Gadis Cupu Milik CEO

Gadis Cupu Milik CEO
Kebersamaan malam ini.


__ADS_3

Rita meletakan ponselnya di atas tempat tidurnya. Dia kemudian mulai berfikir.


"Jadi sekarang, Mbak Vivi itu lagi koma di rumah sakit. Tapi di rumah sakit mana dia berada. Aku jadi penasaran," ucap Rita.


"Soal sebesar ini, kenapa aku nggak tahu sama sekali ya. Andai aku tahu keberadaan Mbak Vivi dari awal, aku pasti akan culik dia dan buang dia ke laut, ke sungai, atau ke hutan. Kalau sudah sama Alex, susah juga ya untuk aku menyingkirkan wanita itu. Alex itu terlalu kuat untuk aku lawan. Semua anak buah ku, sudah berhasil Alex kalahkan."


Rita masih mondar-mandir di dalam kamarnya. Dia mulai bingung sekarang, karena suaminya akan pulang lebih cepat dari yang sudah dia perkirakan. Itu artinya, dia sudah tida bisa bebas lagi bersama Martin kekasih gelapnya.


Ring ring ring...


Ponsel Rita kembali berdering.


"Ah, mau ngapain lagi sih, lelaki tua itu nelepon," ucap Dara.


Dia berfikir, kalau Pak Rajasa lah yang menelponnya.


Rita kemudian mendekat ke arah tempat tidurnya dan melihat kontak siapa yang memanggilnya.


Rita tersenyum saat melihat nama Martin ada di dalam ponselnya.


"Martin. Dia nelpon aku malam-malam gini mau ngapain," ucap Rita.


Rita kemudian mengangkat panggilan dari Martin. "Halo sayang..."


"Kamu belum tidur sayang?" suara Martin sudah terdengar dari balik telpon.


"Belum sayang. Kamu juga kenapa belum tidur?"


"Aku lagi kangen sama kamu."


"Kangen sama aku? istri kamu di mana?"


"Istri aku udah tidur di kamar."


"Terus sekarang kamu di mana?"


"Aku lagi ada di ruang tamu."


"Oh. Gitu ya."


"Kenapa sayang? kamu kelihatannya kurang bersemangat gitu aku telpon. Apa aku sudah ganggu waktu kamu ya?"


"Nggak kok Mas," Rita menghempaskan tubuhnya dan duduk di sisi ranjang.


"Terus kenapa? ada apa sayang?"


"Mas, suami aku besok mau pulang ke Jakarta Mas."


"Apa! pulang? kenapa cepat banget."


"Istri pertama suami aku sekarang lagi koma di rumah sakit."


"Bagus dong."

__ADS_1


"Bagus gimana?"


"Bagus kalau dia koma. Jadi kamu tidak usah susah-susah menyingkirkan dia."


"Yah, belum tentu dia mati Mas. Kalau dia sudah mati baru aku merasa puas."


"Ya, terus apa yang kamu sedang risau kan?"


"Aku lagi bingung. Kalau Mas Rajasa pulang, kita tidak akan bisa bebas lagi dong sayang."


"Kenapa kamu fikirkan itu. Kita bisa kan atur waktu kita kalau ketemuan. Kalau kamu ingin menguasai harta Rajasa, kamu harus bergerak cepat. Kalau kamu sudah menguasai semua hartanya, kamu tinggalkan dia dan kita bisa nikah dan menguasai harta Rajasa bersama."


"Tapi kalau aku sudah menguasai harta Mas Rajasa, kamu mau ninggalin istri kamu? soalnya aku nggak mau jadi istri ke dua lagi."


"Ya tentu dong."


***


Jam satu malam, Alex mengerjapkan matanya. Dia terbangun dari tidurnya. Alex terkejut saat melihat Dara sudah terlelap dengan menyenderkan kepalanya di bahu Alex.


Alex tersenyum saat melihat Dara.


"Dara, kamu cantik banget kalau seperti ini Dara," ucap Alex sembari membelai lembut pipi Dara.


Dara tampak menggigil. Alex tidak tega melihat Dara kedinginan. Alex meraih wajah Dara dan meletakan kepala Dara di sandaran kursi. Dia kemudian bangkit dari duduknya.


Alex melepaskan jaketnya. Setelah itu dia menutupi tubuh Dara dengan jaketnya.


