Gadis Cupu Milik CEO

Gadis Cupu Milik CEO
Sahabat lama


__ADS_3

Dara masih berdiri di depan pintu ruangan Pak Rajasa. Dia tampak ragu untuk mengetuk pintu ruangan bos besarnya.


Tok tok tok...


Dara akhirnya mengetuk pintu ruangan Pak Rajasa.


"Masuk...!" seruan Pak Rajasa sudah terdengar dari dalam ruangan itu.


Dara kemudian membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan Pak Rajasa.


"Permisi, bapak memanggil saya?" tanya Dara setelah sampai di dalam ruangan Pak Rajasa.


Pak Rajasa tersenyum saat melihat Dara.


"Iya Dara. Silahkan masuk!" Pak Rajasa mempersilahkan Dara masuk.


Setelah Pak Rajasa mempersilahkan Dara masuk, Dara kemudian masuk ke dalam ruangan itu.


"Duduklah Dara!" pinta Pak Rajasa.


"Iya Pak"


Dara kemudian duduk di depan Pak Rajasa.


"Dara, apa boleh saya melihat lamaran kerja kamu?" tanya Pak Rajasa.


"Boleh Pak. Ini..." Dara menyodorkan berkas-berkas lamaran kerjanya pada Pak Rajasa.


"Sebenarnya, yang bertugas untuk mengurus karyawan baru itu HRD. Tapi saya cuma ingin melihat data-data kamu saja," ucap Pak Rajasa sembari membuka-buka berkas-berkas Dara.


Pak Rajasa terkejut saat melihat nilai-nilai ijazah Dara.


"Ternyata kamu gadis yang pintar ya. Nilai kamu, bagus-bagus banget."


Dara hanya tersenyum.


"Iya Pak. Alhamdulillah. Waktu SMP dan SMA, saya juga dapat beasiswa dari sekolah. Jadi sekolah saya gratis. Sebenarnya, saya juga akan mengambil beasiswa untuk kuliah. Cuma saya tidak bisa melanjutkan kuliah saya, karena ibu saya sakit, dan saya harus kerja untuk memenuhi semua kebutuhan hidup keluarga saya. Saya tidak punya waktu untuk kuliah sambil kerja."


"Berapa usia mu Dara?" tanya Pak Rajasa.


"19 tahun Pak," jawab Dara.


Pak Rajasa manggut-manggut . Baru kali ini, dia menemukan seorang gadis yang sangat pintar dan pekerja keras seperti Dara.


"Dara, kalau kamu mau melanjutkan kuliah lagi, kamu masih bisa lho. Usia kamu masih sangat muda."

__ADS_1


"Tapi saya tidak bisa Pak. Karena saya sekarang menjadi tulang punggung keluarga. Saya harus kerja untuk memenuhi kebutuhan saya dan adik-adik saya. Apalagi bapak tahu kan, kalau dua adik saya sekarang sudah masuk bangku SMP dan membutuhkan banyak biaya. Sementara saya sudah tidak punya orang tua."


"Adik kamu nggak dapat beasiswa juga seperti kamu?" tanya Pak Rajasa.


"Nggak Pak."


Pak Rajasa tersenyum.


"Kalau kamu kerja di kantor saya, bebas Dara. Saya mengizinkan kamu untuk kerja sambil kuliah. Asal kamu bisa membagi waktunya."


Dara tersenyum.


"Yang benar Pak?" tanya Dara dengan mata berbinar-binar.


"Iya benar. Kamu ambil saja beasiswa kuliah kamu. Barang kali masih bisa. Kalau nggak, saya bisa membiayai kuliah kamu."


Dara terkejut saat mendengar ucapan bosnya.


"Bapak serius membolehkan aku kerja sambil kuliah?"


"Iya. Kamu bisa kerja paruh waktu. Dan kerja di sini, juga ada shift nya juga. Bisa di bagi waktunya."


Pak Rajasa membaca dan mengamati satu persatu data-data dari berkas-berkas Dara.


Pak Rajasa terdiam, saat melihat nama ayah Dara.


"Itu nama ayah saya Pak."


"Kamu anaknya Darma Aji?"


Dara mengangguk.


Pak Rajasa tampak sedang mengingat sesuatu.


Darma Aji. Ya, dulu sewaktu SD Pak Rajasa punya teman dekat yang bernama Darma Aji. Dia juga siswa yang sangat berprestasi di sekolahnya. Namun, benarkah kalau Dara adalah anak Darma Aji teman masa kecil Pak Rajasa. Atau memang ada orang yang bernama Darma Aji lagi.


