
Ratih turun dari taksi setelah sampai di depan kantor polisi. Dia kemudian masuk ke dalam untuk bertemu Dara.
Ratih mencari Dara. Dia menghampiri salah satu polisi yang ada di kantor itu.
"Ada apa Mbak? ada yang bisa saya bantu?" tanya polisi itu.
"Pak polisi, apa benar teman saya ada di sini?"
"Teman anda siapa?"
"Namanya Dara Pak. Katanya semalam dia ditangkap dan ditahan di sini."
"Oh, Dara? mari ikut saya."
Polisi itu kemudian membawa Ratih ke sebuah ruangan. Mungkin ruangan itu memang dikhususkan untuk orang yang membesuk.
"Silahkan duduk dulu dan Tunggu di sini," ucap Pak polisi.
"Baik Pak."
Ratih kemudian duduk di raungan itu. Sementara polisi itu, kemudian pergi untuk memanggil Dara.
Beberapa saat kemudian, Dara mendatangi Ratih dengan penampilan yang tidak biasa.
Ratih terkejut saat melihat Dara.
'Kok, Dara mirip dengan wanita yang di bawa Tuan Alex semalam. Bajunya juga sama. Apa jangan-jangan, wanita yang di ajak pergi Tuan Alex itu Dara. Kok, aku sampai nggak ngeh sama sekali sih.'
Ratih masih menatap Dara dari atas sampai bawah
"Kamu Dara?" tanya Ratih yang masih tidak percaya dengan wanita yang sekarang ada di depannya.
"Iya. Ini aku, Dara Mbak."
Dara kemudian duduk di depan Ratih. Sementara polisi itu pergi meninggalkan mereka. Memberi waktu untuk Dara dan Ratih bicara.
Dara menangis.
"Hiks...hiks...Mbak, apakah Mbak bisa keluarkan aku dari sini?" tanya Dara sembari menggenggam ke dua tangan Ratih.
Ratih mulai berfikir.
"Apa yang bisa aku lakukan Dara? aku mau bicara apa sama polisi?" tanya Ratih.
Ratih juga sama lugu nya seperti Dara. Dia tidak pernah berhadapan dengan polisi. Dia bingung untuk bicara apa pada polisi.
"Mbak, tolong Mbak. Bilang ke polisi, kalau aku bukan wanita malam. Aku semalam di tangkap , karena polisi fikir, aku ini PSK."
Ratih terkejut saat mendengar ucapan Dara. "Apa! kok bisa?"
"Aku lari dari hotel, dan aku bertemu dengan banyak orang perempuan seksi di pinggir jalan. Dan ternyata mereka semua, wanita nggak benar," ucap Dara menjelaskan.
Ratih diam.
"Mbak harus bilang ke polisi, kalau Mbak itu teman aku. Dan Mbak katakan yang sejujurnya sama polisi, kalau aku ini teman kerja Mbak."
"Iya Dara. Aku pasti akan bebaskan kamu. Kamu tenang aja ya."
__ADS_1
Ratih mengambil ponselnya. Dia seperti mau menelpon seseorang.
"Mau ngapain Mbak?" tanya Dara.
"Aku mau minta bantuan Tuan Alex. Dia kan banyak uang, barang kali, dia bisa bebasin kamu," ucap Ratih..
Dara terkejut saat mendengar ucapan Ratih.
"Jangan...!" Dara segera mencegah Ratih..
"Kenapa jangan?" tanya Ratih.
"Mbak, aku mohon, jangan kasih tahu Tuan Alex dulu. Bisa mati aku Mbak kalau dia tahu keberadaan aku."
"Kok gitu. Emang apa yang sudah kamu lakukan?"
"Ceritanya panjang Mbak. Aku mohon Mbak. Sebisanya aja Mbak bilang ke polisi kalau aku nggak bersalah. Biar aku bisa pulang. Karena aku ingin ketemu sama ibu aku, untuk yang terakhir kalinya."
"Maksudnya?"
"Mbak, Semalam aku dapat kabar dari rumah sakit, kalau ibu aku sudah meninggal dunia."
Ratih kembali terkejut. "Apa! ibu kamu meninggal dunia?"
Dara mengangguk.
"Ya udah. Aku akan coba bilang ke polisi agar mereka mau bebaskan kamu."
****
Tin Tin Tin...
Suara klakson sudah membuat Pak Tino syok. Karena ternyata Pak Tino sejak tadi masih mengantuk.
Pak Tino buru-buru berjalan ke arah gerbang dan membuka pintu gerbang.
Mobil Alex kemudian masuk ke halaman depan rumahnya. Alex buru-buru turun dari mobilnya. Dia kemudian berjalan masuk ke dalam rumahnya.
