
Minggu pagi, Alex sudah berada di ruang tamu rumah Sofi salah satu kekasihnya.
Sejak tadi dia masih duduk di ruang tamu, sementara Sofi masih berada di dapur sedang membuatkan minuman untuk Alex.
Beberapa saat kemudian, Sofi menghampiri Alex dan meletakan secangkir teh hangat untuk Alex.
"Sayang, ini teh hangat buat kamu," ucap Sofi.
Alex tersenyum. "Makasih ya Sof."
Setelah meletakkan secangkir teh hangat di atas meja, Sofi menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Setelah itu dia menggeser posisi duduknya mendekat ke arah Alex.
Alex terkejut saat tiba-tiba saja Sofi bersandar di bahu Alex dan bergelayut manja di lengan Alex.
"Sayang, aku kangen banget sama kamu. Kenapa sayang, kamu nggak pernah ada waktu untuk aku?" tanya Sofi.
Alex diam. Dia tampak bingung. Sebenarnya Alex sudah punya niat untuk memutuskan semua pacar-pacarnya. Tapi melihat Sofi yang bucin akut padanya, membuat Alex jadi tidak tega untuk memutuskan Sofi.
Duh, kenapa Sofi malah peluk aku begini sih. Aku kan mau putusin dia. Aku harus tegas sama Sofi. Aku nggak boleh lemah dengan wanita. Aku harus bisa memenuhi semua syarat dari Dara untuk memutuskan semua pacar-pacar aku. Supaya Dara mau nerima cinta aku.
"Sof, tolong jangan seperti ini. Bagaimana kalau orang tua kamu lihat kita mesra-mesraan seperti ini," ucap Alex yang risih dengan sikap manja Sofi.
Sejak tadi Alex mencoba untuk melepaskan pelukan Sofi. Namun Sofi malah semakin erat memeluknya.
"Sayang, aku itu kangen sama kamu. Biarkan saja orang tua aku lihat kita. Aku juga udah pengin seriusan sama kamu Mas."
"Tapi Sof..."
Sofi melepaskan pelukannya dan menatap Alex lekat.
"Kenapa sih Mas? kata kamu dulu, kamu mau ngajakin aku untuk seriusan. Mana janji manis kamu dulu. Kenapa kamu sekarang seperti nggak nyaman gitu sama aku. Apa kamu lupa dengan hubungan satu malam kita di hotel. Kamu nggak lupa kan Mas," ucap Sofi.
Saat Alex kembali diingatkan soal masa-masa indahnya bersama Sofi, dia jadi tidak tega untuk memutuskan hubungannya dengan Sofi. Karena Alex juga sudah pernah tidur satu malam dengan wanita itu.
Dara, maafkan aku. Masa lalu aku itu sangat buruk. Aku sudah pernah tidur dengan pacar-pacar aku. Tapi, jika kamu mau menolak aku karena masa lalu aku, aku ikhlas Dara. Aku nggak akan maksa kamu untuk menerima aku jadi suami kamu. Karena sesungguhnya aku tidak pantas untuk menjadi suami kamu.
__ADS_1
Namun wanita yang pernah Alex ajak ke hotel itu sangat banyak. Bukan hanya Sofi. Desi, Maria, dan masih banyak lagi wanita-wanita itu. Bahkan, ada wanita yang jemu menunggu keseriusan Alex, sampai-sampai dia sudah menikah duluan dengan lelaki lain.
Alex sejak tadi masih diam. Dia bingung untuk memulai pembicaraannya dari mana dengan Sofi kekasihnya. Sementara Sofi, sejak tadi masih mengajaknya bicara.
"Mas, kenapa sih? dari tadi kamu diam aja? kamu lagi mikirin apa sayang?" tanya Sofi.
"Sof, sebenarnya aku ke sini, karena ada sesuatu yang ingin aku bicarakan sama kamu."
"Bicara soal apa Mas?" tanya Sofi.
"Sof, maafkan aku untuk semua yang sudah aku lakukan sama kamu waktu itu. Aku khilaf Sof, sudah melakukannya sama kamu."
