Gadis Cupu Milik CEO

Gadis Cupu Milik CEO
Sebuah keajaiban


__ADS_3

Dara melangkah dan masuk ke dalam ruangan Bu Vivi. Dia ingin melihat kondisi Bu Vivi saat ini.


Dara menatap wajah Bu Vivi dan tersenyum.


"Sebenarnya, Bu Vivi ini cantik. Tapi kenapa Pak Rajasa tega sekali meninggalkan Bu Vivi demi wanita lain. Kenapa dia harus nikah lagi. Kasihan Bu Vivi. Jiwanya pasti sangat hancur saat suaminya menikah lagi. Andai aku jadi Bu Vivi, belum tentu aku kuat menerima takdirku dipoligami," ucap Dara.


Tiba-tiba saja, fikiran Dara tertuju pada masa depannya dengan Alex. Dara membayangkan bagaimana nanti seandainya mereka menikah dan punya anak.


'Nggak kebayang deh, bagaimana rasanya jika aku menjadi istri Alex. Pasti jika aku jadi istri dia, akan banyak pelakor di sekeliling aku. Karena Alex itu playboy. Dia nggak cukup dengan satu wanita. Jangan sampai deh, aku jadi istri lelaki play boy seperti dia. Kalau untuk jadi teman curhat, rasanya aku udah nyaman sama dia. Kalau jadi istri, ih nggak banget deh, punya suami playboy seperti dia.'


Tiba-tiba Dara memukul kepalanya sendiri saat dia tersadar dari lamunannya.


"Ih... kenapa aku jadi membayangkan jadi istrinya Tuan Alex. Mustahil banget kalau hal itu benar-benar terjadi. Aku kan bukan level dia," ucap Dara.


Dara menepuk-nepuk ke dua pipinya sendiri. Mencoba membuang jauh-jauh khayalannya yang tak masuk akal itu.


"Dara bangun Dara ... Dara sadar Dara... mana mungkin kamu akan jadi istrinya Tuan Alex. Kamu itu nggak selevel sama dia. Tuan Alex itu pacarnya aja cantik-cantik. Mana mungkin dia cinta sama kamu dan mau menikahi kamu"


Dara mengalihkan pandangannya ke arah lain. Tiba-tiba Dara terkejut saat melihat jari-jari Bu Vivi bergerak-gerak. Dara membelalakkan matanya saat melihat hal itu.


"Bu Vivi. Bu Vivi sudah bisa menggerakkan jari tangannya. Apakah ini akan menjadi sebuah kabar bagus untuk kita semua," ucap Dara yang tampak bahagia saat melihat tangan Bu Vivi bergerak sendiri.


Dara kemudian mengambil ponselnya untuk menelpon Alex. Namun Alex tidak mengangkat panggilannya. Dara menelpon Pak Rajasa. Namun Pak Rajasa juga tidak mengangkat panggilan dari Dara.


"Ih... ke mana aja sih dua orang ini. Kenapa aku telpon nggak di angkat juga, sebel banget deh."


Dara tidak tinggal diam. Dia mencari suster untuk memberi tahukan hal itu.


"Suster... suster tunggu....!" ucap Dara sembari mengejar suster yang kebetulan lewat di depan ruangan Bu Vivi.


"Ada apa Mbak?" tanya suster menatap lekat Dara.


"Suster. Tadi aku lihat Bu Vivi itu sudah bisa menggerakkan jari jemarinya. Apakah Suster bisa periksa pasien yang ada di ruang ICU?"


"Benarkah? kamu yakin?" tanya Suster pada Dara. Dia kurang yakin dengan ucapan Dara.


"Iya Sus. Aku melihatnya tadi," ucap Dara.


"Mungkin itu akan menjadi kabar baik untuk kita semua. Baiklah, tunggu dulu di sini. Saya akan panggilkan dokter dan memberi tahu dokter tentang kabar baik ini," ucap Suster.


"Baik Sus. Cepat ya Sus."


Suter kemudian pergi meninggalkan Dara untuk memanggil dokter.

__ADS_1


Dara menghela nafas dalam.


"Alhamdulillah, akhirnya Bu Vivi sudah ada sedikit perubahan. Dan mudah-mudahan saja Bu Vivi itu akan segera sadar dari komanya."


Beberapa saat kemudian, seorang dokter melangkah menghampiri Dara.


