Gadis Cupu Milik CEO

Gadis Cupu Milik CEO
Kemarahan Alex


__ADS_3

Dara menatap Ica iba.


"Ica, kenapa kamu bisa seperti ini sih Ca. Apa yang sebenarnya terjadi sama kamu?" tanya Dara sembari merangkul bahu Ica dan membawa Ica masuk ke dalam kamar.


Ica menghempaskan tubuhnya di atas ranjangnya. Dia kemudian duduk di sisi ranjang.


"Sekarang, kamu istirahat ya Ca," ucap Dara.


Ica mengangguk. Setelah itu Ica pun berbaring di atas tempat tidurnya.


"Besok, kamu nggak usah berangkat sekolah dulu ya. Kamu istirahat saja dulu."


Ica mengangguk. "Iya Kak."


Dara menatap Oca yang sejak tadi masih berdiri.


"Kamu temani kakak kamu. Kalian langsung tidur ya. Jangan malam-malam tidurnya. Kakak mau ke kamar dulu."


"Iya Kak."


Dara kemudian berjalan pergi untuk ke kamarnya. Dara masuk ke dalam kamarnya. Dia kemudian mengambil ponselnya yang dia letakan di atas tempat tidurnya.


Dara terkejut saat melihat beberapa panggilan dari Ratih.


"Mbak Ratih, dari tadi ternyata Mbak Ratih nelepon aku. Aku telpon balik aja deh," ucap Dara.


Dara kemudian menekan nomer Ratih. Beberapa saat kemudian, suara Ratih terdengar dari balik telpon.


"Halo..."


"Halo Mbak Ratih. Mbak nelpon aku ya?"


"Iya Dara. Aku cuma mau tanya. Bagaimana adik kamu? apa dia sudah ditemukan?"


"Sudah Mbak. Alhamdulillah. Tadi ada orang yang nganter Ica pulang ke rumah."


"Siapa?"


"Pak Rajasa. Orang yang nabrak Ica Mbak. Tapi dia udah tanggung jawab kok. Dia udah membawa Ica ke rumah sakit dan mengantarkan Ica pulang."


"Apa! Pak Rajasa ayahnya Tuan Alex?"


"Ayahnya Tuan Alex?"


"Iya. Ayahnya Tuan Alex kan namanya Rajasa juga."


"Masa sih, kok aku baru tahu."


"Masak kamu nggak tahu sih Dara. Pak Rajasa itu kan pengusaha terkenal. Wajahnya juga sering muncul kan di tivi-tivi dan juga di koran-koran. Sama seperti Tuan Alex."


"Tapi aku nggak pernah lihat tivi ataupun baca koran."


"Ah, kamu itu memang kuper Dara."


"Tapi sepertinya tadi bukan ayahnya Pak Alex deh Mbak. Soalnya Pak Rajasa yang aku temui tadi orangnya baik banget. Dia sopan banget dan nggak pemarah seperti Tuan Alex."


"Ya emang Pak Rajasa orang baik. Dia memang beda dari anaknya."


"Mbak kenal sama Pak Rajasa?"


"Ya nggak sih, tapi aku pernah lihat sekali waktu dia main ke rumah Tuan Alex. Tapi sepertinya, Pak Rajasa dan Tuan Alex itu nggak akur."

__ADS_1


"Kok Mbak tahu?"


"Iya. Walaupun mereka anak sama ayah, tapi mereka jarang banget ngobrol-ngobrol berdua. Pak Rajasa juga jarang banget main ke rumah ini. Tuan Alex juga jarang banget ke rumahnya Pak Rajasa.


"Ya udah deh Mbak. Aku udah ngantuk nih. Besok aku harus ke rumah Tuan Alex pagi-pagi sekali. Masih ada kerjaan yang belum aku kerjakan."


"Iya Dara."


Setelah bertelponan dengan Ratih, Dara pun naik ke atas ranjangnya. Dia kemudian berbaring di atas tempat tidurnya. Dara mencoba memejamkan matanya dan tidur.


****


Malam ini Doni masih berada di dalam perjalanan ke rumah Alex. Tiba-tiba dia merasa haus.


Doni menatap Bu Vivi dari sepion kaca mobilnya. Bu Vivi saat ini masih terlelap di jok belakang mobil Doni.


"Aku turun dulu deh, mau beli minum. Aku lupa tadi bawa minum," ucap Doni.


Doni kemudian turun dari mobilnya. Setelah itu dia berjalan ke sebuah warung untuk membeli air mineral.


Beberapa saat kemudian, Doni kembali ke mobilnya. Dia terkejut saat dia tidak melihat Bu Vivi ada di dalam mobilnya.


"Bu Vivi ke mana. Bukankah tadi dia sudah tidur. Duh, gawat. Apa jangan-jangan dia kabur. Atau dia dibawa sama orang," ucap Doni sembari menepuk keningnya.


