Gadis Cupu Milik CEO

Gadis Cupu Milik CEO
Menjadi buronan


__ADS_3

Pagi ini, Selly dan Martin masih berada di ruang makan. Mereka tampak masih menikmati sarapannya pagi ini.


Sejak tadi Selly masih tampak diam. Dia masih kesal sama Martin dan masih menyalahkan Martin atas kematian anaknya.


"Sayang, aku mau minta maaf, atas semua kesalahan aku selama ini," ucap Martin di sela-sela kunyahannya.


Selly menghela nafas dalam.


"Aku nggak tahu Bang , bisa atau nggak untuk memaafkan kamu. Kesalahan kamu itu sudah terlalu besar. Kamu itu sudah melakukan banyak tindak kriminal termasuk merampok. Seharusnya kamu itu menyerahkan diri saja ke polisi," ucap Selly.


"Apa! menyerahkan diri ke polisi. Apa kamu sudah gila Sel. Aku nggak mungkin menyerahkan diri ke polisi. Aku nggak mau dipenjara. Dan sekarang aku juga sudah mau tobat kok. Demi kamu, aku sudah nggak gabung lagi dengan teman-temanku. Aku mau mencari kerjaan yang halal-halal saja."


"Kenapa kamu nggak tobat dari dulu Bang. Aku yakin, anak kita meninggal pasti semua karena Tuhan sudah murka sama kamu. Dia ingin kamu sadar, kalau pekerjaan yang kamu lakukan itu haram dan tidak halal untuk kami makan."


"Iya. Aku tahu itu Sel. Dan aku juga sudah mau tobat."


"Mas, mendingan kamu sekarang minta ampun sama Allah, sebelum kamu kena azab yang pedih. Atau kamu serahkan saja diri kamu ke polisi."


Beberapa saat kemudian, suara ketukan dari luar rumah Selly terdengar.


"Selly, tumben banget pagi-pagi gini ada orang yang mengetuk pintu. Coba sana Sel lihat siapa yang datang!" pinta Martin.


"Iya Bang.


Selly bangkit dari duduknya. Setelah itu dia melangkah ke depan untuk membuka pintu. Selly terkejut saat melihat kedatangan dua orang berseragam polisi ke rumahnya.


Lho, kok bisa ada polisi beneran. Apa jangan-jangan polisi-polisi ini ke sini mau menangkap Mas Martin.


"Maaf Pak, cari siapa ya?" tanya Selly menatap ke dua polisi itu bergantian.


"Benar ini rumahnya Saudara Martin? tanya salah satu dari ke dua polisi itu.


"Iya benar Pak. Saya istrinya. Kalau boleh saya tahu, ada apa ya Pak?"


"Saya ke sini membawa surat penangkapan untuk saudara Martin. Saudara Martin sudah di duga melakukan persekongkolan kejahatan dengan saudara Rita. Mereka sudah mencuri uang satu milyar, dan melakukan perampokan di rumah Pak Rajasa." Polisi itu menyodorkan sebuah surat pada Selly.


Selly sejenak membacanya.


"Jadi bapak-bapak polisi ke sini, mau nangkap suami saya?" tanya Selly.


"Iya. Sekarang tunjukan di mana suami Anda? apakah dia ada di dalam?"

__ADS_1


Selly sejenak diam.


"Iya. Suami saya memang ada di dalam Pak. Kalau bapak mau tahan suami saya, silahkan saja Pak. Bapak bisa masuk ke dalam. Dia sekarang lagi makan."


"Ayo kita tangkap Martin sekarang. Keburu dia kabur," ucap salah satu polisi itu pada rekannya.


"Iya. Ayo."


Ke dua polisi itu pun masuk ke dalam rumah Selly untuk mencari Martin. Polisi itu kemudian mencari Martin ke semua ruangan yang ada di dalam rumah itu.


"Bagaimana? apakah Martin ada di dalam?"


"Saudara Martin tidak ada di dalam. Sepertinya dia sudah kabur lewat pintu belakang."


"Ayo kita kejar. Jangan sampai di kabur."


"Iya."


Ke dua polisi itu kemudian pergi meninggalkan rumah Selly untuk mengejar Martin.