"Kenapa Pak? apa bapak kenal dengan ayahku?" tanya Dara yang melihat ekspresi tak biasa dari sang bos.


Pak Rajasa mengambil sesuatu dari lacinya. Dia kemudian mengambil sebuah foto hitam putih jaman dia masih SD dulu.


Dara terkejut saat melihat foto itu. Karena di album foto ayah dan ibunya juga ada foto yang seperti Pak Rajasa tunjukkan.


"Ini kan foto ayahku. Kok bapak bisa punya foto ini. Apakah Ica yang sudah memberikannya ke bapak?" tanya Dara.


Sontak Pak Rajasa langsung terkejut saat mendengar ucapan Dara.

__ADS_1


"Ayahmu masih menyimpan foto ini?"


"Iya. Ayahku dulu memang sering banget Pak, menyimpan sesuatu yang berharga. Seperti album foto, piala, piagam, dia itu kan siswa yang berprestasi juga. Banyak banget di rumah kami peninggalan ayah. Makanya, ibu sayang banget sama rumah itu dan tidak mau melepaskan rumah itu karena banyak peninggalan ayah."


"Oh iya? bisa kah kamu sedikit ceritakan tentang ayah mu Dara? kapan ayah kamu meninggal?"


"Ayah meninggal waktu aku kelas satu SMP Pak. Dia meninggal karena sakit. Dan setelah ayah sakit, kehidupan keluarga kami berubah. Karena ayah sudah tidak bisa menafkahi istri dan anak-anaknya lagi, giliran ibu yang banting tulang untuk memenuhi semua kebutuhan anak-anaknya.


"Dia jualan kue keliling. Dan setelah ayah meninggal, giliran ibu yang sakit dan aku yang menggantikan dia mencari nafkah. Dan kemarin ibu juga meninggal "


Dara menunduk sedih. Tak terasa air matanya menetes deras mengalir di pipinya saat dia menceritakan tentang ke dua orang tuanya. Namun Dara buru-buru mengusapnya.


Begitu juga dengan Pak Rajasa yang ikut meneteskan air matanya saat mendengar cerita Dara yang tak lain adalah anak dari sahabat masa kecilnya yang bernama Darma Aji. Pak Rajasa mengusap air matanya dengan kasar. Setelah itu dia menatap Dara.


"Dara apakah kamu tahu, kalau foto ini adalah foto saya dengan ayahmu waktu kami masih SD," ucap Pak Rajasa sembari menunjuk foto yang ada di atas meja kerjanya.


Dara terkejut saat mendengar ucapan Pak Rajasa.


"Apa! benarkah kalau Pak Rajasa teman ayah saya. Pantas saja waktu pertama kali saya melihat wajah bapak, saya seperti pernah kenal dan pernah melihat bapak. Ternyata saya memang sering melihat foto bapak di album foto ayah saya."


Di tengah-tengah percakapan Pak Rajasa dengan Dara, ketukan dari luar ruangan Pak Rajasa terdengar.


"Masuk!" ucap Pak Rajasa.


Seorang karyawan lelaki masuk ke dalam ruangan Pak Rajasa.


"Permisi Pak," ucap seorang lelaki setelah masuk ke dalam ruangan Pak Rajasa.


"Ada apa?"


"Meeting akan segera di mulai Pak Rajasa," ucap karyawan lelaki itu.


"Iya. Saya akan segera ke sana."


"Iya Pak Rajasa. Kalau begitu saya permisi..."


Lelaki itu kemudian pergi setelah memanggil Pak Rajasa. Sebelum pergi, Pak Rajasa menatap Dara.


"Kita lanjutkan nanti saja ya ngobrolnya. Kamu bisa kembali bekerja. Semoga kamu betah ya kerja di sini."


Dara mengangguk. "Iya Pak."


Pak Rajasa membereskan berkas-berkasnya. Setelah itu dia berjalan pergi meninggalkan Dara. Dia berjalan untuk ke ruang meeting.


"Benarkah, kalau ayah punya sahabat lama yang sangat kaya raya seperti Pak Rajasa. Aku benar-benar nggak nyangka," ucap Dara.

__ADS_1


Setelah itu Dara pun pergi meninggalkan ruangan Pak Rajasa.


***


__ADS_2