
"Bu Vivi tunggu di sini dulu ya Bu. Biar aku panggilkan Dara," ucap Ratih.
"Iya."
Ratih kemudian pergi dari kamar Bu Vivi untuk memanggil Dara. Ratih menghampiri Mbak Mirna dan Lestari untuk menanyakan keberadaan Dara saat ini.
"Mbak Tari, kamu lihat Dara nggak?" tanya Ratih.
"Emang Dara nggak ada di kamarnya Nyonya Vivi?" tanya Lestari.
"Kalau Dara ada di sana, nggak mungkin sampai aku nanya-nanya. Soalnya dari tadi pagi aku belum melihat Dara."
"Mungkin dia pulang. Mungkin saja dia itu kerjanya sama seperti dulu, pulang pergi, seperti waktu dia jadi tukang cuci gosok." Mbak Mirna ikut nimbrung.
"Ya udahlah. Aku mau ke kamar Tuan Alex aja. Mau panggil dia."
Ratih kemudian pergi meninggalkan dapur dan menuju ke lantai atas. Dia akan memanggil Tuan mudanya.
Tok tok tok...
Ratih mengetuk pintu kamar Alex.
"Siapa?" suara Alex sudah terdengar dari dalam kamar.
"Ini Ratih Tuan muda."
Beberapa saat kemudian, Alex membuka pintu.
"Ada apa?" tanya Alex.
"Tuan muda. Nyonya sudah bangun. Dia nyariin Tuan muda. Dia juga nyariin Dara." Ratih menuturkan.
"Oh, ya udah. Kamu temani dia dulu. Dara masih di kamar mandi, sebentar lagi dia turun."
Ratih terkejut saat mendengar ucapan Alex.
"Dara ada di dalam?"
"Iya."
Duh, kenapa bisa Dara ada di dalam kamarnya Tuan Alex. Apa yang sudah sebenernya mereka lakukan semalam.
"Kenapa kamu malah bengong Ratih?"
"Oh, nggak apa-apa Tuan."
Beberapa saat kemudian, Dara keluar dari kamar mandi. Dia terkejut saat melihat Ratih yang sudah ada di depan kamar Alex.
"Tuan Alex, airnya sudah siap."
"Ya, siapkan baju aku juga dong Dara."
"Iya Tuan."
Dara kemudian melangkah ke arah lemari Alex untuk mengambil baju kerja Alex.
"Ratih? ayo sana temani mama dulu."
"Iya Tuan."
Ratih kemudian pergi meninggalkan kamar Alex dengan membawa berbagai macam pertanyaan di dalam hatinya.
__ADS_1
"Duh, kenapa Dara dan Tuan Alex jadi dekat banget gitu. Kenapa pagi-pagi, mereka sudah ada di dalam kamar yang sama. Apakah semalam mereka tidur bareng. Duh, nggak nyangka aku sama Dara. Ternyata dia sama seperti wanita lainnya," ucap Ratih sembari menuruni anak tangga.
Setelah Dara meletakan baju kerja Alex di atas ranjang, Dara kemudian pamit untuk pergi dari kamar Alex.
"Tuan, sekarang aku sudah bisa pergi kan?" tanya Dara.
"Tuan? kamu panggil aku Tuan lagi. Aku nggak suka ya Dara, kamu panggil aku Tuan."
"Iya. Mas maksud aku."
"Kamu nggak boleh pergi Dara. Karena tugasmu belum selesai."
"Tugas apa lagi sih Mas? perasaan banyak banget tugas aku."
"Banyak banget gimana? baru aja nyiapin aku air hangat dan baju ganti. Udah bilang banyak. Lagian tugas seperti itu nggak berat kan Dara. Dari pada kamu harus cuci dan menyetrika baju aku. Lebih baik seperti ini kan."
"Tapi nggak harus nungguin kamu mandi juga kali Mas. Aku di sini kan kerja untuk melayani Bu Vivi dan menyiapkan semua keperluan dia. Kenapa jadi aku yang menyiapkan semua keperluan kamu. Apa kamu memang sengaja ya melakukan ini."
"Sengaja gimana? di sini siapa yang bos. Siapa yang mau gaji? kamu atau aku?"
"Ya kamulah."
"Ya udah. Turutin dong keinginan aku."
Lagi-lagi Dara sudah tidak bisa menolak keinginan Alex. Dara pun kemudian mau menunggui Alex sampai dia selesai mandi.
Selesai mandi Alex keluar dari kamarnya. Namun Alex tidak melihat Dara ada di dalam kamarnya.
"Kemana Dara," Alex menatap sekeliling.
Dia kemudian membuka pintu kamarnya. Alex terkejut saat melihat Dara ada di depan pintu kamarnya.