"Ratih...! Ratih...!" Suara Alex sudah menggema di ruang tamu.
Seorang wanita berusia tiga puluh tahun mendekat ke arah Alex.
"Iya Tuan muda. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Lestari salah satu pembantu di rumah Alex juga.
"Mana Ratih?" Alex menatap Lestari tajam.
Lestari diam. Dia bingung, mau menjawab apa. Mungkinkah dia harus jujur, sama Alex dengan keberadaan Ratih saat ini.
Selama ini, entah kenapa Alex itu lebih suka dilayani Ratih dari pada pembantu yang lain. Mungkin karena Ratih wanita yang lebih muda di rumah Alex. Dan Ratih juga sudah lumayan lama tinggal di rumah Alex. Makanya, Ratih sudah tahu banyak tentang majikannya itu.
'Duh aku harus bicara apa sekarang sama Tuan muda'
"Tuan, Ratih lagi sibuk dibelakang. Tuan butuh apa sekarang? apakah Tuan mau makan? nanti biar saya siap kan. Kebetulan, masakan Mbak Mirna sudah siap," ucap Lestari.
"Saya cuma mau sama Ratih. Mana Ratih! panggil dia ke sini."
Lestari tampak gugup. Ratih sudah menyuruh Lestari untuk tidak mengatakan pada Alex kalau Ratih pergi.
__ADS_1
Tapi Lestari bingung. Alex itu orang yang tidak gampang di bohongi. Mungkinkah Lestari harus membohongi Alex. Jika sampai Alex tahu Lestari bohong, bisa saja Alex akan memecat Lestari.
"Lestari...! apa yang kamu fikirkan. Mana Ratih?" tanya Alex dengan nada tinggi.
Lestari menundukkan kepalanya. Akhirnya, dia jujur juga pada Alex.
"Sebenarnya, Ratih itu lagi pergi Tuan."
"Pergi? pergi ke mana?" tanya Alex.
"Saya tidak tahu Tuan."
"Jangan bohong sama saya. Mana mungkin kamu tidak tahu, ke mana Ratih pergi. Kamu itu dekat dengan Ratih. Tidak mungkin, kalau kamu tidak tahu alasan Ratih pergi."
"Se-sebenarnya, Ratih itu lagi pergi ke kantor polisi," jelas Lestari.
"Apa! kantor polisi? untuk apa dia ke sana."
"Saya tidak tahu Tuan."
"Sebelum pergi , emang Ratih bilang apa aja ke kamu?" tanya Alex penasaran.
"Katanya, Ratih mau membebaskan Dara di penjara."
Alex terkejut bukan main saat mendengar ucapan Lestari.
"Apa! Dara dipenjara? kok bisa?"
"Saya juga tidak tahu Tuan muda. Soalnya, Ratih juga tadi pagi, perginya buru-buru. Dia cuma mengatakan kalau dia akan ke kantor polisi untuk membebaskan Dara."
"Baiklah. Sekarang kamu boleh kembali kerja."
"Iya Tuan."
Lestari kemudian pergi meninggalkan majikannya.
'Maafkan aku Ratih. Aku nggak bisa bohongi Tuan Alex. Aku takut di pecat ,kalau sampai Tuan Alex tahu aku berbohong' batin Lestari sembari berjalan ke belakang.
Alex duduk di sofa ruang tamu. Dia diam dan mulai berfikir.
"Kenapa Dara bisa ada di penjara. Apa yang sudah dia lakukan semalam. Kalau dia nggak berbuat kriminal, tidak mungkin dia di tahan polisi. Atau jangan-jangan, dia sudah membunuh seorang preman yang sudah mau memperkosanya waktu dia kabur dariku." Alex hanya bisa menerka-nerka.
"Aku harus cari Dara ke kantor polisi. Kasihan juga kalau dia di tahan. Walau aku lagi kesal sama dia, tapi aku masih punya hati nurani. Aku nggak tega sama gadis itu," ucap Alex.
Alex bangkit dari duduknya. Setelah itu, dia berjalan ke luar dari rumahnya.
"Pak Tino...! buka pintu...!" seru Alex.
Pak Tino yang berada di halaman depan rumah, langsung berlari untuk membuka gerbang rumah Alex
Alex masuk ke dalam mobilnya. Setelah itu dia meluncur pergi meninggalkan rumahnya untuk ke kantor polisi.
***
Belum bisa crazy up ya reader.
Crazy up nya nanti ya, kalau novel sebelah sudah tamat. Mau tamatin dulu novel sebelah.
__ADS_1