
"Dara, ayo kita makan. Katanya kamu lapar," ucap Pak Rajasa.
Dara mengangguk. "Iya Pak."
Dara dan Pak Rajasa kemudian makan bersama.
Di sela-sela kunyahannya, Pak Rajasa menatap cincin yang ada di jari manis Dara.
Cincin Dara bagus banget. Dapat dari mana ya. Itu seperti cincin mahal. Mirip cincin yang pernah aku belikan untuk ibunya Alex. Tapi cincin itu sudah raib dirampok.
"Dara, cincin kamu bagus," ucap Pak Rajasa memuji cincin yang ada di jari manis Dara.
"Oh, ini cincin dari Mas Alex kemarin Pak." Dara menatap dan memegang cincin itu.
"Oh. Alex udah membelikan kamu cincin?" tanya Pak Rajasa.
"Iya. Tapi susah sekali dilepasnya Pak."
"Ya udah. Nggak usah dilepas. Pakai aja."
Pak Rajasa kemudian melanjutkan makannya. Sementara Dara diam dan hanya mengaduk-aduk makanannya saja. Dia terlihat sangat sedih. Mungkin dia masih kefikiran dengan Alex tadi siang.
"Kamu kenapa Dara? katanya lapar, kenapa makanannya cuma di aduk-aduk saja begitu?" tanya Pak Rajasa menatap Dara lekat.
Dara tersenyum.
"Aku nggak kenapa-kenapa kok Pak," jawab Dara.
"Kamu lagi mikirin apa Dara?"
Ih, kenapa sih. Kenapa Mas Alex masih dekat-dekat saja sama wanita lain. Katanya dia cinta sama aku dan ingin nikah sama aku. Tapi kenapa dia masih sama cewek. Aku yakin, Mas Alex itu cuma bohongin aku. Dia nggak benar-benar cinta sama aku. Benar apa kata Mbak Ratih. Kalau Mas Alex itu cuma mau memanfaatkan aku saja. Dia mau mengambil kesempatan dalam kesempitan. Pokoknya, mulai sekarang aku nggak mau dekat-dekat lagi sama Mas Alex.
Dara sejak tadi masih bengong. Dia masih larut dalam fikirannya sendiri.
"Lho, kok malah tambah bengong?"
Dara kembali menatap Pak Rajasa.
"Sebenarnya, aku pengin kuliah lagi Pak. Aku pengin seperti teman-temanku. Dulu ada salah satu universitas yang ingin memberikan aku beasiswa. Tapi aku tolak karena ibu aku sakit. Dan aku harus kerja untuk mencari nafkah."
"Ya udah. Kalau kamu mau daftar kuliah, daftar aja. Kalau kamu butuh biaya, kamu bisa bilang sama saya. Tapi apa kamu sudah bilang sama Alex soal ini?"
Dara diam.
Untuk apa aku harus bilang dulu sama Mas Alex. Lagian aku kan nggak perlu minta izin sama dia. Dia juga bukan siapa-siapa aku.
"Em, Pak. Kalau soal ini, aku nggak perlu kan bilang sama Mas Alex."
"Iya maksud saya kamu bicara dulu sama Alex, kalau kamu mau kerja lagi di kantor saya dan kamu bilang kalau kamu mau kerja paruh waktu, karena kamu mau kerja sambil kuliah. Biar Alex nggak nyariin kamu Dara."
Dara menghela nafas dalam.
__ADS_1
"Iya Pak. Nanti aku fikirkan ini lagi."
Pak Rajasa tersenyum.
"Sebenarnya, hubungan kamu dengan anak saya itu seperti apa sih? sampai-sampai anak saya mau membelikan cincin untuk kamu?"
"Kami ngga punya hubungan apa-apa kok Pak. Kami cuma sebatas majikan dan pembantu."
Pak Rajasa tersenyum.
"Tapi yang saya lihat, semakin hari kamu dan anak saya semakin dekat saja."
"Ya itu karena saya kerja di rumah Mas Alex."
"Kalau saya jodohkan kamu sama Alex gimana? kamu mau nggak?"
Uhuk uhuk uhuk...
Dara yang sedang minum terbatuk-batuk saat mendengar ucapan Pak Rajasa.
Dara segera mengambil tisu dan mengusap-usap bibirnya dengan tisu.
"Hati-hati Dara. Pelan-pelan aja minumnya."
