Gadis Cupu Milik CEO

Gadis Cupu Milik CEO
Memaafkan


__ADS_3

Siang ini, Alessa tidak langsung pulang ke sekolahnya. Dia masih bingung untuk pulang ke panti. Sebenarnya hari ini Alessa ingin pergi ke rumah ayah kandungnya yang ada di kota.


Kemarin tidak sengaja Alessa menemukan sobekan kertas kecil yang tercantum nama Alex dan alamat rumah Alex. Sepertinya itu kartu nama milik Alex.


"Aku pengin pergi ke rumah Om Alex. Aku penasaran dengan siapa ibu kandung aku. Dia sekarang masih hidup atau sudah meninggal," ucap Alessa.


Alessa masih berjalan ke depan sampai akhirnya kakinya membawa Alessa sampai ke pinggiran jalan raya.


Alessa menatap ke kanan dan ke kiri mobil yang lewat. Alessa tiba-tiba saja menyetop mobil truk yang lewat di jalan itu.


"Bapak mau ke kota ya?" tanya Alessa pada sopir truk itu.


"Iya Dek. Emang kenapa?" Sopir truk itu menatap Alessa lekat.


Alessa saat ini memang masih mengenakan seragam sekolah. Dan dia pun tidak membawa apa-apa kecuali uang receh yang baru dia bongkar dari celengan jago kemarin.


"Saya mau ikut ke kota Pak. Saya mau nyari alamat rumah orang tua saya," jawab Alessa.


"Duh dek. Mau ke kota mau ngapain?" Sopir truk itu tampak bingung.


"Saya kan udah bilang, kalau saya mau nyari alamat rumahnya orang tua saya. Dan ini alamatnya," ucap Alessa sembari menyodorkan sobekan kertas itu pada sang sopir


Sopir truk itu kemudian membaca nama dan alamat yang ada di sobekan kertas itu.


"Ya udahlah, kamu duduk di depan saja di samping saya," ucap bapak itu tanpa bertanya macam-macam lagi pada Alessa.


Sopir truk itu kemudian turun dan membuka pintu mobilnya untuk Alessa.


"Makasih ya Pak."


"Iya. Sama-sama."


Setelah Alessa naik, mobil truk itu kemudian meluncur membawa Alessa sampai ke kota.


Alessa sejak tadi masih diam. Dia masih memikirkan Bu Ani.


Biarin aja bunda nyariin aku. Aku pengin ketemu Om Alex. Aku penasaran dengan siapa ibu kandung aku. Siapa suruh bunda ikut-ikutan Om Alex bohongin aku.


****

__ADS_1


Perlahan-lahan, Pak Rajasa mulai membuka kelopak matanya. Pak Rajasa terkejut saat melihat ibunya Alex sudah berada di sisinya berbaring.


Bu Vivi tersenyum saat melihat Pak Rajasa bangun. Dia tampak bahagia saat melihat suaminya sudah bisa membuka matanya setelah lama dia pingsan.


"Mas Rajasa. Kamu udah sadar," ucap Bu Vivi.


"Vivi..." ucap Pak Rajasa lirih.


Pak Rajasa mencoba untuk duduk. Namun dia merasa kesakitan saat menggerakan anggota tubuhnya.


"Auh..." pekik Pak Rajasa.


"Mas Rajasa, jangan banyak gerak dulu. Kamu nggak akan bisa duduk Mas. Karena punggung kamu retak dan leher kamu juga retak Mas. Dan kamu juga baru selesai operasi," ucap Bu Vivi.


Pak Rajasa terkejut saat mendengar ucapan Bu Vivi.


"Apa! jadi aku nggak akan bisa duduk?"


Bu Vivi mengangguk.


"Iya. Kamu nggak akan bisa duduk. Bahkan kamu juga nggak akan bisa jalan. Karena kamu itu patah tulang. Kaki kamu juga patah tulang Mas," ucap Bu Vivi menjelaskan.


"Sekarang aku sudah tidak berguna Vivi. Duduk saja aku tidak bisa. Aku yakin ini adalah karma untuk aku, karena aku sudah menyia-nyiakan kamu dulu Vi," ucap Pak Rajasa penuh penyesalan.


Pak Rajasa menangis. Bu Vivi yang tidak tega melihat suaminya, ikut menangis di depan suaminya. Bu Vivi dan Pak Rajasa menangis bersama di ruangan rumah sakit.


"Kenapa kamu nangis Vi?" tanya Pak Rajasa.


Bu Vivi memang masih terluka dengan pengkhianatan yang pernah Pak Rajasa lakukan beberapa tahun yang lalu.


