Gadis Cupu Milik CEO

Gadis Cupu Milik CEO
Kedatangan Ratih dan Tari


__ADS_3

Ehhemmm


Alex dan Dara melepaskan genggaman tangan mereka saat mereka mendengar suara deheman seseorang.


Dara dan Alex terkejut saat melihat Ratih dan Lestari sudah berdiri di dekat mereka.


"Mbak Ratih, Mbak Tari, kalian ke sini?" tanya Dara.


Lestari dan Ratih tersenyum.


"Maaf ya Tuan, kalau kedatangan kami ke sini, sudah mengganggu waktu Tuan dengan Dara," ucap Ratih.


"Kalian ke sini kenapa nggak bilang dulu?" tanya Alex.


"Bagaimana kami akan bilang sama Tuan. Nomer Tuan aja dari kemarin nggak aktif," ucap Lestari.


Alex baru teringat dengan handphone nya .


"Oh iya. Aku lupa, kalau ponsel aku dari kemarin itu baterainya habis. Dan belum aku ces. Pasti sudah banyak pesan masuk, dari orang-orang," ucap Alex.


"Tuan, dari kemarin Tuan itu kan belum pulang. Tuan juga kelihatannya cepak banget. Kenapa Tuan nggak pulang dulu aja. Mandi dan ganti baju," ucap Lestari.


"Iya Tuan. Biar saya dan Mbak Tari yang gantian jaga di sini," ucap Ratih.


Alex hanya mengangguk.


"Oh iya. Bagaimana kondisi Bu Vivi?" tanya Lestari.


"Mama belum ada perubahan. Kondisinya semakin memburuk dan sekarang dia koma, hanya keajaiban yang bisa membuatnya terbangun," ucap Alex.


Lestari dan Ratih terkejut saat mendengar ucapan Alex. Dia juga ikut prihatin dengan apa yang sudah menimpa ibunya Alex.


"Ya udah. Tuan pulang aja sekarang. Nanti malam, Tuan bisa ke sini lagi. Di rumah ada Mbak Mirna sama Pak Tino. Makanan, di rumah juga udah Mbak Mirna siapkan Tuan," ucap Lestari.


"Makasih ya," ucap Alex.


Lestari dan Ratih mengangguk.


"Aku mau pulang sekarang. Tapi aku mau ke toilet sebentar," ucap Alex.


Setelah itu dia pun pergi ke toilet meninggalkan Dara, Lestari dan Ratih.


Setelah kepergian Alex, Lestari dan Ratih menatap tajam ke arah Dara. Mereka kemudian mendekati Dara.


"Dara, kamu kok bisa sama Tuan Alex?" tanya Lestari mengapa Dara penuh selidik.


"Iya Dara. Katanya kamu udah nggak mau berhubungan lagi sama Tuan Alex. Sampai-sampai kamu mengundurkan diri dari pekerjaan kamu?" tanya Ratih.


"Awalnya juga gitu Mbak. Tapi dunia ini sempit banget. Aku ketemu Tuan Alex lagi di kantor tempat aku kerja," ucap Dara.

__ADS_1


"Kamu kerja di mana sekarang?" tanya Lestari.


"Aku kerja di kantornya Pak Rajasa ayahnya Tuan Alex sebagai office girl," jawab Dara.


Lestari dan Ratih tidak menyangka dengan ucapan Dara.


"Awalnya aku nggak tahu, kalau Pak Rajasa adalah ayahnya Tuan Alex. Tapi setelah aku kerja di tempatnya, aku ketemu lagi dengan Tuan Alex," ucap Dara menjelaskan.


"Benarkan apa kata aku. Kalau Pak Rajasa yang kamu kenal itu, adalah ayahnya Tuan Alex."


"Kamu kenal Tuan Rajasa di mana?" tanya Lestari.


"Waktu itu, Pak Rajasa sudah menyerempet adik aku dan membawanya pulang. Dan aku nanya kerjaan sama dia. Dan ternyata, dia mau mempekerjakan aku di kantornya. Tapi ternyata Tuan Alex juga sering bolak-balik ke kantor itu," ucap Dara.


Di tengah-tengah percakapan Dara, Ratih, dan Lestari, Alex berjalan menghampiri mereka.


"Itu, Tuan Alex sudah datang," ucap Ratih.


Alex menghampiri ketiga wanita itu.


Tiba-tiba saja Alex meraih tangan Dara.


