Gadis Cupu Milik CEO

Gadis Cupu Milik CEO
Pinjaman yang dulu


__ADS_3

Bu Ani terdiam setelah menceritakan pada Alessa bagaimana dulu Alex membawanya ke panti asuhan itu.


"Jadi, bunda nggak tahu siapa ibu kandung aku?" tanya Alessa.


"Iya Alessa. Kalau kamu mau tanya siapa ibu kandung kamu, kamu harus tanya langsung sama Pak Alex."


Alessa manggut-manggut mengerti.


"Iya Bunda."


****


Pagi-pagi Dara sudah berada di dapur bersama Mbak Mirna, Lestari, dan Ratih. Seperti biasa Dara selalu membantu pekerjaan ketiga pembantu Alex itu.


Ratih mendekat ke arah Dara.


"Non Dara, ada sesuatu yang mau aku bicarakan sama Non Dara," ucap Ratih.


Dara mengernyitkan alisnya.


"Ada apa Mbak Ratih?" tanya Dara.


"Non, kita bicara di belakang aja yuk!"


Dara mengangguk. Setelah itu dia pun mengikuti Ratih ke halaman belakang rumah.


"Non Dara, mungkin saya sudah nggak akan lama kerja di sini," ucap Ratih.


Dara terkejut saat mendengar ucapan Ratih.


"Maksud Mbak Ratih?" tanya Dara.


"Satu minggu lagi saya mau pulang kampung Non.Dan mungkin, saya sudah tidak akan kerja di sini lagi."


"Mau ngapain pulang kampung? bukankah lebaran kemarin sudah pulang kampung. Dan untuk apa berhenti kerja?"


"Sebenarnya saya juga sayang kalau harus berhenti kerja dari rumahnya Tuan Alex. Saya sudah lama kerja di sini, dan saya juga sudah menganggap keluarga Tuan Alex seperti keluarga saya sendiri. Tapi sepertinya setelah saya nikah, saya tidak akan diperbolehkan lagi untuk kerja oleh suami saya."


Dara tersenyum.


"Jadi maksudnya, Mbak Ratih pulang kampung mau nikahan?"


"Iya Non Dara. Saya mau pulang kampung karena saya mau nikahan."


" Ya ampun. Ternyata Mbak Ratih mau nikah. Selamat ya Mbak kalau begitu. Semoga aku dan Mas Alex bisa cepat-cepat nyusul Mbak Ratih nikah."


Ratih tersenyum.


"Saya doain hubungan kamu dan Tuan Alex semoga langgeng sampai hari pernikahan."


"Amin," ucap Dara. "Oh iya. Mbak Ratih tunggu di sini dulu ya. Aku mau ambil sesuatu di kamar."


"Iya Non."


Tanpa banyak bicara Dara pergi meninggalkan Ratih. Sementara Ratih masih berdiri di halaman belakang rumah untuk menunggu Dara.


"Dara mau ngambil apa ya," gumam Ratih penasaran.


Beberapa saat kemudian, Dara mendekat ke arah Ratih dengan membawa amplop coklat yang berisi uang.

__ADS_1


"Mbak, ini hutang aku yang dua juta. Aku lupa terus mau memberikannya ke Mbak," ucap Dara sembari memberikan amplop coklat itu pada Ratih.


Ratih tersenyum.


"Duh, Non. Sebenarnya, saya itu ikhlas membantu Non Dara waktu itu.Saya pun sudah lupa dengan hutang yang dua juta itu. Nggak usah dikembalikan sebenarnya juga ngga apa-apa."


"Mbak Ratih kan mau nikahan, pasti Mbak Ratih butuh biaya banyak. Yah, walaupun itu nikah di kampung, tapi tetap aja butuh biaya kan. Uang dua juta itu kan bisa Mbak Ratih gunakan untuk tambahan ongkos pernikahan."


"Makasih ya Non Dara."


"Duh, Mbak Ratih ini. Kenapa selalu panggil aku Non sih. Panggil biasa aja kenapa Mbak."


"Kamu kan tunangannya Tuan Alex, calon istrinya Tuan Alex. Saya harus panggil kamu Non dong. Kalau saya cuma panggil Dara aja, gimana nanti kalau saya di marahin Tuan muda."


Dara tersenyum.


"Terserah Mbak Ratih aja sih. Jadi hari apa Mbak Ratih pulang?" tanya Dara.


"Mungkin hari minggu Non."


"Oh iya. Mbak Ratih, nanti kalau nikahan undang aku dan Mas Alex juga dong. Aku pengin lihat kampungnya Mbak Ratih. Aku pengin lihat suasana kampung itu seperti apa. Aku itu kan nggak punya kampung."


