
"A-apa? kamu mau ketemu aku? aku nggak bisa sayang."
"Kenapa nggak bisa. Kamu emang ada di mana sekarang?"
"Aku lagi ada di..."
"Mas. Ayo katakan. Kamu lagi ada di mana? apa jangan-jangan, kamu lagi sama cewek ya."
"Nggak. Aku nggak lagi sama cewek. Aku lagi di rumah sayang."
"Ya udah. Aku mau ke sana sekarang."
Tut Tut Tut.
Desi mematikan saluran telponnya dengan sepihak. Alex hanya bisa bengong di tempat.
"Duh, ngapain Desi ke sini. Bagaimana kalau dia lihat Dara lagi. Bisa salah sangka lagi dia sama aku," gumam Alex.
Alex kemudian meletakkan ponselnya kembali dan mulai berfikir.
"Kalau aku usir Dara dari sini, itu nggak mungkin. Apa aku suruh dia sembunyi aja ya," ucap Alex.
Alex kemudian keluar dari kamarnya. Dia melangkah turun ke lantai bawah untuk menghampiri Dara.
Alex melangkah ke ruang makan. Namun Dara sudah tidak ada di ruang makan.
"Duh, kemana gadis itu."
Alex melangkah ke depan. Namun Dara tidak ada di depan. Alex kemudian kembali berjalan ke ruang makan dan ke dapur. Dia melihat Dara sedang mencuci piring.
"Dara," ucap Alex.
Dara menoleh ke arah Alex.
"Kamu lagi ngapain?" tanya Alex.
"Aku lagi cuci piring Tuan."
"Kenapa kamu yang harus cuci piring. Itu kan bukan tugas kamu. Tapi tugasnya Mbak Mirna."
"Nggak apa-apa Tuan. Aku cuma mau bantu-bantu Mbak Mirna saja."
"Ya udah. Aku mau juga dong, bantuin kamu."
Dara terkejut saat mendengar ucapan Alex.
"Apa! bantuin aku cuci piring? Tuan Alex serius?"
"Iya. Aku serius."
Alex kemudian mendekat ke arah Dara. Dia kemudian membantu Dara cuci piring.
'Aneh banget sih, Tuan Alex. Kenapa dia mau cuci piring.' batin Dara.
Dara masih serius mencuci piring. Sementara Alex sejak tadi, hanya bisa menatap Dara lekat.
Prang...
Alex terkejut saat piring yang di pegangnya itu terjatuh ke bawah dan pecah berkeping-keping.
"Tuan Alex, kenapa di jatuhkan piringnya?" tanya Dara.
__ADS_1
Dara berjongkok untuk membersihkan pecahan piring itu.
"Jangan Dara. Nanti pecahan piring itu kena tangan kamu," ucap Alex.
Dara mendongak menatap Alex lekat.
"Tidak apa-apa Tuan. Aku udah biasa kok, beresin piring pecah."
Alex kemudian ikut berjongkok di depan Dara. Tiba-tiba saja Dara memekik saat tangannya terkena pecahan kaca itu.
"Auh..."
"Dara, kamu nggak apa-apa?" tanya Alex sembari meraih tangan Dara.
Dengan sigap, Alex langsung mengulum jari telunjuk Dara yang berdarah.
"Aku bilang apa Dara. Jangan beresin, biar Mbak Marni saja yang beresin. Jadi kena tangan kamu kan. Lihatlah tangan kamu berdarah," ucap Alex. Dia kemudian kembali memasukan jari telunjuk Dara ke dalam mulutnya.
Dara terkejut saat melihat sikap Alex yang begitu perhatian padanya. Dara masih menatap lekat wajah Alex.
Denyut jantungnya berdegup lebih kencang, hatinya berdesir seperti ada sesuatu yang berbeda dalam dirinya saat ini. Mungkinkah itu cinta?
Alex membalas tatapan Dara. Mereka saling menatap begitu lama. Membuat Mbak Mirna terkejut saat melihat mereka.
Apa yang mereka lakukan di sini? kenapa mereka cuma tatap-tatapan seperti itu. Duh, kenapa dapurnya semakin berantakan. Piring juga kenapa bisa sampai pecah, kerjaan lagi nih buat aku.
Ting tong...
Suara bel tiba-tiba saja berbunyi. Mbak Mirna kemudian melangkah ke ruang tamu untuk melihat siapa yang datang.
Mbak Mirna membuka pintu depan. Dia terkejut saat melihat kedatangan seorang wanita.
