
Dara hanya bisa diam saat melihat kemarahan Alex. Dia tidak berani bicara lagi pada Alex.
"Maaf, bukan maksud aku seperti itu Mas," ucap Dara.
Alex masih fokus menyetir. Namun sejak tadi dia masih diam. Sepertinya dia masih marah dengan Dara atau dia memang lagi kefikiran dengan sesuatu yang lain.
"Mas Alex kenapa diam aja? aku kan udah minta maaf. Mas Alex kenapa? masih marah ya sama aku?"
Alex menatap Dara sejenak sebelum pandangannya fokus lagi ke depan.
"Maaf ya, karena aku sudah membuat Mas Alex marah."
"Hemm..."
Dara cemberut saat Alex mulai bersikap dingin padanya.
"Ya udahlah, kalau Mas Alex nggak mau bicara lagi padaku."
Setelah sampai di depan rumah Dara, Alex menghentikan laju mobilnya.
"Rumah kamu sepi Dara," ucap Alex.
"Adik ku ada di dalam kok Mas. Kalau udah malam begini, mereka nggak akan berani pergi-pergi keluar."
"Ya udah, udah malam Dara. Kamu masuk aja ke dalam."
"Iya Mas."
Dara membuka pintu mobil. Sebelum Dara turun, Alex mencekal tangan Dara dan menatapnya lekat.
"Ada apa Mas?" tanya Dara.
"Aku mau bicara sesuatu sama kamu."
"Bicara apa?"
"Kalau seandainya kamu kerja di rumah aku lagi gimana?"
Dara diam. Dia tidak langsung menjawab pertanyaan Alex.
"Tapi aku kan udah kerja di kantor Pak Rajasa."
"Kamu bisa tinggalkan pekerjaan itu."
"Ya nggak bisa begitu dong Mas. Aku kan baru kerja. Belum ada satu bulan aku di sana. Lagian, aku capek jadi tukang cuci gosok. Aku lebih seneng jadi Office girl."
"Dara, siapa yang mau jadikan kamu tukang cuci gosok. Aku mau kamu tinggal di rumah aku, untuk jagain mama aku. Aku mau kamu yang ngerawat mama aku. Kalau masalah bayaran, kamu nggak usah khawatir. Aku akan bayar tiga kali lipat dari gaji di kantor Papa."
"Tapi kan biasanya Mbak Ratih Mas yang ngurusin mama kamu."
"Dara, aku pengin kamu yang ngurusi mama aku. Karena yang aku lihat, mama aku lebih nyaman sama kamu dari pada sama orang lain."
Dara diam dan tampak berfikir.
__ADS_1
"Apa yang kamu fikirkan? kamu takut kalau aku akan menggangu mu? kamu tenang saja Dara. Aku nggak akan menggangu kamu. Mulai sekarang aku nggak mau macam-macam sama kamu. Aku janji Dara."
Alex meraih tangan Dara.
"Dara, mau ya. Kamu tinggal di rumah aku untuk merawat mama aku?"
"Tapi aku nggak bisa full jagain mama kamu Mas. Karena aku punya dua adik yang juga harus aku urusin. Aku nggak bisa kerja kalau harus nginap."
"Ya udah, boyong aja sekalian adik-adik kamu ke rumah aku."
"Apa!"
"Kenapa kamu kaget begitu. Kalau kamu takut aku sampai macam-macam sama kamu, ya udah boyong aja adik kamu sekalian ke rumah aku. Kamu kan tahu kalau aku di rumah tinggal sendiri. Kalau banyak orang yang tinggal di rumah aku, rumah aku kan jadi ramai."
Dia melepaskan tangan Alex. Setelah itu dia menatap Alex.
"Aku fikirkan dulu ya Mas soal ini."
Alex mengangguk.
"Iya. Aku juga nggak mau maksa kamu juga sih Dara."
"Iya Mas. Aku juga harus bilang dulu ke Pak Rajasa."
"Nggak usah Dara. Biar nanti aku aja yang ngomong."
"Ya udah kalau begitu. Udah malam. Aku masuk dulu ya Mas."
Dara tersenyum sebelum meninggalkan Alex. Setelah itu dia melangkah ke teras depan rumahnya dan masuk ke dalam rumah.
