Gadis Cupu Milik CEO

Gadis Cupu Milik CEO
Menagih janji


__ADS_3

Malam ini, Dara baru terlelap di dalam kamarnya. Dara terkejut saat tiba-tiba saja ponselnya berdering.


Ring ring ring ...


Dara mengerjapkan matanya untuk mencari ponselnya. Dara kemudian mengambil ponselnya yang ada di atas bantalnya. Dara menatap layar ponselnya. Ternyata Ratih yang memanggilnya.


"Duh, Mbak Ratih. Mau ngapain sih malam-malam gini nelpon. Apa dia belum tidur," ucap Dara.


Dara kemudian mengangkat panggilan dari Ratih.


"Halo Mbak..."


"Halo sayang..."


Dara tersentak saat mendengar suara berat Alex dari balik telpon.


"Ha-halo...ini siapa? ini bukan Mbak Ratih ya?"


"Kamu lupa sama suara aku sayang?"


"Tu-Tuan Alex..."


Dara hanya bisa menegak ludahnya saat mendengar suara Alex dari balik telpon. Wajah Dara tiba-tiba saja menjadi pucat. Dia takut untuk menerima telpon dari Alex. Seandainya Dara tahu kalau yang menelpon bukan Ratih tapi Alex, pasti dia tidak akan pernah mengangkat panggilan itu.


"Kamu belum tidur sayang?"


"A-a-aku..."


"Jangan gugup begitu sayang. Jangan takut padaku. Aku tak akan memakan mu."


"Tu-Tuan A-lex. Mau ngapain nelpon aku?"


"Urusan kita malam itu belum selesai sayang. Aku mau nagih janji malam itu."


"Ta-tapi..."


"Tapi apa?"


"Tuan, aku nggak bisa Tuan. Aku nggak bisa tidur dengan anda. Aku akan kembalikan cek dua puluh juta itu pada anda."


"Apa! kenapa kamu bicara begitu?"


"Aku sudah tidak membutuhkan uang itu lagi."


"Tapi kamu nggak bisa dong, membatalkan perjanjian kita begitu saja..."


"Tuan, maafkan aku. Aku nggak bisa..."


Alex tampak kecewa dengan penolakan Dara. Padahal Alex masih menginginkan Dara. Namun Alex juga tidak mau memaksa seorang wanita untuk tidur dengannya. Karena kebanyakan dari semua wanita yang dekat dengan Alex akan secara suka rela menyerahkan dirinya pada Alex.

__ADS_1


Alex memang masih penasaran dengan Dara. Apalagi malam itu, Alex melihat kecantikan Dara yang begitu sangat natural. Dan Alex tidak bisa melupakan kenangan malam itu.


"Dara, seumur hidup aku, aku nggak pernah dikecewakan oleh seorang wanita. Dan baru kamu satu-satunya wanita yang sudah berani mengecewakan aku. Kamu satu-satunya gadis yang berani menolak aku dan selalu membuat aku marah."


"Maafkan aku Tuan. Maafkan aku. Tapi aku nggak bisa melakukan hal itu. Itu sama saja aku berzina Dan dalam agama, berzina itu dosa."


"Udahlah Dara, nggak usah munafik. Aku tahu kamu membutuhkan uang itu. Ambil saja cek itu dan serahkan semua miliki mu untuk aku sayang."


"Nggak. Aku nggak akan pernah menyerahkan kesucianku pada anda. Karena aku hanya akan memberikannya untuk suamiku nanti."


"Kalau begitu, apakah aku harus nikahi kamu dulu dan jadi suami kamu, agar aku bisa mendapatkan kamu seutuhnya Dara."


Dara terkejut saat mendengar ucapan Alex.


Tut Tut Tut ...


Tiba-tiba sambungan telepon itu terputus.


Alex mengepalkan tangannya geram saat melihat ponsel Ratih lowbat.


"Ratih...! Ratih ...!" Alex bangkit dari duduknya. Dia kemudian berjalan menuju ke kamar Ratih.


Ratih, Lestari dan Mbak Mirna terkejut saat mendengar teriakan Alex.


"Ratih. Kenapa dengan Tuan Alex?kenapa dia teriak-teriak?"tanya Lestari yang kebetulan satu kamar dengan Ratih.


"Aku nggak tahu Mbak Tari. Aku ngantuk banget sebenarnya. Tapi Tuan Alex sudah membuat aku lelah malam ini. Entah sudah berapa kali dia bangunin aku dan nyuruh-nyuruh aku," ucap Ratih.


