Gadis Cupu Milik CEO

Gadis Cupu Milik CEO
Kegilaan Dara


__ADS_3

Selesai makan, Dara bangkit dari duduknya. Dia kemudian mengambil piring-piring kotor yang ada di atas meja dan membawanya ke dapur untuk dia cuci. Sementara Oca pergi ke kamarnya untuk mengambil tasnya.


Oca berjalan ke arah dapur untuk berpamitan dengan kakaknya.


"Kak, aku berangkat dulu ya," ucap Oca.


"Iya Ca. Hati-hati di jalan ya Ca."


Sebelum pergi, Oca mencium tangan kakaknya. Setelah itu dia pergi meninggalkan Dara.


****


Saat ini Dara sudah sampai di depan rumah Alex. Dia menatap rumah itu dari luar gerbang.


"Aku harus hadapi Tuan Alex apapun yang terjadi. Aku ingin mengembalikan cek ini. Aku tidak mau mengorbankan kesucianku hanya karena uang dua puluh juta. Aku nggak butuh uang ini lagi. Dan Tuan Alex tidak bisa memaksa aku," ucap Dara.


Dara kemudian berjalan memasuki pintu gerbang rumah besar itu. Seperti biasa dia masuk lewat pintu belakang. Tempat di mana pembantu Alex sering keluar masuk.


Dara menatap sekeliling. Tidak ada satu pun orang yang terlihat pagi ini.


"Ke mana ya orang-orang. Kenapa rumah ini sepi sekali," ucap Dara yang tampak bingung karena rumah Alex tampak sepi.


"Tuan Alex ada di rumah nggak ya. Atau dia sudah berangkat ke kantor." Hati Dara masih tidak tenang sebelum dia mengembalikan cek itu dan terbebas dari jeratan Alex.


Perlahan-lahan Dara memasuki ruang tengah rumah itu. Dia pun belum bertemu Ratih, Lestari atau Mbak Mirna.


"Ke mana sih mereka semua. Biasanya mereka juga lagi pada kerja di sini," ucap Dara.


Dara sudah tidak mau memikirkan apapun sekarang. Dia datang ke rumah Alex hanya satu tujuannya. Dia ingin mengembalikan cek yang pernah Alex berikan untuknya.


Seandainya Alex mau berbaik hati padanya, Alex tentu saja tidak akan pernah memaksa Dara untuk menuruti semua keinginannya. Namun jika Alex masih memaksa Dara untuk melayani nafsu bejatnya Dara pasti akan menolaknya.


"Aku harus mencari baju kotor Tuan Alex. Aku akan mencucinya dan nanti siang aku akan menyetrikanya. Setelah itu aku bisa pulang,"ucap Dara.


Perlahan-lahan Dara naik ke lantai atas di mana kamar Alex berada.


Setelah Dara sampai di depan pintu kamar Alex, Dara mengetuk pintu.


"Permisi..." seru Dara.


Namun tidak ada jawaban dari dalam kamar Alex.

__ADS_1


"Sepertinya Tuan Alex tidak ada di kamarnya. Syukurlah. Aku bisa bebas sekarang," ucap Dara.


Dara kemudian membuka pintu kamar Alex dan masuk ke dalam kamar itu. Dara menatap sekeliling.


Dara terkejut saat tiba-tiba ada seseorang yang memeluknya dari belakang.


"Aku tahu, kamu tidak akan pernah menolak aku Dara," suara berat Alex sudah terdengar jelas di ke dua telinga Dara. Hembusan nafas Alex juga sudah menerpa leher belakang Dara. Alex ternyata sudah berada di belakang Dara dan memeluk Dara dengan erat.


"Tu-Tuan Alex. Apa yang kamu lakukan?" tanya Dara dengan wajah yang tampak pucat.


Dara mencoba melepaskan tangan Alex.


"Lepaskan aku Tuan. Lepas...!"


Dara memberontak, mencoba untuk melepaskan tangan Alex. Namun tangan kekar itu begitu erat memeluknya.


"Kamu nggak akan pernah bisa kabur lagi dari aku Dara."


Dara tampak berfikir, dia harus terbebas dari lelaki itu. Dia tidak mau hidupnya hancur dan berakhir di sini. Dara harus melakukan sesuatu.


