Gadis Cupu Milik CEO

Gadis Cupu Milik CEO
Penyesalan


__ADS_3

Setelah berpamitan pada Bu Vivi, Dara pun kemudian melangkah ke luar untuk menemui Doni yang sedang mengelap mobil di luar.


"Bang, sudah selesai nyuci mobilnya?" tanya Dara pada Doni.


"Sudah Dara. Kenapa? kamu mau saya antar ke kampus?"


Dara mengangguk "Iya."


"Ya udah. Tunggu ya, aku mau siap-siap dulu."


"Jangan lama-lama ya Bang. Aku udah telat nih."


"Iya."


Setelah cukup lama Dara menunggu Doni, Doni akhirnya menghampiri Dara. Dia kemudian membuka pintu mobil untuk Dara.


"Silahkan Non..."


"Makasih Bang," ucap Dara sembari masuk ke dalam mobilnya.


Setelah Dara masuk, Doni pun mengikuti Dara masuk ke dalam mobil. Setelah itu merekapun meluncur pergi meninggalkan rumah.


"Bang, tahu nggak bang. Kalau Mbak Ratih itu mau pulang kampung," ucap Dara.


"Ratih mau pulang kampung? mau ngapain? dia kan kemarin udah mudik. Masa mau mudik lagi. Apa Ratih lagi ada acara di kampung."


"Memang iya Bang. Katanya Mbak Ratih itu mau nikahan. Dan setelah nikah dia sudah nggak mau kerja di sini lagi."


"Apa! mau nikahan. Dia emang udah punya pacar? terus dia mau nikah sama siapa?"


"Kenapa Bang? kok Bang Doni kelihatan terkejut begitu?"


"Nggak. Nggak apa-apa."


Duh, kenapa Ratih mau pulang kampung. Padahal aku suka sama dia. Dia cantik. Iya sih, aku sudah punya istri. Tapi nggak apa-apa dong, kalau aku suka sama Ratih. Kalau Ratih nggak ada, aku nggak bisa lagi lihat yang bening-bening di rumah ini. Seandainya Ratih mau, aku pun siap menjadikan dia istri ke dua ku.


"Bang, hati-hati Bang. Jangan sambil ngelamun napa Bang nyetirnya. Kok dengar Mbak Ratih mau nikah, Bang Doni jadi galau gitu."


"Siapa yang galau."


Setelah sampai di depan kampus, Doni pun menghentikan laju mobilnya.


"Udah turun Dara, aku mau buru-buru pulang. Mau ngantar calon mertua kamu."


"Siapa? mama?"


"Iya. Siapa lagi."


"Mama mau ke mana emang?"


"Nggak tahu. Biasalah, kegiatannya ibu-ibu. Mau kumpul-kumpul arisan mungkin."


"Ya udah, aku turun dulu ya Bang."


Dara turun dari mobilnya dan masuk ke dalam halaman kampusnya. Dara kemudian melangkah pergi untuk ke kelasnya. Dara menatap sekeliling untuk mencari Syafa. Dia tersenyum saat melihat Syafa.


"Itu Syafa. Aku samperin aja deh," ucap Dara.


Dara kemudian menghampiri Syafa yang sedang duduk di dekat kelasnya.


"Hai Syaf," ucap Dara sembari duduk di dekat Syafa


Syafa menatap Dara.


"Hai.."


"Emang belum masuk?" tanya Dara.

__ADS_1


"Belum. Dosennya nggak ada."


"Hari ini kelasnya Bu Anggi kan?"


"Iya. Bu Angginya ngga masuk.


"Oh. Kenapa ya, Bu Anggi jarang masuk sekarang."


"Bu Anggi memang sudah nggak ngajar di sini lagi."


"Lho, terus yang mau gantiin Bu Anggi siapa?"


"Katanya sih, mau ada dosen baru, yang mau gantiin Bu Anggi."


"Dosen baru?"


"Iya. Dan katanya, dosen barunya itu masih muda dan ganteng banget."


"Emang, kamu sudah pernah lihat dosen baru itu?"


"Nggak sih. Tapi kata anak-anak gitu. Dia cakep banget."


"Oh..." Dara hanya mengerucutkan bibirnya membentuk huruf O


****


Malam ini, Pak Rajasa masih sendiri di dalam kamarnya. Sejak kepergian Rita, Pak Rajasa jadi kesepian. Sejak Rita pergi, sudah tidak ada yang bisa di suruh-suruh lagi.


"Kemana si Rita itu kabur. Dia sudah membawa semua baju-bajunya. Dan polisi sudah kehilangan jejak," ucap Pak Rajasa.


Sebenarnya saya itu sayang sama Rita. Tapi kenapa Rita jahat sekali sama saya. Ternyata dia menikah dengan saya bukan karena cinta. Tapi karena harta. Bagaimana seandainya waktu itu saya menyetujui keinginan Rita untuk memindah nama kan rumah ini atas namanya. Pasti sekarang saya sudah kehilangan rumah ini.


Sejak tadi Pak Rajasa masih kefikiran dengan Rita. Walaupun Rita sudah pergi dari rumahnya, namun Pak Rajasa belum bisa tenang, sebelum Rita di penjara.


Jika Rita dan Martin buron, bisa saja mereka akan mengatur rencana licik lagi untuk menghancurkan keluarga Pak Rajasa.


Suara ketukan pintu sudah terdengar dari luar kamar Pak Rajasa.


