
Alex berjalan ke arah dapur untuk melihat Dara. Alex terkejut saat di sana Dara sudah tidak ada. Hanya Mbak Mirna sendirian yang masih beres-beres di dapur.
"Mbak Mirna. Ke mana Dara?" tanya Alex.
Mbak Mirna menoleh ke arah Alex.
"Tuan Alex, Daranya sudah pergi Tuan," ucap Mbak Mirna menatap majikannya lekat.
"Apa! pergi ke mana?" tanya Alex lagi.
"Dara katanya mau pulang," jawab Mbak Mirna.
"Pulang? kenapa Mbak Mirna biarkan dia pulang? harusnya jangan dong. Gimana sih!" gerutu Alex.
"Maaf Tuan. Saya nggak bisa melarang Dara pergi. Katanya dia masih ada urusan."
"Padahal, aku mau ajak dia lagi ke rumah sakit," ucap Alex.
"Kenapa nggak telpon Dara saja Tuan," ucap Mbak Mirna mengusulkan.
"Ya udahlah nanti saja. Itu ada Desi. Tolong buatkan kami sirup dingin Mbak. Dua gelas ya!" pinta Alex.
Mbak Mirna mengangguk. "Baik Tuan."
Alex kemudian berjalan ke arah ruang tamu untuk menemui Desi.
"Sayang, lama sekali," ucap Desi.
Alex tersenyum dan duduk di dekat kekasihnya.
"Sayang, maaf ya. Kamu nungguin aku lama ya. Perasaan, aku nggak lama kok ke dapurnya," ucap Alex.
"Tapi aku masih kangen Mas," ucap Desi sembari bergelayut manja di lengan Alex.
Beberapa saat kemudian, Mbak Mirna membawa dua gelas sirup dingin dan meletakannya di atas meja.
"Makasih ya Mbak," ucap Alex.
Mbak Mirna mengangguk. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Mbak Mirna pergi meninggalkan Alex dan Desi.
Mbak Mirna menghentikan langkahnya dan menatap dua orang itu.
'Ih, Tuan Alex itu kenapa nggak pernah berubah sih. Dia udah ada pacar, tapi dia mau gombalin Dara terus. Kasihan kan Dara kalau dia jatuh cinta beneran sama Tuan Alex. Pasti dia akan sakit hati banget kalau nanti tiba-tiba Tuan Alex ninggalin dia dan putusin dia' batin Mbak Mirna.
Di sisi lain, Dara sudah sampai di depan rumahnya. Dia melangkah masuk ke dalam rumahnya.
"Assalamualaikum."
"Wa'alakiumsalam," ucap dua adik kembar Dara.
Dara masuk ke dalam rumahnya dengan wajah murung. Dia menghempaskan begitu saja tubuhnya di atas sofa ruang tamu.
"Kak, tumben masih siang udah pulang?" tanya Oca.
Dara yang ditanya hanya diam. Dia sama sekali tidak menatap Ica dan Oca. Apalagi menjawab pertanyaan mereka.
__ADS_1
Ica dan Oca saling menatap.
"Kenapa Kak Dara. Kok, pulang-pulang murung gitu?" ucap Ica berbisik pada adiknya.
Oca mengedikan bahunya.
"Aku juga nggak tahu. Kenapa ya dengan Kak Dara."
"Kayak orang lagi patah hati," bisik Ica lagi.
"Hush, ngaco kamu. Patah hati, emang Kak Dara punya pacar."
****
Pak Rajasa mengerjapkan matanya. Dia bangun dari tidurnya. Saat ini, dia masih berada di sebuah rumah sakit yang ada di Bali. Semalaman dia masih terbaring lemah di rumah sakit.
"Wi... Wira..."ucap Pak Rajasa pada seorang lelaki yang sedang duduk di sampingnya.
"Pak Rajasa, anda sudah bangun? " tanya Wira lelaki muda itu.
"Wira. Tolong, telpon kan anak saya. Saya ingin bicara sama dia," ucap Pak Rajasa yang tampak masih lemah.
"Tadi saya sudah telpon Pak Alex."
"A-apa katanya Wir?"
"Kata Pak Alex, Pak Rajasa nggak boleh banyak fikiran. Kata Pak Alex ,Bu Vivi baik-baik saja. Dia lagi dalam penanganan dokter-dokter yang handal."
"Wira. Aku ingin pulang ke Jakarta. Apakah kamu bisa mengantar aku ke sana?" tanya Pak Rajasa pada Wira salah satu staf kantornya yang ada di Bali.
