
Pagi ini Alex masih berada di kamarnya. Dia sudah rapi dengan baju kantornya. Alex keluar dari kamarnya dan berjalan menuju ke ruang makan.
Di ruang makan, tampak semua makanan sudah siap. Namun Alex tidak melihat satu pun dari pembantunya ada di ruang makan atau di dapur saat ini.
"Ratih...! Ratih...!" seru Alex memanggil-manggil Ratih.
Beberapa saat kemudian, Ratih menghampiri Alex.
"Iya Tuan," ucap Ratih.
"Mana Dara? apakah dia sudah datang?" tanya Alex.
Ratih menggeleng. "Belum Tuan."
"Coba kamu telpon dia. Suruh dia datang ke sini sekarang!" pinta Alex.
"Kenapa nggak Tuan sendiri saja yang menelpon Dara."
"Ratih, kalau aku yang nelpon Dara, mana mau dia angkat telpon ku. Cepat telpon Dara sekarang! "
"Baik Tuan."
Ratih kemudian menelpon Dara dengan ponselnya. Namun tampaknya, nomer Dara tidak aktif.
"Tuan, nomer Dara tidak aktif," ucap Ratih menuturkan.
Alex mengeraskan rahangnya. Dia kemudian mengepalkan tangannya geram.
"Sudah aku duga, Dara akan kabur setelah menerima cek itu. Hah, aku sudah kecolongan. Baru kali ini, aku di tipu oleh gadis cupu seperti dia, awas aja kamu Dara...! geram Alex.
Bruak...
Alex tiba-tiba saja menggebrak mejanya. Membuat Ratih terlonjak kaget.
"Tu-Tuan, mungkin Dara masih dalam perjalanan. Atau mungkin, Dara itu lagi ngantar adiknya dulu ke sekolah. Tuan harus sabar Tuan. Dara itu, baru kehilangan ibunya. Seharusnya Tuan bisa sedikit mengerti kondisi Dara," ucap Ratih mencoba sedikit menenangkan emosi Alex.
Alex menatap Ratih tajam.
"Aku tidak butuh ceramah kamu Ratih...!" bentak Alex..
Ring ring ring ...
Suara ponsel Alex tiba-tiba saja berdering. Alex langsung mengangkat panggilan dari seseorang.
"Halo..."
"Halo Pak Alex. Kami dari pihak rumah sakit, ingin mengabarkan kalau ibu anda kabur.
"Apa! mama kabur?"
"Iya Pak Alex."
__ADS_1
"Kalian bagiamana sih. Kenapa mama bisa kabur. Kalian sudah di bayar mahal untuk merawat mama sampai sembuh, kenapa mama bisa kabur."
"Maaf Pak Alex, kami sudah lalai menjaga ibu anda."
"Terus, apakah papa aku sudah tahu hal ini?"
"Belum Pak Alex. Saya sudah menghubungi nomer Pak Rajasa. Tapi dia tidak bisa dihubungi."
"Kalian tidak usah menghubungi ayahku. Dan kalian juga tidak usah mencari mama ku. Biar aku sendiri yang akan mencari mama ku."
"Baik Pak Alex."
"Pokoknya, aku nggak mau Papa sampai tahu mama kabur."
"Baik Pak Alex."
Tut Tut Tut ..
Alex mematikan saluran telponnya. Dia kemudian menatap Ratih yang masih ada di sisinya.
"Ada apa Tuan muda?" tanya Ratih.
"Mama aku kabur dari rumah sakit jiwa Ratih. Dan aku harus mencarinya," ucap Alex sembari bangkit dari duduknya.
"Tuan Alex mau pergi sekarang?" tanya Ratih.
"Ya," jawab Alex singkat.
Alex menatap tajam Ratih.
"Tidak," jawab Alex.
Setelah itu dia berjalan pergi meninggalkan Ratih.
Alex menuju ke mobilnya yang terparkir di garasi rumahnya.
"Pak Tino...! buka gerbang...!" seru Alex.
Alex kemudian masuk ke dalam mobilnya.
Pak Tino buru-buru membuka pintu gerbang rumah Alex. Setelah itu, Alex pun meluncur pergi meninggalkan rumahnya. Dia akan mencari ibunya yang kabur dari rumah sakit jiwa.