Ratih kemudian berjalan keluar dari kamarnya untuk menemui Alex.


"Tuan. Ada apa?" tanya Ratih.


"Kenapa ponsel kamu lowbat. Aku kan lagi nelpon Dara!" ucap Alex.


Ratih menghela nafas dalam.


'Dasar Tuan sialan. Kenapa dia tidak telpon Dara dengan ponselnya sendiri saja,'


"Maaf Tuan, handphon nya memang belum aku cas dari tadi pagi. Kenapa Tuan nggak pakai handphon Tuan saja untuk menghubungi Dara," ucap Ratih.


Alex memberikan ponsel Ratih pada Ratih. Setelah itu tanpa mengucapkan sepatah katapun, Alex pergi meninggalkan Ratih.


Ratih hanya bisa geleng-geleng kepala saat melihat tingkah majikannya.


"Dasar majikan aneh. Kalau saja aku nggak butuh kerjaan ini, aku sudah pergi dari sini sejak dulu," gerutu Ratih.


Setelah itu Ratih pun pergi kembali ke kamarnya.


***

__ADS_1


Alex sejak tadi masih berdiri di ruang tamu. Dia sedang menunggu kabar dari Doni. Beberapa kali Alex mencoba untuk menghubungi Doni. Dia ingin menanyakan tentang ibunya. Namun sepertinya sejak tadi Doni belum mau mengangkat panggilan dari Alex.


Alex menatap jam dinding. Waktu sudah menunjukkan jam dua belas malam.


"Ke mana ini si Doni. Apa dia memang sengaja nggak mau angkat panggilan dari aku," gumam Alex sembari menatap ponselnya.


Beberapa saat kemudian, deru mobil sudah terdengar dari luar rumah Alex.


Alex menatap ke luar dari jendela ruang tamu. Sebuah mobil memasuki gerbang rumahnya.


"Itu dia si Doni. Datang juga dia ke sini. Apa dia juga membawa mama. Kalau sampai dia nggak membawa mama, aku akan hajar dia habis-habisan," geram Alex.


Beberapa saat kemudian, Doni turun dari mobilnya. Alex berjalan ke luar untuk menghampiri Doni.


"Don, mana Mama?" tanya Alex setelah dekat dengan Doni.


"Maafkan saya Bos. Saya terpaksa harus membuat ibu anda pingsan. Karena di sepanjang jalan, ibu anda teriak-teriak. Saya takut, orang-orang akan mengira kalau saya sudah menculik Bu Vivi. Bisa di gebukin masa kalau ada warga yang salah sangka bos."


"Terus, kamu apakan mama?" tanya Alex.


"Aku kasih obat bius bos."


"Hah, dasar bodoh...!" geram Alex.


Alex kemudian berjalan ke arah mobil Doni. Dia membuka pintu mobil Doni. Alex terkejut saat melihat ibunya dalam kondisi pingsan.


"Mama..." ucap Alex


Tanpa banyak waktu lama, Alex membopong tubuh Bu Vivi dan membawanya masuk ke dalam rumahnya.


Alex kemudian memasukkan Bu Vivi ke dalam kamarnya. Dia meletakan tubuh ibunya di atas ranjang tempat tidurnya.


Alex menatap lekat Bu Vivi. Sudah lima tahun Bu Vivi ada di dalam rumah sakit jiwa.


Semenjak Pak Rajasa membawa pulang Rita ke rumahnya, Bu Vivi terkena gangguan jiwa. Dan tanpa sepengetahuan Alex, Bu Vivi sudah dibawa ke rumah sakit jiwa oleh ayahnya. Itu yang membuat hubungan Alex dengan ayahnya hancur dan membuat mereka tidak akur sampai sekarang.


Doni masih berdiri di sisi Alex. Alex bangkit dari duduknya. Dia kemudian menatap Doni.


"Kamu mau langsung pulang, atau mau nginap di sini?" tanya Alex.


Doni tidak langsung menjawab pertanyaan Alex. Dia masih tampak berfikir.


"Kamu boleh tidur di kamar tamu Don. Sudah malam. Nggak usah pulang dulu. Kelihatannya kamu juga capek."


"Baik Bos."


"Silahkan pergi," ucap Alex mempersilahkan Doni pergi. Doni kemudian pergi meninggalkan kamar Alex.


****

__ADS_1


__ADS_2