"Kasihan kamu Dara. Pasti kamu sejak tadi kedinginan," ucap Alex.


"Aku lebih suka kamu tidak pakai kaca mata Dara. Karena aku suka melihat wajah kamu, tanpa tertutupi oleh sesuatu," ucap Alex.


Alex tiba-tiba saja, merasa haus. Dia kemudian melangkah pergi meninggalkan Dara dan keluar untuk membeli minum di luar.


Setelah Alex pergi, Dara terbangun. Dara melihat cahaya lampu yang tampak remang-remang. Dara tersadar kalau ternyata dia tidak memakai kaca matanya.


"Kaca mata aku ke mana, siapa yang melepaskan kaca mata aku. Apa jangan-jangan Tuan Alex," ucap Dara sembari meraba ke sampingnya duduk.


Dia tersenyum saat menemukan kaca matanya. Setelah itu Dara pun memakainya. Dara terkejut saat melihat jaket Alex sudah berada di tubuhnya.


Dara menatap ke sekeliling. Dia tidak menemukan satu orang pun di sekelilingnya duduk.


"Ke mana perginya Mas Alex," ucap Dara.


Dia kemudian mengambil jaket Alex dan menggenggamnya. Dia letakan jaket itu di sisinya duduk.


Dara kemudian menunggu Alex untuk beberapa saat.


"Dara, kamu bangun?" ucap Alex sembari membawa segelas kopi yang dia beli di depan tadi.


"Kamu dari mana?" tanya Dara pada Alex.


"Aku habis beli kopi panas. Rasanya malam ini sangat dingin Dara. Tidak mungkin kan aku memeluk kamu. Kamu pasti nggak akan pernah ngizinin aku untuk peluk kamu," ucap Alex sembari menyunggingkan senyum manisnya.

__ADS_1


"Makasih," ucap Dara.


Alex menghempaskan tubuhnya dan duduk di dekat Dara.


"Makasih untuk apa?" tanya Alex menatap Dara lekat.


"Makasih untuk jaketnya. Dan makasih karena kamu nggak kurang ajar sama aku waktu aku tidur," jawab Dara.


Alex terkekeh.


"Kamu nggak mau lihat leher kamu. Di leher kamu, banyak sesuatu yang memerah," ucap Alex.


Dara terkejut saat melihat ucapan Alex. "Apa!"


Dara mengambil cermin kecil yang ada di dalam tasnya. Dia kemudian bercermin untuk melihat apa yang ada di lehernya.


Alex sejak tadi hanya bisa menahan senyum saat melihat ekspresi Dara. Wajah Dara sudah merona merah. Dara kemudian memegang-megang lehernya yang mulus.


"Mana, nggak ada apa-apa Mas di leher aku. Nggak ada tanda merah di sini," ucap Dara sembari meletakan cermin itu di atas pangkuannya.


"Emang kamu fikir, tanda apa Dara?"


Dara menatap Alex lekat.


"Kamu nggak macam-macam kan sama aku tadi, " ucap Dara yang tampak ragu dengan Alex.


"Bukan aku yang gigit kamu. Tapi sepertinya nyamuk yang lagi suka darah kamu. Makanya dia gigit kamu di leher dan membekas lah berwarna merah," ucap Alex.


"Apa! kamu mau ngerjain aku ya."


"Aku nggak ngerjain kamu Dara. Kamu aja yang otaknya suka traveling ke mana-mana," ucap Alex.


Hahaha...


Dara diam dan membuang mukanya saat melihat Alex tertawa. Alex merasa puas sudah bisa ngerjain Dara.


"Tertawa saja terus. Nggak lucu sama sekali," ucap Dara.


Dara kemudian bangkit dari duduk nya.


"Kamu mau ke mana?" tanya Alex yang sudah memegang tangan Dara.


Dara menatap Alex.


"Aku mau ke toilet," jawab Dara.


"Oh, ya udah. Mau aku antar?"


"Nggak usah. Aku berani kok sendiri ke toilet."


"Oh. Kalau nggak berani, bilang aja ya Dara sama aku. Biar aku temani kamu ke toilet."


Dara kemudian berjalan pergi meninggalkan Alex.

__ADS_1


"Dara Dara, semakin hari kamu semakin ngangenin aja. Kamu itu lucu banget Dara," ucap Alex sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


__ADS_2