"Pak Rajasa, saya mohon. Bapak jangan banyak bergerak dulu. Kondisi bapak saat ini masih sangat lemah. Bapak nggak boleh banyak gerak dulu," ucap Wira.
Pak Rajasa memeganginya dadanya yang masih terasa sakit.
Uhuk uhuk uhuk...
Pak Rajasa terbatuk-batuk dan mencoba untuk kembali berbaring.
"Wira. Telponkan Alex sekarang Wira..." ucap Pak Rajasa.
"Baik Pak."
Wira kemudian mengambil ponselnya. Dia kemudian menekan nomer Alex.
"Halo..." suara Alex sudah terdengar dari balik telpon.
"Halo Pak Alex."
"Ada apa nelpon saya lagi? apakah ada perkembangan dengan kondisi Papa saya?"
"Pak Alex. Pak Rajasa mau bicara dengan bapak."
"Baiklah. Berikan telpon ini padanya."
"Baik Pak Alex."
__ADS_1
Wira kemudian memberikan ponselnya pada Pak Rajasa. Pak Rajasa menerimanya dengan tangannya yang lemah.
"Halo Alex..."
"Halo Pa. Bagaimana kondisi Papa?"
"Alex, seharusnya Papa yang tanya sama kamu. Gimana kondisi mama kamu?"
"Mama baik-baik saja kok Pa. Papa nggak usah mikirin mama. Papa fikirin aja kesehatan Papa sendiri."
"Alex, papa nggak bisa berhenti memikirkan Mama kamu. Bagaimana kondisi mama kamu? apa benar yang di katakan Dara, kalau mama kamu itu kritis dan dia sekarang dalam keadaan koma?'
"Pa, aku kan sudah bilang, kalau mama itu baik-baik saja. Papa nggak usah mikirin mama terus Pa. Fikirkan dulu kesehatan Papa."
"Kamu pasti bohong kan Alex. Mama kamu nggak lagi baik-baik saja saat ini."
"Pa, aku nggak bohong. Untuk apa aku bohongin papa."
"Papa mau pulang Alex."
"Apa! papa mau pulang? untuk apa? Papa kan masih sakit."
"Papa sudah membaik kok Alex. Papa mau minta antar Wira untuk pulang ke Jakarta. Papa ingin tahu kondisi mama kamu Alex. Dan kamu sudah tidak bisa menghalangi Papa."
"Terserah Papa lah kalau Papa maksa. Tapi kalau nanti di jalan ada apa-apa sama papa, aku nggak mau bertanggung jawab ya. Kenapa papa nggak tunggu saja sampai papa sembuh pulangnya. Saat ini saja Papa masih ada di rumah sakit. Kenapa harus mikirin pulang sih."
"Tapi Papa nggak betah lama-lama di rumah sakit Alex. Papa ingin cepat-cepat pulang ke Jakarta."
"Iya. Terserah Papa itu mah. Aku nggak mau halangi Papa."
Setelah bertelponan dengan Alex, Pak Rajasa kemudian mengembalikan ponselnya pada Wira pemiliknya.
"Makasih Wir."
Wira mengangguk. "Iya Pak."
****
Malam ini, Dara masih berada di kamarnya. Fikirannya sejak tadi masih resah memikirkan Alex.
Dia masih kesal saja dengan lelaki itu. Dia lelaki yang plin plan jika bicara. Pagi bicara ini, sore bicara itu. Dia memang susah sekali untuk ditebak.
Ring ring ring...
Deringan ponsel Dara membuyarkan lamunan Dara. Dara menatap ponselnya yang ada di dekatnya duduk. Ternyata Alex yang menelponnya.
"Duh, dia lagi. Mau ngapain sih dia nelpon. Nggak tahu ada orang masih kesal apa," gerutu Dara.
Dara saat ini memang masih kesal dengan Alex. Karena tadi siang Dara melihat Alex bermesraan dengan wanita lain. Rasanya hati Dara benar-benar merasa nggak enak.
Ring ring ring...
Ponsel Dara kembali berdering. Namun lagi-lagi Dara membiarkan telpon itu terus berdering.
"Ih, kenapa sih Tuan Alex selalu saja mengganggu aku..." gerutu Dara.
__ADS_1
Dara mengambil ponselnya. Setelah itu dia menonaktifkan ponselnya. Tampaknya Dara masih tidak ingin diganggu oleh Alex. Makanya dia sengaja mematikan ponselnya.