
Alex melangkahkan kakinya dan duduk di kursi ruang tunggu yang ada di depan ruang UGD. Alex mengurut keningnya . Fikirannya saat ini sangat kacau. Alex sangat mengkhawatirkan kondisi ibunya.
Sementara sejak tadi Dara masih memperhatikan Alex. Dia merasa iba pada Alex.
'Kasihan Tuan Alex. Dia pasti sedih banget melihat kondisi ibunya,' batin Dara.
Dara kemudian mendekati Alex dan duduk di sisi lelaki itu. Alex tampak sangat rapuh sekali saat ini.
Dara memegang bahu Alex dan mengusap-usapnya mencoba untuk menghibur Alex.
"Tuan Alex, kamu yang sabar ya. Kamu berdoa saja agar ibu kamu bisa diselamatkan," ucap Dara.
Alex diam. Tiba-tiba saja, setetes air mata Alex terjatuh dari pelupuk matanya. Alex segera mengusapnya kasar. Alex tidak mau kelihatan lemah di depan Dara.
Alex menatap Dara lekat.
"Dara, aku takut kehilangan mama aku. Bagaimana kalau terjadi apa-apa sama mama Dara. Aku nggak akan pernah bisa memaafkan diri aku sendiri jika sampai mama kenapa-kenapa. Karena aku yang sudah menjadi penyebab mama seperti ini."
"Kenapa Tuan harus menyalahkan diri Tuan sendiri. Tuan tidak salah kok."
"Tapi aku nggak bisa jagain mama aku selama 24 jam Dara. Dan pembantu-pembantu di rumah aku itu juga nggak pernah becus dalam bekerja."
"Sabar ya Tuan. Aku yakin kok mama Tuan nggak akan kenapa-kenapa. Dia pasti akan baik-baik saja."
"Tapi masalahnya Dara, mama aku itu lagi dalam tahap penyembuhan."
"Penyembuhan apa?" tanya Dara
Alex menghela nafas dalam. Sepertinya Dara memang belum tahu banyak tentang ibunya Alex.
"Mama aku sakit jiwa Dara. Dan aku lagi mengobatinya."
"Oh."
"Dan semakin ke sini, yang aku lihat kondisi mama sudah semakin baik. Aku ingin Mama sembuh dan bisa menjalani hari-harinya seperti orang normal lainnya. Tapi kenapa mama aku jadi seperti ini."
"Sabar Tuan. Yakinlah, kalau Tuhan akan menyembuhkan mamanya Tuan Alex."
Beberapa saat kemudian, seorang dokter keluar dari ruangan UGD. Dia kemudian melangkah dan mendekat ke arah Alex dan Dara.
"Keluarga Bu Vivi?" ucap Dokter itu.
Alex dan Dara bangkit dari duduknya. Mereka kemudian berjalan mendekati dokter.
"Dokter, saya anaknya Bu Vivi. Bagaimana kondisi mama saja Dok?" tanya Alex.
Dokter diam. Tampaknya ada sesuatu yang telah tejadi pada Bu Vivi.
"Dokter jawab Dok. Mama saya baik-baik saja kan?" Alex sudah mencengkeram ke dua bahu dokter.
"Tuan , sabar Tuan," ucap Dara mencoba untuk menenangkan Alex.
Alex menatap Dara dan melepaskan cengkeramannya. Dia mencoba untuk mengendalikan emosinya.
"Karena benturan yang sangat keras di kepala Bu Vivi, membuat Bu Vivi mengalami pendarahan yang cukup hebat di kepalanya. Dan itu semua membuat ibu anda kehilangan banyak darah. Dan sekarang kondisi Bu Vivi kritis."
__ADS_1
"Apa! mama kritis?"
"Tapi anda tenang saja. Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk menanganinya."
"Dokter, lakukan yang terbaik untuk mama saya. Agar dia bisa sembuh Dok."
"Iya Pak."
"Saya akan lakukan apapun dan akan bayar berapapun biaya rumah sakit ini, asal mama saya mendapatkan penanganan yang terbaik di rumah sakit ini. Jika mama saya tidak sembuh, saya akan bawa mama saya berobat ke luar negeri."
"Iya Pak. Selain berusaha, saat ini yang bisa kita lakukan hanya berdoa Pak. Karena hidup dan mati itu ada ditangan Tuhan. Dokter cuma sebagai perantara aja. Bapak berdoa saja biar ibu anda segera melewati masa kritisnya."
Alex mengangguk. "Iya Dok."
"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu," ucap Dokter.
Dokter kemudian pergi meninggalkan Alex.
****
Malam ini, Ica dan Oca masih berada di ruang tengah. Sejak tadi mereka masih menunggu Dara pulang. Namun sampai jam sepuluh malam Dara belum juga pulang.
