Gadis Cupu Milik CEO

Gadis Cupu Milik CEO
Terlambat


__ADS_3

"Alex, tolong saya mohon sama kamu. Desi sekarang ada di rumah sakit. Dia itu tidak mau makan, dan dia nggak mau bicara dengan siapa pun. Dia juga selalu manggil-manggil kamu. Saya tidak mau Desi sampai stres dan depresi karena terlalu memikirkan kamu," ucap Pak Dio.


"Iya Om. Kalau saya sudah ada waktu luang, saya akan secepatnya menemui Desi. Tapi kalau sekarang saya nggak bisa.Karena saya masih punya banyak kerjaan," ucap Alex.


"Iya. Saya tahu itu Alex. Om mohon sama kamu, bujuk Desi agar dia bisa kembali ceria lagi. Karena cuma kamu, kebahagiaan Desi saat ini. Cuma kamu, harapan Om Alex."


"Iya Om."


"Alex, Desi itu anak saya satu-satunya. Saya tidak mau terjadi apa-apa sama Desi. Cuma kamu Alex, lelaki yang sudah tahu karakter anak saya dan bisa mengimbangi anak saya. Kamu sangat dewasa. Dan saya mau, kamu cepat-cepat menghalalkan Desi, saya ingin kamu menjadi menantu saya," ucap Pak Dio sembari menepuk-nepuk bahu Alex


"Iya Om," Alex hanya bisa mengiyakan saja ucapan Pak Dio.


Walau di hati Alex menolak mentah-mentah apa yang diinginkan Pak Dio.


"Saya akan serahkan sebagian perusahaan saya sama kamu, kalau kamu mau jadi menantu saya. Saya akan jadikan kamu, pebisnis yang terhebat di kota ini, kalau kamu bisa membahagiakan Desi anak saya."


"Iya Om."


Setelah cukup lama Pak Dio berada di ruangan Alex, Pak Dio pun kemudian berpamitan pada Alex.


"Ya sudah Alex, kalau begitu saya permisi dulu. Saya juga masih punya urusan yang jauh lebih penting dari ini."


"Iya Om."


Pak Dio kemudian mengulurkan tangannya yang di sambut langsung oleh uluran tangan Alex. Setelah bersalaman, Pak Dio kemudian pergi meninggalkan ruangan Alex.


Setelah Pak Dio menghilang dari hadapan Alex, Alex kembali ke kursinya dan tiba-tiba saja, Alex menggebrak mejanya.


Bruak...!


"Brengsek...! masalah apa lagi ini. Kenapa aku di suruh cepat-cepat nikah sama Desi. Aku kan sudah putusin dia. Kenapa aku harus takut dengan Pak Dio. Tanpa Pak Dio pun aku bisa berdiri sendiri. Aku bisa menjadi pebisnis hebat bukan karena Papa atau pun Pak Dio. Tapi aku bisa menjadi seperti sekarang karena kerja kerasku selama ini, bukan karena bantuan mereka," geram Alex.


Alex kemudian menghempaskan tubuhnya di atas kursi.


"Nggak. Aku harus fokus dengan kerjaan aku. Aku nggak mau terkecoh dengan masalah ini. Kenapa semua jadi runyam begini. Seharusnya aku nggak punya urusan sama Pak Dio dan anaknya itu. Aku akan tetap fokus dengan hubungan aku dengan Dara."


****


Siang ini, suara notifikasi dari ponsel Alex berbunyi. Alex mengambil ponselnya yang ada di atas meja kerjanya. Setelah itu dia membuka chat yang ada di dalam whatsappnya.


(Mas, kamu nggak jemput aku ya? aku udah nungguin kamu lama, tapi kamu nggak datang-datang. Aku mau ke tempat kerja sekarang, aku nggak mau sampai telat.)


Alex menepuk keningnya.

__ADS_1


"Duh, aku lupa lagi jemput Dara. ini semua gara-gara Pak Dio. Dia yang sudah menghambat semua pekerjaanku. Aku harus ke kampus sekarang untuk jemput Dara," ucap Alex.


Sebelum pergi, Alex memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. Setelah itu Alex bangkit dari duduknya dan memakai jasnya.


Setelah rapi, Alex mengambil kunci mobilnya dan pergi meninggalkan ruangannya.


