
Bu Vivi dan Alex sudah berada di ruang makan. Sementara Dara sejak tadi masih berada di kamar Alex.
"Ayo Alex, kita makan," ucap Bu Vivi.
"Mama duluan aja yang makan. Aku nanti nunggu Dara," ucap Alex.
"Lagi ngapain sih Dara. Kenapa lama sekali,"
"Yah, palingan juga lagi dandan. Namanya juga cewek. Kalau dandan ya lama banget. Apalagi dia itu kan masih muda baru mau menginjak dewasa," gerutu Alex.
"Tapi kamu suka kan sama dia?"
Alex terkejut saat mendengar ucapan Bu Vivi.
"Mama bicara apa sih," ucap Alex tampak malu-malu.
"Kalau kamu suka sama Dara, nggak apa-apa Alex. Mama setuju kok, kalau kamu sama Dara. Yang mama lihat, sejak pertama kali mama ketemu sama dia, dia itu gadis yang baik."
"Dia memang gadis yang baik Ma. Makanya sampai sekarang aku masih kagum aja sama dia."
"Kalau kamu suka, tunggu apa lagi Alex. Ajak aja dia langsung nikah. Lagian mau sampai kapan kamu membujang terus."
Alex tersenyum. Dia melihat ada sesuatu yang berbeda dalam diri ibunya. Semakin hari Alex melihat, semakin ada perubahan dengan sikap mamanya. Alex pagi ini, seperti melihat kalau mamanya yang dulu sudah kembali.
"Ya nggak bisa gitu dong Ma. Dara itu mana mau di ajak langsung nikah. Dara itu berbeda Ma, dari gadis lain. Dia itu kebanyakan jual mahal dan sangat susah untuk ditaklukkan."
"Jual mahal gimana?"
"Yah, begitulah. Kalau di ajak nikah, ya pasti punya banyak alasan untuk menolaknya. Beda kan kalau gadis lain, malah kebanyakan dari mereka memaksa aku untuk menikahinya."
"Ratih...! Ratih...!" seru Bu Vivi.
Ratih yang dipanggil buru-buru mendekat ke arah Bu Vivi.
"Iya Nya. Ada apa?" tanya Ratih.
"Tolong, kamu panggilkan Dara di kamarnya Alex. Bilang sama dia, kalau Alex sudah menunggunya."
"Baik Nya."
Ratih kemudian pergi ke lantai atas untuk memanggil Dara.
Tok tok tok...
Beberapa saat kemudian, Dara membuka pintu.
"Mbak Ratih. Ada apa?" tanya Dara.
"Kamu ditungguin Tuan Alex dan Nyonya."
"Oh. Iya. Sebentar lagi aku turun. Aku mau ngambil tas aku dulu."
Dara kembali ke kamarnya untuk mengambil tasnya. Setelah itu dia keluar dari kamarnya.
"Dara, kamu rapi banget mau kemana?" tanya Ratih.
"Aku mau pulang ke rumah sekaligus mau ke makam ibu aku."
"Oh. Sama Tuan Alex?"
__ADS_1
"Iya."
"Dara, aku ingatkan sama kamu ya. Kamu jangan terlalu dekat sama dia. Kamu harus tahu posisi kamu di sini. Dia itu bos kamu."
"Iya Mbak. Aku tahu itu."
"Pokoknya kamu jangan sampai jatuh cinta sama Tuan Alex. Aku sebagai teman kamu, nggak mau kamu pada akhirnya akan kecewa karena Tuan Alex."
Dara tersenyum.
"Mbak Ratih tenang saja. Aku bisa kok jaga diri. Kejadian yang dulu, aku jamin nggak akan terulang lagi."
Ratih tersenyum dan mengangguk. "Ya aku percaya kok."
"Ya udah. Aku buru-buru nih Mbak. Aku turun dulu ya."
"Iya."
Dara kemudian turun ke bawah untuk menemui Alex dan Bu Vivi di ruang makan.
"Selamat pagi..." ucap Dara setelah sampai di ruang makan. "Maaf ya, aku terlambat."
"Nggak apa-apa Dara, ayo duduk! dari tadi Alex sudah menunggu kamu."
Dara menatap Alex dan tersenyum. Dia kemudian menarik kursi dan duduk di sisi Alex.
"Maaf ya Mas, udah nungguin lama."
"Nggak apa-apa Dara."
Dara menatap piring yang ada di depannya.
Dara kembali menatap Alex.
