Gadis Cupu Milik CEO

Gadis Cupu Milik CEO
Terlambat


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, Dara sampai di ruang tengah tempat di mana Ratih dan Alex berada. Dara menatap Alex dan Ratih yang masih saling diam.


"Tuan Alex. Maafkan saya, atas keterlambatan saya," ucap Dara.


Alex menatap tajam ke arah Dara. Dia masih emosi karena Dara datang terlambat. Entah sudah berapa lama Alex menunggu Dara.


"Dari mana aja kamu, jam segini baru datang heh!" bentak Alex.


"Maafkan saya Tuan. Saya baru saja, ke sekolah adik saya. Ada urusan sebentar yang harus saya selesaikan di sana," jelas Dara.


"Urusan apa heh...! lebih penting mana urusan di sekolah adikmu atau urusan denganku!" Alex masih menatap Dara tajam.


"Gara-gara kamu, aku jadi terlambat datang ke kantor. Aku tidak punya waktu lagi sekarang. Ayo ikut aku... !" Alex menggenggam erat tangan Dara dan menyeret paksa Dara keluar dari rumahnya.


Alex menarik paksa Dara sampai di teras depan. Ratih yang menyaksikan hal itu, hanya diam saja. Sebenarnya, Ratih juga kasihan saat melihat temannya diperlakukan kasar oleh Alex.


Namun, Ratih bisa apa sekarang. Jika dia menolong Dara, bisa saja pekerjaannya yang akan menjadi ancamannya. Bisa saja dia dipecat oleh Alex dari pekerjaannya jika dia berani ikut campur urusan majikannya.


Sesampainya di dekat mobil, Alex membuka pintu mobil untuk Dara. Dia kemudian memaksa Dara masuk ke dalam mobil.


"Masuk!" Alex mendorong tubuh Dara hingga tubuh Dara melesak masuk ke dalam mobil.


Setelah itu, Alexpun masuk ke dalam mobilnya. Mereka kemudian meluncur pergi meninggalkan rumah.


Dara menatap pergelangan tangannya yang memerah karena cengkeraman kuat Alex tadi. Dia sejak tadi, hanya bisa mengusap-usap pergelangan tangannya yang masih terasa sakit.


'Ih, sakit banget. Kenapa sih, Tuan Alex marah-marah sama aku. Dan sekarang, dia mau bawa aku ke mana'


Dara tidak tahu, Alex akan membawanya ke mana sekarang.


'Sebenarnya, Tuan Alex mau ke mana sih. Kenapa dia menyuruh aku ikut bersamanya. Masak dia mau bawa aku ke kantornya,'


Alex mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh. Alex masih marah sama Dara. Sejak tadi, dia hanya bisa diam tanpa berucap sepatah katapun pada Dara.


"Tuan, tolong jangan kencang-kencang bawa mobilnya. Aku takut," ucap Dara yang masih tampak ketakutan. Namun, Alex tidak perduli dengan rasa takut Dara itu. Dia masih melajukan mobilnya dengan kencang.

__ADS_1


"Diam kamu Dara! aku akan ada meeting penting di kantor. Aku sudah terlambat datang ke kantor gara-gara kamu. Dan kita harus cepat sampai ke kantor."


"Kenapa Tuan harus menunggu saya. Kalau Tuan tahu saya akan datang lama, kenapa Tuan tidak


berangkat ke kantor dari tadi."


Alex yang di ajak bicara masih diam.


"Kenapa Tuan harus membawa saya ke kantor. Di rumah Tuan, kan saya masih banyak kerjaan Tuan. Saya harus mencuci, dan menyetrika baju-baju Tuan."


Sepanjang perjalanan, Dara masih mengoceh. Sementara Alex hanya diam. Dia masih serius menyetir dengan kecepatan penuh.


Sesampainya di tempat parkir, Alex menghentikan laju mobilnya. Setelah itu dia turun dari mobilnya dan membuka pintu mobil untuk Dara.


"Untuk apa Tuan bawa aku ke sini?" tanya Dara.


Alex tidak menjawab. Dia malah menarik paksa tangan Dara dan membawanya masuk ke dalam kantor.