"Pak Alex, anda mau pergi?" tanya Widia


"Iya. Saya mau jemput pacar saya. "


"Tapi Pak, sebentar lagi kan kita akan ada meeting."


"Tunda aja meetingnya. Saya lagi ada urusan sebentar," ucap Alex.


"Iya Pak."


Setelah itu Alex melangkah ke luar dari kantornya. Alex terkejut saat melihat hujan yang tiba-tiba turun dengan derasnya.


"Duh, pakai acara hujan segala lagi," ucap Alex.


Beberapa saat kemudian, seorang lelaki mendekat ke arah Alex.


"Pak Alex, mau ke parkiran Pak?" tanya karyawan Alex pada Alex bosnya.


Alex tersenyum saat melihat lelaki itu.


"Oh iya Pak. Ini kalau bapak mau pinjam payung saya. Kebetulan saya juga masih ada payung lagi."


Lelaki itu kemudian menyodorkan payungnya pada Alex.


"Makasih ya. Saya pinjam sebentar. Nanti saya kembalikan lagi payung ini," ucap Alex.


"Iya Pak Alex."


Alex kemudian membuka payung itu. Setelah itu dia melangkah ke tempat parkir dengan menggunakan payung itu.


Sesampainya di dekat mobilnya, Alex kemudian masuk ke dalam mobil itu dan menutup payung itu kembali. Alex kemudian menyimpan payung itu di dalam mobilnya.


"Aku harus telpon Dara dulu nih. Dia pasti lagi nungguin aku di sana."


Alex kemudian mengambil ponselnya yang ada di sakunya. Setelah itu dia menelpon nomer Dara. Namun nomer Dara tidak aktif.


"Duh, nggak aktif lagi nomernya. Jangan sampailah Dara marah dan ngambek lagi sama aku gara-gara aku telah jemput dia. Dara terus sekarang di mana ya. Apa jangan-jangan Dara sudah sampai duluan ke tempat kerjanya. Atau dia masih nungguin aku di kampus. Tapi aku harus pastikan kalau Dara baik-baik saja," ucap Alex.

__ADS_1


Alex meletakan ponselnya di sampingnya duduk. Setelah itu dia pun meluncur pergi meninggalkan kantor untuk ke kampus Dara.


Sesampainya di depan kampus Dara, Alex menatap gedung kampus itu yang tampak sudah sepi. Tak ada satu orang pun ada di sana. Sementara hujan pun belum mulai mereda.


Alex buru-buru turun dari mobilnya dan melangkah masuk ke dalam kampus Dara. Alex takut, kalau kejadian kemarin akan terulang lagi.


"Mudah-mudahan, tidak terjadi apa-apa sama Dara," ucap Alex.


"Mau cari siapa Mas?" tanya seorang satpam yang masih berjaga di depan kampus.


"Saya mau cari pacar saya."


"Pacar anda yang mana? di sini sudah sepi. Nggak ada siapa-siapa di dalam."


"Tapi saya mau ngecek di dalam Pak. Siapa tahu pacar saya ada di dalam."


"Tapi di dalam tidak ada siapa-siapa Mas. Tadi saya sudah cek semua ruangan. Dan sudah nggak ada orang lagi di dalam."


"Pak, izinkan saya masuk. Saya takut kejadian kemarin akan terulang lagi."


"Kejadian apa?"


"Kemarin pacar saya itu terkurung di dalam toilet. Ada yang ngunciin dia di dalam toilet."


"Masa sih?"


"Iya Pak. Saya takut terjadi apa-apa sama pacar saya."


"Tapi sekarang sudah hujan Mas. Pasti pacar Mas sudah pulang dari tadi."


"Tunggu sebentar."


Alex mengambil ponselnya dan menunjuk foto Dara.


"Apa bapak melihat perempuan ini keluar dari kampus?" tanya Alex.


Satpam itu menatap ponsel Alex dengan seksama.


"Oh. Ini anak baru kan?"


"Iya betul."


"Tadi sebelum hujan, dia ada di sini. Dan tadi sebelum anda datang, dia jalan kaki ke arah sana."

__ADS_1


"Bapak yakin, kalau pacar saya ini sudah nggak ada di dalam."


"Iya. Saya yakin Mas."


__ADS_2