
"Halo..." suara Martin sudah terdengar dari balik telpon.
"Mas Martin. Kamu kemana aja sih? kenapa baru angkat telpon aku?"
"Maaf sayang. Aku nggak mungkin angkat telpon dari kamu kalau ada istri aku."
"Mas Martin. Gawat Mas."
"Gawat gimana sayang?"
"Rumah aku tadi pagi kerampokan."
"Apa! kerampokan? kok bisa sih sayang."
"Aku juga nggak tahu, kenapa ada kawanan perampok yang tiba-tiba datang dan membawa semua barang-barang berharga di rumah aku."
"Pagi-pagi ada rampok? Terus, kamu nggak apa-apa kan sayang? mereka nggak melukai kamu kan?"
"Nggak Mas. Tapi suamiku kena pisaunya salah satu rampok itu."
"Pisau? mereka membawa pisau?"
"Iya Mas. Mereka membawa pisau tajam. Makanya, nggak ada satu pun dari kami yang bisa melawan mereka. Kamu tahu kan di rumah aku nggak ada satpam. Ada juga Anton sopir suamiku. Tapi nggak ada Anton waktu itu. Di rumah hanya ada aku, Pak Rajasa dan dua pembantu wanita."
"Terus, mereka membawa barang-barang berharga dari rumah kamu?"
"Iya Mas. Perhiasan aku aja di bawa semua oleh mereka. Dan parahnya lagi, mereka bisa dengan cepat merusak rekaman CCTV. "
"Ya ampun. Parah banget dong kalau begitu. Mungkin mereka adalah perampok profesional sayang."
"Iya mungkin."
Di sisi lain, Alex sudah duduk di sofa ruang tamu bersama Doni dan Pak Rajasa.
"Pa, aku tinggal dua anak buahnya Doni untuk jaga-jaga di sini. Aku rasa keluarga kita lagi dalam bahaya Pa. Aku nggak mau, kalau perampok itu datang lagi ke sini dan melukai papa."
"Iya Alex."
"Aku harus pulang Pa. Di rumah, aku juga harus jagain mama."
"Bagaimana kabar mama kamu Alex. Apa dia sudah semakin membaik?" tanya Pak Rajasa.
"Iya. Mama sudah baik kok. Tapi dia cuma belum bisa mengingat semuanya."
"Syukurlah kalau begitu."
"Iya. Aku harap sih, gangguan mental mama sudah sembuh dan mama tidak akan mengalami histeris lagi."
"Iya Alex."
"Ya udah Pa. Aku pamit pulang dulu. Kalau ada apa-apa papa bisa langsung hubungi aku aja."
__ADS_1
"Iya Alex."
"Ayo Don. Kita pulang!" ajak Alex pada Doni.
"Siap Bos."
Alex dan Doni bangkit dari duduknya. Begitu juga dengan Pak Rajasa. Alex dan Doni kemudian keluar dari rumah Pak Rajasa. Sementara sejak tadi Pak Rajasa mengikuti Alex dan Doni sampai ke depan.
Alex dan Doni masuk ke dalam mobilnya. Sementara dua bodyguard mereka tinggal di rumah Pak Rajasa untuk berjaga-jaga di rumah itu.
Setelah Alex dan Doni pergi, Rita menghampiri Pak Rajasa.
"Mas, kamu ternyata dari tadi ada di sini? mana Alex? dia sudah pulang? " tanya Rita yang sudah tidak melihat Alex lagi ada di rumahnya.
"Iya. Alex sudah pulang. Dia meninggalkan dua anak buahnya untuk berjaga di sini."
"Apa!" Rita terkejut saat mendengar ucapan Pak Rajasa.
"Kenapa kamu terkejut begitu? mereka akan jagain rumah kita sayang. Ayo kita masuk ke dalam!" Pak Rajasa merangkul bahu Rita dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.
Duh, kenapa Alex harus meninggalkan anak buahnya di sini sih. Apa dia memang sengaja mau memata-matai aku. Kalau begini caranya, aku nggak bisa dong bebas bertemu Mas Martin.
*****
Malam saat ini telah larut. Waktu sudah menunjukkan jam sepuluh malam. Dara masih berada di halaman depan rumah Alex. Entah apa yang sedang dia lakukan di sana.