"Tuan, sakit. Aku bisa jalan sendiri. Tidak perlu di tarik-tarik seperti ini," ucap Dara di sepanjang perjalanan masuk ke dalam kantor.


"Siapa tuh. Kasihan banget wanita itu," ucap salah seorang karyawan Alex yang melihat Alex menarik paksa seorang gadis masuk ke dalam kantornya.


"Sudahlah. Nggak usah kita ngurusin urusan Pak Alex. Pak Alex kan sudah biasa seperti itu. Dia tidak kenal ampun untuk orang-orang yang sudah berani melawannya."


"Iya. Ayo kita kembali kerja. Kalau Pak Alex lihat, bisa-bisa kita lagi yang akan dipecat."


Dia karyawan itu, kemudian kembali ke ruangannya.


Alex membawa Dara masuk ke dalam lift untuk naik ke lantai paling atas di mana ruangan Alex berada.


Sesampai di depan ruangannya, Alex kemudian membawa Dara masuk ke dalam. Dia kemudian menghempaskan Dara sampai Dara terjatuh di atas sofa.


"Auh .."pekik Dara.


Alex menatap tajam Dara.

__ADS_1


"Kamu mau uang dua puluh juta? " tanya Alex


Dara diam..


Ya, dia masih ingat bagaimana dia ngobrol dengan Alex semalam. Dia akan menyerahkan semuanya pada Alex, asal Alex mau memberikan dia uang dua puluh juta untuk operasi ibunya.


"Kenapa kamu diam? apakah kamu masih ragu? aku akan memberikan kamu cek sebesar dua puluh juta. Asal kamu mau tidur denganku satu malam," ucap Alex menekankan sekali lagi.


"Sebenarnya, aku cuma mau pinjam uang itu Tuan. Dan aku akan ganti dengan uang gaji aku. Bukan dengan cara seperti itu, yang aku inginkan. Itu sama saja aku seperti seorang..." Dara menggantungkan ucapannya.


"Seperti apa? sudahlah Dara, kamu jangan munafik. Kamu juga butuh uang kan. Aku bisa memberikan kamu lebih banyak dari itu asal kamu, mau menjadi teman tidurku. Jangankan dua puluh juta. Satu milyar pun akan aku berikan tanpa kamu harus menggantinya," ucap Alex.


Alex sejak tadi masih membujuk Dara. Apapun akan Alex lakukan demi mendapatkan gadis yang disukanya. Alex memang sudah penasaran dengan gadis cupu itu. Tidak masalah dia harus mengeluarkan banyak uang untuk seorang wanita. Asal wanita itu bisa memberikan apa yang Alex inginkan.


Dara masih bingung untuk mengiyakan ucapan Alex.


Pertama, Dara takut hamil jika dia sampai berhubungan dengan lelaki.


Ke dua, Dara takut dengan dosa yang akan di tanggungnya nanti.


Namun, Dara tidak ada pilihan lain. Sudah tidak ada yang bisa Dara andalkan lagi sekarang. Dara hanya ingin ibunya bisa Operasi dan sembuh dari penyakitnya. Karena Dara tidak mau kehilangan ibunya.


"Aku belum bisa jawab sekarang Tuan. Biarkan aku berfikir dulu," ucap Dara.


"Oke. Kamu tunggu dulu di sini dan jangan kemana-mana. Aku mau meeting dulu dengan klien. Setelah itu, nanti kita bisa lanjutkan bicara," ucap Alex sebelum dia pergi ke luar dari ruangannya.


"Baik Tuan."


Alex membereskan berkas-berkasnya. Dia kemudian keluar dari ruangannya sembari membawa berkas-berkas pentingnya. Dia berjalan menuju ke ruang meeting tempat di mana karyawan dan kliennya sudah berkumpul.


"Selamat pagi..." ucap Alex menyapa orang-orang yang sudah berada di tempat meeting.


"Pagi..." ucap semua orang yang ada di tempat meeting.


"Maaf, atas keterlambatan saya. Tadi saya ada urusan sebentar," ucap Alex. Dia kemudian duduk di ruang meeting berbaur bersama orang lainnya.

__ADS_1


***


__ADS_2