Gadis Cupu Milik CEO

Gadis Cupu Milik CEO
Frustasi


__ADS_3

"Di mana kamarnya Desi Bik?" tanya Wahyu setelah sampai di dalam rumah Desi.


"Ada di atas Mas," jawab Bik Irah.


Wahyu dan Bik Irah kemudian melangkah naik ke lantai atas untuk ke kamar Desi. Mereka akan melihat Desi di kamarnya.


Wahyu menatap sekeliling.


"Mana Bik?" tanya Wahyu lagi setelah sampai di lantai atas rumah Desi.


"Itu Mas Wahyu kamarnya Desi," Bik Irah menunjuk salah satu kamar yang ada di lantai atas.


Wahyu dan Bik Irah kemudian melangkah untuk mendekat ke arah kamar itu.


"Ini kamarnya Desi?" tanya Wahyu menatap Bik Irah lekat.


Bik Irah mengangguk. "Iya, Ini kamarnya Desi Mas."


"Kok nggak ada suara apa-apa di dalam. Kata Bibik tadi Desi ngamuk-ngamuk," ucap Wahyu yang tidak mendengar suara apapun di dalam kamar itu.


"Saya dengar anak majikan saya itu ngamuk-ngamuk di dalam tadi Mas. Makanya saya panggil Mas Wahyu ke sini untuk bantuin saya dobrak pintu. Karena dari tadi saya panggil-panggil Non Desinya nggak nyahut dan nggak mau keluar," ucap Bik Irah.


"Tapi nggak tahu, kenapa sekarang nggak ada suara apa-apa lagi di dalam," lanjut Bik Irah tampak bingung.


Bik Irah kemudian mengetuk pintu kamar Desi kembali.


Tok tok tok...


"Non... Non Desi... Non Desi..." seru Bik Irah memanggil-manggil Desi. Namun tak ada sahutan dari dalam kamar Desi.


Bik Irah juga mencoba untuk membuka kamar itu. Namun kamar itu masih terkunci.


"Kamarnya masih di kunci Mas Wahyu. Coba Mas Wahyu dobrak. Bibi takut Non Desi kenapa-kenapa. Soalnya Non Desi sering sekali seperti ini," ucap Bik Irah.


Wahyu mengangguk. Setelah itu dia mencoba untuk mendobrak pintu kamar Desi.


Bruak...


Bik Irah dan Wahyu terkejut saat melihat ke dalam. Kamar Desi begitu berantakan. Semua barang-barangnya juga pecah semua.


"Non Desi ke mana ya," ucap Bik Irah menatap sekeliling.


Bik Irah dan Wahyu mencari Desi. Setelah sampai di sisi tempat tidur Desi, mereka terkejut saat melihat Desi sudah tergeletak dengan mulut yang berbusa.


"Ya ampun Non Desi...!" seru Bik Irah saat melihat Desi.


"Benarkan dugaan bibi. Kalau Non Desi ngamuk-ngamuk, pasti ujung-ujungnya dia meminum racun," ucap Bik Irah.


Wahyu langsung mendekat ke arah Desi.

__ADS_1


"Bik, aku akan langsung bawa Desi ke rumah sakit."


"Iya Mas Wahyu."


Wahyu mengangkat tubuh Desi dan membawanya keluar dari rumah Desi. Wahyu kemudian membawa Desi ke halaman depan rumahnya. Karena Wahyu akan membawa Desi ke rumah sakit dengan mobilnya.


"Wahyu. Kamu mau ke mana?" Ibu Wahyu mendekat ke arah anaknya.


"Siapa itu?" tanya Ibu Wahyu saat melihat Desi.


"Ma, ini Desi Ma. Aku harus tolongin dia.


"Emang dia kenapa?"


"Dia keracunan Ma."


"Oh begitu. ya udah, cepat kamu bawa dia."


Ibu Wahyu kemudian membuka pintu mobil dan membantu Wahyu untuk memasukkan Desi ke dalam mobil. Setelah itu Wahyu pun masuk ke dalam mobil dan langsung meluncur pergi meninggalkan rumahnya menuju ke rumah sakit.


***


Rita dan Martin sore ini masih tampak bersantai-santai di pinggir sungai untuk memancing ikan. Martin yang hobi memancing sering sekali membawa Rita ke tempat pemancingan yang ada di pinggir sungai itu untuk menghilangkan penat.


