Gadis Cupu Milik CEO

Gadis Cupu Milik CEO
Khawatir


__ADS_3

Bu Vivi masih mondar-mandir di ruang tamu. Dia masih khawatir dengan anaknya. Sudah jam sebelas malam, Alex dan Doni juga belum sampai rumah.


Bu Vivi sudah menghubungi Alex dan Doni. Namun mereka tidak ada yang mengangkat panggilan dari Bu Vivi. Bu Vivi juga sudah menghubungi nomer Dara. Dan nomer Dara juga sudah tidak aktif dari tadi siang.


"Kemana sebenarnya Alex dan Dara. Kenapa mereka susah sekali dihubungi, Dara ditelpon hapenya nggak pernah aktif, Doni dan Alex juga nggak di angkat. Kemana sebenarnya mereka bertiga itu, buat aku cemas aja,"ucap Bu Vivi.


Bu Vivi menatap ponselnya. Dia kemudian mengambil ponselnya untuk kembali menghubungi Alex.


Bu Vivi menekan nomer Alex untuk menelponnya.


"Halo..." suara Alex sudah terdengar dari balik telpon.


"Halo Alex. Kamu kemana aja. Kenapa kamu baru angkat telpon mama."


"Ada apa Ma? kenapa? peneror itu muncul lagi?"


"Nggak ada peneror Alex. Mama cuma khawatir aja sama kamu. Kamu, Dara dan Doni kemana aja sih. Nggak ada yang bisa dihubungi. Dara juga nomernya udah nggak aktif dari tadi siang. Kenapa sudah malam begini, kalian belum ada yang pulang."


"Maafin Alex ya Ma. Alex dan Doni tadi ketiduran di depan rumah Dara. Jadi Alex nggak dengar telpon dari Mama."


"Kamu ke rumah Dara? Dara pulang ke rumahnya sendiri?"


"Iya Ma. Mungkin dia lelah atau capek. Jadi dia pulang ke rumahnya sendiri."


"Terus sekarang kamu ada di mana? apa kamu mau nginap di sana?"


"Nggak Ma. Ini aku dan Doni lagi ada di perjalanan pulang ke rumah. Mungkin sebentar lagi sampai. Mama tunggu saja."


"Iya Alex."


"Ya udah ya Ma. Alex tutup dulu telponnya. Assalamualaikum."


"Wa'alakiumsalam."


Bu Vivi kemudian menutup saluran telponnya. Dia akan menunggu Alex pulang. Selama Alex belum pulang, Bu Vivi tidak akan bisa tidur. Bu Vivi trauma dengan kedatangan orang misterius yang sering datang ke rumahnya dan menakut-nakutinya.


Beberapa saat kemudian, deru mobil sudah terdengar dari luar rumah. Bu Vivi melangkah ke jendela untuk melihat Alex di depan.


Alex dan Doni turun dari mobilnya.


"Sekarang, kamu bawa mobil ke garasi dan kamu bisa istirahat Don."


"Baik Bos."

__ADS_1


"Tunggu dulu Don."


Alex mengambil dompetnya yang ada di saku jasnya. Setelah itu dia mengambil beberapa lembar uang ratusan dan dia berikan ke Doni.


"Ini Don. Buat kamu. Makasih sudah nganterin aku ke rumah Dara."


Doni tersenyum saat melihat lembaran uang ratusan. Dia kemudian mengecup uang itu.


"Sering-sering dong bos seperti ini. Jadi kan aku seneng. Bisa untuk ngajak istri shoping nih," ucap Doni.


Alex hanya geleng-geleng kepala. Setelah itu dia masuk ke dalam rumahnya.


"Mama, kok Mama ada di sini. Mama ngga tunggu di kamar?" tanya Alex. Dia terkejut saat masuk ke ruang tamu. Mamanya sudah berdiri di sisi pintu.


"Mama, pengin tidur. Tapi kamu nggak pulang-pulang. Mama takut kalau nggak ada kamu di rumah ini Alex."


Alex mendekat ke arah ibunya. Setelah itu dia merangkul bahu ibunya dan mengajaknya masuk ke dalam.


"Kita ke kamar ya Ma. Mama kan baru pulih dari sakit, mama nggak boleh banyak fikiran dan nggak boleh kelelahan."


"Iya Alex."