"Duh, mama kenapa harus pakai acara kabur segala. Bagaimana nanti kalau dia ketemu sama Rita. Bisa gawat. Aku harus bisa menemukan mama terlebih dahulu. Biar aku bisa bawa mama pulang ke rumahku. Aku nggak mau sampai mama di bawa ke rumah sakit jiwa lagi. Kasihan mama," ucap Alex di sela-sela menyetirnya.
***
Dengan terburu-buru Dara menghampiri rumah Alex. Semalam Alex sudah menyuruhnya untuk datang pagi ini.
"Aku harus kembalikan cek ini. Aku nggak mau berurusan dengan Tuan Alex. Aku nggak butuh uang ini lagi," ucap Dara sembari membawa cek dari Alex.
Dara masuk lewat pintu gerbang utama. Setelah itu dia menghampiri Pak Tino.
__ADS_1
"Pak Tino. Tuan Alex mana? kok sepertinya mobilnya udah nggak ada? apa dia udah pergi?"
"Dia udah pergi Mbak Dara. Tadi dia sepertinya buru-buru banget."
"Mau ke kantor?"
"Saya juga kurang tahu Mbak Dara. Oh iya. Mbak Dara, saya turut berduka cita ya atas meninggalnya ibunya Mbak Dara. Maaf ya, saya tidak bisa hadir di pemakaman ibunya Mbak Dara."
Dara tersenyum.
"Nggak apa-apa Pak Tino. Sebenarnya saya ke sini, mau ketemu Tuan Alex. Ada hal serius yang ingin saya bicarakan dengannya."
"Ya udah. Masuk aja Mbak. Kerjaan Mbak Dara juga masih banyak kan di dalam."
"Iya. Dari kemarin aku cuma ngurusin pemakaman ibu aja sampai lupa ngurusin kerjaan. Kalau begitu, aku masuk dulu ya Pak Tino."
"Oh. Iya Mbak."
Dara kemudian masuk ke dalam rumah Alex. Dia masuk lewat pintu belakang.
"Dara," ucap Ratih sembari menghampiri Dara.
Dara tersenyum.
"Dara, kamu udah datang? aku fikir kamu nggak akan datang hari ini. Tadi aku nelpon kamu juga hape kamu kenapa nggak aktif."
"Hape aku tinggal di rumah. Lagi aku cas Mbak. Belum aku aktifkan," jelas Dara
"Dara, dari semalam Tuan Alex nyariin kamu. Dia nyuruh aku untuk nelpon kamu terus. Sampai tadi pagi dia juga nyariin kamu."
Dara menghela nafas dalam.
"Aku juga sebenarnya mau ketemu sama dia dan mau membicarakan hal yang penting sama dia. Aku ingin mengembalikan cek ini," ucap Dara.
"Bagus kalau begitu Dara. Mending nyari uang itu yang halal-halal aja. Uang yang di dapat dari cara yang haram, tidak akan pernah memberikan berkah Dara. Jika kamu benar-benar memakai uang itu untuk operasi ibu kamu, juga belum tentu ibu kamu akan langsung sembuh kan."
"Iya Mbak. Sekarang aku sadar kalau kemarin-kemarin aku sudah salah. Tidak seharusnya aku menuruti syarat konyol dari Tuan Alex."
"Aku tahu kalau seorang lelaki seperti Tuan Alex, hanya ingin memanfaatkan gadis-gadis polos seperti kita. Dia merayu kita hanya untuk nafsunya saja. Setelah kita hancur, dia tidak akan tanggung jawab. Lagian, lelaki sempurna seperti Tuan Alex mana mungkin mau menikahi gadis miskin seperti kita. Orang gadis cantik di luar sana banyak. Jadi wanita itu, jangan bodohlah Dara."
"Iya. Aku tahu itu Mbak. Makanya aku mau kembalikan cek ini. Oh iya. Ngomong-ngomong, ke mana Tuan Alex? dia udah pergi ke kantor ya?"
Ratih menggeleng.
"Dia ngga pergi ke kantor. Tapi dia mau nyari ibunya. Ibunya kabur dari rumah sakit jiwa."
"Apa! rumah sakit jiwa? ibunya Tuan Alex gila?" tanya Dara.
"Iya. Apa kamu belum tahu ya soal hal ini?"
Dara menggeleng.
__ADS_1
"Aku memang belum tahu banyak tentang Tuan Alex."