
Ring ring ring...
Ponsel Lestari berdering. Ponsel itu sudah mengejutkan Lestari dan Ratih yang sudah terlelap.
Lestari mengerjapkan matanya dan mengambil ponselnya.
Hoaaammm...
"Mbak Tari. Siapa yang nelpon malam-malam begini?" tanya Ratih menatap Lestari.
"Tuan Alex," jawab Lestari.
"Tuan Alex? mau ngapain lagi dia malam-malam begini nelpon?"
"Entahlah Rat."
"Coba angkat aja Mbak."
Lestari kemudian mengangkat panggilan dari Alex.
"Halo Tuan."
"Lestari. Kamu sudah tidur?"
"Hoaamm... iya Tuan."
"Bisakah kamu dengan Ratih ke kamarku. Aku butuh bantuan kalian."
"Ada apa Tuan malam-malam begini manggil kami?"
"Jangan banyak tanya. Turuti perintahku...!"
"Baik Tuan."
Saluran telpon itu tiba-tiba saja terputus. Alex sepertinya sudah langsung memutuskan saluran telponnya. Lestari menatap Ratih.
"Ratih. Ayo kita ke kamar Tuan Alex!" ajak Lestari.
"Mau ngapain. Kamu aja Mbak yang ke sana. Aku capek Mbak. Aku ngantuk. Dari tadi Tuan Alex sudah nyuruh-nyuruh aku terus. Gantian Mbak Tari dong."
"Ratih. Tapi Tuan Alex meminta mu juga untuk datang ke kamarnya."
"Mau ngapain jam segini kita di suruh ke kamar Tuan Alex. Jangan-jangan..." Berbagai prasangka buruk sudah mulai menghantui fikiran Ratih.
"Mbak, kita jangan ke sana Mbak. Jangan-jangan, Tuan Alex lagi mabuk dan dia mau memperkosa kita," ucap Ratih.
"Hush! jangan sembarang bicara. Kamu mau Tuan Alex datang ke sini dan marah-marah ke kita karena kita terlambat memenuhi panggilannya. Udah ayo! siapa tahu memang benar kalau Tuan Alex butuh bantuan kita."
Lestari dan Ratih ke luar dari kamarnya. Mereka kemudian berjalan pergi menuju ke kamar Alex.
__ADS_1
Dengan takut-takut, mereka mendekati kamar Alex.
"Ketuk Mbak," ucap Ratih setelah mereka sampai di depan kamar Alex.
Lestari kemudian mengetuk pintu kamar Alex.
Tok tok tok ...
"Masuk!" suara berat Alex sudah terdengar dari dalam kamarnya.
Lestari dan Ratih saling menatap. Mereka kemudian masuk ke dalam kamar Alex.
Ratih dan Lestari terkejut saat melihat ke dalam kamar Alex. Seorang wanita setengah abad tampak berbaring di atas ranjang king size milik Alex.
"Dia siapa Tuan?" Lestari memberanikan diri untuk bertanya.
"Iya Tuan, apa jangan-jangan dia ibu kamu?" terka Ratih.
"Ya. Kamu benar Ratih. Dia memang mama aku. Sudah lima tahun dia berada di rumah sakit jiwa. Sekarang, aku minta sama kalian, siapkan kamar untuk mama!" pinta Alex.
Ratih dan Lestari masih diam. Mereka belum mau beranjak dari tempatnya. Mereka masih penasaran dengan ibunya Alex. Sejak tadi mereka masih menatap Bu Vivi.
"Kenapa kalian malah bengong di sini! aku akan bawa mama ke kamar. Cari kamar kosong. Dan cepat kalian bereskan dan rapikan kamar untuk mama!" ucap Alex tegas.
"Baik Tuan," ucap Lestari dan Ratih kompakan.
Mereka kemudian berjalan keluar dari kamar Alex.
"Ih, aku mah takut sebenarnya Ratih kalau Bu Vivi tinggal di sini. Dia itu kan orang gila. Bagaimana kalau tiba-tiba saja dia ngamuk dan membantai kita," ucap Lestari.
"Hush, jangan sembarangan bicara Mbak. Nggak semua orang gila itu galak. Yang aku lihat, Bu Vivi tidak seperti orang gila."
"Ya dia kan lagi tidur. Coba saja dia bangun. Pasti dia akan kelihatan seperti orang gila sungguhan kan."
Sesampainya di salah satu kamar kosong yang ada di rumah Alex, Lestari dan Ratih masuk ke dalam kamar itu. Mereka kemudian lekas membereskan kamar itu untuk Bu Vivi.
