Gadis Cupu Milik CEO

Gadis Cupu Milik CEO
Lelaki simpanan


__ADS_3

Pagi ini Rita masih berada di dalam kamarnya. Dia tampak masih terlelap di atas tempat tidurnya. Setelah kepergian Pak Rajasa ke Bali, Rita jadi seenaknya sendiri. Bangun saja dia masih bermalas-malasan.


Ting.


Suara notifikasi dari ponsel Rita berbunyi. Rita mengerjapkan matanya dan mengambil ponselnya yang ada di sampingnya tidur.


Rita kemudian membaca chat masuk dari ponselnya.


(Selamat pagi sayang.)


Rita langsung tersenyum saat membaca chat itu. Dia kemudian beringsut duduk dan membalas pesan masuk itu.


(Selamat pagi juga sayang.)


(Kamu lagi ngapain sayang?)


(Aku baru bangun sayang)


(Jam segini baru bangun? kita jadi nggak jalan-jalannya?)


(Ya jadi dong. Kamu ke sini dong, jemput aku. Mumpung suami aku lagi nggak ada)


(Ke mana emang suami kamu)


(Dia lagi di luar kota sayang untuk mengurusi bisnisnya.)


(Baiklah. Aku akan segera ke sana sayang)


(Iya. Aku tunggu ya)


Rita kemudian meletakan ponselnya kembali di atas tempat tidurnya.


Rita menatap ke arah jendela kamarnya. Sinar mentari di pagi ini sudah cukup cerah. Waktu saat ini sudah menunjukan jam tujuh pagi.


Rita turun dari tempat tidurnya dan berjalan menuju ke jendela kamarnya. Dia kemudian membuka gorden jendela kamarnya. Sinar mentari sudah menerobos masuk melewati kaca jendela.


"Masih jam tujuh, tapi kelihatannya udah siang banget," ucap Rita.


Rita kemudian berjalan dan mengambil handuknya. Setelah itu dia melangkah ke arah kamar mandi dan masuk ke dalam Rita kemudian mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Selesai mandi, Rita kemudian keluar dari kamar mandi dan melangkah ke arah lemari bajunya.


"Aku mau pakai apa ya," ucap Rita yang tampak bingung saat memilih baju.


Pagi ini Rita sudah ada janji. Dia akan pergi dengan Martin kekasih gelapnya. Di belakang suaminya, ternyata Rita punya hubungan gelap dengan seorang lelaki muda yang bernama Martin.


Sebelum Rita menikah dengan Pak Rajasa, dia juga sudah berhubungan dengan Martin. Namun dulu hubungan mereka hanya sebatas teman dekat saja. Karena Martin juga sudah punya istri dan anak.


Namun sekarang hubungan mereka sudah berlanjut menjadi sepasang kekasih. Dan mereka sama-sama menduakan pasangan mereka masing-masing. Dan itu sudah berlangsung selama dua tahun.


Rita mengambil salah satu gaun seksi yang ada di dalam lemarinya. Sejak menikah dengan Pak Rajasa, hidup Rita tidak pernah kekurangan. Dia selalu mendapatkan apa yang dia inginkan. Karena Pak Rajasa lelaki yang sangat baik. Dia juga memberikan Rita jatah bulanan yang cukup banyak.


Padahal hidup Rita dulu sederhana. Rita hanya anak orang biasa, bukan dari kalangan pengusaha atau bangsawan. Namun sekarang hidupnya berubah semenjak menjadi istri Pak Rajasa. Dan dia masih berambisi untuk menguasai semua harta Pak Rajasa.

__ADS_1


Di sisi lain, Bik Lastri dan Ella pembantu rumah Pak Rajasa masih berada di dapur. Sejak Pak Rajasa pergi, mereka jadi tidak semangat lagi untuk bekerja. Mungkin mereka malas jika mereka harus melayani Rita. Karena mereka tahu siapa Rita. Rita itu wanita yang sangat licik. Dia juga cerewet dan suka mengatur.


Ting Tong...


Suara bel dari luar rumah Pak Rajasa terdengar.


"Ella, ada tamu tuh. Sana kamu bukain. Siapa tahu itu tamunya Tuan besar," ucap Bik Lastri.


"Iya Bik."


Ella berjalan ke ruang tamu untuk membuka pintu. Sesampainya di ruang tamu, Ella kemudian membuka pintu utama.


