
Alex, Doni dan ke dua bodyguard sudah sampai di halaman depan rumah Pak Rajasa. Mereka bertiga turun dari mobilnya dan melangkah masuk ke dalam rumah Pak Rajasa.
Alex terkejut saat masuk ke dalam rumah itu. Karena kondisi rumah itu sangat berantakan.
"Ya ampun... apa yang sebenarnya terjadi di rumah ini," ucap Alex sembari menatap sekeliling.
"Jangan-jangan mereka sudah kabur bos," ucap Doni.
"Lalu, kemana semua orang. Kenapa sepi banget begini. Apa jangan-jangan, mereka sudah mencelakai orang-orang yang ada di sini," fikir Alex.
"Don. Ayo kita lihat ke kamar Papa aku. Dan kalian berdua, tunggu di sini, dan tetap jaga-jaga di sini," ucap Alex pada ke dua bodyguardnya.
"Baik Bos," ucap ke dua bodyguard Alex serempak.
Setelah itu Alex dan Doni pun pergi untuk melihat Pak Rajasa di kamar.
Alex dan Doni terkejut saat melihat Pak Rajasa dan Rita di ikat dan di jadikan satu dalam satu ikatan. Mereka duduk saling memunggungi dengan tangan dan kaki yang diikat kencang. Mungkin itu semua karena perbuatan perampok itu.
"Papa. Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Alex sembari mendekat ke arah ayahnya dan Rita.
Alex kemudian membuka ikatan itu. Doni pun tidak tinggal diam. Dia juga ikut membuka Alex melepaskan ikatan itu.
Setelah terlepas dari ikatannya, Rita buru-buru berlari ke arah lemari. Sementara Alex membantu ayahnya untuk berdiri.
"Papa tidak apa-apa kan? mereka tidak melukai papa kan?" tanya Alex sembari membawa Pak Rajasa duduk di sisi ranjang.
"Papa tidak apa-apa. Tapi barang-barang berharga Papa banyak yang hilang. Termasuk perhiasan milik mama kamu juga hilang Alex."
"Ya ampun. Tega banget mereka," ucap Doni.
"Sudah Pa. Nggak usah sedih. Barang-barang berharga bisa di cari dan di beli lagi. Yang penting sekarang keselamatan Papa."
"Huhuhuhu... semua perhiasan aku hilang. Kenapa mereka membawa semua perhiasan aku. Kenapa mereka membawa barang-barang berhargaku..."
Alex, Pak Rajasa, dan Doni menatap ke arah Rita yang masih tampak menangis tersedu-sedu di depan lemari. Semua barang-barang perhiasan mahal milik Rita pun ikutan di bawa oleh perampok itu.
"Auh..." Pak Rajasa memegangi salah satu lengangnya.
"Papa kenapa Pa?" tanya Alex.
"Tadi papa ingin melawan perampok itu. Tapi lengan Papa malah terkena benda tajam," ucap Pak Rajasa sembari memperlihatkan luka goresan yang ada di lengan bagian kirinya.
"Papa harus di obati."
__ADS_1
"Don. Carikan obat luka dan perban Don. Aku harus mengobati luka Papa!" ucap Alex memerintah Doni.
"Baik Bos."
Doni kemudian melangkah keluar dari kamar Pak Rajasa untuk mencari obat-obatan untuk mengobati luka Pak Rajasa.
Doni terkejut saat di ruang makan, ke dua orang wanita masih dalam keadaan tak sadarkan diri. Mungkin mereka pingsan karena perampok itu.
"Ya ampun... kenapa ada orang pingsan di sini. Budi...! Banu...!" seru Doni memanggil ke dua anak buahnya yang ada di depan rumah.
Doni buru-buru berlari ke depan untuk memanggil mereka.
"Banu...Budi... cepat kemari!"
Banu dan Budi kemudian mendekat ke arah Doni.
"Iya Bos. Ada apa?'
"Di ruang makan ada dua pembantu Pak Rajasa pingsan. Tolong kalian urus mereka."
"Baik Bos." Banu dan Budi kemudian masuk ke dalam rumah Pak Rajasa untuk menjalankan perintah dari Doni bosnya.