Doni kemudian mencari Bu Vivi.


"Aku yakin, kalau ibunya Pak Alex pasti ada di sekitar sini. Huh, masalah lagi. Kalau sampai Pak Alex tahu soal ini, aku bisa di marahin habis-habisan," gumam Doni.


Doni mencari Bu Vivi ke sana ke mari. Namun dia tidak menemukan Bu Vivi. Doni bingung, apa yang harus dia katakan pada bosnya.


Ring ring ring ...


Deringan ponsel Doni mengejutkan Doni. Doni menghentikan langkahnya saat Alex menelponnya.


Tanpa butuh waktu lama, Doni kemudian mengangkat panggilan dari Alex.


"Halo Don. Kenapa lama sekali Don? kenapa kamu nggak nyampe-nyampe?"


"Bos, ibu anda kabur Bos. Dan saya lagi nyari dia sekarang."


"Apa! mama kabur? kamu gimana sih Don. Kenapa menjaga satu orang aja nggak becus!"


"Bos, maaf Bos. Tadi saya lihat kalau ibu anda itu sudah terlelap. Saya tinggal sebentar untuk membeli minum tapi setelah saya kembali saya nggak lihat dia lagi."


"Dasar bodoh. Sekarang cari ibu saya sampai ketemu. Kalau ada apa-apa dengan ibu saya, saya tidak akan pernah memaafkan mu Don...!


"Baik Pak Alex. Pak Alex tenang saja. Serahkan semuanya pada saya bos."


Tut Tut Tut...


Alex menutup saluran telponnya dengan sepihak. Sementara Doni kembali mencari Bu Vivi.


****


"Doni...! kamu benar-benar nggak becus sama sekali dalam mengerjakan tugas dariku. Aku sama sekali tidak akan pernah memberikan kamu bayaran kalau kerja kamu saja seperti ini," geram Alex.


Alex mulai emosi. Dia sudah mengepalkan tangannya geram. Alex kemudian membanting ponselnya di atas ranjangnya.


Alex menatap ke luar jendela kamarnya. Tiba-tiba saja, cacing diperutnya berbunyi.


"Kenapa aku jadi lapar ya," ucap Alex sembari memegangi perutnya.

__ADS_1


Alex kemudian mengambil ponselnya dan keluar dari kamarnya. Dia berjalan turun ke lantai bawah untuk ke meja makan.


"Ke mana para pembantu. Apa mereka semua sudah pada tidur," ucap Alex sembari duduk di atas kursi meja makan.


Alex kemudian menekan nomer Ratih.


"Halo Tuan..."


"Kamu sudah tidur?"


"Belum Tuan,"


"Cepat ke meja makan sekarang. Siapkan aku makan."


"Baik Tuan."


Beberapa saat kemudian, Ratih menghampiri ruang makan.


"Ada yang bisa saya bantu Tuan?"


"Buat kan aku mie instan ya Ratih."


"Baik Tuan."


Ratih kemudian pergi ke dapur untuk memasak mi instan pesanan Alex. Sementara Alex menunggu Ratih di ruang makan.


Beberapa saat kemudian, Ratih membawa semangkuk mie instan dan meletakannya di atas meja.


"Ratih, mana ponsel kamu?" tanya Alex


"Untuk apa Tuan?"


"Pinjam sebentar."


"Ponsel aku ada di kamar Tuan."


"Ambil. Aku mau pinjam sebentar."


"Baik Tuan."


Ratih kemudian pergi kamarnya untuk mengambil ponselnya.


Alex menatap mie instan buatan Ratih. Dia kemudian menyantap mie instan itu.


"Aku kangen sama Dara. Sudah lama aku tidak ketemu dia. Urusan aku saat ini begitu banyak, sampai-sampai aku melupakan semua wanita-wanitaku," ucap Alex di sela-sela kunyahannya.


Beberapa saat kemudian, Ratih menghampiri Alex.


"Tuan mau pinjam ponsel saya untuk apa?" tanya Ratih.


"Nggak usah banyak tanya!" ucap Alex dengan nada tinggi.


Akhir-akhir ini, Alex memang sering banget meminjam ponsel Ratih untuk menelpon Dara. Mungkin saja Alex malam ini akan menelpon Dara dengan nomer Ratih.


"Sini...! mana ponsel kamu?" Alex sudah mengulurkan tangannya meminta Ratih menyerahkan ponselnya.


"Apa tuan mau nelpon Dara?" tanya Ratih.


Alex menatap Ratih tajam.


"Aku bilang jangan banyak nanya. Aku nggak suka kamu terlalu banyak ikut campur urusanku...!" ucap Alex tampak emosi.

__ADS_1


Ratih mengangguk "Iya Tuan. Saya mengerti."


Ratih kemudian memberikan ponselnya pada Alex. Setelah itu Ratih kembali pergi ke kamarnya.


__ADS_2