
"Tumben amat sih, malam-malam gini macet," ucap Pak Rajasa sembari menatap ke depan.
"Ngga tahu nih Tuan ada apa..." Anton juga bingung. Baru kali ini jam sembilan malam terjadi kemacetan di jalan.
Sejak tadi Anton dan Pak Rajasa masih menggerutu karena kemacetan lalu lintas di jalan raya. Mereka masih terjebak di tengah-tengah jalan raya karena kemacetan lalu lintas.
Sudah dari jam sembilan Anton , Dara dan Pak Rajasa keluar dari cafe. Namun, sampai jam sepuluh mereka masih berada di jalan raya.
Setelah lampu hijau menyala, Anton pun kembali melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang. Pak Rajasa yang sekarang sudah duduk di depan, menatap Dara dari sepion kaca mobil. Dia tersenyum saat melihat Dara sudah terlelap di jok belakang mobil.
"Kasihan dia. Pasti Dara kelelahan. Dia nyenyak banget begitu tidurnya," ucap Pak Rajasa.
"Dara aja yang nggak nyetir capek apalagi saya Tuan yang nyetir," ucap Anton.
Pak Rajasa tersenyum dan menepuk-nepuk bahu Anton.
"Yang sabar ya Ton."
"Iya Tuan. Supir itu memang harus ekstra sabar menghadapi kemacetan seperti ini."
"Itu di depan, sepertinya ada jalan yang sedang diperbaiki. Makanya macet, untunglah mobil kecil, masih bisa lewat sini," ucap Pak Rajasa.
"Iya Tuan. "
Anton masih fokus menyetir. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang hingga akhirnya dia sampai di depan rumah Dara.
Pak Rajasa dan Anton menatap ke teras depan rumah Dara. Dua orang lelaki sudah tampak tergeletak di atas kursi panjang yang ada di teras depan rumah Dara.
"Lho, mereka siapa. Kok mereka tidur di depan rumah Dara," ucap Pak Rajasa.
"Mungkin saudaranya Dara Tuan," sahut Anton.
"Saudaranya Dara? perasaan Dara nggak punya saudara laki-laki yang tinggal di dekat sini deh."
"Mungkin tukang ronda malam yang kelelahan."
"Mungkin ya Ton."
Pak Rajasa tidak tahu saja kalau yang tidur dengan berselimutkan sarung itu adalah anaknya sendiri dan Doni. Mereka tidur di teras depan rumah Dara, memang sengaja mau menunggu Dara pulang.
"Saya mau bangunin Dara dulu Ton. Kasihan dia," ucap Pak Rajasa.
"Iya Tuan."
Sebelum turun dari mobilnya, Pak Rajasa kemudian membangun kan Dara. Dia menepuk-nepuk pipi Dara.
"Dara, ayo bangun Dara. Sudah sampai nih Dara," ucap Pak Rajasa.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Dara mengerjapkan matanya. Dia menatap Pak Rajasa dan mulai menegakan tubuhnya.
Hoaammm...
"Sudah sampai ya Pak?" tanya Dara pada Pak Rajasa.
"Iya Dara. Ayo kita turun! " Pak Rajasa mengajak Dara turun.
Dara mengangguk. "Iya Pak. Jam berapa ini Pak?"
"Jam sepuluh lebih Dara."
Dara menatap ke depan. Dia terkejut saat melihat ada dua orang lelaki yang tidur di kursi depan rumahnya.
"Kok ada orang tidur di situ. Siapa ya. Apa jangan-jangan itu teman-temannya Ica dan Oca," gumam Dara.
"Nggak tahu Dara itu siapa. Saya sampai ke sini, sudah ada dua orang itu," ucap Pak Rajasa.
Dara buru-buru turun dari mobilnya dan melangkah mendekat ke arah dua orang itu. Begitu juga dengan Pak Rajasa. Dia juga tampak penasaran dengan dua lelaki itu.
Dara terkejut saat melihat Doni dan Alex. Mereka tampak sangat nyenyak sekali tidurnya.
Ya ampun, ternyata yang tidur di sini, Mas Alex sama Bang Doni. Kenapa mereka bisa tidur di sini sih.
Pak Rajasa mendekati Dara.
Pak Rajasa terkejut saat menatap dua orang lelaki itu yang tak lain adalah Alex dan Doni.
