Gadis Cupu Milik CEO

Gadis Cupu Milik CEO
Malam yang romantis


__ADS_3

"Dara, apa yang sedang kamu fikirkan?" tanya Alex sembari mengangkat dagu Dara dan menghadapkan dagu Dara ke wajahnya.


"Dara, kenapa kamu sedih?" tanya Alex.


"Mas Alex, jangan suka bercanda seperti itu. Aku nggak suka."


"Bercanda apa Dara? siapa yang bercanda?"


"Itu tadi. Jodoh jodoh, apa sih maksudnya."


"Oh itu. Hehe... lah emang kenapa? aku kan cuma lagi berandai-andai. Andai kita berjodoh..."


"Terus kalau kita berjodoh Mas Alex mau apa?"


"Ya mau langsung nikahin kamu, biar kamu cepat punya anak dan mama bisa cepat dapat cucu."


"Apa! aku nggak mau punya anak dulu. Aku masih muda, dan aku masih pengin kuliah. Aku belum mau direpotin anak."


"Tapi aku pengin cepat punya anak. Seandainya kita berjodoh, aku mau punya banyak anak Dara. Kalau kamu nggak mau punya anak, aku akan paksa kamu untuk cepat hamil. Kalau kamu masih ingin kuliah, aku nggak akan melarangnya. Kamu bisa kuliah dan anak-anak kita sama suster-susternya."


Tiba-tiba saja fikiran Dara menerawang jauh ke masa depan. Dia berkhayal seandainya dia menikah dengan Alex dan punya banyak anak.


Seandainya ucapan Mas Alex benar-benar jadi kenyataan, aku menikah sama dia dan punya banyak anak, nggak kebayang deh bagaimana repotnya aku. Apa lagi jika aku kuliah, harus ngurusin anak dan skripsi. Sementara Mas Alex enak-enakan kencan sama pacar-pacarnya.


"Agggghhhh... tidak....!"


Alex terkejut dan langsung menutup telinganya rapat-rapat saat mendengar teriakan Dara.


"Dara, kenapa kamu teriak?" tanya Alex.


Dara menyeringai. "Maaf Mas. A-aku nggak apa-apa kok Mas."


"Bagaimana Dara, apa kamu mau nikah sama aku?" tanya Alex.


"Nggak...! aku nggak mau nikah sama kamu!" Dengan tegas Dara menolak Alex.


"Lho, kenapa Dara?"


"Karena Mas Alex cuma bercanda dan hanya bisa mengandai-andai. Mas Alex itu nggak pernah serius sama wanita. Bagaimana aku bisa percaya sama Mas Alex."


Alex meraih tangan Dara dan menggenggamnya erat.

__ADS_1


"Tapi aku mau serius sama kamu."


"Bohong. Aku nggak percaya."


"Dara, aku nggak bohong. Aku mau kita nikah."


"Tapi aku nggak mau nikah kalau Mas Alex masih jadi playboy. Aku nggak akan sanggup jika punya suami yang suka gonta-ganti pacar dan suka jajan di luar," ucap Dara.


Alex menghela nafas dalam. Dia tahu, kalau dia masih belum memutuskan pacar-pacarnya. Namun jika Dara mau menerima Alex, Alex sudah berjanji pada dirinya sendiri kalau dia akan berubah. Dia akan memutuskan semua pacar-pacarnya dan berhenti menjadi playboy.


"Dara, dengerin aku dan tatap aku Dara," ucap Alex yang sudah menampakkan wajah seriusnya.


Dara mencoba menatap manik mata Alex.


"Dara, sejak aku pertama kali melihat kamu, aku sudah mulai tertarik sama kamu. Aku fikir, aku hanya sebatas kagum saja dengan kamu yang unik."


"Unik gimana?"


"Yah, kamu beda dari wanita yang lain Dara. Penampilan kamu, kesederhanaan kamu, kerja keras kamu, sifat-sifat kamu, semuanya yang ada di dalam diri kamu, membuat aku kagum Dara."


