
Pagi ini Dara masih berkutat di dapur. Dia sudah menonaktifkan ponselnya agar siapapun tidak ada yang bisa mengganggunya termasuk Alex.
Dara ingin membuka lembaran hidup barunya tanpa harus ada lagi bayang-bayang Alex di dalam fikirannya. Peristiwa malam itu, biarlah akan menjadi kenangan terburuk untuk Dara.
"Hem... wangi banget Kak. Udah mateng ya Kak masakannya?" tanya Oca sembari menghampiri Dara.
Dara menoleh ke arah Oca. Dara tersenyum saat melihat Oca tampak sudah rapi dengan baju seragam sekolahnya.
"Kamu sudah rapi Ca," ucap Dara.
Oca mengangguk.
"Tunggu ya Ca. Ini sebentar lagi masakan kakak matang," ucap Dara sembari mengaduk-aduk masakannya.
"Kakak masak apa?" tanya Oca.
"Capcay. Sama telur dadar," jawab Dara.
Oca menatap Dara lekat. Sejak tadi dia masih tampak memperhatikan Dara.
"Kakak kok, masih pakai baju semalam? kakak nggak mau kerja?" tanya Oca yang melihat kakaknya tampak masih mengenakan baju semalam. Sepertinya Dara memang belum mandi dan ganti baju.
"Kakak udah berhenti kerja," jawab Dara singkat.
Oca terkejut saat mendengar jawaban Dara. "Apa! berhenti kerja? kenapa emang dengan pekerjaan kakak yang sekarang?" tanya Oca.
"Kakak pengin cari kerjaan lain Oca yang lebih nyaman dari kerjaan Kaka yang sekarang."
"Kakak mau kerja apa?"
"Pengin jualan kue aja. Biar nggak ada yang ngatur. Kalau ngikut orang capek di atur-atur terus."
"Jualan kue kayak ibu?"
"Iya. Mana Ica? dia masih di kamar?" tanya Dara.
"Iya. Kak Ica lukanya belum sembuh Kak. Dia belum mau berangkat sekolah."
Beberapa saat kemudian, suara ketukan pintu dari luar rumah Dara terdengar. Dara mematikan kompornya setelah masakannya matang. Setelah itu dia pergi ke ruang tamu untuk membuka pintu depan.
Dara terkejut saat dia melihat ke depan. Pak Rajasa lelaki tua yang kemarin membawa Ica pulang, sudah tampak berdiri di depan pintu rumah Dara.
"Selamat pagi," ucap Pak Rajasa.
"Selamat pagi, Pak Rajasa."
Pak Rajasa membawa parcel buah untuk Ica dan memberikannya ke Dara.
"Ini buat adik kamu," ucap Pak Rajasa sembari menyodorkan parcel buah itu.
Dara tersenyum.
"Duh, repot-repot banget Pak Rajasa," ucap Dara sembari menerima parcel buah itu.
Pak Rajasa kemudian menatap Dara.
"Bagaimana keadaan adik kamu?" tanya Pak Rajasa.
"Ica masih ada di kamar. Dia masih sakit. Luka-lukanya juga belum sembuh. Oh iya, ayo masuk Pak Rajasa," ucap Dara mempersilahkan Pak Rajasa masuk.
__ADS_1
"Iya. Terimakasih."
Pak Rajasa kemudian masuk ke dalam rumah Dara. Setelah Dara mempersilahkan Pak Rajasa duduk, Pak Rajasa kemudian duduk di ruang tamu rumah Dara.
Ruang tamu itu rumah Dara, tampak sempit. Berbeda dari rumah Pak Rajasa yang bak istana raja. Berkali-kali lipat luasnya dari luas rumah Dara.
Pak Rajasa sejak tadi masih menatap sekeliling.
"Mana adik kamu?" tanya Pak Rajasa.
"Dia ada di dalam Pak. Tunggu sebentar ya Pak. Saya akan panggilkan dia."
"Tidak usah, kalau dia lagi istirahat."
"Oh, tidak apa-apa Pak. Dia sudah bangun kok."
Dara kemudian bangkit berdiri. Dia ke kamar Ica untuk memanggil Ica yang masih berada di dalam kamarnya.
"Ca. Ada Pak Rajasa," ucap Dara.
"Om Rajasa ke sini? untuk apa?"
"Dia mau jengukin kamu Ca."
Ica turun dari ranjangnya. Setelah itu dia dan kakaknya berjalan ke ruang tamu di mana Pak Rajasa berada.
"Om, Om ke sini? sudah sejak tadi?" tanya Ica.
Ica kemudian mencium punggung tangan Pak Rajasa.