Tiba-tiba saja,


Bugh...


Ceklek ceklek ceklek...


Beberapa kali Dara membuka handle pintu itu. Namun pintu itu tidak kunjung terbuka.


'Sial. Di kunci lagi,' geram Dara dalam hati.


"Kamu nggak akan pernah bisa kabur dari aku Dara. Kamu sudah mendapatkan cek itu. Sekarang giliran aku yang menagih janji mu Dara," ucap Alex sembari mendekati Dara. Yang membuat Dara sangat ketakutan.


Dara tidak tinggal diam. Dara menatap jendela kamar Alex. Dara buru-buru berjalan ke arah jendela dan naik ke atas jendela.


"Jangan mendekat. Kalau tidak, aku akan lompat dari sini...!" ucap Dara.


Alex terkejut saat melihat Dara ingin melompat dari jendela kamarnya. Alex tahu, kalau rumahnya itu sangat tinggi. Jika Dara melompat ke bawah, Dara bisa saja patah tulang atau bisa mati di tempat.


"Dara, apa yang mau kamu lakukan. Kamu mau lompat dari situ? bisa mati kamu Dara."


"Aku nggak perduli. Aku ke sini karena aku ingin mengembalikan cek ini," ucap Dara sembari merogoh cek dari dalam tasnya.

__ADS_1


"Untuk apa kamu kembalikan?"


"Ibuku sudah meninggal. Aku nggak butuh cek itu lagi," ucap Dara sembari membuang cek itu dihadapan Alex.


Alex membelalakkan matanya. Baru kali ini dia menghadapi gadis seperti Dara. Gadis yang kelihatannya penurut dan culun, ternyata gadis yang nekat dan bar-bar.


Alex fikir, dia bisa dengan mudah mendapatkan semua yang Dara miliki. Termasuk tubuh seksinya. Namun ternyata Alex salah. Dara ternyata gadis yang cukup berbahaya dan nekat.


"Dara. Aku bilang turun! jangan nekat kamu. Aku tahu kamu membutuhkan uang itu. Ambil saja cek itu. Tapi jangan kamu sampai lompat ke bawah. Berbahaya Dara."


"Kalau Tuan tetap memaksa aku untuk melayani nafsu bejat Tuan, aku akan benar-benar lompat ke bawah."


"Dara. Aku bilang kamu bisa patah tulang kalau jatuh ke bawah. Cepat turun!"


Alex tiba-tiba saja teringat dengan ibunya. Lima tahun yang lalu, dia juga pernah ingin melompat dari gedung yang ketinggiannya puluhan meter. Namun untunglah Alex masih bisa menolongnya.


"Dara aku bilang turun! jangan kamu membahayakan nyawa kamu sendiri. Kamu harus ingat adik-adik kamu. Kalau kamu mati, siapa yang akan mengurus ke dua adik kembar mu."


"Biarin. Aku nggak perduli. Kalau Tuan tetap mau kurang ajar sama aku, aku akan lompat dari sini."


Alex melangkahkan kakinya satu langkah mendekat ke arah Dara.


"Jangan mendekat. Kalau Tuan berani mendekat satu langkah lagi, aku akan lompat ke bawah."


Aaagghhhh....


Sebuah teriakan tiba-tiba saja terdengar dari kamar Alex.


'Mama. Kenapa dengan mama,' batin Alex.


Alex tiba-tiba saja teringat dengan ibunya yang ada di kamar lantai bawah.


Sebelum pergi, Alex menatap Dara.


"Jangan macam-macam kamu Dara. Kalau kamu jatuh ke bawah, aku nggak akan tanggung jawab. Kamu tanggung sendiri akibatnya," ucap Alex.


Alex kemudian berjalan pergi meninggalkan kamarnya. Dia menuju ke kamar ibunya yang ada di lantai bawah.


Dara yang masih berada di jendela termenung sesaat saat mendengar suara teriakan seorang wanita.


"Tadi suara siapa ya," ucap Dara.

__ADS_1


Dara yang penasaran kemudian pergi meninggalkan kamar Alex untuk melihat apa yang terjadi di bawah.


__ADS_2