Jika Martin sedang merasa jenuh di rumah atau dia sedang berantem sama Selly, Martin pasti akan berlari ke tempat itu untuk menghilangkan stressnya.


"Mas Martin. Aku capek nih. Kita pulang yuk!" ajak Rita.


"Tapi aku capek Mas. Dari tadi kamu nggak dapat-dapat ikannya."


"Aku juga nggak tahu Rita. Kenapa setiap aku ngajak kamu mancing, aku nggak pernah dapat ikan. Tapi kalau aku ngajak istri aku, pasti aku selalu dapat ikan banyak. Mungkin, istriku itu membawa keberuntungan ya."


"Mungkin saja. Kenapa kamu nggak ajak istri kamu lagi ke sini?"


"Ya karena dia kan lagi hamil besar. Untuk apa aku ngajak dia ke sini. Di sini kan banyak setannya. Aku nggak mau calon anak aku nanti kenapa-kenapa,"


"Halah, itu sih cuma mitos Mas." Rita mengambil botol minum dan menegak minumannya.


"Kata siapa cuma mitos. Orang teman aku juga pernah ngajak anaknya mancing di sungai, terus besoknya anaknya itu langsung demam dan sakit. Katanya sih, karena di ganggu setan."


"Yah, mungkin sih. Bagi yang percaya. Kalau aku sih, nggak percaya dengan hal-hal yang kayak gituan."


Martin dan Rita masih menatap ke air sungai yang mengalir deras itu. Sudah beberapa jam mereka berada di sungai itu. Sebenarnya Rita juga sudah lelah harus menemani Martin memancing. Dia juga takut jika Pak Rajasa pulang kantor, Rita belum sampai di rumahnya. Sejak tadi Rita masih mengajak Martin pulang. Tapi Martin belum mau beranjak pulang.


"Mas kita pulang yuk! keburu suami aku pulang Mas, kalau kita kelamaan di sini," ucap Rita.


"Sebentar lagi Rita. Umpan aku habis,"ucap Martin.


Martin meletakan pancingannya dan bangkit dari duduknya.

__ADS_1


"Mas Martin. Kamu mau ke mana?" tanya Rita.


"Umpannya habis. Aku mau ambil umpan dulu di mobil Rita. Pulangnya nanti saja Rita. Kalau kamu mau pulang duluan, ya pulang aja."


"Iya. Aku pulang bareng kamu aja deh."


Martin kemudian melangkah pergi untuk mengambil umpan.


Beberapa saat kemudian, ponsel Martin berbunyi. Rita mengambil ponsel Martin.


"Selly. Mau ngapain dia nelpon. Pasti dia lagi nunggu Mas Martin pulang. Ah, nggak tahu ada orang asyik apa," ucap Rita.


Rita menatap sekeliling.


"Mumpung Martin nggak ada. Aku angkat aja deh telponnya."


Rita kemudian mengangkat panggilan dari Selly.


"Halo Mas..." Suara Selly sudah terdengar dari balik telpon.


"Halo..."


"Halo. Ini siapa? mana suamiku?"


"Suami kamu nggak ada."


"Kamu siapa? kenapa kamu yang ngangkat telpon. Suami aku ada di mana?"


"Aku lagi sama suami kamu. Kita lagi mancing di sungai"


"Mancing? terus kamu siapa? kenapa kamu bisa sama Mas Martin?"


"Aku temannya suami kamu."


"Tolong, berikan hape itu sama suami aku. Aku mau bicara penting sama dia."


"Aku kan sudah bilang, Martin itu nggak ada di sini. Tadi dia pergi. Sudah deh, jangan ganggu orang lagi asyik."


"Hei. Kenapa kamu bilang seperti itu. Saya ini istrinya. Seharusnya kamu yang pengganggu. Untuk apa kamu mancing berdua dengan suami aku. Tolong berikan hapenya sama suami aku."


"Aku kan sudah bilang kalau suami kamu nggak ada."


Rita tiba-tiba saja memutuskan saluran telponnya.


Beberapa saat kemudian, Martin melangkah dan duduk kembali di sisi Rita.


"Kamu kok pegang hape aku? ada telpon tadi?" tanya Martin.


"Istri kamu yang nelpon tadi," jelas Rita.

__ADS_1


"Istri ku nelpon? tapi nggak kamu angkat kan?"


"Nggak. Untuk apa aku angkat. Nih, hape kamu," Rita memberikan hape itu pada Martin.


__ADS_2