Alex sejak tadi masih menatap Dara tanpa berkedip. Sementara Dara, hanya bisa mendengar apa saja ucapan yang keluar dari bibir Alex. Walau sebenarnya Dara gugup, tapi sejak tadi Dara berusaha untuk menutupi kegugupannya itu.


"Mas Alex serius dengan ucapan Mas Alex? atau Mas Alex hanya bercanda saja. Aku nggak mau Mas Alex memberikan aku harapan palsu. Aku nggak mau sampai jatuh cinta pada lelaki yang cintanya hanya cinta palsu."


"Dara, aku serius dengan ucapan aku. Rasanya aku sudah menemukan wanita yang tepat untuk menjadi ibu dari anak-anakku. Dara, apakah kamu mau jadi istri aku?" tanya Alex.


Kali ini, Alex tidak main-main dengan ucapannya. Karena Alex sudah terlanjur sayang sama Dara. Alex sudah percaya dan sudah melihat sendiri ketulusan


Dara.


Dara mau siang malam berada di rumah sakit menemani Bu Vivi. Dan sekarang, Dara juga rela meninggalkan adik-adiknya demi membantu Alex menjaga dan merawat Bu Vivi yang sedang sakit.


Dara melepas genggaman tangan Alex dan bangkit dari duduknya.


"Aku nggak bisa jawab sekarang Mas. Seandainya Mas Alex serius, aku akan fikirkan ini dulu Mas."


"Baiklah Dara. Aku nggak akan maksa kamu untuk jawab sekarang," ucap Alex sembari berdiri dan mendekati Dara.


Dara menghadapkan tubuhnya ke arah Alex.


"Mas Alex, aku nggak mau menerima Mas Alex, jika saja Mas Alex itu masih bermain wanita. Mungkin, aku akan pertimbangkan, seandainya Mas Alex sudah putuskan semua pacar-pacar Mas Alex itu."

__ADS_1


"Maksud kamu?"


"Kalau Mas Alex mau berhenti jadi playboy. Mungkin aku bisa pertimbangkan keputusan aku untuk menerima Mas Alex. Namun seandainya Mas Alex belum bisa meninggalkan pacar-pacar Mas Alex itu, aku nggak bisa menerima Mas Alex untuk jadi suami aku."


Alex tersenyum.


"Baiklah. Kalau kamu perlu bukti, aku akan putusin semua pacar-pacar aku demi kamu Dara. Aku janji akan menjadikan kamu ratu di hati aku. Aku janji, akan menjadikan kamu wanita satu-satunya di dalam hati aku.


"Ya, aku perlu bukti Mas bukan hanya sekedar janji."


"Ya, aku akan buktikan ke kamu kalau aku sayang sama kamu. Dan aku akan putusin semua pacar aku demi kamu. Karena aku lelah membujang terus. Aku sudah ingin memikirkan punya istri dan punya anak."


Alex menatap Dara yang sejak tadi masih mengusap-usap ke dua lengannya.


"Dara, kamu kenapa?" tanya Alex.


"Aku kedinginan Mas."


"Jadi dari tadi kamu kedinginan? kenapa kamu nggak bilang sama aku Dara," ucap Alex.


Alex kemudian membuka jaketnya dan memakaikan jaket itu ke tubuh Dara.


"Kalau tahu dingin, kenapa kamu nggak pakai jaket. Kalau kamu pengin di luar malam-malam gini, kamu harus pakai jaket."


"Makasih ya Mas."


"Sudah malam Dara, ayo kita masuk!"


"Iya Mas."


Alex merangkul bahu Dara dan mengajak Dara masuk ke dalam rumahnya.


Di sisi lain, Bu Vivi hanya tersenyum.


"Anakku Alex, semakin hari semakin dekat saja sama Dara, apa sebenarnya mereka itu memang sudah saling suka," ucap Bu Vivi.


Setelah lama Bu Vivi membuka korden jendelanya, Bu Vivi kemudian menutup korden itu lagi. Dia melangkah ke arah tempat tidurnya dan naik lagi ke atas tempat tidur itu.


Bu Vivi berbaring di atas tempat tidur dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


Semakin hari, kondisi Bu Vivi semakin membaik. Namun, ingatannya yang belum seratus persen pulih.

__ADS_1


__ADS_2