"Ikut aku pulang Dara," ucap Alex.


Dara terkejut saat mendengar ucapan Alex.


"Apa! pulang?"


Tanpa sepertujuan Dara, Alex buru-buru menyeret tangan Dara dan menggandengnya ke luar dari rumah sakit.


Lestari dan Ratih saling menatap.


"Aku punya feeling, kalau Tuan Alex itu sebenernya suka sama Dara deh," ucap Lestari.


"Masa sih? ah, kamu kayak nggak tahu Tuan Alex saja. Dia itu semua wanita juga disukai. Mau cantik, mau nggak. Yang penting masih muda dia pasti dekatin."


"Tapi nggak Ratih. Aku melihat pandangan Tuan Alex ke Dara itu lain. Dia seperti tulus gitu sama Dara."


"Ah, jangan sampai lah Dara berjodoh dengan orang kayak gitu. Kasihan Dara kalau punya suami playboy. Makan ati terus setiap hari."


"Jangan begitu Ratih. Kita doakan saja agar Tuan Alex bisa berubah dan insyaf jadi playboy. Biar dia mau nikah dan punya anak, seperti harapan Tuan Rajasa dan Nyonya Vivi selama ini."


"Yah, mudah-mudahan saja. Tapi kalau menurut aku, kalau udah wataknya seperti itu, itu akan susah berubahnya Mbak Tari."


****


"Tuan, aku bisa jalan sendiri. Nggak usah di tarik-tarik begini," ucap Dara yang sudah merasakan sakit di bagian pergelangan tangannya.


Alex menghentikan langkahnya dan menatap Dara. Dia kemudian melepaskan genggamannya.

__ADS_1


"Maaf Dara, aku nggak sengaja," ucap Alex.


Dara menatap pergelangan tangannya yang memerah.


"Lihat kan, tangan aku jadi merah begini, kebiasaan banget deh Tuan Alex ini. Suka banget kasar sama aku," gerutu Dara.


"Maaf Dara," Alex meraih tangan Dara dan meniup pergelangan tangannya.


"Emang dengan di tiup-tiup gini bisa mengobati sakitnya," ucap Dara sembari menarik tangannya dari genggaman tangan Alex.


Alex tersenyum.


"Maaf Dara. Aku nggak sengaja. Aku pengin kamu temani aku terus. Karena aku lagi butuh teman, yang bisa menguatkan aku, dalam kondisi seperti ini. Mau kan kamu jadi teman aku?" tanya Alex.


"Mau. Kalau Tuan Alex nggak macam-macam."


"Hehe... Maaf Dara, aku janji aku nggak akan macam-macam sama kamu. Karena aku tahu, kamu itu wanita yang baik."


Dara mengangguk. Setelah itu Dara dan Alex melanjutkan langkahnya untuk sampai ke tempat di mana mobil Alex diparkirkan.


Alex membuka pintu mobil untuk Dara.


"Masuk Dara," ucap Alex mempersilahkan Dara masuk ke dalam mobil.


"Iya. Makasih."


Dara kemudian masuk ke dalam mobil Alex. Begitu juga dengan Alex yang ikut masuk ke dalam mobil. Setelah itu mereka pun meluncur pergi meninggalkan rumah sakit.


Alex dan Dara sejak tadi masih saling diam. Mereka seperti masih larut dalam fikiran mereka masing-masing.


Dara tiba-tiba saja teringat dengan Pak Rajasa.


"Em...Tuan," ucap Dara menatap Alex lekat.


"Ya, kenapa Dara?"


"Bagaimana kondisi ayahnya Tuan ?" tanya Dara.


Alex menatap Dara sejenak sebelum pandangannya fokus kembali ke depan.


"Kamu tenang saja. Karyawan papa di Bali juga banyak. Mereka pasti mau menolong Papa. Di sana papa juga punya Villa. Dan banyak orang yang kerja di vila papa. Mereka semua juga pasti mau bantuin papa."


"Oh." Dara manggut-manggut tampak mengerti.


Beberapa saat kemudian, Alex dan Dara sudah sampai di depan rumah Alex.


Tin tin tin...


Alex membunyikan klakson mobilnya setelah dia sampai di depan gerbang rumahnya.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, Pak Tino mendekat ke arah gerbang dan membuka gerbang rumah Alex. Alex melajukan kembali mobilnya sampai ke garasi rumahnya.


Alex dan Dara kemudian turun dari mobil.


__ADS_2