"Om baru saja datang Ica."
"Oh iya. Di mana ibu dan ayah kalian?" tanya Pak Rajasa.
Dara dan Ica saling menatap.
"Kami sudah tidak punya orang tua Pak Rajasa. Ayah dan ibu kami sudah meninggal dunia. ucap Dara menjelaskan.
Pak Rajasa terkejut saat mendengar ucapan Dara.
"Jadi kalian berdua ini yatim piatu?" Pak Rajasa menatap Dara dan Ica bergantian.
"Iya Pak," ucap Dara.
Beberapa saat kemudian, Oca datang menghampiri kakaknya.
"Kak, aku pergi dulu ya," ucap Oca. Dia kemudian mencium tangan punggung Dara.
Pak Rajasa terkejut saat melihat Oca. Dia sangat mirip sekali dengan Ica.
"Lho, kalian kembar?" tanya Pak Rajasa pada Oca dan Ica.
Ica tersenyum.
"Iya Om. Kami memang kembar," ucap Ica.
Pak Rajasa hanya manggut- manggut. Tampak mengerti dengan keadaan keluarga Ica.
Oca tersenyum pada Pak Rajasa. Sebelum pergi Ica mencium punggung tangan Pak Rajasa.
__ADS_1
Dara, Ica, dan Oca, memang dari dulu sudah di ajari sopan santun oleh ayah dan ibunya. Dan kesopanan mereka bawa sampai saat ini.
"Kamu mau sekolah?" tanya Pak Rajasa pada Oca.
"Iya Om. Saya mau ke sekolah. Saya pergi dulu ya Om."
"Iya. Hati-hati di jalan," ucap Pak Rajasa.
Oca kemudian pergi meninggalkan rumah untuk berangkat ke sekolahnya.
Pak Rajasa merogoh sesuatu dari saku kemejanya. Dia kemudian menyodorkan amplop coklat yang berisi uang pada Dara.
"Ini, saya punya sedikit uang untuk kalian. Siapa tahu, uang itu berguna untuk keluarga kalian. Yang saya lihat, Ica juga belum sembuh total lukanya. Barang kali kamu mau kontrol luka-luka Ica ke dokter," ucap Pak Rajasa pada Dara.
"Duh, nggak perlu repot-repot Pak Rajasa. Pak Rajasa sudah mau membawa Ica ke rumah sakit dan mengobati luka-luka Ica itu sudah cukup untuk kami."
"Nggak apa-apa Dara. Anggaplah ini sedekah dari saya untuk anak yatim seperti kalian."
Dara tampak berfikir.
'Kebetulan banget nih, Pak Rajasa itu kan orang kaya. Barang kali di rumah Pak Rajasa membutuhkan pembantu. Aku coba tanya saja deh' batin Dara.
"Sebenarnya saya tidak terlalu membutuhkan uang Pak Rajasa. Tapi saya lebih membutuhkan pekerjaan. Jika bapak membutuhkan pembantu untuk cuci gosok, saya ingin kerja di rumah bapak."
Pak Rajasa tersenyum.
"Kamu butuh kerjaan?" tanya Pak Rajasa.
Dara mengangguk.
"Kalau di rumah saya lowongan pembantu sudah penuh. Tapi kalau di kantor saya, mungkin saya masih bisa pekerjaan kamu di kantor saya."
Dara terkejut saat mendengar ucapan Pak Rajasa. .
"Kerja di kantor bapak? tapi saya mau kerja apa di kantor? ijazah saya kan cuma SMA."
"Nggak apa-apa. Kamu bisa jadi OB di sana."
"Jadi OB?"
"Iya. Office girl kalau untuk wanita."
Dara tampak berfikir.
'Jadi OB di kantor Pak Rajasa. Wah, nggak nyangka banget kalau Pak Rajasa ternyata mau memberikan aku perkerjaan itu. Itu artinya, aku nggak usah khawatir lagi dengan pekerjaan ku. Nggak apa-apa jadi OB. Yang penting aku dapat gaji. Dari pada kerja di rumah Tuan Alex hati selalu was-was.'
Pak Rajasa kemudian mengambil sesuatu dari dalam dompetnya. Dia kemudian memberikan kartu namanya itu pada Dara.
"Ini kartu nama saya. Kamu bisa datang ke kantor saya besok atau lusa. Sesempatnya kamu."
Dara menatap kartu nama Pak Rajasa.
'Direktur utama. Jadi Pak Rajasa ini direktur Utama.'
Dara tersenyum.
"Jadi bapak ini sebenarnya seorang direktur?"
"Iya Dara."
__ADS_1