Gadis Cupu Milik CEO

Gadis Cupu Milik CEO
Rahasia Rita


__ADS_3

Dara terkejut saat tiba-tiba saja nafas Bu Vivi mendadak tersengal-sengal.


Dara panik saat melihat kondisi Bu Vivi. Baru saja Dara bahagia melihat Bu Vivi sudah bisa bercakap-cakap dengannya. Sekarang Dara melihat Bu Vivi sesak nafas. Mungkin karena Bu Vivi sudah melepas alat bantu pernafasan itu.


Tanpa banyak berfikir, Dara kemudian berlari meninggalkan ruangan Bu Vivi untuk memanggil dokter.


"Dokter, dokter...tolongin Bu Vivi Dok," ucap Dara setelah sampai di belakang Dokter.


Dokter menoleh ke arah Dara.


"Ada apa lagi dengan Bu Vivi? " tanya Dokter.


"Nafasnya... dia sesak nafas Dok." jelas Dara.


"Kok bisa? kan ada alat bantu pernafasan."


"Tolong lihat dulu Dok."


"Baiklah. Saya akan ke sana sekarang."


Dokter kemudian melangkah ke ruang ICU untuk melihat keadaan Bu Vivi. Dokter terkejut saat melihat alat bantu pernafasan itu terlepas dari mulut Bu Vivi.


"Kenapa bisa lepas alat ini?" tanya dokter menatap Dara tajam.


"Tadi dia yang melepas sendiri Dok."


"Ya harusnya kamu larang dong. Bagaimana nanti kalau ada apa-apa sama dia."


Dokter kemudian memasang kembali alat bantu pernafasan itu ke mulut Bu Vivi. Bu Vivi lancar kembali bernafasnya.


"Bu Vivi baru siuman. Dia masih butuh alat bantu pernafasan itu."


"Iya Dok. Saya mengerti. Tadi dia yang memaksa melepaskan alat itu."


"Ya sudah. Kamu tungguin dulu dia di sini. Jagain Bu Vivi. Dia masih belum pulih. Jangan perbolehkan dia untuk banyak gerak dan banyak bicara dulu ya. Apalagi sampai melepaskan alat pernafasan dan alat infusnya."


"Iya Dok."


Dokter kemudian pergi meninggalkan ruangan Bu Vivi.


****


Setelah sampai di depan rumah Pak Rajasa, Alex menghentikan laju mobilnya. Alex dan Pak Rajasa kemudian turun dari mobilnya.


Alex mengambil koper yang ada di bagasi mobilnya. Dia kemudian memberikan koper itu pada Pak Rajasa.


"Ini Pa, koper papa."


"Makasih Alex, sudah mengantar Papa sampai rumah," ucap Pak Rajasa sembari mengambil kopernya dari tangan Alex.


"Iya Pa."


"Kamu mau masuk ke dalam atau kamu mau ke rumah sakit lagi?" tanya Pak Rajasa.


"Aku mau ke kantorku. Sudah lama aku nggak melihat kantorku."


"Oh ya. Silahkan Alex."


Alex kemudian masuk kembali ke dalam mobilnya. Setelah itu dia buru-buru meluncur pergi meninggalkan rumah ayahnya.

__ADS_1


Setelah Alex pergi, Pak Rajasa kemudian masuk ke dalam rumahnya.


Sesampainya di depan pintu, Pak Rajasa menghentikan langkahnya.


"Kenapa rumah sepi banget begini ya. Pada ke mana para pembantu," ucap Pak Rajasa. "Apa Rita ada di dalam ya."


Tok tok tok...


Pak Rajasa mengetuk pintu rumahnya. Beberapa saat kemudian Ella muncul dari dalam rumah Pak Rajasa.


"Selamat siang Tuan," ucap Ella.


"Selamat siang. Ella, kemana istriku? apa dia ada di dalam?" tanya Pak Rajasa.


Ella diam. Selama Pak Rajasa pergi, Ella sering sekali melihat Rita bermesraan dengan lelaki lain. Namun Ella takut untuk mengatakannya pada Pak Rajasa. Apalagi Ella masih baru kerja di rumah itu. Tadi dia juga melihat Rita pergi dengan lelaki yang biasa datang ke rumah Pak Rajasa.


"Ella, kenapa malah ngelamun? ditanyain malah ngelamun? di mana Rita. Apa dia ada di dalam?"


Ella menggeleng.


"Non Rita, baru saja pergi Tuan."


"Pergi ke mana?"


"Saya kurang tahu Tuan."


"Dia pergi sendiri?"


Ella mengangguk. Dia tidak mau jujur pada Pak Rajasa karena dia takut dengan Rita.


"Iya. Dia pergi sendiri Tuan."


"Ya udah. Tolong bawa koper ku masuk ya. Aku lelah banget pengin langsung ke kamar."