***
"Hei... siapa kamu...!" seru seorang suster pada lelaki bertopeng yang ada di dalam ruangan Bu Vivi.
Lelaki bertopeng itu kemudian berlari pergi meninggalkan ruangan Bu Vivi.
"Hei...jangan lari...! kamu mau jahatin pasien ini ya," ucap Suster sembari berlari keluar dari ruangan Bu Vivi. Suster itu ingin mengejar lelaki bertopeng tadi. Namun lelaki itu sangat kencang sekali larinya.
Suster itu menatap sekeliling.
"Kemana sih, orang yang jagain Bu Vivi."
Pandangan suster tertuju pada sosok tampan yang sedang melangkah mendekat ke arah ruangan Bu Vivi. Suster itu mendekat ke arah Viko.
"Dokter Viko. Dari mana aja anda ini?" tanya suster dengan wajah pucat.
"Ada apa Sus?" tanya Viko." Saya dari kamar mandi."
"Dari kamar mandi?"
"Iya. Ada apa sih? kenapa Suter kelihatannya ketakutan begitu?"
"Tadi saya mau ganti infusnya Bu Vivi. Tapi tadi saya melihat ada seorang lelaki bertopeng di dalam. Saya tidak tidak tahu apa yang mau lelaki itu lakukan pada Bu Vivi. Tapi setelah saya masuk, lelaki itu berlari kabur meninggalkan ruangan Bu Vivi," ucap suster menjelaskan.
__ADS_1
"Apa! lelaki bertopeng."
"Iya Dokter Viko. Mestinya anda dan Pak Alex harus ekstra hati-hati lagi. Saya takut kalau lelaki bertopeng itu akan mencelakai Bu Vivi."
"Iya Sus. Saya akan bicarakan ini pada Alex. Sepertinya memang ada orang yang sengaja ingin mencelakai Tante Vivi."
"Ya udah. Mendingan dokter Viko nunggu di dalam aja. Saya takut lelaki itu akan kembali lagi untuk menjahati Bu Vivi."
"Iya Sus. Kamu sudah ganti infusnya?"
"Belum."
"Ya udah, sekarang kita ke dalam Sus. Kita lihat kondisi Bu Vivi."
Suter kemudian lekas memeriksa Bu Vivi dan mengganti infus. Sementara sejak tadi Bu Vivi masih terlelap.
"Ada lelaki bertopeng. Siapa ya..." ucap Viko.
"Pak Viko, saya sudah mengganti infusnya. Kalau begitu saya permisi dulu."
"Iya Sus. Makasih banyak Ya Sus."
Viko mengambil ponselnya yang ada di saku celananya.
"Aku harus telpon Alex."
Sebelum Viko menekan nomer Alex, pintu ruangan tiba-tiba saja terbuka. Alex muncul dari balik pintu.
Viko buru-buru mendekat ke arah Alex.
"Alex, kenapa kamu lama sekali," ucap Viko menatap Alex lekat.
"Rumah Dara dari sini memang cukup jauh Vik. Dan kebetulan tadi juga ada sedikit kemacetan di jalan."
Alex mengernyitkan alisnya. Dia melihat ada kecemasan dalam wajah Viko.
"Ada apa Vik?" tanya Alex.
"Tadi, ada penyusup masuk ke dalam ruangan mama kamu."
Alex terkejut saat mendengar ucapan Viko.
"Apa! penyusup?"
"Kamu harus lebih hati-hati lagi menjaga mama kamu. Tadi suster lihat ada lelaki bertopeng yang masuk ke dalam ruangan mama kamu. Aku takutnya lelaki itu mau jahatin mama kamu."
"Kamu yakin Vik?"
"Tadi aku tinggal mama kamu ke kamar mandi sebentar. Pas suster masuk ke ruangan mama kamu, ada lelaki bertopeng ada di dalam ruangan ini. Aku rasa, lelaki itu mau mencelakai mama kamu deh"
Alex tampak berfikir.
"Siapa ya lelaki itu. Mungkinkah itu orang suruhannya Rita. Mungkinkah Rita tahu kalau mama aku ada di sini..."
__ADS_1