"Makasih ya Mas."
"Iya Dara. Ayo kita makan."
Alex, Dara, dan Bu Vivi kemudian makan bersama.
"Kamu mau ke makam ibu kamu?" tanya Bu Vivi di sela-sela kunyahannya.
"Iya Bu."
"Jangan lama-lama ya nanti perginya. Jangan sampai sore. Soalnya ibu takut ditinggal sendirian di rumah."
"Iya Bu. Kami nggak mau ke mana-mana kok. Kami cuma mau ke makam sama ke rumah aku. Dan rumah aku juga dekat kok dari sini."
"Iya Dara. Sebenarnya sih ibu kepengin ikut. Tapi Alexnya nggak ngizinin ibu ikut kalian."
"Lho, kok gitu Mas? kenapa kamu nggak ngebolehin ibu kamu ikut kita."
"Ibu itu baru sembuh. Kata dokter ibu itu nggak boleh pergi jauh-jauh dulu."
"Oh. Begitu?"
"Itu sih, cuma alasan Alex saja. Bilang aja, kalau Alex itu cuma mau pergi berdua aja dengan Dara," celetuk Bu Vivi.
Selesai sarapan, Dara dan Alex langsung pamit untuk pergi. Mereka berpamitan pada Bu Vivi. Sebelum pergi, Dara mencium punggung tangan Bu Vivi. Setelah itu, Dara dan Alex pun pergi keluar dari rumah
__ADS_1
Alex membuka pintu mobil untuk Dara.
"Masuk Dara."
"Iya Mas."
Dara kemudian masuk ke dalam mobil.
"Dara, kamu tunggu di sini ya. Aku mau nyamperin Doni dan Pak Tino dulu."
"Iya Mas."
Alex melangkah untuk menghampiri Doni dan Pak Tino yang saat ini masih tampak ngobrol-ngobrol di sisi gerbang.
"Don." ucap Alex.
Pak Tino dan Doni menoleh ke arah Alex.
"Eh, Tuan muda. Pagi-pagi gini, udah rapi banget. Mau ke mana?" tanya Pak Tino.
"Iya Bos. Mau ke mana?"
"Aku mau ngantar Dara pulang. Nggak akan lama kok. Aku cuma mau bilang sama kalian. Tolong perketat penjagaan. Aku nggak mau sampai ada apa-apa dengan mama."
"Siap Bos," ucap Doni.
"Ya udah. Sekarang buka pintu gerbangnya."
"Baik Tuan."
Pak Tino kemudian membuka pintu gerbang sementara Alex kembali menghampiri mobilnya dan masuk ke dalam mobilnya. Setelah itu, Alex dan Dara pun meluncur pergi meninggalkan rumah.
"Kita mau ke mana dulu Dara?" tanya Alex."Ke rumah kamu, atau ke makam ibu kamu?"
"Kita ke makam dulu aja Mas. Kalau ke rumah dulu, sepi. Ica dan Oca pasti sekarang lagi ada di sekolah."
"Iya deh. Kita ke makam ya."
"Tapi kita beli bunga dulu Mas. Masa ke makam nggak bawa apa-apa."
"Iya. Kita beli bunga dulu ya, untuk taburan juga."
Dara mengangguk.
Setelah membeli bunga, Dara dan Alex melanjutkan perjalanannya sampai ke tempat pemakaman umum. Setelah mobil Alex sampai di depan Tempat Pemakaman Umum yang ada di dekat rumah Dara,Alex dan Dara kemudian turun dari mobilnya. Mereka kemudian melangkah masuk ke dalam makam itu.
"Dara, mana makamnya?" tanya Alex.
"Itu ada di sana Mas."
Alex menatap sekeliling. Seumur-umur baru pernah Alex datang ke makam. Karena dulu, setiap ayah dan ibunya pergi ke makam, dia tidak pernah mau ikut.
Dara menghentikan langkahnya setelah dia sampai tepat di sisi makam ibu dan ayahnya.
"Ini makam ibu aku. Batu nisannya masih bagus. Karena baru kemarin meninggal," ucap Dara.
"Dan yang di sisinya, itu makam ayah aku. Batu nisannya udah jelek, karena belum di ganti. Pengin ganti batu nisan ayah. Tapi nggak punya duit."
Alex tersenyum.
__ADS_1
Dara berjongkok di depan makam ke dua orang tuanya. Begitu juga dengan Alex yang ikutan jongkok di sisi Dara.