Beberapa saat kemudian, Alex masuk ke dalam kamar itu.
"Bagaimana. Apakah kalian sudah selesai kerjanya?" tanya Alex.
"Sebentar lagi Tuan. Tunggu saja dulu," ucap Lestari.
"Cepat sedikit dong...!" Alex tampak tidak sabar menunggu .
Ratih menatap Alex.
"Sabar Tuan. Ini kan malam hari. Waktunya orang istirahat. Kami juga masih mengantuk. Jangan suruh kami kerja cepat-cepat, karena sekarang waktunya orang istirahat, kecuali kalau siang, boleh lah Tuan menyuruh kami." ucap Ratih.
"Iya Tuan. Kecuali kalau kerja rodi," Lestari menimpali.
__ADS_1
Alex menunggu Ratih dan Lestari membereskan kamar. Beberapa saat kemudian, Ratih dan Lestari menghampiri Alex.
"Sekarang, kamarnya sudah bisa untuk ditempati Tuan."
"Bagus. Sekarang kalian kembali ke kamar."
"Baik Tuan."
Ratih dan Lestari kemudian pergi meninggalkan kamar itu. Sementara Alex masuk ke dalam kamarnya dan membawa ibunya pergi ke kamar kosong itu.
Alex meletakan tubuh ibunya di atas ranjang. Setelah itu dia menatap lekat ibunya yang masih belum sadar karena pengaruh obat bius yang diberikan Doni padanya.
"Mama, aku kangen sama mama. Aku ingin Mama tetap di sini bersamaku. Aku nggak tega jika mama harus berada di rumah sakit jiwa terus menerus. Karena mama lebih bahaya jika berada di sana dari pada di sini. Di sini, aku akan selalu menjaga mama. Bila perlu, aku akan bayar dokter atau suster untuk menjaga mama di sini," ucap Alex.
Alex meraih tangan mamanya. Dia kemudian mencium punggung tangan mamanya.
"Ma, mama di sini dulu ya. Aku juga ngantuk Ma. Aku mau tidur di kamar aku. Mama di sini saja ya. Jangan ke mana-mana," ucap Alex.
Alex kemudian bangkit dari duduknya. Setelah itu dia pergi meninggalkan ibunya di dalam kamar.
****
Pagi ini Dara masih berkutat di dapur. Seperti biasa Dara memasak untuk sarapan dia dan ke dua adiknya sebelum mereka berangkat sekolah.
"Pagi Kak Dara..." sapa Oca yang sudah memakai baju seragamnya. Dia sudah siap untuk berangkat ke sekolah.
"Kakak kamu mana? apa dia sudah bangun?"
"Kak Ica belum bangun Kak. Dia masih tidur. Sepertinya luka-lukanya masih sakit deh."
"Ya udahlah, biarin saja dia. Sekarang kamu bantu kakak ya untuk menyiapkan makanan."
"Iya Kak."
Oca kemudian mendekat ke arah Dara. Dia kemudian membantu Dara untuk menyiapkan makanan di atas meja. Setelah semua itu, Oca dan Dara makan bersama dia ruang makan.
"Kakak mau kerja?" tanya Oca di sela-sela kunyahannya.
"Iya dong. Kakak harus kerja. Kalau kakak ngga kerja, siapa nanti yang akan menghidupi keluarga kita. Sudah tidak ada yang bisa diandalkan Oca sekarang. Ibu saja sudah meninggal. Jadi, kita akan mengandalkan siapa lagi."
"Aku pengin bantu kakak. Tapi aku nggak tahu bagaimana caranya Kak. Aku saja masih sekolah."
"Kamu nggak usah mikirin itu. Kamu sekolah saja yang rajin. Kalau kakak mampu, Kakak ingin menyekolahkan kamu sampai kuliah. Biar kamu dan Ica bisa menggapai cita-cita kalian. Jangan seperti Kakak yang cuma lulusan SMA. Kerja jadi staf kantor aja nggak bisa. Karena hanya punya ijazah SMA."
"Sabar ya Kak. Kata kakak roda itu berputar. Aku yakin, jika sekarang kita berada di bawah, siapa tahu suatu saat nanti kehidupan kita akan berada di atas. Siapa tahu suatu saat kita bisa jadi orang kaya."
Dara tersenyum mendengar ucapan Oca.
"Amin..."
__ADS_1
"Aku doain Kakak, agar kakak bisa segera menemukan jodoh kakak. Aku doain agar kakak mendapatkan jodoh lelaki tampan, orang kaya, banyak duit, dan bisa memberikan apa yang kakak inginkan."
Dara kembali tersenyum.