"Dokter, tolong periksa kondisi pasien yang ada di ICU. Tadi saya masuk ke dalam dan melihat jari pasien bergerak-gerak," ucap Dara.


"Baik lah. Anda tunggu di sini. Biar saya dan suster yang akan memeriksa Bu Vivi."


Dara mengangguk.


Dokter dan dua orang suster masuk ke dalam ruangan Bu Vivi. Mereka terkejut saat melihat Bu Vivi sudah membuka matanya. Namun Bu Vivi sejak tadi masih diam. Dia tidak bicara apapun. Dia seperti orang bingung.


Dokter tersenyum saat melihat Bu Vivi. Dia kemudian menatap dua orang suster yang ada di dekatnya.


"Ini adalah sebuah keajaiban dari Tuhan. Bu Vivi sudah sadar dari komanya dan berhasil melewati masa kritisnya."


Dokter mendekati Bu Vivi untuk memeriksanya.


Setelah memeriksa kondisi Bu Vivi. Dokter pun keluar dari ruangan ICU bersama dua orang suster yang ada di belakangnya.


"Kemana Pak Alex?" tanya dokter pada Dara.


"Pak Alex baru saja pergi Dok. Bagaimana Dok, kondisi Bu Vivi?"


"Syukurlah. Pasti Tuan Alex dan Pak Rajasa senang dengar kabar ini."


"Saya akan ke sini lagi untuk memeriksa kondisi Bu Vivi kembali. Kalau dia benar-benar dinyatakan sudah bisa melewati masa kritisnya, saya akan pindahkan Bu Vivi ke ruang rawat."


"Iya Dok."


"Oh iya Dok. Apa boleh, saya masuk ke dalam?"


"Jangan, itu sangat berbaya."


"Kenapa Dok?"


"Bu Vivi itu kan mantan pasien rumah sakit jiwa. Dan katanya kondisi kejiwaannya belum sepenuhnya pulih. Jadi lebih baik kamu tunggu di sini saja. Takutnya dia akan mengamuk dan histeris lagi. Tunggu Pak Alex saja."


"Oh. Gitu ya Dok."


Dokter kemudian pergi meninggalkan Dara.

__ADS_1


Dara sejak tadi masih resah. Dia bolak-balik di depan ruang ICU. Ingin rasanya Dara untuk melihat Bu Vivi di dalam. Tapi dokter melarangnya.


"Aku pengin masuk. Aku pengin lihat kondisi Bu Vivi," ucap Dara.


Dara tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya. Dengan takut-takut, dia masuk ke dalam ruangan Bu Vivi untuk melihat Bu Vivi.


Dara terkejut saat Bu Vivi menatapnya tajam..


"Ka-kamu... siapa?" tanya Bu Vivi pada Dara.


Bu Vivi tampak masih lemah. Sehingga nada bicaranya juga sangat pelan.


Dara melangkah dan mendekat ke arah Bu Vivi. Sebenarnya Dara takut. Namun rasa penasarannya yang besar, bisa melawan rasa takutnya. Sehingga dia tidak takut untuk menemui Bu Vivi.


"Bu Vivi. Ibu sudah sadar?" tanya Dara.


"Kamu siapa?"


Dara tersenyum.


"Namaku Dara Bu."


"Dara?"


"Iya. Aku temannya Alex anak ibu?"


"Anak? saya punya anak?"


Dara mengangguk.


"Iya Bu. Ibu sudah punya anak. Dan anak ibu, lelaki. Dia sudah dewasa. Dia sangat tampan, tapi dia..."


Dara menghentikan ucapannya.


"Tapi apa Dara? kenapa kamu nggak melanjutkan ucapan kamu?"


Dara tampak bingung saat mendengar ucapan demi ucapan yang keluar dari mulut Bu Vivi.


'Benarkah kalau Bu Vivi ini gila. Mana mungkin orang gila bisa di ajak komunikasi. Bu Vivi, tidak seperti orang gila kok,'


Bu Vivi mencopot alat bantu pernafasannya.


"Kenapa di lepas Bu?" tanya Dara.

__ADS_1


"Aku udah nggak butuh lagi alat ini Dara. Aku merasa, aku sudah baik-baik saja."


Dara masih terheran-heran dengan Bu Vivi. Bisa-bisanya orang gila bisa bercakap-cakap dengan Dara seperti orang normal.


__ADS_2