Dara duduk di sebuah kursi panjang dan menatap ke atas langit. Bulan di malam ini, tampak bulat sempurna. Karena malam ini, adalah malam purnama.
"Dara, malam-malam begini apa yang sedang dia lakukan di sana," ucap Alex. "Bukannya tidur, malah duduk di depan. Apa nggak dingin."
Alex menutup korden jendela kamarnya. Dia kemudian menatap Bu Vivi.
"Mama udah tidur. Aku mau nyamperin Dara dulu ke depan," ucap Alex.
Alex kemudian keluar dari kamarnya dan pergi ke depan untuk menghampiri Dara.
"Ibu... ayah... Dara kangen sama kalian, apakah kalian melihat Dara ada di sini," ucap Dara.
Alex tersenyum dan duduk di sisi Dara.
"Kamu lagi kangen dengan ke dua orang tua kamu ya?" tanya Alex.
Dara menoleh ke sampingnya duduk.
"Mas Alex, ngapain kamu di sini?"
"Harusnya aku yang tanya sama kamu. Ngapain kamu malam-malam masih di sini?"
"Aku lagi lihat bulan Mas. Aku kangen sama ibu dan ayah aku."
"Kamu kangen sama mereka?"
__ADS_1
"Iya Mas."
"Kalau kamu kangen sama mereka, besok aku antar kamu ke makam ke dua orang tua kamu ya? sekalian aku antar kamu nengokin adik-adik kamu."
"Wah, yang benar Mas. Kamu yakin mau nganterin aku ke makam ayah dan ibu aku?"
"Iya. Sekalian aku antar kamu pulang ke rumah kamu. Nengokin adik-adik kamu."
"Makasih banyak ya Mas. Aku juga udah kangen sama adik-adik aku."
Alex sejak tadi masih menatap Dara tanpa berkedip.
Aku bersyukur, karena aku masih punya ke dua orang tua yang lengkap. Sementara Dara, sudah tidak punya orang tua. Dan aku bersyukur, karena dari kecil aku sudah dibesarkan dari keluarga kaya. Sementara Dara...
Alex terkejut saat tiba-tiba saja Dara menepuk pundaknya.
"Eh, Dara. Ada apa?" ucap Alex tergagap.
"Kamu ngapain bengong. Kamu lagi mikirin apa?" tanya Dara.
"Aku nggak lagi mikirin apa-apa kok. Aku cuma lagi mikirin bulan," jawab Alex sekenanya.
Alex menatap ke langit.
"Untuk apa kamu mikirin bulan?" Dara ikut mendongak menatap bulan yang ada di atas langit.
"Bulannya cantik ya Dara. Kamu suka ya melihat bulan?"
"Iya Mas. Aku suka melihat bulan kalau malam hari. Apalagi kalau ada bintang jatuh. Kata orang, kalau kita melihat bintang jatuh, terus kita berdoa sama Tuhan, dan meminta sesuatu pasti akan terkabul."
"Masa sih Dara?" tanya Alex menatap Dara lekat.
"Iya Mas. Dan aku pernah dulu berdoa pas ada bintang jatuh. Dan doaku terkabul," ucap Dara
"Kamu doa apa dulu?" tanya Alex.
"Dulu sepatu aku rusak. Dan aku minta sama Tuhan, agar Tuhan ngasih rejeki ke ayah agar ayah bisa membelikan sepatu aku. Dan esok harinya aku dibelikan sepatu Mas," jawab Dara.
"Oh ya. Ya udah. Kalau nanti ada bintang jatuh, aku juga mau doa Dara. Aku mau berdoa agar Tuhan mau menjodohkan kita berdua."
Dara terkejut saat mendengar ucapan Alex.
"Apa!"
Alex tersenyum. Dia kemudian meraih tangan Dara dan menggenggamnya erat.
"Kenapa terkejut begitu Dara? kalau seandainya jodoh kamu itu aku, kamu seneng kan?" tanya Alex yang membuat Dara gugup.
"Apa sih maksud Mas Alex."
Dara melepaskan genggaman tangan Alex. Setelah itu dia menundukan kepalanya.
__ADS_1