Seorang lelaki muda bertopi sudah berdiri di teras depan rumah Pak Rajasa.


"Maaf, anda cari siapa?" tanya Ella.


Lelaki itu menatap Ella tajam.


"Saya mau ketemu Rita. Apakah dia ada di dalam?" tanya lelaki itu.


"Maaf, anda siapa ya?"


"Saya temannya Rita. Ingin ketemu dengan Rita."


"Nyonya Rita masih di dalam kamarnya."


"Tolong panggilkan dia. Katakan sama dia, kalau Martin sudah datang."


Ella mengetuk pintu kamar Rita setelah dia sampai di depan pintu kamar itu.


Tok tok tok ..


Beberapa saat kemudian, Rita keluar dari balik pintu.


"Ella. Ada apa?" tanya Rita.


"Nyonya Rita. Ada tamu di depan."


"Siapa?"


"Namanya Martin."


"Oh, kamu udah suruh dia masuk?"


Ella menggeleng yang membuat Rita murka.


"Kenapa ada tamu kamu nggak suruh dia masuk...!" bentak Rita.


"Maaf Nyonya Rita."


"Maaf, maaf," ucap Rita sembari pergi meninggalkan Ella.


Rita berjalan ke arah ruang tamu. Dia tersenyum saat dia melihat Martin sudah ada di depan rumahnya.

__ADS_1


"Sayang," ucap Rita.


Martin tersenyum saat melihat Rita. Dia kemudian mendekat ke arah Rita dan mencium pipi kanan dan pipi kiri Rita.


Ella yang tidak sengaja melihat adegan mesra di antara Martin dan Rita terkejut.


'Duh, parah banget ini Nyonya Rita. Kenapa Tuan Rajasa pergi, dia malah ketemuan dengan lelaki. Berani sekali Nyonya Rita membawa tamu laki-lakinya datang ke rumah ini' batin Ella.


Ella tidak mau terlalu mengurusi Rita. Karena dia sudah tahu dari Bik Lastri kalau Rita itu perempuan yang jahat dan licik. Ella masih baru kerja di rumah Pak Rajasa. Dan Ella belum berani untuk macam-macam di rumah itu.


"Ayo masuk dulu sayang," ucap Rita sembari menggandeng masuk Martin tamu pentingnya itu.


"Duduk sayang," ucap Rita.


"Iya sayang."


Martin kemudian duduk di dekat Rita.


"Kamu sudah siap sayang?" tanya Martin menatap Rita lekat.


"Aku belum dandan sayang. Aku buatkan minum dulu ya untuk kamu."


"Boleh deh."


"Lagian ini kan masih pagi banget. Nanti, kita jalan-jalannya naik mobil baru suamiku aja. Mumpung orangnya nggak ada," ucap Rita.


"Oke."


***


Waktu saat ini, sudah menunjukkan jam sembilan pagi. Dara masih tampak cemas memikirkan kondisi adik-adiknya di rumah. Ponsel Dara juga masih mati.


"Duh, aku pengin pulang ke rumah. Tapi bagaimana dengan Tuan Alex. Aku nggak tega melihat dia sedih seperti itu," ucap Dara yang sejak tadi masih menatap Alex dari kejauhan.


Dara ingin pulang tapi dia ragu untuk meninggalkan Alex. Karena sejak tadi, Alex masih murung. Terlebih sampai saat ini, ibunya belum siuman.


Dara berjalan mendekati Alex sembari membawa dua bungkus nasi.


"Tuan," ucap Dara.


Alex yang dipanggil tidak menyahut. Dia juga sama sekali tidak mau menatap Dara. Dara duduk di sisi Alex dan memegang bahunya.


"Tuan Alex, apa yang sedang Tuan fikirkan? apakah Tuan lagi memikirkan kondisi ibu Tuan?" tanya Dara.


Alex menoleh ke samping di mana Dara duduk.


"Dari mana aja kamu?" tanya Alex dengan sorot mata tajam.


"Maaf Tuan, aku tadi baru ke depan beli nasi bungkus "


"Kenapa beli nasi bungkus lama sekali!" ucap Alex dengan nada tinggi.


"Maaf Tuan. Tadi di depan ngantri. Banyak sekali yang beli."

__ADS_1


__ADS_2