Ica dan Oca, masih sangat mencemaskan Dara. Karena sejak tadi mereka mencoba menelepon Dara, tapi nomer Dara tidak pernah aktif.
"Ke mana ya Kak Dara, kenapa dari tadi aku telpon dia nomernya nggak pernah aktif," ucap Oca.
"Sudahlah, biarkan saja. Mungkin dia lagi lembur. Biasanya kan kalau kerja di kantor itu ada lemburan. Beda dari kerjaan jadi cuci gosok kan Ca."
"Masak cewek lemburnya sampai malam begini. Aku jadi khawatir sama Kak Dara, takut terjadi apa-apa sama dia Kak," ucap Oca.
"Kak Ica lapar? aku juga lapar. Dari tadi siang belum makan."
"Iya. Semenjak Kak Dara kerja di kantor, dia jadi tidak begitu perduli dengan kita. Dia selalu biarkan kita kelaparan begini. Kita makan, palingan satu kali doang kalau pagi. Karena sekarang Kak Dara jarang masak, karena dia harus berangkat pagi," ucap Ica.
"Gimana caranya kita hubungi Kak Dara. Kak Dara itu juga nggak punya teman dekat. Kita mau tanya soal Kak Dara ke mana?" Oca tampak bingung.
"Kita tanya ke Om Rajasa saja."
"Emang kita punya nomernya Kak?" Oca menatap Ica lekat.
Ica diam. Ica lupa kalau dia belum menyimpan kontak Pak Rajasa.
"Kan waktu itu Om Rajasa memberikan kartu namanya dan ada kontak nomernya di situ."
"Tapi itu kan Kak Dara yang pegang."
"Iya ya."
Ring ring ring....
Deringan ponsel Oca tiba-tiba saja berdering. Oca menatap ponselnya. Tampak ada nomer baru yang memanggil.
"Nomer siapa ini," ucap Oca sembari mengambil ponselnya.
"Coba Ca, angkat. Siapa tahu itu Kak Dara."
__ADS_1
Oca kemudian mengangkat panggilan dari nomer tak dikenalnya itu.
"Halo..."
"Halo Oca, ini kakak Ca."
"Kak Dara. Kakak ke mana aja. Udah malam begini kakak kenapa belum pulang? apa kakak lembur?"
"Nggak Ca. Kakak sekarang lagi ada di rumah sakit."
"Apa? kakak lagi di rumah sakit? lagi ngapain kakak di sana?"
"Ca, maaf ya. Kakak nggak bisa pulang untuk malam ini. Kakak harus temani bos kakak di rumah sakit."
"Om Rajasa sakit?"
"Bukan dia Ca. Tapi istrinya."
"Oh. Emang dia sakit apa?"
"Kakak nggak bisa jelasin sekarang. Karena ini bukan ponsel Kakak. Kakak nggak enak, telponan lama-lama."
"Oh. Emang ponsel kakak ke mana?"
"Baterai ponsel kakak habis waktu Kakak masih berada di kantor. Semalam kakak kan lupa ngecas ponsel Kakak."
"Terus, kita harus gimana kak. Kita lapar banget. Tapi nggak ada nasi dan lauk."
"Oca, di kulkas kan masih ada sisa sayuran mentah. Telor juga masih ada. Kamu masak nasi dan goreng telor aja. Kalau nggak, kamu buat mie instan aja."
"Mie instan lagi. Yah, Kak. Bosen aku Kak. Lagi-lagi Mie instan dan goreng telor."
"Sudah, kamu harus nurut sama kakak. Kalian berdua nggak boleh kemana-mana. Kunci semua pintu dan jendela terus kalian tidur. Besok Kaka pulang."
"Iya Kak iya."
"Ya udah. Kakak tutup dulu telponnya. Assalamualaikum."
"Wa'alakiumsalam."
Saluran telpon itu tiba-tiba saja terputus. Dara sudah memutuskan saluran telponnya.
Setelah bertelponan dengan Kakaknya, Oca menatap Ica.
"Ada apa Ca?" tanya Ica.
"Kak Dara nyuruh kita masak nasi dan goreng telor. Karena malam ini dia nggak bisa pulang."
"Emang ke mana dia?"
"Istri Om Rajasa sakit. Dan Kak Dara lagi ada di rumah sakit nungguin istrinya Om Rajasa."
"Mau ngapain dia ikut-ikutan nungguin. Kan keluarganya ada. Gimana sih. Kebiasaan banget Kak Dara. Dia lebih mentingin urusan orang lain dari pada urusan kita."
"Sudahlah Kak Ica. Paling juga cuma malam ini doang Kak Dara nggak pulang."
__ADS_1
****