"Aku mau nunggu di sini. Nggak mungkin kan aku nungguin kamu sampai kamu ganti baju?"
"Oh. Iya. Lupa aku Dara."
Alex menutup pintu kembali dan ganti baju. Setelah ganti baju. Alex memanggil Dara.
"Dara...! masuklah. Aku sudah ganti baju."
Dara kemudian masuk ke dalam kamar Alex.
Alex tersenyum dan menghampiri Dara.
"Kamu mau nggak pakaikan dasi aku?"
"Aku nggak bisa Mas."
"Nanti aku ajari Dara."
Alex kemudian mengajari Dara bagaimana cara memakaikan dasi yang benar. Alex mengajari Dara sampai dia benar-benar paham.
"Sekarang, kamu pakaikan dasi ke leher aku Dara."
Dara mengangguk. Dia kemudian memakaikan dasi di leher Alex.
Dara, suatu saat nanti setelah kamu menjadi istri aku, kamu akan melakukan hal ini setiap pagi. Aku akan mencium kamu, setiap aku mau berangkat ke kantor. Seandainya kita menikah nanti, mungkin kita akan menjadi pasangan yang paling romantis.
Di tengah-tengah Dara memakaikan dasi ke leher Alex. Alex malah senyam-senyum sendiri membayangkan bagaimana seandainya dia sudah menikah nanti dengan Dara.
Sampai akhirnya Dara pun selesai memakaikan dasi.
__ADS_1
"Kenapa kamu malah senyam-senyum sendiri Mas?"
"Nggak apa-apa. Nggak boleh aku senyum?"
"Ya boleh-boleh aja sih. Oh iya . Sekarang aku udah boleh pergi?"
"Boleh, tapi kita keluar bareng ya. Temani aku sarapan Dara."
"Baiklah..."
Setelah rapi, Alex dan Dara kemudian keluar dari kamar. Mereka berjalan beriringan untuk ke ruang makan.
Sesampainya di ruang makan, Dara dan Alex duduk. Di meja makan, sudah tersedia banyak makanan. Mbak Mirna sudah memasak banyak menu kesukaan Alex.
"Ambilkan aku makan dong," ucap Alex.
"Iya."
Dara kemudian mengambil piring Alex. Dia mencedokan nasi dan lauk ke piring Alex. Setelah itu mereka pun makan berdua seperti semalam..
Ring ring ring...
Suara ponsel Alex tiba-tiba berdering. Alex langsung mengangkat panggilan dari salah satu pembantu ayahnya.
"Tumben Bik Lastri nelpon. Ada apa ya?"
"Ha...halo Tuan. Bisa ke sini ngga Tuan. Ada kawanan perampok yang masuk ke rumah kami. Mereka kawanan perampok bertopeng dengan membawa senjata tajam. Tuan Rajasa dalam bahaya."
Tut Tut Tut ..
Tiba-tiba saja telpon itu terputus. Alex tidak tahu apa yang terjadi di dalam rumah Pak Rajasa. Alex bangkit dari duduknya.
"Ada apa Mas?' tanya Dara.
"Rumah papa kemasukan perampok. Mereka membawa senjata tajam. Papa dalam bahaya Dara. Aku harus ke sana."
Alex kemudian keluar dari rumahnya. Dia memanggil Doni dan dua body guard untuk ikut bersamanya.
"Ya Allah, apa yang terjadi. Pagi-pagi gini sudah ada perampok. Kenapa bisa," ucap Dara.
Dara yang sedang makan, mendadak menghentikan makannya. Perasaannya benar-benar tidak enak. Dia sangat mencemaskan Pak Rajasa dan juga Alex.
"Dara, mana Tuan muda?" tanya Mbak Mirna pada Dara.
Dara menatap Mbak Mirna.
"Tuan muda lagi ke rumah Tuan besar Mbak. Katanya tadi di rumah Tuan Rajasa kemasukan perampok."
"Rampok? pagi-pagi gini ada rampok?"
"Aku juga nggak tahu Mbak."
Lestari yang samar-samar mendengar kata rampok, langsung bergegas mendekati Dara dan Mbak Mirna.
"Rampok? di mana ada rampok?" tanya Lestari.
"Itu, katanya tadi di rumah Tuan besar ada rampok. Dan Tuan muda lagi ke sana mau nolongin ayahnya," jelas Mbak Mirna.
"Oh. Pagi-pagi gini ada rampok? yang benar aja." Lestari tampak tak percaya.
"Kalau orang mau jahat mah, nggak harus nunggu malam. Pagi, sore, siang pun bisa," ucap Mbak Mirna.
__ADS_1