
Viko menatap Alex dari kejauhan. Dia kemudian mendekat ke arah Alex.
"Alex," ucap Viko.
Alex langsung menatap Viko.
"Viko, kamu udah nyampe?"
Viko langsung menghempaskan tubuhnya dan duduk di dekat Alex. Dia tampak prihatin dengan kondisi Bu Vivi saat ini.
"Bagaimana kondisi mama kamu?" tanya Viko.
"Nggak ada perubahan sama sekali. Mama belum ada tanda-tanda kalau dia akan membaik. Dia masih kritis. Dan sekarang mama sudah ditetapkan koma oleh dokter," ucap Alex menjelaskan.
"Koma?" Viko tampak terkejut saat mendengar penjelasan Alex.
Alex mengangguk.
"Harapan untuk mama sembuh sangat sedikit Vik. Terlebih, ada keretakan tulang di pinggang mama."
Viko mengusap wajahnya kasar. Dia kemudian menatap Alex.
"Alex, kamu harus bicarakan ini sama ayah kamu. Ini masalah serius Alex," ucap Viko.
"Tapi papa aku lagi ada di Bali sekarang."
"Ya nggak apa-apa. Kamu telpon dia. Dan kasih tahu kondisi mama kamu."
"Biarkan saja lah Vik. Papa aku juga mana mungkin mau pulang ke sini. Dia saja baru berangkat kemarin. Masih lama di sana."
"Terus, siapa yang mau gantian jaga di sini? apa kamu mau sendiri terus di sini? kamu itu kan harus punya teman untuk gantian jagain mama kamu."
"Aku bisa kok, suruh salah satu pembantu aku untuk jagain mama di sini," ucap Alex.
"Ya terserah kamu saja lah. Terus sekarang, mama kamu ada di mana?" tanya Viko.
"Kata dokter, sebentar lagi dia akan dipindahkan di ruang ICU. Aku benar-benar bingung sekarang Vik. Aku belum siap kehilangan mama aku," ucap Alex.
Viko hanya bisa menepuk-nepuk bahu Alex. Mencoba untuk menenangkan Alex yang saat ini tampak sangat rapuh.
"Sabar ya, aku yakin mama kamu pasti bisa melewati masa kritisnya. Dan mudah-mudahan saja, setelah mama kamu sudah berhasil melewati masa kritisnya, gangguan jiwanya akan berangsur-angsur membaik."
"Amin."
****
Sore ini, Rita dan Martin masih berada di tepian pantai. Sudah seharian mereka menghabiskan waktu-waktu mereka di pantai itu.
Ring ring ring...
Deringan ponsel Rita sejak tadi masih terdengar. Namun dia masih mengabaikan panggilan dari Pak Rajasa.
"Siapa Rita yang nelpon? suami kamu?" tanya Martin.
__ADS_1
"Iya. Suamiku yang nelepon."
"Kenapa nggak di angkat?"
Rita menatap Martin tajam.
"Untuk apa Mas di angkat. Lagian dia juga jauh. Mana tahu dia aku ada di sini bersama kamu."
Martin tersenyum.
"Aku udah nggak sabar Rita. Aku ingin kamu cerai dari lelaki itu. Setelah itu kita bisa menikah. Aku akan menikahi kamu."
"Nggak segampang itu Mas. Lelaki tua itu, tidak semudah itu untuk dibodohi. Aku nggak mau gegabah dalam mengambil semua keputusan. Aku akan menceraikan lelaki tua itu, kalau aku sudah berhasil mengambil alih semua hartanya."
"Ya, aku akan selalu mendukung kamu sayang," ucap Martin.
"Ya udah Mas. Kita pulang yuk. Udah sore."
"Iya."
Martin dan Rita kemudian melangkah pergi meninggalkan pantai. Mereka menuju ke mobilnya yang mereka parkirkan lumayan jauh dari pantai.
Rita dan Martin kemudian masuk ke dalam mobil mereka. Setelah itu mereka meluncur pergi meninggalkan pantai.
"Ponsel kamu diam aja Mas dari tadi? istri kamu nggak nungguin kamu?" tanya Rita.
"Ya dia pasti nungguin. Tapi biarkan sajalah. Aku juga sudah matiin hape aku."
"Oh. Pantas aja dari tadi aku nggak dengar hape kamu bunyi."
Rita tampak berfikir. Tiba-tiba saja dia teringat dengan madunya yang ada di rumah sakit jiwa.
"Aku mau mampir ke RSJ Mas," ucap Rita tiba-tiba.
Martin terkejut saat mendengar ucapan Rita.
"Ke RSJ? mau ngapain?" tanya Martin.