"Oh, cari Tuan Alex ya?"
"Iya. Aku mau ketemu sama dia."
"Tunggu sebentar ya Non, saya panggilkan."
Mbak Mirna kemudian berjalan ke dapur untuk memanggil majikannya.
"Tuan Alex, maaf mengganggu," ucap Mbak Mirna yang membuat Alex dan Dara terkejut.
"Ada apa Mbak?" tanya Alex.
"Itu Tuan. Ada wanita yang nyariin Tuan."
Duh, pasti itu Desi deh. Cepat banget dia nyampe.
Alex menatap Dara.
"Dara, kamu jangan kemana-mana ya. Aku mau temui tamu aku dulu."
"Iya Tuan."
"Ingat ya Dara. Jangan sampai Desi lihat kamu ada di sini. Kalau dia sampai lihat kamu, aku bakal marah sama kamu."
Dara mengangguk. Dia hanya bisa mengiyakan saja ucapan Alex.
Alex kemudian berjalan ke ruang tamu untuk menemui Desi.
"Sayang..." ucap Desi. Dia melangkah dan mendekat ke arah Alex.
__ADS_1
Desi tiba-tiba saja memeluk Alex.
"Mas Alex, dari mana aja kamu dua hari ini. Aku kangen sama kamu Mas. Aku pengin selalu ada di dekat kamu terus seperti ini."
"Iya sayang. Aku juga kangen."
Di sisi lain, Dara hanya bisa melamun sembari menatap jari telunjuknya.
Tuan Alex, sudah benar-benar membuat aku resah seperti ini.
Mbak Mirna menepuk bahu Dara. Menyadarkan Dara dari lamunannya.
"Eh, kenapa malah ngelamun. Kamu dan Tuan Alex lagi ngapain di sini?" tanya Mbak Mirna.
"Mbak Mirna. Siapa tadi yang datang?" tanya Dara.
"Cewek yang datang."
"Siapa namanya?"
Mbak Mirna menggeleng.
"Mbak juga nggak tahu Dara. Tapi dia cantik."
Siapa sih yang datang.
Dara yang penasaran, kemudian buru-buru ke ruang tamu untuk melihat wanita siapa yang datang. Sementara Mbak Mirna hanya bisa geleng-geleng kepala saat melihat sikap Dara.
"Kayaknya Dara sudah mulai suka nih, sama Tuan Alex. Duh, ini nggak bisa dibiarkan. Bisa-bisa nanti dia sakit hati lagi sama Tuan Alex," gumam Mbak Mirna.
Mbak Mirna kemudian lekas membereskan dapur dan membereskan pecahan piring itu. Sementara Dara sudah sampai di ruang tamu. Dia masih berdiri di balik dinding. Melihat Alex dan Desi yang tampak sedang bermesraan.
"Ih, dasar lelaki buaya. Menyebalkan sekali sih. Tadi dia bilang dia ingin bertaubat. Sekarang, dia malah mesra-mesraan seperti itu. Ih... menyebalkan sekali dia," gumam Dara.
Dara yang sudah tidak tahan melihat Alex dan Desi, kemudian pergi lewat pintu belakang. Tampaknya dia tidak suka melihat Alex dengan wanita lain.
"Ih, kenapa aku harus kesal coba melihat Tuan Alex dan wanita itu. Aku nggak mungkin kan cemburu sama Tuan Alex. Aku kan nggak suka sama dia. Aku malah muak melihat dia," gerutu Dara sembari pergi meninggalkan rumah Alex.
"Mbak Dara, mau ke mana?" tanya Pak Tino menghampiri Dara.
Dara menghentikan langkahnya.
"Pak Tino. Ada apa?"
"Mbak Dara mau pulang?" tanya Pak Tino.
"Iya. Aku mau pulang. Lalu, aku mau ngapain lagi di sini. Lagian aku juga masih banyak kerjaan di rumah."
"Oh. Gitu ya. Ya udah Mbak Dara. Hati-hati ya di jalan."
Dara mengangguk. Setelah itu dia melangkah keluar dari rumah besar Alex.
Alex tampak masih memikirkan Dara. Padahal sejak tadi dia masih bermesraan dengan Desi.
"Des, kamu tunggu di sini dulu ya," ucap Alex.
"Mau ke mana sayang?" tanya Desi.
"Aku mau panggil Mbak Mirna. Mau nyuruh dia buatin minuman untuk kita."
"Oh. Gitu. Ya udah."
__ADS_1