Namun Bu Vivi harus memaafkan suaminya. Apalagi kondisi Pak Rajasa sudah tidak bisa apa-apa seperti saat ini. Siapa yang akan mengurus Pak Rajasa jika bukan Alex dan Bu Vivi.


"Aku tahu, kamu pasti ingin menyalahkan aku kan, karena aku sudah menikah lagi dengan Rita wanita ular itu. Aku mau minta maaf Vi, soal itu. Aku khilaf Vi. Dan aku menyesal sudah melukai hati wanita sebaik dan setulus kamu," ucap Pak Rajasa dengan berderaian air mata.


Bu Vivi mengusap air matanya.


"Penyesalan itu, memang selalu datang terlambat Mas. Sudahlah Mas, jangan ingat-ingat masa lalu lagi. Biarkan Rita menjadi kenangan buruk untuk kita di masa lalu. Sekarang Rita sudah pergi dari kehidupan kita. Semoga suatu saat, tidak akan ada lagi orang seperti Rita yang masuk di dalam keluarga kita."


Bu Vivi menatap Pak Rajasa lekat. Begitu juga dengan Pak Rajasa. Mereka sejenak saling menatap.

__ADS_1


"Vi. Maafkan aku Vi," ucap Pak Rajasa.


"Aku sudah maafin kamu Mas. Dan aku janji, setelah ini aku yang akan merawat kamu dengan tangan aku sendiri. Walau luka hatiku, belum sembuh dan tidak bisa disembuhkan, tapi aku hanya ingin mencari ridho Allah dengan merawat kamu Mas."


Bu Vivi kemudian mengusap air mata Pak Rajasa yang sejak tadi masih bercucuran membasahi pelipisnya.


"Makasih Vi, karena kamu masih mau menerima aku yang sudah jahat sama kamu."


Bu Vivi tersenyum.


"Kita hanya manusia biasa yang tidak bisa untuk melawan apa yang sudah ditakdirkan Tuhan untuk kita. Mungkin Allah saat ini sedang memberikan kita ujian yang besar. Dan setelah ini, aku yakin kalau akan ada hikmah yang bisa dipetik untuk semua ujian yang sudah kita lewati Mas."


"Kamu bijak sekali Vi dalam menyikapi semua cobaan ini."


"Calon mantu kita yang mengajarkan aku untuk memaafkan kesalahan seseorang. Dan Dara juga yang mengajarkan aku untuk bersabar dan tabah. Karena setiap manusia itu pasti di uji. Namun ujian setiap manusia berbeda-beda."


"Iya Vi."


"Mas, aku ingin setelah ini kita kembali lagi bersama. Aku hanya ingin melihat Dara dan Alex bahagia. Karena keinginan mereka cuma ingin aku dan kamu bersatu lagi Mas. Agar kita bisa menjadi keluarga yang saling melengkapi."


"Iya Vi. Aku juga inginnya seperti itu, jika kamu mau."


"Mas, sudah jangan menangis. Nggak ada gunanya kamu menyesali semua yang sudah terjadi. Rita saja sudah pergi dari kehidupan kita. Dan tidak akan ada lagi orang yang mengusik kebahagiaan keluarga kita."


"Walau Rita sudah tidak ada di kehidupan aku, tapi aku tetap saja masih tidak tenang karena dia belum dipenjara. Karena orang jahat itu bisa kembali lagi menjahati keluarga kita dengan membalas dendam. Aku baru bisa tenang setelah Martin dan Rita dipenjara."


"Sabar Mas. Kita serahkan saja semua urusan itu sama polisi. Biar polisi yang turun tangan untuk semua masalah itu. Kamu sekarang sedang sakit. Jangan banyak fikiran Mas. Mulai sekarang, kamu harus fokus dengan kesembuhan kamu."


"Iya Vi. Oh iya. Di mana Alex dan Dara? dan siapa yang sudah membawa aku ke rumah sakit?"


"Alex dan Dara lagi keluar sebentar sama Ica dan Oca. Mungkin mereka lagi makan siang. Dan yang membawa kamu ke sini tapi Pak Rizal. Karyawan kamu."


"Oh... kamu sudah makan Vi?"


"Belum Mas."


"Kenapa belum makan?"


"Nunggu Alex Mas. Katanya dia mau beliin aku makan siang. Sudahlah Mas, kamu jangan banyak gerak dulu dan jangan banyak bicara dulu. Kamu itu baru selesai operasi. Dan kamu juga baru sadar. Mendingan kamu banyakin istirahat aja Mas.

__ADS_1


"Iya Vi. Aku sekarang udah bisa tenang karena kamu sudah mau maafin aku."


__ADS_2