"Alex, Doni. Kok mereka bisa tidur di sini?" ucap Pak Rajasa.
"Aku juga nggak tahu Pak kenapa mereka tidur di luar seperti ini."
"Mungkin mereka nungguin kamu pulang Dara."
"Mungkin."
Pak Rajasa buru-buru membangunkan Alex dan Doni. Membuat mereka gelagapan dan terbangun.
"Alex, Doni... bangun ...!"
Alex dan Doni terbangun. Setelah itu mereka duduk. Alex mengucek matanya saat melihat ada Dara di depannya. Dia bangkit dari duduknya dan langsung memeluk Dara.
"Dara, akhirnya kamu pulang juga, aku dari tadi nungguin kamu Dara," ucap Alex sembari memeluk Dara sangat erat.
Dara bingung dengan sikap Alex. Dara mencoba untuk melepaskan pelukan Alex karena dia malu, dilihatin Pak Rajasa dan Doni.
"Mas Alex lepasin. Lepaskan aku Mas...!" ucap Dara.
__ADS_1
"Alex, lepaskan Dara!" ucap Pak Rajasa.
Alex terkejut dan langsung melepaskan pelukannya saat dia mendengar suara ayahnya. Dia kemudian menatap ayahnya yang saat ini sudah berdiri di samping Dara.
"Alex, kenapa kamu ada di sini? apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Pak Rajasa menatap Alex tajam.
"Em papa kok bisa ada di sini, sejak kapan papa di sini?" tanya Alex.
"Alex, Doni. Udah malam, kenapa kalian malah masih keluyuran di sini. Bukannya pulang ke rumah dan tidur. Malu-maluin saja kamu Alex."
"Pa, aku nggak mau pulang Pa. Aku memang sengaja di sini untuk nunggu Dara. Aku mau bicara sama dia," ucap Alex.
"Maaf Mas, aku udah ngantuk dan capek. Kalau mau bicara nanti aja. Aku mau langsung masuk ke dalam," ucap Dara.
Sepertinya Dara masih marah dengan Alex. Dia belum bisa melupakan kejadian tadi siang.
"Iya Dara. Masuklah ke dalam. Jangan ngurusin Alex. Dia itu malu-maluin saja!" ucap Pak Rajasa.
"Iya Pak Rajasa. Aku masuk dulu ya Pak."
"Iya Dara. Selamat malam."
Tanpa banyak bicara, Dara kemudian masuk ke dalam rumahnya. Dia langsung mengunci pintu rumahnya.
"Dara tunggu Dara..." Alex langsung mengejar Dara. Namun Dara sudah keburu menutup pintu rumahnya.
"Dara, buka pintunya Dara. Aku mau bicara sama kamu," ucap Alex sembari ke dua tangannya memegangi pintu.
"Alex, sudah kita pulang. Jangan seperti anak kecil kamu Alex. Dara itu sudah capek dan lelah. Biarkan dia istirahat. Kamu jangan ganggu dia. Kalau mau bicara kan bisa besok pagi," ucap Pak Rajasa.
Alex menatap ayahnya tajam. Dia benar-benar tidak suka jika ayahnya mengatur-ngaturnya seperti anak kecil.
"Alex, sudah malam. Besok kamu harus ke kantor kan. Besok kamu datang ke kantor Papa. Karena besok akan ada meeting dengan klien penting," ucap Pak Rajasa.
"Hah, meeting lagi. Pa, kenapa meeting terus sih."
"Alex, Papa mau membangun cabang perusahaan baru. Dan sebentar lagi, cabang itu akan diresmikan. Makanya Papa sengaja mengundang klien penting Papa dan rekan bisnis Papa untuk membahas masalah ini. Kamu juga harus ikut meeting dong. Karena kamu juga sudah terikat dengan kerja sama ini."
"Iya Pa."
Alex menatap Doni.
"Ayo Don. Kita pulang sekarang," ajak Alex.
"Iya Bos. Siap!"
Alex melangkah mendekati mobilnya. Setelah itu dia masuk ke dalam mobilnya. Dengan sigap, Doni pun mengikuti Alex masuk. Setelah itu mereka berdua meluncur pergi meninggalkan rumah Dara.
__ADS_1
Pak Rajasa hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah anaknya. Setelah itu Pak Rajasa pun masuk ke dalam mobilnya dan meluncur untuk pulang ke rumahnya.