"Iya Tuan."


"Iya Tuan."


Pak Rajasa kemudian masuk ke dalam rumahnya. Dia melangkah menuju ke kamarnya. Begitu juga dengan Ella yang masih mengikuti langkah Pak Rajasa dengan membawa koper Pak Rajasa.


"Mau di taruh di mana Tuan kopernya?" tanya Ella.


"Taruh di situ saja El. Dan kamu boleh ke luar."


"Iya Tuan."


Ella kemudian pergi meninggalkan kamar majikannya.


Pak Rajasa melepaskan jasnya. dia kemudian melepas dasi dan sepatunya. Setelah itu dia masuk ke dalam kamar mandi sembari membawa handuk.


Selesai mandi, Pak Rajasa keluar dari dalam kamar mandi. Dia kemudian melangkah ke arah lemari untuk mengambil bajunya. Pak Rajasa setelah itu memakai baju santainya.


Pak Rajasa yang merasa lapar, segera melangkah untuk ke dapur.


"Lastri...! Ella...!" seru Pak Rajasa memanggil ke dua pembantunya.


Beberapa saat kemudian, Lastri mendekat ke arah Pak Rajasa.


"Iya Tuan. Ada apa?" tanya Lastri.

__ADS_1


"Ada makanan nggak Las?"


"Ada. Tuan mau makan?"


"Iya. Siapkan aku makanan ya. Aku tunggu di ruang makan."


"Iya Tuan."


Pak Rajasa kemudian menunggu Lastri di ruang makan. Sementara Lastri mengambil makanan dan membawanya ke ruang makan.


Lastri menyiapkan makanan untuk Pak Rajasa di meja makan. Setelah itu dia mengambil piring dan gelas untuk Pak Rajasa makan dan minum.


"Tuan, silahkan makan Tuan. Saya mau ke belakang dulu. Masih banyak kerjaan yang harus saya kerjakan."


"Iya. Terimakasih Lastri."


Lastri mengangguk. Setelah itu dia kembali kebelakang. Karena saat ini, Lastri dan Ella sedang membersihkan halaman belakang. Sementara Pak Rajasa yang sejak tadi kelaparan segera makan dengan lahap.


Lastri mendekat ke arah Ella. Lastri menepuk bahu Ella yang membuat Ella terkejut.


"Duh, Mbak. Kaget tahu Mbak."


"Habisnya kamu ngelamun terus sejak tadi. Kenapa ngelamun El?


"


"Kenapa Tuan besar pulangnya cepat banget ya? katanya dia mau lama di Bali." tanya Ella.


"Kalau yang aku dengar sih, Tuan Rajasa pulang itu karena mau nengokin istri pertamanya. Katanya Bu Vivi itu sekarang lagi koma di rumah sakit."


"Kata siapa Mbak?"


"Ya kata Non Rita lah. Dia sudah cerita tentang masalah itu ke saya."


Ella manggut-manggut.


"El, dari kemarin aku perhatikan kamu itu selalu murung. Kenapa sih? ada masalah apa?"


"Mbak, Mbak nggak pernah curiga ya sama Mon Rita?"


"Curiga apa?"


"Mbak, Non Rita itu sepertinya sudah selingkuhin Tuan besar ya."


Lastri membelalakkan matanya dan langsung menutup mulut Ella dengan telapak tangannya.


"Jangan keras-keras ngomongnya. Tuan Rajasa lagi makan di ruang makan. Bisa dengar nanti dia," bisik Lastri.


"Ups, maaf Mbak. Aku keceplosan. Aku kira Tuan besar ada di kamarnya."


"Punya mulut tuh harus di jaga. Kalau kamu tahu rahasianya Non Rita, Tuan besar, dan Tuan muda Alex, jangan buka-buka tuh rahasia. Mereka orang besar, kalau ada sedikit berita yang menyebar, bisa sampai ke media soalnya."


"Iya sih."


"Saya juga sudah lama kerja di sini. Saya juga sudah banyak tahu tentang rahasia keluarga ini. Tapi saya diam. Karena niat saya kerja di sini. Cari uang buat anak. Kalau saya berani macam-macam di rumah ini, saya takut di pecat . Dan saya tidak mau di pecat dari sini. Saya masih sayang sama pekerjaan ini."


"Iya Mbak. Saya mau jaga mulut. Tapi kasihan Pak Rajasa kalau dia dibohongi terus sama Rita."


Ssstttt...

__ADS_1


"Aku kan udah bilang. Jangan keras-keras ngomongnya. Pak Rajasa masih ada di ruang makan. Bisa kedengaran nanti."


Ella menutup mulutnya dengan salah satu telapak tangannya. Dia kemudian kembali mengerjakan pekerjaannya.


__ADS_2