Sementara Doni masuk kembali untuk mencari obat-obatan untuk mengobati luka-luka Pak Rajasa.
Dara masih tampak cemas. Sejak tadi dia masih mondar-mandir di dalam kamar Bu Vivi.
"Dara. Kamu kenapa sih? dari tadi mondar-mandir terus. Duduklah Dara...!" ucap Ratih yang masih sama-sama ada di dalam kamar Bu Vivi.
"Mudah-mudahan Mas Alex tidak kenapa-kenapa. Aku khawatir banget sama dia. Dari tadi aku telpon Mas Alex nggak di angkat-angkat," gumam Dara.
Ratih dan Bu Vivi bingung saat melihat Dara.
"Dara, ada apa?" tanya Bu Ratih. "Kamu kelihatannya sangat cemas sekali. Ada apa sebenarnya Dara?"
Dara menatap ke arah Bu Vivi.
"Oh, tidak ada apa-apa kok Bu. Aku cuma lagi mikirin adik aku. Tadi aku telpon mereka nggak di angkat-angkat," bohong Dara. Dia tidak mau membuat Bu Vivi cemas. Makanya dia tidak memberi tahu yang sebenarnya pada Bu Vivi.
"Oh. Begitu."
"Ya udah Bu. Dara keluar sebentar ya. Dara mau telpon adik Dara dulu."
"Iya Dara."
__ADS_1
Dara kemudian melangkah pergi meninggalkan kamar Bu Vivi. Sementara Ratih hanya bisa bertanya-tanya dalam hati. Apa yang sebenarnya sedang Dara sembunyikan.
Dara kenapa sih. Kenapa dia jadi aneh begitu.
Ratih bangkit dari duduknya.
"Kamu mau kemana Ratih?"
"Aku mau ke toilet sebentar Bu."
Setelah berpamitan pada Bu Vivi, Ratih kemudian melangkah pergi meninggalkan kamar Bu Vivi. Dia penasaran dengan Dara. Dia kemudian mengikuti kemana Dara pergi.
Dara melangkah ke teras samping yang ada di dekat kolam renang. Dia kemudian mencoba untuk menghubungi Alex.
"Ih... sebel banget deh. Kenapa Mas Alex nggak angkat telpon dari aku sih!" geram Dara.
"Dara," ucap Ratih yang sudah berdiri di belakang Dara.
Dara menoleh ke arah Ratih dan menghadapkan tubuhnya ke arah Ratih.
"Kamu sebenarnya kenapa sih? kenapa kamu jadi aneh banget."
"Aneh banget gimana Mbak."
"Ya tadi kamu mondar-mandir kayak orang cemas begitu."
"Bagaimana aku nggak cemas Mbak. Tuan Alex sekarang tuh lagi ke rumah Pak Rajasa. Katanya di rumah Pak Rajasa itu ada rampok yang membawa senjata tajam."
Ratih yang baru tahu mengenai hal itu terkejut dan langsung membelalakkan matanya.
"Apa! rampok?"
"Iya. Rumah Pak Rajasa itu mau di rampok."
"Ya ampun. Kok bisa begitu ya."
"Ya aku juga nggak tahu. Makanya dari tadi aku nelpon Tuan Alex. Tapi dia nggak angkat-angkat juga telpon dari aku."
"Sebegitu khawatirnya kamu sama Tuan Alex Dara. Apakah kamu sudah mulai suka sama dia?" Ratih menatap lekat manik mata Dara. Berusaha mencari tahu apakah Dara memang sudah jatuh cinta pada Alex.
"Apa! Mbak Ratih ngomong apaan sih. Siapa juga yang suka sama Tuan Alex. Aku nggak suka kok sama dia. Lagian Tuan Alex itu kan Play boy. Dia juga seorang lelaki yang sangat sempurna. Aku sadar dirilah Mbak. Kalau aku nggak pantas buat dia. Jadi mana mungkin aku suka."
"Tapi yang aku lihat-lihat kamu dekat banget sama Tuan Alex. Dan pagi-pagi saja kamu sudah ada di kamarnya Tuan Alex. Apa jangan-jangan semalam kamu itu udah tidur bareng sama Tuan Alex?"
__ADS_1