
"Apa mungkin begitu Rita. Apa Alex yang ngambil uang itu. Tapi untuk apa Alex mengambil uang sebanyak itu. Satu milyar lho."
"Mas, untuk apa lagi kalau nggak untuk berfoya-foya dengan wanita-wanita pacarnya itu."
"Ya sudahlah, aku mau ke kamar mandi. Dan mau langsung mandi. Setelah ini aku mau ke rumah sakit jengukin Vivi."
Pak Rajasa mengambil handuk. Setelah itu dia masuk ke kamar mandi.
Selesai mandi, Pak Rajasa keluar dari kamar mandi. Dia kemudian ganti baju. Selesai ganti baju, Pak Rajasa terkejut saat di bawah kolong ranjangnya ada foto Alex.
"Kenapa foto Alex bisa ada di sini," ucap Pak Rajasa sembari memungut foto itu. Pak Rajasa kemudian meletakkan foto Alex di laci.
Pak Rajasa keluar dari kamarnya. Dia kemudian ke ruang tengah dan duduk di atas sofa.
"Mas, kamu kapan mau ke rumah sakit?"
"Habis maghrib. Nanggung mau maghrib."
"Aku ikut ya Mas."
Pak Rajasa tersenyum.
"Iya. Kita nggak usah makan malam di rumah. Kita makan malam di luar saja Rita. Sudah lama kita tidak makan malam."
"Iya Mas."
****
Malam ini Pak Rajasa dan Rita sudah sampai di depan rumah sakit. Mereka turun dari mobilnya dan masuk ke dalam rumah sakit. Pak Rajasa mengajak Rita sampai ke ruang ICU.
Sesampainya di depan ruang ICU, Pak Rajasa tidak melihat siapapun ada di sana.
"Kemana ya Alex dan Dara. Kemarin mereka duduk di sini. Dan Vivi kemarin juga ada di dalam. Kenapa sekarang mereka nggak ada. Apa jangan-jangan, Alex sudah memindahkan Vivi ke rumah sakit lain. Kenapa dia nggak bilang dulu sama aku," ucap Pak Rajasa.
"Rita, Vivi nggak ada. Alex juga nggak ada."
"Coba tanya sama suster Mas."
Pak Rajasa kemudian pergi ke ruang suster untuk menanyakan soal Bu Vivi.
"Suster, saya mau tanya. Pasien yang waktu itu ada di ruang ICU ke mana ya?" tanya Pak Rajasa pada seorang suster penjaga.
"Oh, Bu Vivi. Dia sudah pulang Pak," jawab suster itu.
"Pulang? emang dia sudah siuman? bukannya kemarin dia koma di ruang ICU."
"Bu Vivi sudah siuman Pak. Dan tadi siang dia sudah pulang. Dia dibawa paksa anaknya pulang."
"Apa! di bawa paksa."
"Sebenernya, Bu Vivi belum boleh pulang. Tapi anaknya memaksa Bu Vivi untuk pulang. Katanya Bu Vivi akan rawat jalan saja," jelas suster.
"Apa! kok bisa begitu. Alex benar-benar keterlaluan. Dia tidak sayang sama mamanya. Dia tidak melihat bagaimana kondisi mamanya saat ini. Dia main paksa bawa pulang Vivi begitu saja tanpa bilang dulu sama aku, bagaimana kalau terjadi apa-apa sama Vivi," gerutu Pak Rajasa.
__ADS_1
"Mungkin, Pak Alex itu takut akan terjadi apa-apa sama Bu Vivi setelah kejadian malam itu," ucap seorang suster mendekat ke arah Pak Rajasa.
Pak Rajasa menoleh ke arah suster yang ada di belakangnya.
"Apa maksud kamu?" tanya pak Rajasa pada suster itu.
"Maksudku, kemarin ada lelaki bertopeng yang masuk ke dalam ruangan Bu Vivi. Dan saya menyaksikan sendiri apa yang akan lelaki itu lakukan pada Bu Vivi."
"Apa memang yang mau lelaki itu lakukan?"
"Dia seperti akan mencelakai Bu Vivi. Dia memegang pisau di tangannya."
"Astaghfirullahaladzim. Apa benar itu semua Sus."
"Iya Pak. Dan saya saksinya. Sepertinya Bu Vivi lagi dalam bahaya dan tidak aman. Jadi Pak Alex membawanya pulang ke rumah."
"Makasih banyak ya sus atas infonya."
"Iya Pak."
Pak Rajasa diam dan mulai berfikir.