"Maksud kamu apa Mas?" tanya Sofi yang masih tidak mengerti dengan ucapan Alex.
"Sof, aku mau kita putus," ucap Alex yang membuat Sofi terkejut.
Sofi membelalakkan matanya saat mendengar ucapan Alex.
"Apa! putus? kamu mau putusin aku Mas?" tanya Sofi.
"Iya Sof. Maafkan aku."
Air mata Sofi luruh seketika itu juga saat mendengar kata putus dari Alex. Sofi menangis sesenggukan di depan Alex.
Sebenarnya Alex tidak tega melihat Sofi. Tapi Alex akan tetap dengan pendiriannya. Alex ingin memutuskan hubungannya dengan Sofi. Alex tahu, kalau Sofi hanya akan menangis saat diputusin Alex.
Karena dari banyak kekasih Alex, cuma Sofi wanita yang pendiam, penurut dan tidak banyak nuntut. Tapi walau pun begitu, Alex tidak pernah cinta sama Sofi. Dari semua wanita, dia lebih memilih Dara wanita yang menurutnya susah untuk ditaklukkan.
Alex bangkit berdiri. Sebelum pergi, Alex menatap Sofi lekat.
"Sekali lagi maafkan aku Sof. Aku sudah mengecewakan kamu. Aku sudah menyakiti dan melukai hati kamu. Kalau begitu, aku permisi dulu ya Sof. Assalamualaikum."
Tanpa banyak banyak bicara, Alex kemudian pergi meninggalkan Sofi. Dia keluar dari rumah Sofi dan menghampiri mobilnya yang terparkir di depan rumah Sofi.
Alex masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Don, ayo kita jalan."
"Baik Bos."
Doni kemudian melajukan mobilnya dan meluncur pergi meninggalkan rumah Sofi.
"Kita mau ke mana lagi bos?" tanya Doni.
"Jalan saja terus."
Di sela-sela menyetirnya, Doni masih menatap Alex yang saat ini sudah duduk di jok belakang.
Kenapa ya dengan si bos. Setelah keluar dari rumah itu, dia jadi sedih gitu. Ada apa sih sebenarnya
"Bos, kenapa sih bos mukanya sedih gitu. Lagi ada masalah?" tanya Doni.
Alex yang ditanya hanya diam. Dia tidak menjawab pertanyaan dari Doni. Sepertinya dia memang tidak mendengar ucapan Doni. Karena sejak tadi dia masih memikirkan macam-macam.
Aneh banget bos Alex. Dan sekarang, mau ke mana lagi ini. Biasanya juga nyetir sendiri, tumben banget hari ini dia minta dianterin. batin Doni.
Doni tidak mau memperdulikan Alex lagi. Dia tetap fokus menyetir walau bosnya tidak mau mengajaknya bicara.
Beberapa saat kemudian, Doni menginjak remnya kuat-kuat saat di depannya ada seseorang yang menyeberang jalan sembarangan.
Mobil Doni tiba-tiba berhenti mendadak.
"Heh Don. Bisa nyetir nggak sih kamu! bikin orang jantungan aja...!" ucap Alex dengan nada tinggi.
Alex benar-benar geram dengan anak buahnya itu. Tidak sekali dua kali, Doni ceroboh dalam menyetir. Tapi kejadian ini, sering sekali terjadi saat Doni yang nyetir.
Jantung Alex hampir lepas dari tempatnya saat Doni ngerem mendadak.
"Dasar bodoh. Kamu mau buat aku celaka hah...!" Alex sudah mencengkeram kerah baju Doni dengan sangat kuat.
"Bagaimana kalau tadi kamu nabrak orang itu heh...!" bentak Alex sembari menatap Doni tajam.
__ADS_1
"Bos, tolong lepaskan aku bos. Aku nggak sengaja Bos. Maafkan aku bos. Aku nggak akan mengulanginya lagi."
Alex melepaskan cengkeramannya dan kembali duduk di tempatnya semula. Dia kemudian mengusap-usap dadanya sendiri. Masih syok dengan peristiwa tadi.