"Iya nanti aku undang Non Dara dan Tuan Alex. Tapi kalau menurut aku, Tuan Alex nggak akan mau deh, menghadiri pernikahan aku. Dia itu kan orang sibuk. Seandainya dia mau menghadiri pernikahan aku, berarti aku spesial banget dong untuk keluarganya orang besar seperti Tuan Alex."


Di tengah-tengah obrolan Dara dan Ratih. Tiba-tiba saja seruan Alex terdengar.


"Dara... Dara..."


"Eh Mbak. Tuan Alex sudah manggil aku. Aku masuk ke dalam dulu ya."


"Iya Non."


"Mas,"


"Dari mana aja sih. Aku nyariin kamu dari tadi."


"Kamu sudah siap mau berangkat ke kantor ya Mas?" tanya Dara yang melihat Alex sudah tampak rapi.


"Iya. Kamu kenapa belum siap-siap?"


"Maaf Mas, aku belum mandi"


"Gimana sih. Katanya mau berangkat bareng. Aku ada meeting penting nih pagi ini."


"Meeting melulu sih Mas perasaan."


"Yah, gimana lagi. Namanya juga kantor. Coba kamu yang kerja di kantor."


"Nggak. Aku nggak mau kerja di kantor. Aku lebih suka kerja di dapur. Masak, dan buat kue."


"Kamu mau kuliah kan?"


"Iya."


"Ya udah sana mandi. Aku tunggu kamu di ruang makan."


Dara mengangguk. Dia kemudian pergi untuk ke kamarnya. Sementara Alex kembali ke ruang makan, di mana ibu dan ke dua adik Dara sudah berkumpul.


"Mana Dara Alex? dia mau ikut sarapan bareng nggak?" tanya Bu Vivi.

__ADS_1


"Dara tadi belum mandi Ma. Nggak tahu dia di belakang lagi ngapain."


Bu Vivi menatap Ica dan Oca bergantian.


"Kalian kenapa nggak ambil nasi?" tanya Bu Vivi pada ke dua adiknya Dara.


"Kami mau nungguin Kak Dara," jawab Oca.


"Kak Dara baru mau mandi. Ini sudah hampir jam tujuh. Kak Dara nggak usah ditungguin. Kalian makan duluan aja. Nanti kalian telat lho," ucap Bu Vivi lagi.


Ica dan Oca saling menatap.


"Baiklah."


Alex, Bu Vivi, Ica dan Oca kemudian makan tanpa Dara. Sementara Dara masih bersiap-siap di dalam kamarnya.


Setelah Alex menghabiskan makanannya, Alex menatap jam tangannya.


"Duh, udah jam tujuh lebih. Aku kan sudah ada janji sama orang. Jam setengah delapan aku sudah harus sampai kantor. Tapi kenapa Dara lama sekali," gumam Alex.


Alex sejak tadi masih tampak resah menunggu Dara.


"Kenapa Alex?" tanya Bu Vivi.


"Sebenarnya aku ada janji sama orang Ma, jam setengah delapan aku sudah harus sampai kantor. Dan ini sudah jam tujuh lebih."


"Ya udah, Ica dan Oca juga kan mau berangkat sekolah. Pasti dia nanti terlambat. Sudah sana. Nggak usah ditungguin Daranya. Biar dia berangkat sendiri aja. Kalian bertiga berangkat duluan aja," ucap Bu Vivi.


Oca dan Ica bangkit dari duduknya. Setelah itu dia menatap Alex dan Bu Vivi bergantian.


"Kita tinggalin aja Kak Dara," ucap Ica.


"Iya. Lama sekali Kak Dara," Oca menimpali.


"Ya udah, kalian ikut Kak Alex ya. Biar Kak Dara di antar Doni nanti," ucap Alex pada ke dua adik Dara.


Ica dan Oca mengangguk.


"Iya Kak Alex," ucap mereka kompak.


Setelah berpamitan pada Bu Vivi, Ica, Oca dan Alex kemudian melangkah pergi meninggalkan rumah.


Setelah Alex dan ke dua adik Dara pergi, Dara berlarian menuruni anak tangga.


"Lho, Ma. Kok sepi. Kemana Mas Alex dan ke dua adik aku?" tanya Dara menatap sekeliling.


"Mereka sudah berangkat tadi."


"Yah, kok aku ditinggalin."


"Makanya, dandannya jangan kelamaan."


"Aku lagi nyari buku tadi Ma. Semalam aku lupa ngerjain tugas."


Bu Vivi hanya geleng-geleng kepala.


"Ya udah kamu berangkat sama Doni aja sana. Tuh, Doni sudah siap di depan."


"Iya Ma."

__ADS_1


Dara kemudian mencium punggung tangan Bu Vivi. Setelah itu dia pun melangkah pergi meninggalkan rumah.


__ADS_2