"Siapa sebenarnya yang mau mencelakai Vivi."
Rita yang sejak tadi mendengar obrolan Pak Rajasa dengan suster tampak gugup. Namun dia sebisa mungkin untuk menyembunyikan rasa gugupnya itu.
"Mas, sekarang kita mau ke mana? apa kita mau makan malam?"
Pak Rajasa menggeleng.
"Ke rumah Alex?"
"Iya. Kamu ikut."
Duh, kenapa harus ke rumahnya Alex sih.
"Kita nggak mau makan malam dulu aja Mas."
"Nggak usah. Ayo kita pergi!" Pak Rajasa merangkul bahu Rita dan mengajaknya keluar dari rumah sakit. Mereka kemudian menghampiri mobil mereka dan masuk ke dalam mobil.
"Jalan Ton...!" pinta Pak Rajasa pada Anton sopirnya.
"Baik Tuan."
Pak Rajasa dan Rita kemudian meluncur pergi meninggalkan rumah sakit.
****
Dara dan Ratih masih menemani Bu Vivi di kamarnya. Bu Vivi masih terlelap dengan selang infus yang masih ditangannya. Walau dia sudah pulang ke rumah, tapi Alex tetap merawat Ibunya seperti perawatan di rumah sakit.
Apa yang tidak bisa Alex lakukan. Semua bisa Alex lakukan seperti halnya menjadikan kamar Bu Vivi seperti kamar rumah sakit. Apalagi dia punya teman seorang dokter yang bisa membantunya untuk merawat Bu Vivi di rumah.
Viko dengan mengajak salah satu teman dokternya, yang akan bolak-balik ke rumah Alex untuk memeriksa kondisi Bu Vivi setiap hari. Dan semua itu Alex lakukan demi keselamatan sang ibu.
__ADS_1
Ting tong...
Suara bel dari luar rumah Alex terdengar.
"Mbak Ratih. Sepertinya Tuan Alex sudah pulang," ucap Dara.
"Iya Dara. Aku buka pintu dulu ya. kamu jagain Nyonya."
"Iya Mbak."
Ratih keluar dari kamar Bu Vivi. Dia menuju ke ruang tamu untuk membuka pintu. Ratih terkejut saat melihat Pak Rajasa dan Rita sudah berdiri di teras depan.
"Tuan Besar, Nyonya Rita,"
"Ratih, mana Alex?"
"Tuan Alex belum pulang Tuan."
"Ke mana dia?"
"Dia masih di kantor."
"Jam segini masih di kantor?"
"Silahkan masuk Tuan besar!"
Pak Rajasa mengangguk.
"Ayo Rit. Kita masuk!"
"Iya Mas."
Rita dan Pak Rajasa masuk ke dalam rumah Alex.
"Tuan besar, saya dapat amanat dari Tuan Alex. Kalau Tuan besar, tidak boleh masuk ke sini kalau mengajak Nyonya Rita. Tuan muda tidak membolehkan Nyonya Rita masuk ke rumah ini."
Rita membelalakkan matanya.
"Apa! kenapa begitu?" Rita tampak marah mendengar ucapan Ratih.
"Tuan besar, dan Nyonya Rita juga tidak di perbolehkan untuk bertemu dengan Nyonya Vivi."
Pak Rajasa terkejut saat mendengar ucapan Ratih. Seandainya ada Alex, mungkin Pak Rajasa dan Rita akan diusir dari rumah itu oleh Alex. Namun Ratih tidak berani mengusir Pak Rajasa dan Rita. Dia hanya bisa menyampaikan amanat dari Alex saja.
Pak Rajasa menghela nafas dalam. Dia ingin marah, tapi dia mau marah sama siapa. Mungkinkah dia akan marah sama Ratih.
"Ya sudah, saya mau tunggu Alex di ruang tamu saja bersama istri saya. Saya akan bicara sama dia."
"Baik Tuan besar. Saya ke belakang dulu."
"Iya."
Rita dan Pak Rajasa kemudian duduk di ruang tamu rumah Alex.
__ADS_1
"Benar-benar keterlaluan anakmu itu Mas. Kurang ajar banget dia sama orang tua! aku benar-benar nggak terima diperlakukan seperti ini oleh Alex. Masa aku nggak boleh masuk ke rumah ini. Dan kamu juga nggak boleh ketemu sama Mbak Vivi."
"Sudahlah Rita sabar. Kamu tahu sendiri kan bagaimana wataknya Alex. Dia itu keras kepala."