Pak Rajasa bangkit dari duduknya dan melangkah pergi untuk membuka pintu.


"Ada apa Lastri?" tanya Pak Rajasa.


"Tuan Rajasa, makan malam sudah siap di meja makan."


"Iya Lastri. Sebentar lagi saya makan."


"Iya Tuan.'


Bik Lastri kemudian melangkah pergi meninggalkan kamar majikannya.


Setelah Bik Lastri pergi, Pak Rajasa kemudian menutup pintu kamarnya dan melangkah untuk ke ruang makan.


Pak Rajasa kemudian duduk di kursi untuk makan malam. Setelah Rita pergi, Pak Rajasa selalu makan sendirian. Tidur pun, dia sendiri. Di saat-saat sendiri, Pak Rajasa jadi teringat dengan Bu Vivi istrinya.


"Vivi, maafkan saya Vi. Karena saya selalu menyakiti hati kamu. Seandainya saya kembali lagi sama kamu, apakah kamu mau menerima saya. Sekarang saya sendiri. Saya menyesal sudah menikahi Rita. Ternyata selama ini saya memelihara ular di rumah saya sendiri. Saya tidak pernah mau mendengarkan kata-kata Alex," gumam Pak Rajasa sembari menatap hidangan yang tersedia di atas meja.


Bik Lastri sejak tadi masih menatap Pak Rajasa dari kejauhan.


"Kasihan Tuan Rajasa. Sejak Nyonya Rita pergi, dia jadi kesepian seperti itu. Kenapa dia nggak ikut ke rumah Tuan Alex saja dan tinggal bersama Tuan Alex di sana," ucap Bik Lastri.


Pak Rajasa mengambil piring dan lekas mencedokan nasi ke dalam piringnya. Dia kemudian mencedokan sayur dan lauk ke dalam piringnya. Setelah itu Pak Rajasa lekas menyuapkan nasi itu ke dalam mulutnya.


Pak Rajasa tiba-tiba saja teringat dengan Dara dan ke dua adiknya Dara.


"Aku kesepian. Seandainya Oca dan Ica mau aku ajak tinggal di sini, pasti aku nggak akan kesepian seperti ini," ucap Pak Rajasa.


Pak Rajasa kemudian mengambil ponselnya yang ada di atas meja. Dia kemudian menekan nomer Dara.

__ADS_1


"Halo..." suara Dara sudah terdengar dari balik telpon.


"Halo Dara, kamu lagi ngapain?"


"Aku lagi di kamar sama adik-adik aku."


"Oh...kalian sudah makan?'


"Sudah Pa tadi. Papa sudah makan?"


"Ini Papa lagi makan."


"Papa sekarang sendirian ya? nggak ada Rita."


"Iya Dara. Papa cuma sama Bik Lastri doang sekarang. Adik kamu mana Dara? papa ingin bicara dengan mereka."


"Oh ini Pa. Papa mau bicara dengan siapa? Oca apa Ica?"


"Siapa aja lah, yang mau bicara dengan Papa."


Dara kemudian menyodorkan ponsel itu ke Ica.


"Nih Ca, Papanya Kak Alex mau bicara dengan kalian."


Ica mengambil ponsel itu dari tangan Dara. Setelah itu dia mengangkat panggilan dari Pak Rajasa.


"Halo Om. Ini Ica Om.


"


"Halo Ca, lagi ngapain kamu?"


"Kita bertiga lagi belajar di kamar Om."


"Oh... belajar yang rajin ya. Biar cepat lulus dan cepat kuliah seperti Kak Dara."


"Iya Om."


"Ca, Om pengin tanya sama Ica. Seandainya Ica tinggal di sini sama Om, apa Ica mau?"


"Tinggal di rumah Om?"


"Iya. Om sendirian di rumah. Om kesepian nggak punya teman."


"Tapi bagaimana sekolah Ica Om. Rumah Om kan jauh dari sekolah Ica. Siapa nanti yang akan ngantar Ica sekolah."


"Ya nanti Om yang akan antar kamu sampai ke sekolah kamu."


"Terus siapa nanti yang akan jemput aku. Emang Om mau bolak-balik antar jemput aku ke sekolah. Kalau di sini kan, kalau Kak Alex nggak bisa jemput ada Bang Doni"


"Di sini juga ada Anton sopir Om. Dia mau kok antar jemput kamu."


"Tapi aku nggak mau pisah sama Oca."


"Ya ajak Oca juga lah untuk tinggal di sini. Bila perlu ajak Kak Dara juga tinggal di sini."


Dara tersenyum. Setelah itu dia mengambil ponsel itu dari tangan Ica.


"Halo Pa, papa mau ngajak kami tinggal di rumah papa. Kenapa papa nggak pindah aja ke sini. Di sini kan ramai Pa."


"Duh, Dara. Papa nggak enak kalau tinggal di situ."


"Nggak enak sama siapa? kan ini rumahnya Mas Alex. Bukan rumah orang lain."


"Iya. Tapi bagaimana dengan ibunya Alex. Dia pasti tidak akan membiarkan papa untuk tinggal di situ."


"Pa, papa dan mama itu kan masih suami istri. Kalian belum cerai. Kenapa kalian nggak tinggal bareng lagi aja."

__ADS_1


"Ah, nggak Dara. Papa juga belum siap menemui ibunya Alex."


__ADS_2