"Sepandai-pandainya orang menyimpan bangkai, suatu saat pasti akan tercium juga baunya. Serapat-rapatnya Bang Martin menyembunyikan kejahatannya, suatu saat dia pasti akan di cari polisi. Biarlah dia dipenjara. Biar dia mempertanggungjawabkan semua perbuatannya."


Setelah berkata seperti itu, Selly pun masuk ke dalam rumahnya.


Saat ini, Rita masih berada di ruang makan. Sementara Pak Rajasa sudah berangkat ke kantor sejak tadi.


Ring ring ring...


Ponsel yang ada di atas meja berdering. Rita segera mengambil ponselnya dan mengangkat panggilan dari Martin.


"Halo Mas Martin. Ada apa? tumben banget kamu nelpon?"


"Heh, Rita. Kamu yang sudah laporin aku ke polisi ya? kurang ajar kamu Rita. Kamu sudah menusuk aku dari belakang."


"Apa! siapa yang udah laporin kamu Mas. Aku nggak pernah laporin kamu."


"Tapi kenapa ada dua polisi yang datang ke rumah dan mau nangkap aku."


"Apa! kamu ditangkap polisi?"


"Hampir. Tapi aku sudah berhasil kabur dari kejaran dua polisi itu."

__ADS_1


"Jadi kamu sekarang sudah menjadi buronan Mas?"


"Iya. Aku lagi buron Rita."


"Mas, kalau kamu ketangkap, jangan bawa-bawa nama aku di depan polisi ya Mas. Aku mohon, aku nggak mau masuk penjara."


"Apa! enak aja kamu bilang. Kamu juga sudah melakukan tindak kriminal. Kamu sudah menyuruh orang untuk membakar rumahnya Dara. Emang aku nggak tahu apa, enak aja kamu nyuruh aku diam. Kalau aku tertangkap, aku juga akan seret kamu juga ke penjara Rita. Karena kamu adalah otak di balik semua kejahatan yang aku lakukan."


"Mas, aku mohon Mas. Jangan libatkan aku dalam masalah ini. Aku nggak mau dipenjara."


"Tapi ini menyangkut Pak Rajasa. Jadi kamu terlibat juga dalam masalah ini."


Martin tiba-tiba saja memutuskan saluran telponnya.


"Ih, kenapa di matiin sih. Kan aku belum selesai bicara. Nyebelin banget sih Mas Martin."


Rita meletakan ponselnya kembali di atas meja. Setelah itu dia melanjutkan makannya.


Aku harus tenang. Aku nggak boleh panik. Aku yakin , Pak Rajasa belum tahu semua kejahatan aku dengan Martin. Tapi...


Rita tampak berfikir.


"Apa jangan-jangan, perubahan sikap Pak Rajasa semalam ada hubungannya dengan polisi itu. Apa jangan-jangan, Pak Rajasa dan Alex sudah tahu kejahatan aku dan Martin. Dan mereka melaporkan Martin ke polisi."


Rita saat ini, benar-benar bingung. Dia takut masuk penjara.


"Aku nggak boleh tetap di sini. Aku harus pergi meninggalkan rumah ini. Tapi aku harus bawa mobil baru aku. Mobil itu sudah hak aku dan kalau aku pergi dari rumah ini, aku pun bisa membawa mobil itu."


Rita bangkit dari duduknya. Setelah itu dia melangkah untuk ke kamarnya.


Rita kemudian mengepaki semua barang-barangnya. Dia memasukkan semua baju-bajunya ke dalam koper kecilnya.


"Aku nggak mau di penjara. Mas Martin saja sudah di datangi polisi. Sebentar lagi, aku yakin pasti akan ada polisi yang datang ke rumah ini dan membawa aku ke kantor polisi. Nggak. Aku nggak mau dipenjara. Aku harus kabur dari sini."


Setelah memasukan baju-bajunya ke dalam tasnya, Rita kemudian melangkah keluar dari kamarnya.


"Nyonya Rita mau pergi ke mana? " tanya Bik Lastri saat melihat Rita membawa koper


"Saya mau liburan ke Bali sama teman-teman saya Bik."


"Liburan ke Bali? Apa sudah minta izin sama Tuan Rajasa."

__ADS_1


"Sudah."


Rita kemudian melangkah pergi meninggalkan rumahnya. Dia masuk ke dalam mobil barunya dan meluncur pergi meninggalkan rumahnya.


__ADS_2