat melihat Maria menggenggam tangannya dengan erat.


Duh, aku harus gimana dong. Kasihan Maria kalau aku putusin. Tapi aku sudah janji sama Dara, kalau aku sudah nggak mau jadi playboy lagi. Aku akan memutuskan semua hubungan aku dengan pacar-pacar aku, batin Alex.


Alex buru-buru melepaskan genggaman tangan Maria.


"Maaf Maria," ucap Alex.


"Kenapa Mas?" tanya Maria bingung melihat sikap Alex.


"Maria, sebenarnya aku ke sini, karena aku ingin memutuskan hubungan kita."


"Apa maksud kamu?"tanya Maria yang masih tidak mengerti dengan ucapan Alex.


"Aku ingin kita putus Maria."


Maria terkejut saat mendengar ucapan Alex. Dia tidak menyangka dengan Alex. Mudah sekali dia mengatakan putus setelah apa yang sudah dia lakukan pada Maria.

__ADS_1


"Apa! putus?"


"Iya Maria."


"Kenapa? kenapa kamu mau putusin aku Mas? apakah semua ini karena kamu sudah punya wanita lain?" Maria menatap Alex tajam.


"Nggak Maria. Aku rasa kita sudah tidak ada kecocokan lagi."


"Apa! tega banget Mas kamu sama aku. Lalu, bagaimana dengan janji-janji kamu. Katanya kamu mau nikahin aku."


"Maafkan aku Maria. Maafkan aku, aku sudah tidak bisa lagi melanjutkan hubungan kita," ucap Alex.


Maria yang sudah emosi, langsung mendaratkan tangannya ke pipi Alex.


Plak.


Satu tamparan sudah mengenai pipi Alex. Alex yang merasa kesakitan langsung mengusap pipinya yang memerah.


Alex bangkit berdiri. Dia tidak mau menghiraukan Maria lagi. Tanpa banyak bicara, Alex pun pergi meninggalkan rumah Maria.


Maria yang sudah merasa hancur hatinya, segera menyingkirkan semua benda yang ada di atas meja, termasuk dua gelas sirup itu.


Prang...


"Ya ampun Non, apa yang sudah terjadi. Kenapa semua berantakan seperti ini?" tanya bibi menatap heran dengan ruang tamu yang sudah berantakan.


Maria yang di tanya hanya diam. Dia lantas berdiri dan melangkah pergi untuk ke kamarnya.


****


Alex masih berdiri di depan rumah Maria. Pipinya masih memerah karena tamparan dari Maria. Walau dia sudah berada jauh dari teras depan rumah Maria, namun dia masih bisa mendengar teriakan Maria dari dalam rumah itu.


"Sakit juga, tamparan wanita itu, entah mau dapat berapa kali lagi tamparan seperti ini dari pacar-pacar aku yang lain,"ucap Alex.


Alex kembali menatap pintu depan rumah Maria.


"Maafkan aku Maria. Aku sudah tidak mau memberikan banyak harapan sama kamu. Karena aku memacari kamu hanya karena nafsu. Bukan karena cinta," ucap Alex.


Doni yang masih berada di dalam mobil bingung saat melihat bosnya masih berdiri di depan rumah Maria.


"Kenapa si bos berdiri aja di situ. Sebenarnya apa lagi yang terjadi di dalam," ucap Doni.


Doni turun dari mobilnya dan menghampiri bosnya. Dia menepuk pundak Alex. Menyadarkan Alex dari lamunannya.

__ADS_1


"Kenapa malah bengong di sini bos? mau ke mana lagi kita?" tanya Doni.


"Iya. Ayo kita pergi dari sini," ucap Alex.


"Baik Bos."


Alex dan Doni kemudian melangkah dan masuk ke dalam mobil. Setelah itu mereka meluncur pergi meninggalkan rumah Maria.


Doni masih fokus menyetir. Pandangannya masih ke depan sembari sesekali dia menatap sepion kaca mobilnya.


Kenapa ya dengan bos Alex hari ini. Apa yang sebenarnya terjadi tadi di dalam rumah Maria. Apa Bos Alex sama Maria habis berantem?


"Bos, kita mau ke mana lagi nih bos?" tanya Doni di sela-sela menyetirnya.


"Jalan aja Don!" pinta Alex.


"Iya bos."


Alex masih memegang pipinya yang masih terasa sakit.


"Sebenarnya si bos kenapa sih? kenapa dari tadi pipinya dipegangin terus?" Doni yang sejak tadi masih diselimuti rasa penasaran yang besar, akhirnya memberanikan diri untuk bertanya pada Alex.


"Aku barusan dapat tamparan dari Maria Don. Sakit banget...! Baru kali ini ada wanita yang berani menampar aku seperti ini," ucap Alex.


"Kenapa Maria sampai nampar bos? emang bos Alex salah apa?"


"Aku sudah putusin dia Don."


"Apa! putus? kenapa diputusin bos. Menurut aku, Maria itu cantik. Dia juga orangnya lumayan baik. Kenapa diputusin? sayang banget bos."


"Aku nggak mau dia terlalu banyak berharap dari aku Don. Aku itu nggak cinta sama dia. Dan aku memang sengaja ingin memutuskan hubungan aku dengan pacar-pacar aku, karena aku sudah lelah."


"Oh. Begitu bos? jadi tadi waktu kita ke rumah Sofi, bos juga mutusin Sofi?"


"Yah, begitulah."


"Terus sekarang kita mau ke mana lagi bos?"


"Jalan aja. Nanti aku kasih tahu kita mau ke mana."


"Baik Bos."


Doni pun menurut untuk mengantarkan Alex ke mana Alex pergi. Walau sebenarnya Doni lelah jika menjadi sopir.

__ADS_1


Dia lebih suka menjadi bodyguard yang menjaga rumah dari pada jadi sopir. Namun Doni bekerja juga demi istrinya. Selama pekerjaan itu halal, dan tidak mempunyai resiko besar, Doni akan melakoni semuanya demi mendapatkan uang untuk istrinya.


__ADS_2