"Udah lama aku nggak melihat kondisi Mbak Vivi."
"Vivi istrinya Pak Rajasa?"
"Iya."
"Lagian kamu mau ngapain ke sana?" tanya Martin lagi.
"Sebenarnya aku udah muak banget dengan ibunya Alex. Seharusnya dia itu sudah mati dari dulu. Dia dan Alex orang yang selama ini menjadi penghalang untuk aku mengeruk semua harta Pak Rajasa."
"Kalau begitu, kenapa kamu tidak lenyap kan saja mereka berdua dari dunia ini."
"Tidak semudah itu untuk melenyapkan mereka. Alex itu orang yang sangat kuat. Dia juga disegani dan ditakuti oleh semua orang. Aku sudah pernah menyuruh preman bayaran untuk mencelakainya. Namun dia terlalu kuat karena dia punya ilmu bela diri yang cukup tinggi."
"Kenapa nggak ibunya saja yang kamu lenyapkan."
__ADS_1
"Kalau Mbak Vivi, dia dijaga sangat ketat di rumah sakit jiwa. Tidak bisa sembarang orang yang bisa ketemu sama dia. Hanya Alex dan Pak Rajasa saja yang bisa masuk ke dalam ruangan itu. Aku saja, jarang diperbolehkan masuk ke dalam ruangannya."
"Oh, terus kamu ke sana mau ngapain?"
"Aku cuma pengin tahu kabar dia saja. Sudah lama aku nggak ke sana. Dari kabar yang terakhir aku dengar, katanya Mbak Vivi sekarang semakin kurus, karena dia di sana sudah sering sakit-sakitan. Dan kata Pak Rajasa, nafsu makan Mbak Vivi juga sudah mulai berkurang. Aku harap, tidak lama lagi Mbak Vivi akan pergi selamanya dari dunia ini."
"Jadi dia sudah sakit-sakitan? bagus dong kalau begitu. itu tandanya, rencana kamu tinggal selangkah lagi berhasil. Karena kamu akan menjadi istri satu-satunya Pak Rajasa dan sebentar lagi, kamu akan bisa menguasai seluruh harta kekayaan dia,"ucap Martin.
"Iya Mas. Doain aja biar semuanya lancar. Nanti, aku akan kasih kamu bagiannya."
Martin tersenyum. Tiba-tiba saja mereka berdua tertawa.
Setelah menempuh beberapa menit perjalanan dari pantai sampai ke rumah sakit jiwa, Martin menghentikan laju mobilnya setelah dia sampai di depan rumah sakit jiwa.
"Sudah sampai sayang. Aku lelah. Kamu aja ya yang turun," ucap Martin pada Rita.
Rita mengangguk. Setelah itu dia turun dari mobilnya. Rita melangkah dan menghampiri seorang satpam.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya satpam pada Rita.
"Saya mau ketemu sama Bu Vivi," jawab Rita.
"Nyonya Rajasa? bukankah dia sudah lama nggak ada di sini?" ucap satpam.
Rita terkejut saat mendengar penuturan seorang satpam.
"Apa! dia nggak ada di sini? emang kemana dia?" tanya Rita.
"Waktu itu, Nyonya Rajasa kabur dari sini. Dan saya tidak tahu lagi keberadaannya. Karena sudah lama dia tidak ada di sini."
"Oh, ya udah makasih banyak ya."
Satpam mengangguk.
Rita masih tidak menyangka dengan penuturan satpam. Kalau ternyata Bu Vivi itu sudah tidak ada di dalam rumah sakit jiwa itu lagi.
Rita tampak berfikir.
"Apakah Bu Vivi sudah dipindahkan dari sini. Kenapa Mas Rajasa nggak ngasih tahu aku ya soal ini. Apa yang sedang dia sembunyikan dari aku," ucap Rita.
Rita kemudian berjalan kembali ke mobilnya. Rita masuk ke dalam mobilnya.
"Kenapa sayang? cepat banget kamu jengukin madu kamu?" tanya Martin menatap Rita lekat.
Rita menghela nafas dalam.
"Ternyata Mbak Vivi sudah tidak ada di sini lagi. Mungkin suamiku sudah memindahkan dia ke tempat lain," ucap Rita menuturkan.
Rita tampak berfikir. Dia tiba-tiba saja teringat dengan ucapan satpam tadi.
"Tunggu dulu, tadi satpam itu bilang kalau Mbak Vivi itu kabur dari rumah sakit ini."
"Kabur?"
__ADS_1
"Iya Mas. Apa mungkin Mbak Vivi kabur dan Mas Rajasa nggak tahu soal ini. Aku jadi penasaran. Aku akan telpon Mas Rajasa dulu," ucap Rita.