"Mama tadi siang masak ya buat Alex."


"Seharusnya mama nggak usah repot-repot buatin Alex bekal makan siang. Kan Alex selalu makan di kantin."


"Gara-gara Mama nih, hubungan aku dan Dara jadi begini. Seandainya mama nggak masak dan nggak nyuruh Dara untuk membawakan bekal makan siang untuk aku. Kejadiannya nggak akan seperti ini. Dara pasti nggak akan lihat aku suap-suapan sama Desi. Dan Desi juga. Kenapa sih dia harus datang ke kantor aku segala. Biasanya juga nggak," gerutu Alex dalam hati.


"Mama bingung Alex kalau berdiam diri aja. Mama jenuh kalau mama cuma berpangku tangan saja. Mama juga lama nggak masak. Mama kangen ingin masak lagi untuk kamu."


Sesampainya di kamar, Alex menyuruh ibunya untuk naik ke atas tempat tidur.


"Ma, sekarang mama tidur ya. Alex sudah ada di sini untuk mama. Nggak akan ada apa-apa kok Ma. Di depan juga kan sudah ada dua satpam penjaga. Pak Tino dan temannya akan selalu jagain rumah ini," ucap Alex sembari menggenggam tangan ibunya erat.


"Makasih ya Alex."


Alex mengangguk.


"Ya udah. Mama tidur ya. Alex mau ganti baju dulu. Dari tadi siang juga kan Alex belum mandi Ma. Gerah."


"Iya Alex."


Setelah berpamitan dengan ibunya, Alex kemudian keluar dari kamar ibunya. Dia naik ke lantai atas untuk ke kamarnya.

__ADS_1


Alex menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidurnya. Setelah itu dia menatap ponselnya.


"Dara, kamu marah beneran ya sama aku," ucap Alex sembari menatap ponsel itu.


"Dara, aku tuh nggak nyaman jika jauh-jauhan dari kamu.Aku pengin selalu dekat terus sama kamu. Kamu malah marah dan milih tidur di rumah kamu."


Alex bangkit dari duduknya. Setelah itu dia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


****


Pak Rajasa masuk ke dalam kamarnya. Dia tersenyum saat melihat Rita yang sudah terlelap di atas ranjangnya.


Pak Rajasa melangkah dan mendekati Rita. Setelah itu dia duduk di sisi ranjangnya sembari menatap Rita.


"Kamu nyenyak banget tidurnya Rita," ucap Pak Rajasa. Setelah itu dia mengecup puncak kepala Rita.


Beberapa saat kemudian, Rita mengerjapkan matanya. Dia kemudian beringsut duduk.


"Mas Rajasa, jam berapa ini. Kenapa kamu baru pulang? habis dari mana aja Mas kamu?"


Pak Rajasa tersenyum.


"Tadi jalanan macet Rita. Ada perbaikan jalan. Makanya saya telat pulang ke rumah. Kamu sudah makan malam?"


"Iya. Sudah. Makan malam sendiri." Rita cemberut karena suaminya tidak menemaninya makan malam.


"Kamu udah makan Mas?" tanya Rita.


"Udah tadi. Makan malam sama Dara."


Rita terkejut saat mendengar ucapan suaminya. Nampaknya Rita itu belum kenal betul dengan Dara.


"Dara siapa?" tanya Rita mulai serius.


"Dara itu, anak Darma Aji teman saya. Dia sekarang juga lagi dekat dengan Alex."


Rita mengernyitkan alisnya.


"Dekat dengan Alex?"


"Iya. Dan dia anak yang baik, dia juga masih 19 tahun. Aku pengin banget jodohkan Dara dengan Alex,"


Rita terkejut saat mendengar ucapan suaminya.

__ADS_1


Apa! Pak Rajasa mau jodohkan Alex dengan seorang wanita. Aku nggak akan biarin hal itu terjadi. Alex itu nggak boleh nikah sama siapapun. Aku nggak mau Alex dimiliki wanita lain. Karena aku masih suka sama dia. Aku nggak rela, ada seorang gadis yang memiliki lelaki tampan dan kaya raya seperti Alex. Seharusnya kan aku yang jadi jodohnya Alex. Kenapa aku nggak nikah sama Alex sejak dulu. Kenapa aku harus nikah sama Pak Rajasa. Bodohnya aku.


__ADS_2