"Pak Rajasa bicara apa? Bapak mau menjodohkan saya dengan anak bapak?"
"Iya. Kamu mau kan Dara? kalau kamu mau, nanti bapak akan bicarakan masalah ini sama Alex."
"Ya nggak apa-apa nikah sambil kuliah."
"Terus, kalau aku hamil dan punya anak gimana? apa aku harus putus kuliah di tengah jalan."
"Kalau kamu punya anak, anak kamu sama suster lah."
Tadinya aku selalu berkhayal. Aku menikah dengan Mas Alex dan punya banyak anak. Tapi sekarang aku nggak akan pernah percaya lagi sama dia. Aku sudah melihat dengan mata kepala aku sendiri kalau Mas Alex itu nggak mau berubah. Dia bilang cinta sama aku, tapi dia malah suapin wanita itu. Aku nggak suka sama Mas Alex. Aku benci sama dia.
"Pak, bapak sudah habis kan makannya?" tanya Dara.
"Iya. Emang kenapa?"
"Kita pulang yuk!"
"Lho. Kok pulang. Kamu kan belum habiskan makanan kamu Dara."
"Aku udah kenyang Pak. Aku juga udah ngantuk. Pengin pulang ke rumah."
"Terus, sekarang kamu mau pulang ke mana? ke rumah Alex atau ke rumah sendiri?"
"Dara mau pulang ke rumah sendiri aja Pak."
"Oh. Baiklah."
__ADS_1
****
Malam ini, Alex dan Doni masih berada di teras depan rumah Dara. Mereka masih menunggu Dara pulang.
Plak... plak...
Doni menampar pipinya saat dia merasakan kehadiran nyamuk di pipinya.
"Bos, banyak nyamuk nih Bos. Udah malam bos. Kita pulang yuk bos!" ajak Doni.
Hoaaamm...
"Aku juga udah capek bos. Dari sore kita nungguin Dara di sini. Belum tentu juga Dara pulang ke sini. Mungkin saja dia pulang ke rumah anda bos."
Alex menatap tajam Doni.
"Don, bawel banget sih Don kamu ini. Aku ini lagi nungguin Dara Don. Dara nggak akan mungkin pulang ke rumah aku Don. Karena dia lagi marah sama aku."
"Tapi mau sampai kapan bos kita di sini. Bisa lumutan kita ini bos. Ini aja udah hampir jam sepuluh."
"Sabarlah Don. Lagian adiknya Dara juga udah buatin kita kopi dan cemilan. Habisin dulu cemilannya Don. Dan aku juga sudah belikan kamu rokok. Habiskan dulu lah Don."
Doni hanya bisa menghela nafas dalam. Sebenarnya dia sudah mengantuk dan lelah. Sudah sejak tadi siang Doni belum istirahat. Tapi, Alex orang yang sangat keras kepala. Mana mau di memikirkan orang lain.
Beberapa saat kemudian, Ica dan Oca keluar dari rumahnya.
"Kalian berdua masih di sini?" tanya Ica.
"Kalian masih nungguin Kak Dara ya?" tanya Oca.
"Iya. Kak Alex lagi nungguin kakak kalian," jawab Alex.
"Kak Alex, mungkin Kak Dara sudah pulang kerumahnya Kak Alex. Setiap hari kan dia tidur di sana," ucap Oca.
"Nggak mungkin. Dara pasti akan pulang ke sini," ucap Alex.
"Kalian ngga mau masuk ke dalam aja? kenapa kalian harus nunggu di luar sih? kan dingin di luar," ucap Oca.
"Iya Bos. Kita tunggu di dalam aja yuk!" ajak Doni.
"Nggak. Di dalam banyak tikus. Aku ngga berani masuk ke dalam Don."
Ica menatap dua gelas kopi yang ada di dekat Alex dan Doni duduk.
"Kopinya mau nambah lagi? nanti kita buatin lagi," ucap Oca.
"Nggak perlu. Kalian nggak usah ngurusin kita. Udah malam. Lebih baik, kunci saja pintu dan jendela. Setelah itu kalian tidur. Biar Kak Alex tunggu di sini saja," ucap Alex
"Ya udah kalau begitu." ucap Ica.
Ica dan Oca kemudian masuk ke dalam rumah dan menutup pintu rumahnya.
__ADS_1